*10 Kriteria Pemimpin Menurut Ajaran
Islam<http://www.jurukunci.net/2012/07/10-kriteria-pemimpin-menurut-ajaran.html>
*


Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir
adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya
sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang
dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus
dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak
Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu. Dalam
Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik
diantaranya :

*1. Beriman dan Beramal Shaleh*
Ini sudah pasti tentunya. Kita harus memilih pemimpin orang yang beriman,
bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini
merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai,
tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang
mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.

*2. Niat yang Lurus*
Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai
dengan apa yang telah Allah perintahkan. Karena suatu amalan itu bergantung
pada niatnya, itu semua telah ditulis dalam H.R bukhari-muslim Dari Amīr
al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb r.a, dia menjelaskan bahwa
dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan
sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa
yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan
Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin
digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka
hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”

Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari
keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah
tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.

*3. Laki-Laki*
Dalam Al-qur'an surat An nisaa' (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki
adalah pemimpin dari kaum wanita.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain
(perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada
Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang
serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada,
oleh karena Allah telah memelihara “

(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli
isterinya dengan baik).

Ayat ini menegaskan tentang kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita.
Menurut Imam Ibnu Katsir, lelaki itu adalah pemimpin wanita, hakim atasnya,
dan pendidiknya. Karena lelaki itu lebih utama dan lebih baik, sehingga
kenabian dikhususkan pada kaum lelaki, dan demikian pula kepemimpinan
tertinggi. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan)
mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur
Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

*4. Tidak Meminta Jabatan*
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,

”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi
pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena
permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika
kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu
akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

*5. Berpegang pada Hukum Allah*
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.
Allah berfirman,

”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang
diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.”
(al-Maaidah:49).

*6. Memutuskan Perkara Dengan Adil*
Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang
dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan
diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.”
(Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

*7. Menasihati rakyat*
Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak
bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak
akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”


*8. Tidak Menerima Hadiah*
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti
mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil
hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah
dari rakyatnya. Rasulullah bersabda,

” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat
Thabrani).

*9. Tegas*
ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh
rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang
benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan
hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

*10. Lemah Lembut*
Doa Rasullullah :

"Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya,
maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku
lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya"

Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik
bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan
sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di
sini adalah Sidiq(jujur), Tablig(menyampaikan), amanah(dapat dipercaya),
fatonah(cerdas)
Sidiq itu berarti jujur.

Bila seorang pemimpin itu jujur maka tidak adalagi KPK karena tidak adalagi
korupsi yang terjadi dan jujur itu membawa ketenangan, kitapun
diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan.Tablig adalah menyampaikan,
menyampaikan disini dapat berupa informasi juga yang lain. Selain
menyampaikan seorang pemimpin juga tidak boleh menutup diri saat diperlukan
rakyatnya karena Rasulullah bersabda,

”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap
kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu
langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad
dan At-Tirmidzi).

Amanah berarti dapat dipercaya. Rasulullah bersabda,

” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan
merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim).

Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya.Fatonah
ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya,
dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin
tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia
tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.

Setelah kita mengetahui sebagian ciri- ciri pemimpin menurut islam. Marilah
kita memilih dan membuat diri kita mendekati bahkan jika bisa menjadi
seperti ciri- ciri pemimpin diatas karena kita merupakan penerus risalah
yang telah diajarkan dan dicontohkan Allah melalui ajaran yang dibawa
Muhammad SAW.

Sampai jumpa lagi lain topik.

Salam...........................,

*mm****


Pada 19 April 2013 14.06, Akmal Nasery Basral <[email protected]> menulis:

> Mak MM*** n.a.h.,
>
> Apa itu "demokrasi"? Apa itu "musyawarah untuk mufakat" sebenarnya?
>
> Apakah cukup memberi contoh sejarah Islam yang begitu kompleks dengan
> perbandingan sangat sederhana 100 orang yang terdiri dari: 70 orang pareman
> (mantan ini-itu) dengan 30 orang Siak, guru, anak muda yang paham ABS SBK
> dsb. Sehingga, saking sederhananya contoh yang Mak MM ajukan, anak SD yang
> belum khatam TPA pun bisa menjawab pertanyaan retoris seperti ini.
>
> Jika kita memang serius ingin mengupas "musyawarah untuk mufakat" (dan
> kaitannya dengan sejarah Islam), marilah kita lihat lagi apa yang terjadi
> pada Senin, 12 Rabiul Awwal 11 H (8 Juni 632 M) ketika Nabi tercinta wafat,
> dan terjadi peristiwa besar, sangat besar, bahkan ketika jasad Nabi belum
> lagi dimakamkan: Peristiwa Saqifah Bani Sa'idah (SBS).
>
> Mak MM*** tentu ingat, SBS adalah nama sebuah tempat, sebuah "balairung",
> milik puak Sa'idah dari golongan Anshar, penghuni asli Madinah. Hanya
> beberapa saat (masih hari Senin) setelah berita kematian Nabi menyebar,
> kaum Anshar sudah berkumpul di SBS untuk menentukan siapa pengganti Nabi.
> Tentu bukan pengganti Nabi dalam arti sebagai "Nabi baru", tapi pelanjut
> pemegang kekuasaan politik.
>
> Mendengar itu, Umar bin Khattab dan Abubakar bergegas ke SBS, dan
> singkatnya, seperti dikisahkan dalam berbagai riwayat, membuat hasil
> pertemuan berubah. Gelar khalifah pertama (baca: pemimpin politik pertama,
> setara presiden karena kelak membawahi para gubernur) akhirnya jatuh kepada
> Abubakar, setelah dibakar Umar, yang keduanya adalah Muhajirin, kaum
> pendatang di Madinah, yang didominasi oleh puak Quraisy. Abubakar sendiri
> berasal dari Bani Taim, bagian terkecil Quraisy yang tidak pernah terlibat
> dalam "clan rivalries" (mirip konsep "sengketa tiada putus" kalau kita
> pinjam istilah Jeffrey Hadler tentang masyarakat Minang).
>
> Pertanyaannya saya: apakah mekanisme pembaitan Abubakar r.a. itu menurut
> Mak MM*** adalah contoh "musyawarah untuk mufakat" paling ideal dalam
> sejarah Islam dalam konteks memilih pemimpin politik?
>
> Kalau jawaban Mak MM*** "ya", mengapa:
>
> 1. Sa'ad bin 'Ubadah yang tadinya digadang-gadang kaum Anshar (dari suku
> Khazraj) sebagai pengganti Nabi (khalifah pertama) tidak mau membai'at
> Abubakar, bahkan sampai Sa'ad sendiri wafat. Padahal, Sa'ad adalah juga
> salah seorang sahabat yang dijamin Nabi masuk surga (sama seperti Abubakar).
>
> 2. Mengapa sepupu dan menantu Nabi, Ali bin Abi Thalib r.a., juga tak
> memba'iat Abubakar? bahkan hadir ke SBS pun beliau tak, tersebab mengurus
> jasad Nabi. (Baru kelak setelah istrinya, Siti Fatimah wafat, sikap Ali
> berubah dengan berbai'at pada Abubakar).
>
> Apakah dua contoh di atas menunjukkan adanya "mufakat yang dihasilkan
> dalam musyawarah" (dalam konteks memilih pemimpin politik), Mak MM?
>
> 3. Belum lagi rivalitas antar kaum Anshar sendiri (yang terdiri dari dua
> suku besar yakni Khazraj dan 'Aus) saat hendak menunjuk Sa'ad bin 'Ubadah
> sebagai pengganti Nabi.
>
> Ketika Munsyir bin Sa'ad, salah seorang tokoh Khazraj yang juga sepupu
> Sa'ad bin 'Ubadah, lebih memilih Abubakar ketimbang sepupunya, salah
> seorang tokoh Khazraj lain bernama Hubab bin Munzir berteriak menyebutkan
> Munsyir bin Sa'ad sebagai "pengkhianat Khazraj".
>
> Lain lagi sikap suku 'Aus yang khawatir akan disubordinasi oleh Khazraj
> jika Sa'ad bin 'Ubadah yang terpilih sebagai khalifah, maka lewat salah
> satu pemimpin mereka yang bernama Usaid bin Hudair, dia menyerukan agar
> suku 'Aus memilih Abubakar saja ketimbang memilih Sa'ad bin Ubadah yang
> sama-sama kaum Anshar, dengan sumpahnya yang terkenal, "Demi Allah! Jika
> Khazraj menjadi penguasa atas kamu, mereka akan mempertahankan
> keunggulannya atas kalian, dan kalian tidak akan ambil bagian sedikit pun.
> Mari berdiri dan berbai'atlah untuk Abubakar!"
>
> Kaum pendukung Ali, kelak dikenal sebagai syi'ah, yang meyakini bahwa Ali
> yang paling pantas melanjutkan kepemimpinan Nabi, bahkan melihat peristiwa
> SBS sebagai kolaborasi Abubakar-Umar untuk menyabot hak yang seharusnya
> diterima Ali.
>
> Umar kemudian membantahnya dengan menyebut kejadian (terpilihnya Abubakar
> sebagai khalifah) itu sebagai "falthah", tidak direncanakan.
>
> Mari kita lihat sejarah dengan kritis, Mak MM***. Inikah yang disebut
> "musyawarah untuk mufakat"? Bayangkanlah betapa semua nama yang tersebut di
> atas adalah murid langsung Nabi (para sahabat, yang hampir semuanya sudah
> dijanjikan masuk surga oleh Nabi). Dan kejadian itu terjadi ketika jasad
> Nabi mulia masih terbujur kaku di atas rumah. Aura kenabian masih sangat
> kuat dan kental di udara.
>
> Belum lagi setelah itu, dalam konteks kepemimpinan umat, terjadi Perang
> Jamal (antara Ali dan Aisyah) atau Perang Shiffin (antara Ali dan
> kolaborasi Muawiyah-'Amr bin Ash).
>
> Kalau seluruh masalah kepemimpinan itu bisa dipecahkan dengan "musyawarah
> untuk mufakat" seperti imbauan Mak MM***, mengapa orang-orang yang menerima
> ajaran langsung dari Nabi saja  "gagal" melaksanakannya? Apa yang
> menyebabkan Mak MM*** yakin bahwa "musyawarah untuk mufakat" yang
> dikerjakan oleh manusia jaman sekarang ini yang sudah berlumur maksiat,
> termasuk kita, akan bisa menghasilkan kualitas "mufakat" yang lebih baik
> dibandingkan "mufakat" para sahabat?
>
> Sejarah itu terkadang pahit, Mak MM***.  Apalagi jika menyangkut wajah
> sendiri (umat Islam). Tapi kita harus berani mengakui, bahwa "musyawarah
> untuk mufakat" (dalam memilih pemimpin politik) dalam sejarah Islam itu
> bukanlah melulu catatan dalam tinta emas yang kita bisa tersenyum senang
> saat membaca dan memikirkannya.
>
> Wassalam,
>
> ANB
> Cibubur
>
> Pada Jumat, 19 April 2013, Muchwardi Muchtar menulis:
>
> Dunsanak komunitas r@ntaunet n.a.h dan a.c.
>>
>> Soal Pilkada atau Pil-pil lainnyo di nagari awak, logika ambo pendek sajo.
>> Baliaklah ka ajaran ugamo awak. Tapi, sudah jaleh ajaran ugamo indak
>> (buliah) dikana di nagari nan banamo NKRI, karano kasado alahe musti adao
>> UU-nyo.
>>
>> Dalam ajaran ugamo ambo, indak dikenal doh apo tu nan banamo Demokrasi
>> nan --konon kabanyo--- dicokok  dari kampuangnyo Si Socrates. Kalau tataok
>> sajo mampadewakan suaro (rayaik) nan tabanyak adolah suaro nan manang, mako
>> ka tajadi taruih cabuah manyangkuik Pilkada ko do nagari awak.
>>
>> Kalau nio mamiliah Pamimpin tu, di nagari ambo Minangkabau, salamo ko
>> hanyo dipakai musyawarah duduak baselo di lapiak pandan untuak manuju
>> mufakaik. Indak ado tu doh dikenal di nagari ambo (nan pasti wanyo nagari
>> Dunsanak kasadonyo urang Minangkabau) ado nan manyambah suaro nan tabanyak
>> adolah suaro nan manang, nan kato Si Socrates suaro Tuhan (vox populi vox
>> dei).
>>
>> Kalau dalam mamiliah Pamimpin balaku hukum one voice one vote (ciek suaro
>> ciek kakuatan) bisa jadi salengkang pengkang dan kalebuik tundo sistem
>> pamarintahan di Minangkabau jadinyo. Kalau satiok rayaik badarai nan
>> manjadi anak kamunakan di ranah minang dibari HAK SUARO SAMO KADASONYO,
>> tamasuak satiok induak-induak (Bundo) punyo hak suaro dalam mamiliah Niniak
>> Mamak nan dibari pangkaik Tuanku Datuak/ Mak Datuak sabagai Kapalo Suku,
>> bisa-bisa jadinyo tapiliah nantik "cal-dat" nan bapandidikan tinggi,
>> baugamo sekuler, bapitih banyak indak mangarati adaik istiadaik minang.
>>
>> Labiah jalehnyo saroman ko.
>> Kalau di nagari awak (NKRI) pado satu kampuang misalnyo ado saratuih
>> warga nan punyo hak suaro untuak maangkek Kapalo Kampuang, mako tajadilah
>> musibah nan tak kunjuang salasai sarupo nan tajadi kini ko di NKRI.
>>
>> Soalnyo, di kampuang nan punyo 100 pamiliah sah tadi, 70 urang (misalnyo)
>> pareman gadang, bakeh pazina, bakeh maliang, penggemar "baampok di lapau",
>> bakeh guru mangaji nan dipecat karano hobi "main anak jawi", bakeh padusi
>> di "rumah kuniang", dan macam-macam kurenah anak manusia nan cingkahak
>> urang, tamasuak urang nan basipaik "pucuak aru".
>>
>> Kamudian, 30 urang pamilaih sah di kampuang nantun, adolah Angku Guru,
>> patani siak di tangah sawah, Profesor Doto 3 urang, pandeka silek 7 urang,
>> dan sisonyo anak-anak mudo nan mangarati apo aratinyo ABS-SBK.
>>
>>
>> Nah, kutiko diadokan Pilkada nan mampadewakan "vox populi vox dei", dan
>> mampaubilihan "musyawarah manuju mupakaik", dari duo Calon Pamimpin nan
>> kadipilaiah : *ciek Calon Siak*, bisa tulih baco pandai mangaji dan
>> rajin sumbayang jo khusuak, sarato Tau Ereng jo Gendeang tapi hanyo babaju
>> nan lakek di badan". *Ciek lai Calon Bagak,* urang mudo bapandidikan
>> dari baraik, mangatokan kasado ugamo samo, indak tau jo nan ampek,  tapi
>> kabatulan punyo kepeang sagarobak tundo" misalnyo, mako kutiko diadokan
>> pamiliahan sacaro demokrasi, NAN MANANG ADOLAH Cal-Pim NAN kaduo ambo
>> sabauikan tadi.
>>
>> Kalau sajo di nagari ---antah barantah tadi--- balaku sistem pamiliahan
>> musyawarah manuju mufakaik. Dilatakan ka muko dulu soal *bibit,dan  bobot
>> *, dan..... nan paralu bana : cadiak pandai di nagari itu didanga
>> partimbangannyo dalam pamiliahan Pamimpin tadi, apokoh mungkin tajadi
>> Cal-PIm nan kaduo nan kadipilah dek 100 warga nagari tadi?
>>
>> Kalau samo sajo dianggap dalam hiduik di ateh dunia ko suaro Si Udin
>> Kuriak nan paampok, Si Liuih nan hobi baanak jawi, Si Much nan rembang
>> mato, Si Ward nan maanggap bini urang bini wanyo, Si Ardi nan magatokan
>> ugamo soal di musajik ijan dibaok panduan kitab suci nan dari langik tu
>> dalam Pil-Pim,  samo jo suaro urang cadiak, urang bailimu tinggi, urang nan
>> mamakai utak daripado otot, Angku Guru nan alah bapuluah buku ilimu dunaiwi
>> & akhiraik wanyo khatamkan, mako jadilah sarupo kini nagari Dunsanak (nan
>> barati juo nagari ambo. He heheee....).
>>
>> Maaf Kamanakanda ANB basarto komunitas r@ntaunet, kalau jalan pikiran Si
>> m.m mundur baliak ka balakang ka zaman kutiko umaik manusia di ateh bumi
>> mulai manarimo Hidayah & Hinayah tahun 571-M dek sari,
>>
>> Salam Jumaik siang buek Dunsanak dan saiman dan (insya Allah) sacito-cito.
>>
>> *mm****
>>
>>
>> Pada 19 April 2013 10.11, Akmal Nasery Basral <[email protected]>menulis:
>>
>>> Dengan politik primordialisme seperti dipaparkan Dinda Imran di bawah
>>> ini, tidak heran jika ekses negatif Pilkada di pelbagai tempat di Indonesia
>>> terus memburuk dari tahun ke tahun.
>>>
>>> Kandidat yang sudah berhasil memenangkan Pilkada, akan menjadi lokomotif
>>> penghela bagi urang "saparuik" dst untuk jadi penguasa (dalam skala lebih
>>> rendah) seperti yang terjadi di Banten kini. Kandidat yang tak berhasil
>>> mendapat kursi, akan menyulut spirit "saparuik", "sasuku", "sakampuang
>>> halaman" untuk menggugat kemenangan pihak lain, seperti hampir tiap hari
>>> terlihat di layar televisi.
>>>
>>> Ini ciri-ciri masyarakat yang masih berada di level "low trust society".
>>>
>>> Agar relevan dengan konteks ABS SBK, bagaimana sebetulnya ajaran ABS SBK
>>> bagi rakyat badarai Minang (bukan hanya di Pariaman) saja dalam memilih
>>> pemimpin? Apakah kriter
>>>
>>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
> - DILARANG:
> 1. E-mail besar dari 200KB;
> 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. One Liner.
> - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
> http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
> - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke