Dunsanak komunitas r@ntaunet n.a.h dan a.c,

Ambo bari saketek panukauak barita manyadiahkan dan mambuek awak mauruik
dado, sarupo nan dikopikan MakNgah di ateh.

Salam Akaik pagi....................,

*mm****

*A Sabaok Banyak Urang Gilo di Piaman?*

By Didi Keitha <http://blogperawat.com/author/admin/> ⋅ March 8, 2012 ⋅ Post
a comment <http://blogperawat.com/sebab-gangguan-jiwa/#comments>

*Filed Under*  Dasar Kesehatan
Mental<http://blogperawat.com/tag/dasar-kesehatan-mental/>,
Etiology Mental Illness<http://blogperawat.com/tag/etiology-mental-illness/>,
Psychiatric Nursing <http://blogperawat.com/tag/psychiatric-nursing/>, Sebab
Gangguan Jiwa <http://blogperawat.com/tag/sebab-gangguan-jiwa/>

Individu secara alami akan selalu mempertahankan kondisinya dalam keadaan
yang sehat <http://blogperawat.com/sehat-itu-nikmat/>, baik dari segi
fisiologis maupun psikologis. Istilah
Keperawatan<http://blogperawat.com/ruu-keperawatan-registrasi-di-indonesia-berbeda/>untuk
kondisi ini adalah keadaan ‘homeostatis’. Namun keadaan ini
senantiasa berfluktuasi tergantung kondisi internal dan eksternal kita.

Pada kondisi badan yang sedang fit dan keadaan lingkungan sekitar yang
kondusif, tentunya kita akan dapat mempertahankan status
kesehatan<http://blogperawat.com/guyonan-yang-membawa-maut-seorang-perawat/>fisik
dan mental kita. Namun dalam kondisi yang bertolak belakang maka
keadaan individu akan drop dan tidak akan dapat untuk mempertahankan status
kesehatannya.

Berikut ini admin akan coba uraikan beberapa sebab yang dapat menyebabkan
seseorang mengalami gangguan kesehatatan, terutama dari segi
kesehatan<http://blogperawat.com/guyonan-yang-membawa-maut-seorang-perawat/>mental.
Ada dua faktor yang boleh menimbulkan terjadinya gangguan
jiwa <http://blogperawat.com/gangguan-jiwa/>, yaitu Faktor Predisposisi dan
Faktor Presipitasi. Faktor Predisposisi adalah faktor yang melatarbelakangi
seseorang mengalami gangguan jiwa <http://blogperawat.com/gangguan-jiwa/>,
sedangkan Faktor Presipitasi adalah faktor yang mencetuskan terjadinya gangguan
jiwa <http://blogperawat.com/gangguan-jiwa/> pada seseorang untuk kali yang
pertama.

Individu yang memiliki faktor predisposisi akan lebih mudah untuk
mengalami gangguan
jiwa <http://blogperawat.com/gangguan-jiwa/> karena sejak lahir atau selama
proses perkembangannya, individu tersebut memiliki
kepribadian<http://blogperawat.com/psikologi-keperawatan-ternyata-kepribadian-kita-bisa-berubah/>maupun
*coping mechanism
<http://blogperawat.com/antibodi-bagi-kesehatan-jiwa/>*yang kurang
optimal yang disebabkan oleh faktor bawaan yang didapatkan
sejak lahir maupun melalui lingkungan sekitar. Individu yang memiliki
faktor predisposisi ibaratnya tinggal menunggu faktor presipitasi sebelum
akhirnya mengalami gangguan jiwa <http://blogperawat.com/gangguan-jiwa/>,
yaitu suatu peristiwa yang dapat menggoyahkan dan mengganggu keseimbangan
jiwa individu sehingga akhirnya individu bersangkutan tidak mampu untuk
mengatasi masalah yang dihadapinya yang pada akhirnya mengalami gangguan
jiwa.

*Faktor Predisposisi*

Faktor ini dapat terdiri dari beberapa bagian. Berikut ini akan diuraikan
beberapa faktor yang termasuk kedalam faktor ini:

1. *Genetik*, sebahagian besar gangguan jiwa disebabkan karena faktor
keturunan. Dimana sifat-sifat gangguan jiwa yang akan dialami oleh individu
diturunkan oleh orang tua maupun nenek moyang mereka melalui gen dan
kromosom dalam sel reproduksi. Contoh jenis gangguan jiwa yang berasal dari
faktor genetik adalah: *manic depressive psychoses, endogenous depression,
schizophrenia, epilepsy, mental retardation* dan lain-lain.

2. *Faktor Personaliti*, telah diketahui sejak lama bahwa
kepribadian<http://blogperawat.com/psikologi-keperawatan-ternyata-kepribadian-kita-bisa-berubah/>individu
juga berperan besar dalam menyumbang terjadinya gangguan jiwa pada
seseorang. Individu yang memiliki
kepribadian<http://blogperawat.com/psikologi-keperawatan-ternyata-kepribadian-kita-bisa-berubah/>yang
kuat akan cenderung untuk dapat mengatasi masalah yang dihadapi; namun
individu yang begitu mengalami kebergantungan terhadap orang lain, maka
cenderung untuk mudah mengalami gangguan jiwa karena kepribadiannya
rapuh.Contoh: Individu yang memiliki
personality<http://blogperawat.com/psikologi-keperawatan-ternyata-kepribadian-kita-bisa-berubah/>premorbid
dengan ciri-ciri watak yang lemah dan tidak tahan terhadap
stress, cenderung mudah mengalami gangguan jiwa.

3. *Periode Perkembangan Kritis*, keadaan ini juga dapat menyumbang sebagai
faktor penyebab seseorang mengalami gangguan jiwa. Karena selama individu
menjalani proses ini, seseorang akan belajar untuk mengenali dan mencari
solusi terbaik dalam menghadapi setiap masalah yang datang untuk dapat
diadaptasikan sesuai dengan keadaan yang
sehat<http://blogperawat.com/sehat-itu-nikmat/>.
Sehingga apabila seseorang tidak mampu mengatasi berbagai stressor yang ada
pada periode perkembangan kritis ini akan dapat menimbulkan berbagai
masalah kesehatan jiwa<http://blogperawat.com/antibodi-bagi-kesehatan-jiwa/>.
Contohnya: Apabila individu tidak mampu untuk mengatasi peran yang
diembannya pada periode bayi ke anak-anak, dapat menimbulkan gangguan
personaliti pada individu. Periode remaja yang tidak dapat dilewatkan
biasanya dapat memicu terjadinya gangguan *schizophernia*. Periode dewasa
yang tidak dapat diatasi dapat menyebabkan gangguan emosi, dan pada periode
lanjut usia yang tidak teratasi dapat menimbulkan gangguan *psychoses
organic, *seperti demensia dan lain-lain.

*Faktor Presipitasi*

Faktor ini juga terdapat beberapa bagian, yaitu beberapa faktor yang dapat
mencetuskan untuk kali pertama sehingga seseorang mengalami gangguan jiwa,
diantaranya:

1. *Faktor Fisik*, yaitu faktor-faktor yang berasal dari gangguan fisik
yang dialami oleh individu sehingga akhirnya menyalami gangguan jiwa.
Contohnya adalah terjadinya infeksi pada otak, kecederaan yang dialami oleh
otak, toksin atau bahan kimia berbahaya yang menyerang otak, adanya tumor
pada otak yang dapat mengganggu fungsi otak, gangguan pada sistem endokrin
maupun akibat kekurangan vitamin B1 B12 atau zat besi yang berpengaruh
terhadap neurotransmitter di otak. Gangguan mental yang disebabkan oleh
faktor ini biasa disebut dengan gangguan mental organik.

2. *Faktor Psikis*, yaitu faktor-faktor yang berasal dari mental individu
yang dialami secara terus-menerus sehingga akhirnya kemampuan individu
untuk mengatasi masalah tidak dapat lagi dipertahankan sehingga akhirnya
individu mengalami gangguan jiwa. Faktor Psikis ini dapat terdiri dari:
faktor sosio-ekonomi yang senantiasa menjerat individu, krisis yang terus
dialami oleh individu, terlalu bergantung terhadap bantuan orang lain
adalah diantara faktor psikis yang dapat menyebabkan gangguan jiwa.

Demikian sekilas uraian tentang sebab-sebab sehingga individu mengalami
gangguan jiwa. Tulisan ini adalah opini pribadi penulis, jika ada kesalahan
dan ketidaktepatan dalam tulisan ini, silakan dikoreksi. Semoga bermanfaat.

*Depresi Panyabaok Utamo Urang Manjadi Gilo (Gangguan Jiwa)*



 Dipublikasikan oleh tira - Pada Kamis, 28 Juli 2011



  *“Workshop Penangan Orang Dengan Kecacatan Mental Eks Psikotik”*
 ------------------------------

[image: http://rehsos.depsos.go.id/uploads/image/TIRA/GILAA.gif]Gangguan
jiwa merupakan bagian dari cacat mental, saat ini kecenderungan gangguan
jiwa mengalami peningkatan.* Estimasi global menyatakan 450 juta orang
dengan gangguan jiwa, hal ini tentunya dikarena karena kondisi ekonomi dan
beban hidup,* selain itu masyarakat masih belum memiliki pemahaman tentang
permasalahan ODK mental eks psikotik berkaitan dengan upaya deteksi dini
serta penanganannya, demikian diungkapkan Dirjen Rehsos, Makmur Sunusi pada
acara workshop Penanganan Orang Dengan Kecacatan Mental Eks Psikotik di
Bandung (27/7/2011)



[image: http://rehsos.depsos.go.id/uploads/image/TIRA/JIWA3.gif]Hal ini
tentunya menyebabkan meningkatnya kuantitas dan kualitas permasalahan Orang
Dengan Kecacatan di masyarakat, Fenomena kompleksitas permasalahan ODK
seperti semakin meningkatnya jumlah penderita depresi berat yang mengarah
pada tingginya angka bunuh diri karena ketidakmampuan untuk mengatasi emosi
karena lemahnya dukungan social, lanjut Makmur.

Dikota – kota besar seperti Jakarta tingkat depresi fatal bisa
mengakibatkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan dan tentunya dampaknya
akan lebih besar jika tidak diobati sedini mungkin, faktor yang bisa
menyebabkan tingkat depresi tinggi banyaknya persaingan bisnis yang tidak
bisa diatasi, utang yang menumpuk, faktor ekonomi, beban hidup serta
kondisi lingkungan.

[image: 
http://rehsos.depsos.go.id/uploads/image/TIRA/JIWA%281%29.gif]“Menghadapi
klien yang mengalami gangnguan jiwa memang membutuhkan kesabaran yang luar
biasa, klien yang ditangani disini masih ada yang suka mengamuk bahkan
memakan kotorannya sendiri, kalau sudah begini modelnya kita kembalikan
kekeluarganya, karena klien yang begini sulit untuk kita rehab butuh proses
yang lama, tahapan pelayanan meliputi  Masa orientasi, Rehabilitasi dan
Resosialisasi”, ujarnya.

Kementerian Sosial terus mengupayakan proses rehabilitasi bagi klien eks
psikotik melalui Panti, namun sebelum direhabilitasi dipanti terlebih
dahulu mendapat rujukan dari Rumah Sakit Jiwa Unit Pelaksana Teknisnya
yaitu PSBL Dharma Guna Bengkulu, PSBL Phala Marta, Sukabumi dan PSBL Budi
Luhur, Banjarmasin, sementara itu Kementerian kesehatan melalui pelayanan
Rumah Sakit Jiwa telah melakukan upaya penanganan permasalahan gangguan
jiwa tersebut. Tetapi faktanya jumlah penderita gangguan jiwa sangat tinggi
dibandingkan dengan kapasitas tampungnya.

Kata Gila yang mengandung stigma yang kuat tentang kesehatan jiwa juga
sulit dilepaskan dari ungkapan masyarakat untuk sesuatu sikap perilaku dan
emosional manusia yang tidak normal. Padahal masih banyak gangguan jiwa
lain yang juga membutuhkan perhatian khusus seperti depresi, kecemasan,
gangguan stres pasca trauma dan gangguan kesehatan jiwa pada anak.

[image: http://rehsos.depsos.go.id/uploads/image/TIRA/JIWA2.gif]Tahun 2020
atau sepuluh tahun dari sekarang menurut data Badan Kesehatan Dunia beban
global yang ditanggung negara akibat ketidak seimbangan kerja masyarakat
disumbangkan paling tinggi dari gangguan jiwa depresi, ini telah banyak
diteliti oleh para ahli, tingkat depresi yang tinggi menyebabkan banyak
orang yang mengakhiri hidup dengan singkat karena ketidak mapuan manghadapi
beban hidup, dan yang tetap bertahan akan mengalami keterbelakangan
mental.****(Tira/C-9*



Pada 17 Maret 2013 06.51, Sjamsir Sjarif <[email protected]> menulis:

>
> *Berita Singgalang |* Utama<http://hariansinggalang.co.id/category/utama/>
>
> Tanggal 16 March 2013
>
> PARIAMAN – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pariaman
> bekerjasama dengan Dinas Sosial Tenaga  Kerja (Disosnaker) menggiatkan
> razia penertiban terhadap keberadaan penderita gangguan jiwa. Penderita
> yang terjaring langsung dirujuk ke RS Jiwa HB. Saanin, Gadut, Padang.
> Kepala Satpol PP Pariaman, Joserizal dan Kepala Seksi Pelayanan dan
> Rehabilitasi Sosial, Disosnaker Pariaman, Amrizal kemarin mengatakan, razia
> rutin terus digiatkan di sejumlah tempat yang dicurigai terdapat penderita
> gangguan jiwa.
> Dikatakan, sepanjang tahun 2013 tercatat sudah ada 15 orang penderita
> ganguan jiwa yang dirujuk ke RS Jiwa HB. Saanin, Padang. Penderita yang
> dirujuk sebagian besar merupakan hasil operasi petugas gabungan Pol PP dan
> Sosnaker. Sebagian lain diserahkan oleh pihak keluarga.
>
> langkoknyo baco:
> Penderita Gangguan Jiwa 
> Ditertibkan<http://hariansinggalang.co.id/penderita-gangguan-jiwa-ditertibkan/>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke