Tarimokasih Kanda,

Walau alun nampak fisik buku atau artikel ko lai, bialah judulnyo se wak
koleksi baru.

Mengenai Anggun nan Tonnga, dari Om wiki wak dapek ringkasan carito, walau
barang lamo, moga2 bisa maingek-I dan manyumangaik-I awak baliak ka khasanah
budaya dan adat istiadat minangkababau.

Wassalam.
=========

Kaba Anggun Nan Tongga adalah sebuah cerita atau kaba yang populer di
lingkungan masyarakat Minangkabau. Di daerah-daerah berbahasa Melayu cerita
ini dikenal dengan nama Hikayat Anggun Cik Tunggal.

Kaba ini bercerita tentang petualangan dan kisah cinta antara Anggun Nan
Tongga dan kekasihnya Gondan Gondoriah. Anggun Nan Tongga berlayar
meninggalkan kampung halamannya di Kampung Dalam, Pariaman. Ia hendak
mencari tiga orang pamannya yang lama tidak kembali dari merantau. Sewaktu
hendak berangkat Gondan Gondoriah meminta agar Nan Tongga membawa pulang 120
buah benda dan hewan langka dan ajaib.

Meskipun pada awalnya dikisahkan secara lisan beberapa versi kaba ini sudah
dicatat dan dibukukan. Salah satunya yang digubah Ambas Mahkota, diterbitkan
pertama kali tahun 1960 di Bukittinggi.

Ringkasan cerita

Di jorong Kampung Dalam, Pariaman hiduplah seorang pemuda bernama Anggun Nan
Tongga, yang juga dipanggil Magek Jabang dan bergelar Magek Durahman. Ibunya
Ganto Sani wafat tak lama setelah melahirkan Nan Tongga, sedangkan ayahnya
pergi bertarak ke Gunung Ledang.Ia diasuh saudara perempuan ibunya yang
bernama Suto Suri. Sejak kecil Nan Tongga sudah dijodohkan dengan Putri
Gondan Gondoriah, anak mamaknya. Anggun Nan Tongga tumbuh menjadi pemuda
tampan dan cerdas. Ia mahir berkuda, silat, dan pandai mengaji Quran serta
dalam ilmu agamanya.

Pada suatu hari terdengar kabar bahwa di Sungai Garinggiang Nangkodoh Baha
membuka gelanggang untuk mencari suami bagi adiknya, Intan Korong. Nan
Tongga minta izin pada Mandeh Suto Suri untuk ikut serta. Pada awalnya
Mandeh Suto Suri tidak setuju, karena Nan Tongga sudah bertunangan dengan
Gondan Gondoriah. namun akhirnya ia mengalah.

Di gelanggang Nan Tongga berhasil mengalahkan Nangkodo Baha pada tiap
permainan: menyabung ayam, menembak maupun catur. Berang dan malu karena
kekalahannya Nangkodoh Baha mengejek Nan Tongga karena membiarkan ketiga
mamaknya ditawan bajak laut di pulau Binuang Sati. Mendengar kabar ini Nan
Tongga pulang dengan hati sedih.

Nan Tongga bertekad untuk merantau mencari mamak-mamaknya: Mangkudun Sati,
Nangkodoh Rajo dan Katik Intan. Sebelum pergi ia minta izin pada Mandeh Suto
Suri dan tunangannya Puti Gondan Gondoriah. Gondoriah meminta Nan Tongga
membawakannya benda-benda dan hewan-hewan langka sebanyak 120 buah. Beberapa
di antaranya adalah seekor burung nuri yang bisa berbicara, beruk yang
pandai bermain kecapi, kain cindai yang 'tak basah oleh air, berjambul suto
kuning, dikembang selebar alam, dilipat sebesar kuku, disimpan dalam telur
burung'.

Nan Tongga berangkat berlayar dengan kapal bernama Dandang Panjang, ditemani
pembantu setianya Bujang Salamat. Nakhodanya bernama Malin Cik Ameh. Setelah
berlayar beberapa lama akhirnya mereka sampai di pulau Binuang Sati. Nan
Tongga menyuruh kapal berlabuh di sana. Utusan Palimo Bajau, raja Pulau
Binuang Sati, datang untuk mengusir Nan Tongga, namun ia menolak. Dalam
pertempuran yang pecah kemudian Bujang Salamat berhasil membunuh Palimo
Bajau. Pulau Binuang Sati pun takluk.

Nan Tongga menemukan salah seorang mamaknya, Nangkodoh Rajo, dikurung dalam
kandang babi. Nangkodoh Rajo menceritakan bahwa kedua mamak Nan Tongga
lainnya, Katik Intan dan Makhudum Sati berhasil meloloskan diri ketika
pertempuran di laut dengan lanun anak buah Palimo Bajau. Ia juga
memberitahukan bahwa burung nuri yang pandai berbicara ada di Kuala Koto
Tanau.

Kemudian Nan Tongga menyuruh Malin Cik Ameh pulang ke Pariaman menggunakan
kapal rampasan dari Binuang Sati, dan memberi pesan ke kampung halaman bahwa
Nangkodoh Rajo sudah dibebaskan. Ia sendiri berlayar dengan Dandang Panjang
bersama Bujang Salamat ke Koto Tanau. Namun ketika bertemu Gondan Gondoriah
ia terpesona pada kecantikan tunangan Nan Tongga itu. Ia lalu bercerita
bahwa Nan Tongga ditawan oleh Palimo Bajau. Ia juga berkata Nan Tongga
berpesan Malin Cik Ameh dijadikan pemimpin di kampungnya. Malin Cok Ameh
lalu dirajakan di sana. Ia mengirim utusan untuk meminang Gondan Gondoriah
namun ditolak dengan alasan masih berduka atas tertangkapnya Nan Tongga.

Sementara itu di Koto Tanau Anggun Nan Tongga menemukan pamannya yang lain
menjadi raja di sana. Putri pamannya Puti Andami Sutan memiliki seekor
burung nuri yang pandai berbicara. Nan Tongga lalu mencoba meminta burung
tersebut. Dengan halus Andami Sutan mengisyaratkan Nan Tongga hanya dapat
mendapatkan burung nuri ajaib tersebut dengan mengawini dirinya. Tak dapat
menemukan cara lain Nan Tongga pun menikahi putri tersebut.
Burung nuri ajaib itu kemudian lepas dari sangkarnya dan terbang ke Tiku
Pariaman. Di sana ia menemui Puti Gondan Gondoriah yang gundah mendengar
tunangannya menikah dengan Andami Sutan.

Nan Tongga tidak dapat menahan rindunya pada kampung halaman dan
tunangannya. Ia meninggalkan istrinya Andami Sutan yang sedamg hamil. Ketika
Gondan Gondoriah mendengar kabar bahwa Anggun Nan Tongga sudah pulang ia
lari ke Gunung Ledang. Anggun Nan Tongga kemudian mengejar dan membujuknya
untuk pulang. Gondoriah akhirnya luluh hatinya dan kembali bersama Nan
Tongga.

Ketika hendak menikah Nan Tongga dan Gondan Gondoriah bersama Bujang Selamat
pergi mencari Tuanku Haji Mudo untuk meminta restu. Namun Tuanku Haji Mudo
berkata bahwa Nan Tongga dan Gondan Gondoriah adalah saudara sepersusuan,
karena Nan Tongga pernah menyusu pada ibu Gondan Gondoriah. Menurut hukum
Islam berarti Nan Tongga dan Gondan Gondoriah tidak boleh menikah di dunia
ini dan hanya dapat berjodoh di akhirat.

Karena belum juga pulang orang tua Nan Tongga dan Gondan Gondoriah mengirim
orang untuk mencari Nan Tongga dan Gondan Gondoriah. Mereka menemukan Bujang
Selamat sendiri yang berkata bahwa Nan Tongga, Gondan Gondoriah, dan Tuanku
Haji Mudo sudah naik ke langit.

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kaba_Anggun_Nan_Tongga

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of Lies Suryadi
Sent: 15 Februari 2008 0:27
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [EMAIL PROTECTED] literatur ttg Kaba Anggun nan Tongga (Leiden KITLV
Bibliotheek)


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.5/1279 - Release Date: 14/02/2008
18:35
 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
Website: http://www.rantaunet.org 
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca dan dipahami! Lihat 
di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur dan Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG!!! Tawarkan kepada yang berminat dan kirim melalui 
jalur pribadi.
- Anggota yg posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg 
bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen akan mengikuti peratiran yang 
berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Webmail Mailing List dan Konfigurasi teima email, lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe 
Dengan terlebih dahul
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke