Menarik! menarik!
Bisa didiskusikan lebih lanjut. Hamka tampaknya 'benci tapi rindu' ka Adat 
Minang. Atau iko dilema ulama Minangkabau? Ambo liek ulama2 nan lain juo 
cenderung indak mamakai gala, meskipun menurut logika, kalau lah gadang, 
seorang Minang (walau inyo ulama) tantu harus lakek gala ka inyo. Apo ado data2 
statistik: bara urang ulama Minangkabau kini nan punyo gala? Dan bara urang nan 
cenderung mamakai gala tu atau 'menyembunyikannyo'? Nan jaleh, manuruik hemat 
ambo, fenomena ulama nan 'maandok2án' gala adatnyo ko (baca: cenderung indak 
namuah mamakai gala adatnyo, walaupun namuah ditabalkan dek kaumnyo), 
menunjukkan dilema Minangkabau. Baa pandapek urang gadang basa batuah di lapau 
tu?
 
Salam,
Suryadi
 

________________________________
 Dari: Z Chaniago <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Selasa, 26 Maret 2013 7:37
Judul: Re: [R@ntau-Net] Fwd: Kesan saya setelah membaca cepat-cepat TCBP.
  

Assalamu'alaikum Ww

Pak Saaf dan Mak Kusia ANB....

ado ciek hal nan jadi tando-tanyo ambo nan alun tajawab....dan hal iko 
seringkali dipakai urang dalam berdiskusi tentang adat vs agama, yaitu gala Dt 
Indomo nan disandang almarhum disaat baliau baliak dari Haji... 

Nah...baa mangko Buya HAMKA dalam keseharian baliau indak tamusahua dengan Dt 
Indomo yang disandang beliau ?
Malah dalam nama pena juga tidak memakai gala tsb..., jika dibandingkan dengan 
Nur St Iskandar, Tan Malaka, dll 
Padahal dalam keseharian di Sungai Batang dan Tanjuang Sani.... jarang sekali 
urang dipanggia namo sasuai jo adagium 'ketek banamo gadang bagala'

Mungkin Mak Kusia ANB punyo 'untold story'-nyo ? 

Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak


 
Pada 26 Maret 2013 11.54, Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]> menulis:


>
>
>
>From: "Dr. Saafroedin Bahar" <[email protected]>
>>Date: 26 Maret 2013 11:49:21 WIB
>>To: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
>>Subject: Kesan saya setelah membaca cepat-cepat TCBP. 
>>
>>
>Selama ini, ada dua karangan Buya Hamka yang sangat saya kagumi, yaitu " 
>Tenggelamnya Kapal van der Wijk " dan " Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi 
>". Saya tidak tahu banyak tentang riwayat hidup Buya Hamka.
>>Buku Bung Akmal membuka mata saya. Sama sekali tidak saya duga pengalaman 
>>Buya Hamka semasa kecil demikian tragis, menghadapi seorang ayah yang sangat 
>>kaku, dan bagaikan tanpa dosa telah menceraikan ibunya untuk kawin dengan 
>>perempuan lain, sesuai dengan anjuran para ninik mamak pemangku adat . 
>>Sebagai seorang yang mempunyai intelijensi tinggi, kritis, dan berani, Hamka 
>>kecil memberontak, dan dengan modal nekad meninggalkan Ayahnya, sampai sakit 
>>keras di Bengkulu. Juga dengan modal nekad beliau pergi haji dengan membeli 
>>tiket satu kali jalan, ingin belajar agama dengan cara apapun, oleh karena 
>>Ayah beliau tidak menepati janji. Pertemuan dengan Haji Agus Salim telah 
>>mengubah jalan hidup beliau.
>>Saya sampaikan salut setinggi-tingginya kepada Buya Hamka dan kepada Bung 
>>Akmal yang telah menulis novel sejarah ini dengan bahasa yang demikian 
>>lancar. 
>>Sebagai orang Padangpanjang, saya tahu persis lokasi yang disebutkan Bung 
>>Akmal. Rumah orang tua saya di Pasar Usang, dekat bioskop " Rex " ( bukan 
>>Cinema Theater yang di Gatangan ) milik keluarga Lim Bun Kai, tidak jauh dari 
>>Surau Jembatan Besi. Sesekali saya sholat di sana. Saya lebih senang di 
>>Mesjid Pasar Usang yang lebih besar. 
>>Secara khusus yang menjadi perhatian saya selaku pemerhati ABS SBK adalah 
>>kenyataan bahwa adat dan agama Islam hampir selalu berkonflik dalam 
>>masyarakat Minangkabau sampai abad ke 21 sekarang ini, walau Tuanku Imam 
>>Bonjol telah berusaha meletakkan dasar- dasar ' islah ' pada tahun 1832, 
>>hampir dua abad yang lalu. Jadi nasib yang dialami oleh " Deklarasi ABS SBK" 
>>tanggal 14 Januari 2013  - yang diprakarsai BK3AM dan Gebu Minang, serta 
>>diitandatangani oleh 35 tokoh perantau -  bukanlah barang baru, tetapi 
>>sekedar pengulangan dari konflik laten dua system nilai dalam masyarakat 
>>Minangkabau, yang belum berhasil berosmose, dan masih tetap ibarat air dan 
>>minyak. 
>>Saya jadi teringat lagi pada ratok tangih bung Febian dalam  " Salamaik Pagi 
>>Minangkabau ". Apakah Minangkabau ini ibarat sebuah kapal yang hendak karam ? 
>>Entahlah. Mudah- mudah jangan, oleh karena - sesuai dengan ajaran Islam Q:Ar 
>>Ra'd ayat 11, nasib di tangan kita sendiri.
>>Terima kasih sekali lagi, bung Akmal.
>>
>>
>>-- 
>>Z Chaniago - Palai Rinuak 
>>
>>Alam Minangkabau semakin memukau oleh kemilau Danau Maninjau  .
>>
>>Sayangi Danau Maninjau - 
>>
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke