Assalamualaikum w.w. Sanak Nofendri serta para sanak sa palanta,

Terima kasih sebesar-sebesarnya saya ucapkan terhadap kiriman posting ini.Sekedar kemungkinan penjelasan dari nama-nama orang Minangkabau yang berubah-ubah itu, izinkan saya menyampaikan tafsiran dari Prof Dr. Franz dan Keebet von Benda-Beckmann -- dua orang ahli antropologi Jerman yang sangat berminat terhadap Minangkabau -- dalam artikel kedua beliau yang berjudul: "Identitas-Identitas Ambivalen: Desentralisasi dan Komunitas-Komunitas Politik Minangkabau", dalam Henk Schultte Nordholt dan Gerry van Klinken, eds, 2007, Politik Lokal di Indonesia, KTILV dan Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, halaman 544.  Sesuai dengan judul artikel mereka itu, mereka menengarai suku bangsa Minangkabau ini sebagai suku bangsa yang kebingungan dengan jati dirinya. Saya kutipkan alinea yang saya anggap paling penting dalam artikel tersebut sebagai berikut: " Sementara daerah-daerah lain di Indonesia menunjukkan perhatian kuat yang serupa dalam identitas kedaerahan mereka, identitas Minangkabau terasa luar biasa ambivalen". [ambivalen=bermakna ganda]. Saya sendiri juga berkesimpulan demikian. Hal itu saya tulis dalam buku yang saya tulis bersama Ir Mohammad Zulfan tadjoeddin MA, 2004,  "Masih Ada Harapan".
        Ringkasnya, kegalauan nama orang Minangkabau mungkin sekali berakar dari kegalauan akan jati diri Minangkabau. Mungkin itu jugalah yang menyebabkan demikian ruwetnya wacana tentang ABS SBK selama ini. Atau adakah kemungkinan penjelasan lain? Wallahualambissawab..

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 70+6+9, Jakarta)
'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi'
'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya'
'Taqdir di tangan Allah swt, Nasib di tangan Manusia'
'Puji syukur aku sampaikan pada-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada aku dan keluargaku'.
'Mari berlomba berbuat kebaikan'
'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya'
'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'


--- On Tue, 2/19/08, Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nofend St. Mudo <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: DIM 10: NAMA ORANG MINANGKABAU
To: [email protected]
Date: Tuesday, February 19, 2008, 8:08 PM

Untuak panambah-nambah sasui Subjek diateh, artikelnyo da Elfitra ko rancak juo dibaco2.

 

Salam

Nofendri, nan laia di November J

 

NAMA DAN IDENTITAS BAGI ORANG MINANG

Jan 6, '08 3:50 PM, http://elfitra.multiply.com/journal/item/21

 

Diantara sejumlah suku-suku bangsa yang ada di Nusantara, mungkin nama-nama orang Minang tergolong kompleks, aneh, variatif, longgar, tapi sekaligus fleksibel, unik, kreatif serta pragmatis. Orang Batak dan Manado selalu mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Nama orang Maluku dan Papua dapat dikenali secara cepat dan familiar. Sebagai pengaruh Islam, nama orang Melayu lazim mencantumkan bin/binti sebelum nama orang tua. Orang Jawa dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga kita nama-nama mereka memiliki kekhasan tersendiri.

 

Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa langsung dikenali status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan atau rakyat biasa. Nama depan "Andi" jelas berasal dari kaum ningrat Sulawesi Selatan (Bugis). Demikian juga halnya dengan kelompok masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai , Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah dikenali (addressed). 

 

Bagaimana dengan dengan Minangkabau??? Penamaan dalam masyarakat Minangkabau masa lampau kelihatannya berpegang pada falsafah "alam takambang jadi guru".  Orang-orang menamai daerah-daerah baru, kampung, dan nama-nama suku-suku dengan falsafah ini, termasuk juga menamai orang (anak) dan gelar. Tak mengherankan kiranya, kalau nenek moyang kita bernama : Kirai, Upiak Arai, Talipuak, Sirancak, Jilatang, Masiak, atau Jangguik. Kedengarannya aneh dan lucu, ya???

 

Setelah Islam masuk dan berkembang, mulai pula nama-nama orang Minang berubah menjadi kearab-araban (Islam). Nama-nama seperti ini, contohnya : Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir, Arifin, Ismail, Aziz, Fauzah, Hamid, M. Rais, Zakiah, Ibrahim, Idris, Rasid, Sofyan, Dahlan, Fatimah, Aminah, Maimunah, Hayati, Nurhasanah, Nuraini, Saidah, dst.

 

Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang mengalami tekanan mental luar biasa dari pemerintahan Jakarta , banyak diantara mereka kemudian memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau. Setidaknya, demikian pendapat yang tertulis dalam buku "Merantau"-nya sosiolog Mochtar Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas dan label keminangannya, salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit orang Minang memiliki nama yang kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa, Parsia, atau Amerika Latin.. Sekedar contoh, seorang pejuang pemberontak PRRI  yang semula bernama Bastian St. Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan berhasil jadi pengusaha sukses : Sebastian Tanamas.

 

Ada "urang awak" bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal. Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari bernama ; Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni dan terakhir siapa kira kalau Irwan Prayitno itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya berkali-kali berusaha meyakinkan orang-orang tua di kampung halaman, kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada saat Pilkada berlangsung. Mungkin mereka kuatir dengan "trauma" masa lalu, pada penghujung Orde Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah Minang yang di"drop" dari Jakarta dan berasal dari etnis Jawa.

 

Dalam pemberian nama kepada anak orang Minang sangat pragmatis tapi kreatif. Di SD saya punya kawan bernama hebat, John Kennedy, sayang dia sempat tinggal kelas. Waktu kuliah teman akrab saya bernama Socrates, asal Labuh Besilang Payakumbuh, yang waktu lahir kakek yang memberinya nama terkagum-kagum pada pemikiran Filsafat Yunani. Semula saya kira dia orang Tapanuli, namanya Hardisond Dalga, ternyata dia dari Singkarak dan nama belakang adalah nama ayah-bunda ; Dalimi-Gadis.

 

Ada lagi kawan bernama Ida Prihatin, karena waktu melahirkan orang tuanya mengalami masa-masa ekonomi susah. Indah Elizabeth, Indah namanya dan waktu lahir ditolong oleh bidan Tionghoa yang ramah bernama Elizabeth . Dian Bakti Kamampa, kata terakhir bukan nama daerah melainkan akronim dari "Kepada Mama dan Papa", juga ada Taufik Memori Kemal, menurut cerita orang tua yang memberi nama tersebut, dia selalu terkenang (teringat) kepada komandan seperjuangan yang gugur pada Revolusi Fisik Kemerdekaan bernama "Kapten Kemal". Juga menarik seorang mahasiswa bernama M. Batar. Sudah pasti M tersebut adalah Mohammad, dan "Batar" mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab, begitu pikir saya selama bertahun-tahun. Tetapi kemudian ketika sesi "mukaddimah" saat dia ujian skripsi, dia menceritakan kisah dibalik nama tersebut (karena memang ada dosen yang iseng nanya arti namanya). Singkatnya M. Batar artinya; "mambangkik batang tarandam", itulah nama yang sekaligus menjadi misi hidup laki-laki berperawan kurus ini. Kalau kita rentang, akan banyak kisah-kisah seterusnya dibalik pemberian nama Orang Minang.

 

Nama-nama singkatan/akronim bagi orang Minang sudah mentradisi. Salah satu "perintis"nya adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amarullah, yang menyingkat namanya jadi HAMKA. Setelah itu tak sedikit yang meniru, memendekkan nama panjangnya menjadi akronim atau singkatan. Ada Pak AR , Buya ZAS, STA, HAP, HAKA, Zatako.

 

Yang menarik ada nama yang sering diasosiasikan sebagai khas Minang, karena nyaris tak dijumpai pada di etnik lain, yakni nama yang mengandung atau ber-akhiran ...Rizal. Sampai sekarang penulis juga belum tahu pasti dari mana asal usul tersebut. Sebutlah misalnya ; Rizal, Rizaldo, Rizaldi, Afrizal, Erizal, Syamsurizal, Syahrizal, Endrizal, Masrizal, Syafrizal, Hendrizal, Efrizal, Nofrizal, dst.

 

Memasuki pertengahan tahun 1980-an, ketiga pemerintahan orde baru sedang puncak-puncaknya, mulai pula "trend" nama anak berbau kebarat-baratan. Ada yang bernama Alex, Andreas, Hendri(k), Anthon(y), Roni, Yohanes, Octavia, Octavianus, Matius, Agustin, Angela, Monica, Susi, Selly, Ryan, Mathias, Dona, Harry, Sintia, Agnes, Yosep, Yoserizal, John, Johan, Yohanna, dan kalau diteruskan nama-nama ini akan jadi deretan cukup panjang.

 

Mungkin pengaruh dominasi budaya orde baru, banyak juga nama yang berasal Sangsekerta seperti : Eka, Eko, Ika, Dharma, Bakti, Agus, Esa, Kurniawan, Sinta, dst.

 

Seiring dengan itu, pernah juga sebagian orang mengangkat nama suku sebagai nama belakang. Ini menurut saya karena pengaruh nama orang Batak dan Mandailing yang terlihat "gagah" dengan nama marga yang selalu menempel di belakang nama mereka. Maka kemudian muncul nama semisal, Hendri Chaniago (karena berasal dari suku Caniago), Indra Piliang, Afrizal Koto, Anisa Jambak. Nampaknya hanya nama Chaniago (mengherankan....entah mengapa nama suku itu selalu dibubuhi "h", padahal aslinya hanya "caniago") dan Piliang saja yang cukup populer sebagai nama, suku yang lain relatif jarang. Memang, nama-nama semacam itu hanya sedikit peminatnya, karena tidak lazim. Bagi orang Batak atau Mandailing, kalau mereka berasal dari marga yang sama misalnya sama-sama Sitorus atau Nasution berarti bersaudara. Sementara suku-suku di Minang bersifat menyebar pada semua nagari di seluruh Sumatra Barat, sehingga rasa pertalian sesama suku itu - meskipun di rantau - pun terasa longgar. 

 

Runtuhnya rezim Suharto dan digantikan oleh era reformasi sekarang, kembali trend nama-nama Islam dan religius untuk nama anak. Sebutlah misalnya ; Habib, Farhan, Said, Anisa, Naufal, Aqila, Zahra, Najla, Najwa, Zahira, Salma, Sarah, dst.

 

Sebenarnya banyak hal yang masih menganjal dengan "style" nama-nama orang Minang, misalnya mengapa karakter nama Minang cenderung berubah-rubah, dari satu periode ke periode berikutnya?  Mengapa begitu variatif dan kompleksnya nama orang Minang, sehingga kadang bersifat "menipu", uncertain dan kadang absurd, lalu adakah yang mereka sembunyikan dibalik nama-nama tersebut? Apa arti/makna nama bagi orang Minang zaman sekarang, sejauhmana nama seseorang dianggap penting sebagai identitas sosial? Sejauhmana hubungan antara nama/gelar dengan politik, modernisasi, atau birokrasi? Kalau dulu nama sebagai identitas yang dijumpai adalah, misal : Y. Dt. Rangkayo Basa, M. Dt. Mangkudun Sati atau B. Bagindo Sutan, mengapa tiba-tiba sekarang tak ada yang mencantumkan gelar adat tersebut sebagai nametag, kartu nama, atau sebagai nama resmi (yang disandang kemana-mana karena bangganya) sebagaimana dulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab melalui sebuah kajian ilmiah atau penelitian. 

 

 

________________________________________

From: [email protected] [mailto: [email protected] ] On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR

Sent: 19 Februari 2008 18:46

To: [email protected]

Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: DIM 10: NAMA ORANG MINANGKABAU

 

Assalamualaikum w.w. Nanda Hanifah dan Nanda Riri sarato sanak sa palanta,

 

Ambo tampilkan karano dahulu alah panah ambo usulkan di RN, dan karano masalah ko ado di dalam kenyataan iduik kito. Sifatnyo tabukak, marupokan wacana, ditarimo buliah, ditulak juo buliah.

Dalam ijazah SMA ambo (1955) namo ambo memang hanyo 'Saafroedin' sajo. Ambo tambah surang supayo nak taraso agak langkok,  dan ambo pakai sampaui kini. Manarik juo panjalasan Nanda Hanifah, bahaso indak saluruah urang laki-laki Minang dapek gala. Jadi pepatah 'ketek banamo gadang bagala' paralu diagiah catatan, bahaso ado nagari nan indak baitu.

Tapi paralu juo kito patimbangkan mukasuik pepatah : 'baju dipakai usang, adat dipakai baru'; 'syarak babuhua mati, adat babuhua sentak'. Artinyo adaik tu indak statis, tapi dinamis, untuak kemaslahatan masyarakat.. Jadi dalam soal namo ko, sapanjang ado manfaatnyo, rancak juo kito jadikan bahan masukan untuak adaik, antaro lain supayo agak mudah kito tahu, apo sanak nan sadang dihadoki   adolah urang awak atau indak.

Tantu iko indak mambatasi hak urang tuo untuak maagiah namo apo sajo untuak anak-anaknyo, asa elok. Kalau kabiasoan nan alah balangsuang salamo ko alah diraso elok, ya sudah kito lanjuikkan sajo.

 



No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.20.7/1286 - Release Date: 18/02/2008 18:49




Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke