Untuak panambah-nambah sasui Subjek diateh, artikelnyo da
Elfitra ko rancak juo dibaco2.
Salam
Nofendri, nan laia di November J
NAMA DAN IDENTITAS BAGI ORANG MINANG
Jan 6, '08 3:50 PM, http://elfitra.multiply.com/journal/item/21
Diantara sejumlah suku-suku bangsa yang ada di Nusantara,
mungkin nama-nama orang Minang tergolong kompleks, aneh, variatif, longgar,
tapi sekaligus fleksibel, unik, kreatif serta pragmatis. Orang Batak dan
Manado selalu
mencantumkan nama marga dan clan di belakang nama kecil. Nama orang Maluku dan
Papua dapat dikenali secara cepat dan familiar. Sebagai pengaruh Islam, nama
orang Melayu lazim mencantumkan bin/binti sebelum nama orang tua. Orang Jawa
dan Sunda lumayan ketat dalam memberi nama anak, sehingga kita nama-nama mereka
memiliki kekhasan tersendiri.
Bagi orang Jawa dan juga Sunda, dari nama saja bisa
langsung dikenali status sosialnya sekaligus, apakah dia keturunan bangsawan
atau rakyat biasa. Nama depan "Andi" jelas berasal dari kaum
ningrat Sulawesi Selatan (Bugis). Demikian juga halnya dengan kelompok
masyarakat adat lain : Badui, Dayak, Sakai ,
Nias atau Mentawai, masing-masing memiliki karakter tersendiri yang mudah
dikenali (addressed).
Bagaimana dengan dengan Minangkabau??? Penamaan dalam
masyarakat Minangkabau masa lampau kelihatannya berpegang pada falsafah
"alam takambang jadi guru". Orang-orang menamai daerah-daerah
baru, kampung, dan nama-nama suku-suku dengan falsafah ini, termasuk juga
menamai orang (anak) dan gelar. Tak mengherankan kiranya, kalau nenek moyang
kita bernama : Kirai, Upiak Arai, Talipuak, Sirancak, Jilatang, Masiak, atau
Jangguik. Kedengarannya aneh dan lucu, ya???
Setelah Islam masuk dan berkembang, mulai pula nama-nama
orang Minang berubah menjadi kearab-araban (Islam). Nama-nama seperti ini,
contohnya : Mohammad Attar, Mohammad Natsir, Saiful, Bahri, Mochtar, Ali, Amir,
Arifin, Ismail, Aziz, Fauzah, Hamid, M. Rais, Zakiah, Ibrahim, Idris, Rasid,
Sofyan, Dahlan, Fatimah, Aminah, Maimunah, Hayati, Nurhasanah, Nuraini, Saidah,
dst.
Pasca takluknya peristiwa PRRI-Permesta, orang Minang
mengalami tekanan mental luar biasa dari pemerintahan
Jakarta , banyak diantara mereka kemudian
memutuskan meninggalkan kampung halaman untuk pergi merantau. Setidaknya,
demikian pendapat yang tertulis dalam buku "Merantau"-nya sosiolog
Mochtar Naim. Mulai pula orang berusaha menanggalkan identitas dan label
keminangannya, salah satu lewat perubahan nama. Tak sedikit orang Minang memiliki
nama yang kejawa-jawaan, ada seperti nama Eropa, Parsia, atau Amerika Latin..
Sekedar contoh, seorang pejuang pemberontak PRRI yang semula bernama
Bastian St. Ameh, kemudian merantau ke Jawa dan berhasil jadi pengusaha sukses
: Sebastian Tanamas.
Ada
"urang awak" bernama Revrisond Baswir, ekonom UGM yang terkenal.
Beberapa nama yang ikut menjadi calon gubernur Sumbar tempo hari bernama ;
Leonardy Armaini, Jeffry Geovanni dan terakhir siapa kira kalau Irwan Prayitno
itu adalah putra asli Kuranji, Padang? Saya berkali-kali berusaha meyakinkan
orang-orang tua di kampung halaman, kalau Irwan Prayitno bukan orang Jawa, pada
saat Pilkada berlangsung. Mungkin mereka kuatir dengan "trauma"
masa lalu, pada penghujung Orde Lama banyak sekali pejabat tinggi di Ranah
Minang yang di"drop" dari Jakarta dan berasal dari etnis Jawa.
Dalam pemberian nama kepada anak orang Minang sangat
pragmatis tapi kreatif. Di SD saya punya kawan bernama hebat, John Kennedy,
sayang dia sempat tinggal kelas. Waktu kuliah teman akrab saya bernama
Socrates, asal Labuh Besilang Payakumbuh, yang waktu lahir kakek yang
memberinya nama terkagum-kagum pada pemikiran Filsafat Yunani. Semula saya kira
dia orang Tapanuli, namanya Hardisond Dalga, ternyata dia dari Singkarak dan nama
belakang adalah nama ayah-bunda ; Dalimi-Gadis.
Ada lagi
kawan bernama Ida Prihatin, karena waktu melahirkan orang tuanya mengalami
masa-masa ekonomi susah. Indah Elizabeth, Indah namanya dan waktu lahir
ditolong oleh bidan Tionghoa yang ramah bernama
Elizabeth . Dian Bakti Kamampa, kata terakhir
bukan nama daerah melainkan akronim dari "Kepada Mama dan Papa",
juga ada Taufik Memori Kemal, menurut cerita orang tua yang memberi nama
tersebut, dia selalu terkenang (teringat) kepada komandan seperjuangan yang
gugur pada Revolusi Fisik Kemerdekaan bernama "Kapten Kemal". Juga
menarik seorang mahasiswa bernama M. Batar. Sudah pasti M tersebut adalah
Mohammad, dan "Batar" mungkin saja diambil dari kata bahasa Arab,
begitu pikir saya selama bertahun-tahun. Tetapi kemudian ketika sesi
"mukaddimah" saat dia ujian skripsi, dia menceritakan kisah dibalik
nama tersebut (karena memang ada dosen yang iseng nanya arti namanya).
Singkatnya M. Batar artinya; "mambangkik batang tarandam", itulah
nama yang sekaligus menjadi misi hidup laki-laki berperawan kurus ini. Kalau
kita rentang, akan banyak kisah-kisah seterusnya dibalik pemberian nama Orang
Minang.
Nama-nama singkatan/akronim bagi orang Minang sudah
mentradisi. Salah satu "perintis"nya adalah Buya Haji Abdul Malik
Karim Amarullah, yang menyingkat namanya jadi HAMKA. Setelah itu tak sedikit
yang meniru, memendekkan nama panjangnya menjadi akronim atau singkatan.
Ada Pak
AR , Buya ZAS, STA, HAP, HAKA,
Zatako.
Yang menarik ada nama yang sering diasosiasikan sebagai
khas Minang, karena nyaris tak dijumpai pada di etnik lain, yakni nama yang
mengandung atau ber-akhiran ...Rizal. Sampai sekarang penulis juga belum
tahu pasti dari mana asal usul tersebut. Sebutlah misalnya ; Rizal, Rizaldo,
Rizaldi, Afrizal, Erizal, Syamsurizal, Syahrizal, Endrizal, Masrizal,
Syafrizal, Hendrizal, Efrizal, Nofrizal, dst.
Memasuki pertengahan tahun 1980-an, ketiga pemerintahan
orde baru sedang puncak-puncaknya, mulai pula "trend" nama anak
berbau kebarat-baratan. Ada yang bernama Alex, Andreas, Hendri(k), Anthon(y),
Roni, Yohanes, Octavia, Octavianus, Matius, Agustin, Angela, Monica, Susi,
Selly, Ryan, Mathias, Dona, Harry, Sintia, Agnes, Yosep, Yoserizal, John,
Johan, Yohanna, dan kalau diteruskan nama-nama ini akan jadi deretan cukup
panjang.
Mungkin pengaruh dominasi budaya orde baru, banyak juga
nama yang berasal Sangsekerta seperti : Eka, Eko, Ika, Dharma, Bakti, Agus,
Esa, Kurniawan, Sinta, dst.
Seiring dengan itu, pernah juga sebagian orang mengangkat
nama suku sebagai nama belakang. Ini menurut saya karena pengaruh nama orang
Batak dan Mandailing yang terlihat "gagah" dengan nama marga yang
selalu menempel di belakang nama mereka. Maka kemudian muncul nama semisal,
Hendri Chaniago (karena berasal dari suku Caniago), Indra Piliang, Afrizal
Koto, Anisa Jambak. Nampaknya hanya nama Chaniago (mengherankan....entah
mengapa nama suku itu selalu dibubuhi "h", padahal aslinya hanya
"caniago") dan Piliang saja yang cukup populer sebagai nama, suku
yang lain relatif jarang. Memang, nama-nama semacam itu hanya sedikit
peminatnya, karena tidak lazim. Bagi orang Batak atau Mandailing, kalau mereka
berasal dari marga yang sama misalnya sama-sama Sitorus atau Nasution berarti
bersaudara. Sementara suku-suku di Minang bersifat menyebar pada semua nagari
di seluruh Sumatra Barat, sehingga rasa pertalian sesama suku itu -
meskipun di rantau - pun terasa longgar.
Runtuhnya rezim Suharto dan digantikan oleh era reformasi
sekarang, kembali trend nama-nama Islam dan religius untuk nama anak. Sebutlah
misalnya ; Habib, Farhan, Said, Anisa, Naufal, Aqila, Zahra, Najla, Najwa,
Zahira, Salma, Sarah, dst.
Sebenarnya banyak hal yang masih menganjal dengan
"style" nama-nama orang Minang, misalnya mengapa karakter nama
Minang cenderung berubah-rubah, dari satu periode ke periode berikutnya?
Mengapa begitu variatif dan kompleksnya nama orang Minang, sehingga kadang
bersifat "menipu", uncertain dan kadang absurd, lalu adakah yang
mereka sembunyikan dibalik nama-nama tersebut? Apa arti/makna nama bagi orang
Minang zaman sekarang, sejauhmana nama seseorang dianggap penting sebagai
identitas sosial? Sejauhmana hubungan antara nama/gelar dengan politik,
modernisasi, atau birokrasi? Kalau dulu nama sebagai identitas yang dijumpai
adalah, misal : Y. Dt. Rangkayo Basa, M. Dt. Mangkudun Sati atau B. Bagindo
Sutan, mengapa tiba-tiba sekarang tak ada yang mencantumkan gelar adat tersebut
sebagai nametag, kartu nama, atau sebagai nama resmi (yang disandang
kemana-mana karena bangganya) sebagaimana dulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut
hanya bisa dijawab melalui sebuah kajian ilmiah atau penelitian.
________________________________________
From: [email protected]
[mailto: [email protected] ]
On Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: 19 Februari 2008 18:46
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: DIM 10: NAMA ORANG MINANGKABAU
Assalamualaikum w.w. Nanda Hanifah dan Nanda Riri sarato
sanak sa palanta,
Ambo tampilkan karano dahulu alah panah ambo usulkan di RN,
dan karano masalah ko ado di dalam kenyataan iduik kito. Sifatnyo tabukak,
marupokan wacana, ditarimo buliah, ditulak juo buliah.
Dalam ijazah SMA ambo (1955) namo ambo memang hanyo
'Saafroedin' sajo. Ambo tambah surang supayo nak taraso agak langkok, dan
ambo pakai sampaui kini. Manarik juo panjalasan Nanda Hanifah, bahaso indak
saluruah urang laki-laki Minang dapek gala. Jadi pepatah 'ketek banamo gadang
bagala' paralu diagiah catatan, bahaso ado nagari nan indak baitu.
Tapi paralu juo kito patimbangkan mukasuik pepatah : 'baju
dipakai usang, adat dipakai baru'; 'syarak babuhua mati, adat babuhua sentak'.
Artinyo adaik tu indak statis, tapi dinamis, untuak kemaslahatan masyarakat..
Jadi dalam soal namo ko, sapanjang ado manfaatnyo, rancak juo kito jadikan
bahan masukan untuak adaik, antaro lain supayo agak mudah kito tahu, apo sanak
nan sadang dihadoki adolah urang awak atau indak.
Tantu iko indak mambatasi hak urang tuo untuak maagiah namo
apo sajo untuak anak-anaknyo, asa elok. Kalau kabiasoan nan alah balangsuang
salamo ko alah diraso elok, ya sudah kito lanjuikkan sajo.