Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati; 

Sebelum meneruskan perjalanan setelah bersilaturakmi dan menjenguk kami di
Depok pekan  lalu,  Ajo Duta mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.

"Buat Uda Darwin saja, saya sudah punya buku yang sama," ujarnya.

Tadinya saya mengira TCBP, tetapi begitu melihat sampulnya itu,  saya segera
tahu bahwa itu adalah "Presiden Prawiranegara".

Saya adalah  penggemar mata pelajaran / bacaan sejarah sejak SR (SD) dulu.
Penglihatan terbatas ternyata tidak menghalangi saya untuk melahap buku itu
dalam waktu yang tidak terlalu lama (Alhamdulillah saya juga masih dapat
membaca Koran Kompas edisi cetak setiap pagi). 

Oleh sebab itu, sebagian besar peristiwa serta tokoh-tokoh yang ditampilkan
dalam novel tersebut bukan peristiwa atau tokoh-tokoh asing bagi saya,
tetapi tetap saja ada hal-hal baru atau stressing  terhadap hal-hal yang
saya sudah ketahui selama ini. Itu di luar cara bertutur yang lancar dan
"menghanyutkan"

Yang pertama tentu, ternyata PDRI merupakan tonggak yang sangat penting
dalam perjuangan bagi kelanjutan eksistensi NKRI di saat-saat genting, tidak
saja di bidang diplomasi internasional, tetapi juga di bidang  militer. Dan
fakta sejarah mengenai pernyataan subordinasi Panglima Sudirman dan
jajarannya terhadap PDRI, merupakan sesuatu yang baru dan sekali gus agak
mencengangkan  saya.

Idem ditto, fakta sejarah, bahwa  Bukittinggi, di samping Yogya dan Aceh
tidak merupakan bagian dari Negara federal bentukan Van Mook.

Melalui novel tersebut, saya juga lebih mengenal sosok dan peranan Mr Sutan
Moh Rasyid, yang ternyata pernah menjabat residen Sumatra Barat, Mr Teuku
Moh Hasan serta beberapa tokoh sejarah lainnya.

Dan tentu saja Presiden (tanpa tanda kutip) Prawiranegara, salah satu
mahaputra Republik ini yang kebesaran seakan-akan tersamar oleh kebesaran
Bung Karno, Bung Hatta, Pak Natsir, Sutan Syahrir, H Agus Salim dan Sri
Sultan HB IX, terungkap dengan jelas-antara lain melalui dialog antara tokoh
imajiner Kamil Koto dengan tokoh besar ini-dalam novel sejarah ini

Pertanyaannya, bagaimana caranya agar buku-buku semacam ini bisa menjangkau
lebih banyak lagi generasi muda-minimal di Sumatra Barat-pada saat-saat
defisit keteladanan terjadi baik di level nasional maupun regional seperti
sekarang ini.

Dan saya bermimpi, ada Koran lokal di Sumatra Barat yang berani membeli hak
untuk menerbitkan "Presiden Prawiranegara"-dan kemudian TCBP-sebagai cerita
bersambung di Koran tersebut.

Baa tu Pak Kusie?

Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+), asal Padangpanjang, tinggal di Depok
Tidak ada jalan pintas ke Surga, Tidak ada "panacea", obat tunggal yang
mujarab mengobati semua penyakit

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke