Pak Saaf dan sanak palanta yth :
Apa lah artimya sebuah nama , begitu pernah dikatakan oleh Shakespeare ,
nama seseorang tidak begitu besar pengaruhnya terhadap perilaku dan perjalanan
hidup.
Dr Azyumardi Azra M.A pernah menulis dalam sebuah kata sambutan mengiringi
terbitnya buku Bpk Saafroedin Bahar yang berjudul : Masih Ada Harapan , tentang
orang-orang Minang pasca pemberontakan PRRI yang seolah - olah malu untuk
menunjukkan identitasnya , maka orang tuapun memberikan nama yang aneh aneh
untuk putra putrinya yang sering sipemberi nama sendiri tak tahu apa arti
nama itu
Ada orang Minang yang bernama Kardinal , Edward , Ronald , Bob , Geofanni,
Antonio dan seterusnya , dan tak sedikit pula yang memakai nama yang ke
Jawa-Jawa an . Nama-nama Islam , atau nama - nama antik Minang seperti :
Lenggogeni , Andam Dewi , Reno Pinang , Rambun Julai , Yusran , Yursal ,
Syahril , Yusril dan semacamnya terkalimbun dan hilang dari pasaran .
Dr Azumardi Azra menyebutnya sebagai gejala psikologis penyembunyian diri (
self- concealment ) dan agaknya merupakan semacam "escapism" atau psyhchology
of the losers , psikologi pecundang ( orang - orang yang kalah ) yang
kelihatannya terus menghinggapi orang - orang Minang sampai kini .
Namun demikian tak seluruhnya alasan diatas dapat diterima , karena jauh
sebelum PRRI , sudah ada juga orang - orang Minang yang memakai nama yang
kalau diperhatikan sepintas tidak menggambarkan keminangan dan Islami seperti
nama Marthias Dusky Pandoe , Carl Chaerul ( Ayahanda Sdr. Dino Antonio yang
bermukim di Myanmar) , Kamalius , Jamalus , Martunus dlsb , tapi saya yakin
nama - nama yang saya sebut itu adalah orang Minang dan pasti beragama Islam ,
apakah ini juga merupakan psikologis penyembunyian diri ? wallahualam .
Wassalam : zul amry piliang ( 60 th + ) di Jimbaran Bali .
"Dr.Saafroedin BAHAR" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamualaikum w.w. Sanak
Nofendri serta para sanak sa palanta,
Terima kasih sebesar-sebesarnya saya ucapkan terhadap kiriman posting
ini.Sekedar kemungkinan penjelasan dari nama-nama orang Minangkabau yang
berubah-ubah itu, izinkan saya menyampaikan tafsiran dari Prof Dr. Franz dan
Keebet von Benda-Beckmann -- dua orang ahli antropologi Jerman yang sangat
berminat terhadap Minangkabau -- dalam artikel kedua beliau yang berjudul:
"Identitas-Identitas Ambivalen: Desentralisasi dan Komunitas-Komunitas Politik
Minangkabau", dalam Henk Schultte Nordholt dan Gerry van Klinken, eds, 2007,
Politik Lokal di Indonesia, KTILV dan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, halaman
544. Sesuai dengan judul artikel mereka itu, mereka menengarai suku bangsa
Minangkabau ini sebagai suku bangsa yang kebingungan dengan jati dirinya. Saya
kutipkan alinea yang saya anggap paling penting dalam artikel tersebut sebagai
berikut: " Sementara daerah-daerah lain di Indonesia menunjukkan perhatian kuat
yang serupa dalam identitas kedaerahan mereka, identitas Minangkabau
terasa luar biasa ambivalen". [ambivalen=bermakna ganda]. Saya sendiri juga
berkesimpulan demikian. Hal itu saya tulis dalam buku yang saya tulis bersama
Ir Mohammad Zulfan tadjoeddin MA, 2004, "Masih Ada Harapan".
Ringkasnya, kegalauan nama orang Minangkabau mungkin sekali berakar
dari kegalauan akan jati diri Minangkabau. Mungkin itu jugalah yang menyebabkan
demikian ruwetnya wacana tentang ABS SBK selama ini. Atau adakah kemungkinan
penjelasan lain? Wallahualambissawab..
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 70+6+9, Jakarta)
'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi'
'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya'
'Taqdir di tangan Allah swt, Nasib di tangan Manusia'
'Puji syukur aku sampaikan pada-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat
yang telah Engkau anugerahkan kepada aku dan keluargaku'.
'Mari berlomba berbuat kebaikan'
'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya'
'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'
--- On Tue, 2/19/08, Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: DIM 10: NAMA ORANG MINANGKABAU
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 19, 2008, 8:08 PM
Untuak panambah-nambah sasui Subjek diateh,
artikelnyo da Elfitra ko rancak juo dibaco2.
Salam
Nofendri, nan laia di November J
NAMA DAN IDENTITAS BAGI ORANG MINANG
Jan 6, '08 3:50 PM, http://elfitra.multiply.com/journal/item/21
Diantara sejumlah suku-suku bangsa yang ada di Nusantara, mungkin nama-nama
orang Minang tergolong kompleks, aneh, variatif, longgar, tapi sekaligus
fleksibel, unik, kreatif serta pragmatis. Orang Batak dan Manado selalu
mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Nama orang Maluku dan
Papua dapat dikenali secara cepat dan familiar. Sebagai pengaruh Islam, nama
orang Melayu lazim mencantumkan bin/binti sebelum nama orang tua. Orang Jawa
dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga kita nama-nama mereka
memiliki kekhasan tersendiri.
Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali status
sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat biasa. Nama
depan "Andi" jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi Selatan (Bugis). Demikian
juga halnya dengan kelompok masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai , Nias
atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah dikenali
(addressed).
Bagaimana dengan dengan Minangkabau??? Penamaan dalam masyarakat Minangkabau
masa lampau kelihatannya berpegang pada falsafah "alam takambang jadi guru".
Orang-orang menamai daerah-daerah baru, kampung, dan nama-nama suku-suku dengan
falsafah ini, termasuk juga menamai orang (anak) dan gelar. Tak mengherankan
kiranya, kalau nenek moyang kita bernama : Kirai, Upiak Arai, Talipuak,
Sirancak, Jilatang, Masiak, atau Jangguik. Kedengarannya aneh dan lucu, ya???
Setelah Islam masuk dan berkembang, mulai pula nama-nama orang Minang
berubah menjadi kearab-araban (Islam). Nama-nama seperti ini, contohnya :
Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir, Arifin,
Ismail, Aziz, Fauzah, Hamid, M. Rais, Zakiah, Ibrahim, Idris, Rasid, Sofyan,
Dahlan, Fatimah, Aminah, Maimunah, Hayati, Nurhasanah, Nuraini, Saidah, dst.
Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang mengalami tekanan
mental luar biasa dari pemerintahan Jakarta , banyak diantara mereka kemudian
memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau. Setidaknya,
demikian pendapat yang tertulis dalam buku "Merantau"-nya sosiolog Mochtar
Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas dan label keminangannya,
salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit orang Minang memiliki nama yang
kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa, Parsia, atau Amerika Latin.. Sekedar
contoh, seorang pejuang pemberontak PRRI yang semula bernama Bastian St. Ameh,
kemudian merantau ke Jawa dan berhasil jadi pengusaha sukses : Sebastian
Tanamas.
Ada "urang awak" bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal.
Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari bernama ;
Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni dan terakhir siapa kira kalau Irwan Prayitno
itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya berkali-kali berusaha meyakinkan
orang-orang tua di kampung halaman, kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada
saat Pilkada berlangsung. Mungkin mereka kuatir dengan "trauma" masa lalu, pada
penghujung Orde Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah Minang yang di"drop"
dari Jakarta dan berasal dari etnis Jawa.
Dalam pemberian nama kepada anak orang Minang sangat pragmatis tapi kreatif.
Di SD saya punya kawan bernama hebat, John Kennedy, sayang dia sempat tinggal
kelas. Waktu kuliah teman akrab saya bernama Socrates, asal Labuh Besilang
Payakumbuh, yang waktu lahir kakek yang memberinya nama terkagum-kagum pada
pemikiran Filsafat Yunani. Semula saya kira dia orang Tapanuli, namanya
Hardisond Dalga, ternyata dia dari Singkarak dan nama belakang adalah nama
ayah-bunda ; Dalimi-Gadis.
Ada lagi kawan bernama Ida Prihatin, karena waktu melahirkan orang tuanya
mengalami masa-masa ekonomi susah. Indah Elizabeth, Indah namanya dan waktu
lahir ditolong oleh bidan Tionghoa yang ramah bernama Elizabeth . Dian Bakti
Kamampa, kata terakhir bukan nama daerah melainkan akronim dari "Kepada Mama
dan Papa", juga ada Taufik Memori Kemal, menurut cerita orang tua yang memberi
nama tersebut, dia selalu terkenang (teringat) kepada komandan seperjuangan
yang gugur pada Revolusi Fisik Kemerdekaan bernama "Kapten Kemal". Juga menarik
seorang mahasiswa bernama M. Batar. Sudah pasti M tersebut adalah Mohammad, dan
"Batar" mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab, begitu pikir saya selama
bertahun-tahun. Tetapi kemudian ketika sesi "mukaddimah" saat dia ujian
skripsi, dia menceritakan kisah dibalik nama tersebut (karena memang ada dosen
yang iseng nanya arti namanya). Singkatnya M. Batar artinya; "mambangkik batang
tarandam", itulah nama yang sekaligus menjadi misi hidup
laki-laki berperawan kurus ini. Kalau kita rentang, akan banyak kisah-kisah
seterusnya dibalik pemberian nama Orang Minang.
Nama-nama singkatan/akronim bagi orang Minang sudah mentradisi. Salah satu
"perintis"nya adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah, yang menyingkat
namanya jadi HAMKA. Setelah itu tak sedikit yang meniru, memendekkan nama
panjangnya menjadi akronim atau singkatan. Ada Pak AR , Buya ZAS, STA, HAP,
HAKA, Zatako.
Yang menarik ada nama yang sering diasosiasikan sebagai khas Minang, karena
nyaris tak dijumpai pada di etnik lain, yakni nama yang mengandung atau
ber-akhiran ...Rizal. Sampai sekarang penulis juga belum tahu pasti dari mana
asal usul tersebut. Sebutlah misalnya ; Rizal, Rizaldo, Rizaldi, Afrizal,
Erizal, Syamsurizal, Syahrizal, Endrizal, Masrizal, Syafrizal, Hendrizal,
Efrizal, Nofrizal, dst.
Memasuki pertengahan tahun 1980-an, ketiga pemerintahan orde baru sedang
puncak-puncaknya, mulai pula "trend" nama anak berbau kebarat-baratan. Ada yang
bernama Alex, Andreas, Hendri(k), Anthon(y), Roni, Yohanes, Octavia,
Octavianus, Matius, Agustin, Angela, Monica, Susi, Selly, Ryan, Mathias, Dona,
Harry, Sintia, Agnes, Yosep, Yoserizal, John, Johan, Yohanna, dan kalau
diteruskan nama-nama ini akan jadi deretan cukup panjang.
Mungkin pengaruh dominasi budaya orde baru, banyak juga nama yang berasal
Sangsekerta seperti : Eka, Eko, Ika, Dharma, Bakti, Agus, Esa, Kurniawan,
Sinta, dst.
Seiring dengan itu, pernah juga sebagian orang mengangkat nama suku sebagai
nama belakang. Ini menurut saya karena pengaruh nama orang Batak dan Mandailing
yang terlihat "gagah" dengan nama marga yang selalu menempel di belakang nama
mereka. Maka kemudian muncul nama semisal, Hendri Chaniago (karena berasal dari
suku Caniago), Indra Piliang, Afrizal Koto, Anisa Jambak. Nampaknya hanya nama
Chaniago (mengherankan....entah mengapa nama suku itu selalu dibubuhi "h",
padahal aslinya hanya "caniago") dan Piliang saja yang cukup populer sebagai
nama, suku yang lain relatif jarang. Memang, nama-nama semacam itu hanya
sedikit peminatnya, karena tidak lazim. Bagi orang Batak atau Mandailing, kalau
mereka berasal dari marga yang sama misalnya sama-sama Sitorus atau Nasution
berarti bersaudara. Sementara suku-suku di Minang bersifat menyebar pada semua
nagari di seluruh Sumatra Barat, sehingga rasa pertalian sesama suku itu -
meskipun di rantau - pun terasa longgar.
Runtuhnya rezim Suharto dan digantikan oleh era reformasi sekarang, kembali
trend nama-nama Islam dan religius untuk nama anak. Sebutlah misalnya ; Habib,
Farhan, Said, Anisa, Naufal, Aqila, Zahra, Najla, Najwa, Zahira, Salma, Sarah,
dst.
Sebenarnya banyak hal yang masih menganjal dengan "style" nama-nama orang
Minang, misalnya mengapa karakter nama Minang cenderung berubah-rubah, dari
satu periode ke periode berikutnya? Mengapa begitu variatif dan kompleksnya
nama orang Minang, sehingga kadang bersifat "menipu", uncertain dan kadang
absurd, lalu adakah yang mereka sembunyikan dibalik nama-nama tersebut? Apa
arti/makna nama bagi orang Minang zaman sekarang, sejauhmana nama seseorang
dianggap penting sebagai identitas sosial? Sejauhmana hubungan antara
nama/gelar dengan politik, modernisasi, atau birokrasi? Kalau dulu nama sebagai
identitas yang dijumpai adalah, misal : Y. Dt. Rangkayo Basa, M. Dt. Mangkudun
Sati atau B. Bagindo Sutan, mengapa tiba-tiba sekarang tak ada yang
mencantumkan gelar adat tersebut sebagai nametag, kartu nama, atau sebagai nama
resmi (yang disandang kemana-mana karena bangganya) sebagaimana dulu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab melalui sebuah kajian ilmiah
atau
penelitian.
________________________________________
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---