Mak Darwin n.a.h. Terima kasih atas komentar terhadap novel PP ini. Terutama ide untuk menjadikan sebagai cerita bersambung di koran Minang. Entah siapa yang bisa merealisasikan, karena hanya yang merasakan manfaat isi novel itu yang akan berpendapat seperti Mamak.
Sekadar informasi saja, sekitar 2 pekan lalu penerbit novel ini (Mizan) mengabarkan ke Ambo, bahwa penjualan novel PP sudah jauh di bawah harapan dari target per bulan. Dan dibanding novel-novel lain ambo, ini yang penjualannya terendah, meski secara politis berperan penting karena berhasil membuat Pemerintah RI mengakui Pak Sjaf sebagai Pahlawan Nasional (2011) -- seperti testimoni ibu Aisyah Prawiranegara di Kompas TV pada Hari Pahlawan tahun itu. Tapi bagi ambo hal ini tidak mengherankan juga, karena sejak novel ini masuk pasaran Maret 2011 (atau 2 tahun lalu), tak ada pemangku kepentingan Minang/Sumatra Barat yang tertarik membuat acara diskusi/bedah novelnya. Baik dari kalangan pemerintahan sampai lembaga pendidikan. Tak. Beda sekali dengan respon pemangku kepentingan di Banten. Para tokoh Banten dimotori mantan Ketua KPK pertama, Taufiqurrahman Ruki, tokoh perbankan nasional Mochtar Mandala, hakim senior Benyamin Mangkudilaga, dan para tokoh Banten dari generasi lebih muda seperti Ahmad Mukhlis Yusuf (waktu itu CEO Antara News Agency), U. Saefuddin Noer (VP CIMB Niaga Syariah) sangat antusias membuat diskusi. Belum lagi dari kalangan kampus di sana seperti Universitas Tirtayasa yang sampai memboyong mahasiswa Sastra Indonesia (sekitar 80 orang) untuk mengikuti "studium generale" saya yang berlangsung outdoor di Komunitas Rumah Dunia, Serang, yang dikelola penulis Gol A Gong. Begitu juga dengan respon antusias dari pelbagai kalangan lain di luar Banten, mulai dari ITB (Masjid Salman), FE UI, sampai kampus di Medan, sepanjang tahun 2011, tahun Seabad Pak Sjaf. Ironisnya, tak satu pun ada undangan diskusi novel ini dari Sumbar. Tapi hal ini pun tak mengherankan ambo juga Mak Darwin, karena ambo sudah sampai pada kesimpulan masyarakat Minang masih tak paham betapa dalamnya nilai Deklarasi PDRI pada Rabu, 22 Desember 1948 yang berlangsung di perkebunan teh Halaban, kaki gunung Sago, jelang Subuh yang berselimut udara dingin menggigit tulang itu. Deklarasi Halaban itu sebetulnya hanya satu tingkat di bawah Proklamasi 17 Agustus 1945, karena merupakan faktor kunci bagi kelanjutan Indonesia sebagai negara berdaulat. Deklarasi Halaban jauh lebih penting dari Hari Pahlawan 10 November yang selalu dirayakan besar-besaran dan sudah dijadikan Hari Nasional. Masyarakat Minang sesungguhnya sedang memegang loyang emas di tangan mereka. Tapi loyang itu begitu berdebu, sehingga mereka sendiri menyangka itu hanya loyang kuningan yang tak perlu diperjuangkan keberadaannya untuk diperhatikan oleh anak bangsa dari suku lain. Wassalam, ANB Cibubur Pada Minggu, 24 Maret 2013, Darwin Bahar menulis: > Sanak Sa Palanta nan Ambo Hormati; **** > > Sebelum meneruskan perjalanan setelah bersilaturakmi dan menjenguk kami di > Depok pekan lalu, Ajo Duta mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.**** > > “Buat Uda Darwin saja, saya sudah punya buku yang sama,” ujarnya.**** > > Tadinya saya mengira TCBP, tetapi begitu melihat sampulnya itu, saya > segera tahu bahwa itu adalah “Presiden Prawiranegara”.**** > > Saya adalah penggemar mata pelajaran / bacaan sejarah sejak SR (SD) dulu. > Penglihatan terbatas ternyata tidak menghalangi saya untuk melahap buku itu > dalam waktu yang tidak terlalu lama (Alhamdulillah saya juga masih dapat > membaca Koran Kompas edisi cetak setiap pagi). **** > > Oleh sebab itu, sebagian besar peristiwa serta tokoh-tokoh yang > ditampilkan dalam novel tersebut bukan peristiwa atau tokoh-tokoh asing > bagi saya, tetapi tetap saja ada hal-hal baru atau stressing terhadap > hal-hal yang saya sudah ketahui selama ini. Itu di luar cara bertutur yang > lancar dan “menghanyutkan”**** > > Yang pertama tentu, ternyata PDRI merupakan tonggak yang sangat penting > dalam perjuangan bagi kelanjutan eksistensi NKRI di saat-saat genting, > tidak saja di bidang diplomasi internasional, tetapi juga di bidang > militer. Dan fakta sejarah mengenai pernyataan subordinasi Panglima > Sudirman dan jajarannya terhadap PDRI, merupakan sesuatu yang baru dan > sekali gus agak mencengangkan saya.**** > > Idem ditto, fakta sejarah, bahwa Bukittinggi, di samping Yogya dan Aceh > tidak merupakan bagian dari Negara federal bentukan Van Mook.**** > > Melalui novel tersebut, saya juga lebih mengenal sosok dan peranan Mr > Sutan Moh Rasyid, yang ternyata pernah menjabat residen Sumatra Barat, Mr > Teuku Moh Hasan serta beberapa tokoh sejarah lainnya.**** > > Dan tentu saja Presiden (tanpa tanda kutip) Prawiranegara, salah satu > mahaputra Republik ini yang kebesaran seakan-akan tersamar oleh kebesaran > Bung Karno, Bung Hatta, Pak Natsir, Sutan Syahrir, H Agus Salim dan Sri > Sultan HB IX, terungkap dengan jelas—antara lain melalui dialog antara > tokoh imajiner Kamil Koto dengan tokoh besar ini—dalam novel sejarah ini** > ** > > Pertanyaannya, bagaimana caranya agar buku-buku semacam ini bisa > menjangkau lebih banyak lagi generasi muda—minimal di Sumatra Barat—pada > saat-saat defisit keteladanan terjadi baik di level nasional maupun > regional seperti sekarang ini.**** > > Dan saya bermimpi, ada Koran lokal di Sumatra Barat yang berani membeli > hak untuk menerbitkan “Presiden Prawiranegara”—dan kemudian TCBP—sebagai > cerita bersambung di Koran tersebut.**** > > Baa tu Pak Kusie?**** > > Wassalam, HDB St Bandaro Kayo (L, 69+), asal Padangpanjang, tinggal di > Depok > *Tidak ada jalan pintas ke Surga, Tidak ada “panacea”, obat tunggal yang > mujarab mengobati semua penyakit***** > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti > [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', > '[email protected]');>. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
