Jenderal-jenderal Kerjanya Memperkaya Diri, Bukan Perjuangkan Kepentingan Rakyat, Usut Tuntas Kekayaan SBY
JAKARTA - Tokoh senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), AP Batubara, menilai pertemuan para jenderal purnawirawan di Istana, hanya rekayasa Presiden SBY. Yakni, supaya orang melihat SBY bisa bertemu dengan Prabowo serta Luhut Panjaitan Cs. “Pertemuan dengan jenderal itu rekayasa SBY. Meski Prabowo juga ambisi jadi presiden. Luhut (Panjaitan) sebagai pengusaha, urusi saja usahanya. Dia itu kaya raya sejak jadi Menteri Perdagangan dulu,” kata AP, sapaan akrab AP Batubara kepada wartawan, Kamis (14/3/2013). Kalau Prabowo berambisi menjadi presiden, lanjut AP, Luhut Panjaitan yang kini menjadi ketua tim sukses Aburizal Bakrie (Ical) sebagai calon presiden, juga berambisi menjadi menteri lagi. “Luhut mau jadi menteri? Ala, siapa yang gak mau jadi menteri,” kata Sesepuh Dewan Pertimbangan Pusat (Deperpu) PDIP ini. Apa istimewanya pertemuan jenderal pensiun kok dibesar-besarkan, memangnya jenderal hebat? “Apa rakyat senang sama jenderal-jenderal. Sekarang itu jenderal sudah tidak laku dijual. Justru lebih laku penyanyi Ayu Ting Ting kalau dijual. Militer di era sekarang ini sudah tdiak laku dijual, karena sekarang ini banyak oknum militer khususnya jenderal-jenderal kerjanya memperkaya diri, bukan perjuangkan kepentingan rakyat,” jawab AP. Menurut AP, tentara/jenderal itu kalau sudah pensiun tidak ada apa-apanya. “Rakyat di Indoensia sekarang ini melihat jenderal dan keluarganya hidupnya mewah-mewah. Jadi, sudah tidak ada lagi jenderal yang merakyat seperti Jenderal Sudirman, TB Simatupang atau Jenderal AH Nasution,” tandas Penasihat politik Megawati Soekarnoputri ini. Lebih lanjut, AP menilai, figur SBY adalah jenderal yang tidak tegas dan bahkan peragu. Termasuk dalam menghadapi kasus Century, SBY plintat-plintut. “Ini karena presiden (SBY) diduga terlibat skandal Century. Jika tidak, pasti (Century) sudah disikat,” tandas mantan Ketua Gabungan Serikat Buruh yang pernah digencet rezim Soeharto ini. Ia pun melihat SBY sedang berupaya melakukan ‘manuver’ menjelang masa jabatannya berkahir 2014, termasuk rajin ‘memanggil’ para jenderal purnawirawan belakangan ini. “Ini karena SBY ingin cari selamat. Karena itu, saya berjanji sesuai dengan pengaruh saya, akan minta usut kekayaan SBY,” tegas politisi senior PDIP. AP mengakui, memang ada Undang-Undang yang tidak boleh menghukum mantan presiden, keculai jika tebrukti melakukan tindak pidana. “Tapi presiden tetap bisa dimintai pertanggungjawaban tentang kesalahan/penyelewengan yang diperbuatnya. Yang tidak boleh dipermasalahkan itu keputusan-keputusan presiden. Tapi kalau kasus Century, harus diperiksa, tidak boleh didiamkan. Karena menyangkut kekayaan negara yang diselewengkan,” tuturnya.Thu, 14/03/2013 [psn/ian] -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
