Iko bukunyo mak JUDUL : Dunia Spiritual Soeharto [Menelusuri laku ritual, tempat-tempat dan Guru spiritualnya] PENGARANG :Arwan Tuti Artha PENERBIT : Galang Press Jl. Anggrek 3/34 Baciro Baru Yogyakarta 55255 Telp [0274] 554985. E-mail : [email protected].. Weeb: http://www.galangpress.com/ CETAKAN : IV 2007 ISBN : 979-24-9982-2 JUMLAH HALAMAN:197
Bisa dibaco di google books : http://books.google.co.id/books?id=akIyPU5Ew54C&pg=PA117&lpg=PA117&dq=sudjono+humardani&source=bl&ots=jCLvpWXEEo&sig=vTBxoXIZfp8WpPg3991X8T6aO1k&hl=id&sa=X&ei=zM-DUeffOo3krAf3pYGwBg&ved=0CG0Q6AEwDQ#v=onepage&q=sudjono%20humardani&f=true Salam andiko Pada Jumat, 03 Mei 2013 21:43:40 UTC+7, [email protected] menulis: > > Sanak Andiko, sanak MM, jo sanak2 di palanta 'ko ysh, > > Ma'af tadi ambo salah pencet. > > Tarimo kasih ateh posting resensi buku nan rancak bana. > > Ado nan indak dibahas: jenderal Sudjono Humadani, nan gadang pulo perannyo > sbg "eyang"/penasehat spirituil pres Soeharto. > > Apokah alah ado pulo buku nan mauleh tentang Jenderal SBY jo staf > pendukungnyo? > > Salam > Fashridjal M. Noor Sidin > L65Bdg > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > ------------------------------ > *From: * Andiko <[email protected] <javascript:>> > *Sender: * [email protected] <javascript:> > *Date: *Fri, 3 May 2013 07:22:49 -0700 (PDT) > *To: *<[email protected] <javascript:>> > *ReplyTo: * [email protected] <javascript:> > *Subject: *[R@ntau-Net] Re: OOT : Jenderal-jenderal Kerjanya Memperkaya > Diri? > > SENIN, 28 JUNI 2010 | 08:13 WIB > Jenderal Inti di Dapur Soeharto > > > > > Judul : Soeharto & Barisan Jenderal Orba, Rezim Militer Indonesia 1976-1983 > Penulis : David Jenkins > Penerjemah: Harsutedjo > Penerbit Indonesia : Komunitas Bambu > Edisi: April 2010 > Tebal: xl + 381 halaman > > > > Topik > #Buku (penerbitan) > Besar Kecil Normal > TEMPO Interaktif, Jakarta -Soeharto bisa berkuasa selama lebih dari tiga > dasawarsa karena ditopang kekuatan peran militer. Dia memarkir para > jenderal yang loyal pada posisi strategis. Bukan hanya di institusi > militer, dengan dalih dwifungsi militer Soeharto juga menempatkan militer > di institusi sipil. Tujuannya, melanggengkan kekuasaannya. > > Tapi siapa yang mampu menggambarkan detail “kerajaan militer” yang > dibangun jenderal bintang empat itu? Salah satu jawabannya adalah David > Jenkins, wartawan asal Australia yang bertugas di Indonesia pada kurun > 1969-1970 untuk Melbourne Herald dan selama 1976-1980 untuk Far Eastern > Economic Review. > > Jenkins mampu menggambarkan posisi militer dan politik para Jenderal > periode 1975 hingga 1983 dalam bukunya, Suharto and His Generals: > Indonesian Military Politics, 1975-1983, yang terbit 26 tahun silam. > Kejaksaan Agung pada 1986 melarang buku ini beredar, seperti juga terhadap > buku karya Harold Crouch, The Army and Politics in Indonesia. > > Sebenarnya pelarangan itu berkaitan dengan artikel Jenkins di Sydney > Morning Herald pada Juli 1986, yang memaparkan kekayaan Soeharto. Jenkins > menyatakan, Soeharto telah melanjutkan tradisi korupsi Ferdinand Marcos > dari Filipina. Orde Baru pun meradang, sampai-sampai hubungan diplomatik > istimewa Australia-Indonesia turun derajat menjadi diplomatik biasa. > > Buku Jenkins ini mengupas hal yang sama dengan buku Crouch. Hanya, buku > Crouch lebih lengkap, yakni mengupas sejarah militer sejak era Presiden > Soekarno. Meski demikian, Crouch memuji buku ini sebagai salah satu kajian > politik Orde Baru yang paling mendalam. > > Perbedaan lain di antara kedua penulis ini adalah dalam penyajiannya, > karena perbedaan profesi. Crouch seorang ilmuwan, sedangkan Jenkins > memadukan reportase gaya jurnalis dengan pendekatan akademik. “Jenkins > menulis sebagai jurnalis profesional yang menggunakan perlengkapan seorang > akademisi,” puji John A. MacDougall, editor pada Indonesia Reports. > > Crouch pun menyanjung karakter Jenkins, yang membuat dia dapat diterima > narasumbernya. Kedalaman buku Jenkins terletak pada wawancara Jenkins > dengan para jenderal Orde Baru, kecuali Soeharto. Bagi Crouch, tidak mudah > mendapatkan keterangan dari mereka, apalagi dari empat jenderal di > lingkaran dalam Soeharto. “Sosok Jenkins sangat tenang, sopan, dan santai,” > puji Crouch. > > Jenkins menilai ada empat jenderal yang dianggap sebagai anak emas > Soeharto. Mereka adalah Letnan Jenderal Ali Moertopo, Jenderal Benny > Moerdani, Jenderal Yoga Soegama, dan Laksamana Sudomo. Mereka lebih dikenal > dengan sebutan “Kabinet Dapur” atau “Dewan Pusat”. “Mereka punya hubungan > pribadi di samping hubungan resmi,” Jenkins menuliskan. > > Tiga jenderal memiliki latar belakang intelijen yang kuat, kecuali Sudomo, > yang dinilai jago di bidang keamanan. Tiga jenderal (selain Ali Moertopo) > saling mengisi di tiga pos penting: Kementerian Pertahanan dan Keamanan, > Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, serta Badan Koordinasi > Intelijen. Mereka sengaja ditempatkan saling tumpang-tindih. Benny berada > di ketiganya. “Ini bukti Benny paling ahli dalam intelijen.” > > Empat jenderal itu tidak memiliki masa tugas tertentu seperti lazimnya > seorang tentara. Mereka dipilih bukan karena kemampuannya, melainkan > lantaran persetujuan pribadi dan kepercayaan Soeharto. Posisi intelijen dan > keamanan dinilai lebih penting ketimbang Panglima ABRI, yang pergantiannya > seperti urut kacang dari angkatan Akademi Militer. > > Kementerian Dalam Negeri dan Kepala Staf Kekaryaan adalah dua posisi emas > bagi Soeharto. Kedua jabatan itu selalu dipegang oleh jenderal yang loyal > kepada Soeharto atau paling tidak loyal kepada empat jenderal inti. > Soeharto dan empat jenderal itu menilai kedua jabatan tersebut menjamin > tercapainya dwifungsi ABRI, yaitu menempatkan anggota militer di luar > bidang militer. > > Karena dwifungsi, banyak tentara menjadi kepala daerah, anggota > legislatif, eselon satu di departemen, serta pemimpin badan usaha milik > negara. Posisi yang tidak hanya strategis secara politik, tapi juga > menguntungkan secara ekonomi bagi tentara yang terpilih untuk > di-”karya”-kan. Akibatnya, posisi sipil sering lebih diperebutkan ketimbang > jabatan di kemiliteran. > > Di bidang politik, ABRI lugas mendukung Golongan Karya. Alasannya, Golkar > dianggap sebagai kelompok politik yang menjamin UUD 1945 dan Pancasila. > Dukungan ini menuai kecaman, terutama dari perwira militer yang selama ini > menjadi oposan Soeharto. > > Jenkins juga mampu menggambarkan peta kekuatan kaum oposan ini. Ada dua > kelompok: Forum Studi dan Komunikasi (FSK) dan Lembaga Kesadaran > Berkonstitusi (LKB). FSK dibentuk oleh perwira aktif seperti Letnan > Jenderal A.J. Mokoginta, Letnan Jenderal Djatikusumo, dan Letnan Jenderal > Jasin. Sedangkan LKB dikomandoi oleh A.H. Nasution. Di dalamnya antara lain > ada mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan Kepala Kepolisian Hoegeng. > > Betapapun kerasnya kritik dari lingkup internal militer, Soeharto tetap > berkukuh pada kebijakannya. Apalagi Soeharto hampir setiap hari memotong > pita sebagai ekspresi seremoni keberhasilan pembangunan, misalnya dalam > pembangunan jalan, jembatan, saluran irigasi, dan bendungan. Inilah yang > membuat Soeharto yakin untuk tidak mempedulikan ocehan para oposannya. > > Akbar Tri Kurniawan > > Judul : Soeharto & Barisan Jenderal Orba, Rezim Militer Indonesia 1976-1983 > Penulis : David Jenkins > Penerjemah: Harsutedjo > Penerbit Indonesia : Komunitas Bambu > Edisi: April 2010 > Tebal: xl + 381 halaman > > Pada Jumat, 03 Mei 2013 15:07:29 UTC+7, Muchwardi Muchtar menulis: >> >> Jenderal-jenderal Kerjanya Memperkaya Diri, Bukan Perjuangkan Kepentingan >> Rakyat, Usut Tuntas Kekayaan SBY >> >> JAKARTA - Tokoh senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), AP >> Batubara, menilai pertemuan para jenderal purnawirawan di Istana, hanya >> rekayasa Presiden SBY. Yakni, supaya orang melihat SBY bisa bertemu dengan >> Prabowo serta Luhut Panjaitan Cs. >> >> “Pertemuan dengan jenderal itu rekayasa SBY. Meski Prabowo juga ambisi >> jadi presiden. Luhut (Panjaitan) sebagai pengusaha, urusi saja usahanya. >> Dia itu kaya raya sejak jadi Menteri Perdagangan dulu,” kata AP, sapaan >> akrab AP Batubara kepada wartawan, Kamis (14/3/2013). >> >> Kalau Prabowo berambisi menjadi presiden, lanjut AP, Luhut Panjaitan yang >> kini menjadi ketua tim sukses Aburizal Bakrie (Ical) sebagai calon >> presiden, juga berambisi menjadi menteri lagi. “Luhut mau jadi menteri? >> Ala, siapa yang gak mau jadi menteri,” kata Sesepuh Dewan Pertimbangan >> Pusat (Deperpu) PDIP ini. >> >> Apa istimewanya pertemuan jenderal pensiun kok dibesar-besarkan, >> memangnya jenderal hebat? “Apa rakyat senang sama jenderal-jenderal. >> Sekarang itu jenderal sudah tidak laku dijual. Justru lebih laku penyanyi >> Ayu Ting Ting kalau dijual. Militer di era sekarang ini sudah tdiak laku >> dijual, karena sekarang ini banyak oknum militer khususnya >> jenderal-jenderal kerjanya memperkaya diri, bukan perjuangkan kepentingan >> rakyat,” jawab AP. >> >> Menurut AP, tentara/jenderal itu kalau sudah pensiun tidak ada >> apa-apanya. “Rakyat di Indoensia sekarang ini melihat jenderal dan >> keluarganya hidupnya mewah-mewah. Jadi, sudah tidak ada lagi jenderal yang >> merakyat seperti Jenderal Sudirman, TB Simatupang atau Jenderal AH >> Nasution,” tandas Penasihat politik Megawati Soekarnoputri ini. >> >> Lebih lanjut, AP menilai, figur SBY adalah jenderal yang tidak tegas dan >> bahkan peragu. Termasuk dalam menghadapi kasus Century, SBY >> plintat-plintut. “Ini karena presiden (SBY) diduga terlibat skandal >> Century. Jika tidak, pasti (Century) sudah disikat,” tandas mantan Ketua >> Gabungan Serikat Buruh yang pernah digencet rezim Soeharto ini. >> >> Ia pun melihat SBY sedang berupaya melakukan ‘manuver’ menjelang masa >> jabatannya berkahir 2014, termasuk rajin ‘memanggil’ para jenderal >> purnawirawan belakangan ini. “Ini karena SBY ingin cari selamat. Karena >> itu, saya berjanji sesuai dengan pengaruh saya, akan minta usut kekayaan >> SBY,” tegas politisi senior PDIP. >> >> AP mengakui, memang ada Undang-Undang yang tidak boleh menghukum mantan >> presiden, keculai jika tebrukti melakukan tindak pidana. “Tapi presiden >> tetap bisa dimintai pertanggungjawaban tentang kesalahan/penyelewengan yang >> diperbuatnya. Yang tidak boleh dipermasalahkan itu keputusan-keputusan >> presiden. Tapi kalau kasus Century, harus diperiksa, tidak boleh didiamkan. >> Karena menyangkut kekayaan negara yang diselewengkan,” tuturnya.Thu, >> 14/03/2013 [psn/ian] >> > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] <javascript:>. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
