Assalamualaikum w.w. Dinda Suheimi , Sanak Azizar Aras, dan para sanak sa palanta,
Sungguh, hati siapa yang tidak akan trenyuh membaca kisah ini, bahwa di tengah-tengah Indonesia yang sarat dengan korupsi ini masih ada dua manusia kecil, yang di tengah kesengsaraan hidupnya masih punya kejujuran dan harga diri yang tinggi, yang tidak mau mengambil apa yang bukan haknya. Saya setuju dengan nama yang Dinda Suheimi berikan kepada mereka: manusia super atau lebih tepat : calon manusia super.
Saya doakan semoga Allah swt memberikan rezeki halal yang banyak kepada mereka, dan siapa tahu, salah satu atau kedua-duanya bisa ditakdirkan memimpin Indonesia yang sudah porak poranda dilanda 'tsunami' korupsi ini.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 70+6+10, Jakarta) 'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi' 'Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya' 'Taqdir di tangan Allah swt, Nasib di tangan Manusia' 'Puji syukur aku sampaikan pada-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada aku dan keluargaku'. 'Mari berlomba berbuat kebaikan' 'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya' 'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'
--- On Wed, 2/20/08, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: suheimi
ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: DUA MANUSIA SUPER To: [email protected] Date: Wednesday, February 20, 2008, 11:32 AM
Saya trenyuh membaca kisah nyata ini Banyak orang-orang mulia di sekitar kita Anak-anak itu telah tebarkan kejujuran dan semnagt kerja yg tinggi Do'a kami menyertai mereka salam K Suheimi
YPC - 19 Azizar Aras <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dikutip Dari seorang teman yang mendapatkannya dalam milis sebelah..............
Kadang kala kita terlalu SOMBONG dengan segala yang kita miliki di Dunia sehingga kita melupakan kemana sebenarnya tujuan akhir kita, jabatan...., kekayaan,....gelar,.... seolah olah
menjadi merek yang harus dihormati oleh orang lain, padahal itu tak berarti apa apa jika dibanding kemuliaan oleh dua anak manusia super di jembatan penyeberangan ini
DUA MANUSIA SUPER DI JEMBATAN
SETIABUDI
Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki Mengarungi tuk coba taklukkan ibukota negri ini. Semoga Kita selalu Diingatkan.
* * * * *
Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas Jembatan penyeberangan Setia Budi, dua sosok kecil berumur kira-kira Delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung Jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat Tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka Dengan ucapan, "Terima kasih Om!" Saya masih tak menyadari kemuliaan Mereka Dan cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah Mereka.
Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan ,
menyapa Seorang laki laki
lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh Keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi Lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil Mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok Disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta. Saya melewatinya dengan Lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih Berbalut plastik transparan .
* * * * *
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama Dan mendapati mereka Tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat Berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .
"Terima kasih ya mbak. Semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas mereka, Tak lama si wanita merogoh tasnya Dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh Ribu rupiah.
"Maaf, nggak Ada kembaliannya.. Ada uang pas nggak mbak?"
Mereka Menyodorkan kembali uang
tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan Sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah Mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
"Om boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya mengingatkan Kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. Sedikit terhenyak saya merogoh Saku celana Dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar Empat ribu rupiah.
"Nggak punya!" tukas saya. Lalu tak lama si wanita berkata, "Ambil saja Kembaliannya, dik!" sambil berbalik badan Dan meneruskan langkahnya kearah Ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, IA menyambar uang empat ribuan saya Dan menukarnya Dengan uang sepuluh ribuan tersebut Dan meletakkannya kegenggaman saya yang Masih tetap berhenti, lalu IA mengejar wanita tersebut untuk memberikan Uang empat ribu rupiah tadi.
Si wanita kaget, setengah berteriak IA bilang, "Sudah buat kamu saja, nggak Apa-apa ambil
saja!" Namun mereka
berkeras mengembalikan uang tersebut. "Maaf mbak, cuma Ada empat ribu. Nanti kalau lewat sini lagi saya Kembalikan!" Akhirnya uang itu diterima is wanita karena is kecil pergi Meninggalkannya.
* * * * *
Tinggallah episode saya Dan mereka. Uang sepuluh ribu digenggaman saya Tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya Dan berujar, "Om, bisa tunggu ya. Saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek!"
"Eeh ..nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu ke Is kecil, IA menerimanya tapi terus berlari ke bawah jembatan menuruni Tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar" "Nggak apa-apa, itu buat kalian," lanjut saya. "Jangan ..jangan Om. Itu uang om sama mbak yang tadi juga," anak itu Bersikeras. "Sudah .. Saya Ikhlas. Mbak
tadi juga pasti
ikhlas!" saya berusaha Mem-bargain, namun IA menghalangi saya sejenak Dan berlari keujung jembatan Berteriak memanggil temannya untuk segera cepat. Secepat kilat juga IA Meraih kantong plastik hitamnya Dan berlari kearah saya.
"Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." IA memberi saya delapan pack Tissue.
"Buat apa?" saya terbengong.
"Habis teman saya lama sih Om. Maaf, tukar pakai tissue aja dulu," walau dikembali kan IA tetap menolak.
Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya. Saya Kalah set. Ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya. Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali dengan Genggaman uang receh sepuluh ribu, Dan mengambil tissue dari tangan saya Serta memberikan uang empat ribu rupiah.
"Terima kasih Om!" Mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup ter dengar percakapan, "Duit mbak tadi gimana ..?" Suara kecil yang
lain Menyahut,
"Lu hafal kan orangnya. Kali aja ketemu lagi ntar Kita Kasihin..." Percakapan itu sayup sayup menghilang. Saya terhenyak dan Kembali kekantor dengan seribu perasaan.
* * * * *
Tuhan .. Hari ini saya belajar dari dua manusia super. Kekuatan kepribadian Mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh. Mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra. Mereka tahu hak mereka dan hak orang lain. Mereka berusaha tak meminta minta dengan berdagang Tissue.
Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan di umur mereka yang begitu belia.
Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain.
"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana. Kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak."
Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman
lainnya untuk lebih
SUPER.
Dikutip oleh
Azizar Aras (61)
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
|