> From: "Dr. Saafroedin Bahar" <[email protected]> > Date: 26 Maret 2013 11:49:21 WIB > To: Akmal Nasery Basral <[email protected]> > Subject: Kesan saya setelah membaca cepat-cepat TCBP. > > Selama ini, ada dua karangan Buya Hamka yang sangat saya kagumi, yaitu " > Tenggelamnya Kapal van der Wijk " dan " Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi > ". Saya tidak tahu banyak tentang riwayat hidup Buya Hamka. > Buku Bung Akmal membuka mata saya. Sama sekali tidak saya duga pengalaman > Buya Hamka semasa kecil demikian tragis, menghadapi seorang ayah yang sangat > kaku, dan bagaikan tanpa dosa telah menceraikan ibunya untuk kawin dengan > perempuan lain, sesuai dengan anjuran para ninik mamak pemangku adat . > Sebagai seorang yang mempunyai intelijensi tinggi, kritis, dan berani, Hamka > kecil memberontak, dan dengan modal nekad meninggalkan Ayahnya, sampai sakit > keras di Bengkulu. Juga dengan modal nekad beliau pergi haji dengan membeli > tiket satu kali jalan, ingin belajar agama dengan cara apapun, oleh karena > Ayah beliau tidak menepati janji. Pertemuan dengan Haji Agus Salim telah > mengubah jalan hidup beliau. > Saya sampaikan salut setinggi-tingginya kepada Buya Hamka dan kepada Bung > Akmal yang telah menulis novel sejarah ini dengan bahasa yang demikian > lancar. > Sebagai orang Padangpanjang, saya tahu persis lokasi yang disebutkan Bung > Akmal. Rumah orang tua saya di Pasar Usang, dekat bioskop " Rex " ( bukan > Cinema Theater yang di Gatangan ) milik keluarga Lim Bun Kai, tidak jauh dari > Surau Jembatan Besi. Sesekali saya sholat di sana. Saya lebih senang di > Mesjid Pasar Usang yang lebih besar. > Secara khusus yang menjadi perhatian saya selaku pemerhati ABS SBK adalah > kenyataan bahwa adat dan agama Islam hampir selalu berkonflik dalam > masyarakat Minangkabau sampai abad ke 21 sekarang ini, walau Tuanku Imam > Bonjol telah berusaha meletakkan dasar- dasar ' islah ' pada tahun 1832, > hampir dua abad yang lalu. Jadi nasib yang dialami oleh " Deklarasi ABS SBK" > tanggal 14 Januari 2013 - yang diprakarsai BK3AM dan Gebu Minang, serta > diitandatangani oleh 35 tokoh perantau - bukanlah barang baru, tetapi > sekedar pengulangan dari konflik laten dua system nilai dalam masyarakat > Minangkabau, yang belum berhasil berosmose, dan masih tetap ibarat air dan > minyak. > Saya jadi teringat lagi pada ratok tangih bung Febian dalam " Salamaik Pagi > Minangkabau ". Apakah Minangkabau ini ibarat sebuah kapal yang hendak karam ? > Entahlah. Mudah- mudah jangan, oleh karena - sesuai dengan ajaran Islam Q:Ar > Ra'd ayat 11, nasib di tangan kita sendiri. > Terima kasih sekali lagi, bung Akmal. > > Sent from my iPad
-- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
