SENIN, 28 JUNI 2010 | 08:13 WIB
Jenderal Inti di Dapur Soeharto

 

Judul : Soeharto & Barisan Jenderal Orba, Rezim Militer Indonesia 1976-1983
Penulis : David Jenkins
Penerjemah: Harsutedjo
Penerbit Indonesia : Komunitas Bambu
Edisi: April 2010
Tebal: xl + 381 halaman



Topik
#Buku (penerbitan)
Besar Kecil Normal
TEMPO Interaktif, Jakarta -Soeharto bisa berkuasa selama lebih dari tiga 
dasawarsa karena ditopang kekuatan peran militer. Dia memarkir para 
jenderal yang loyal pada posisi strategis. Bukan hanya di institusi 
militer, dengan dalih dwifungsi militer Soeharto juga menempatkan militer 
di institusi sipil. Tujuannya, melanggengkan kekuasaannya.

Tapi siapa yang mampu menggambarkan detail “kerajaan militer” yang dibangun 
jenderal bintang empat itu? Salah satu jawabannya adalah David Jenkins, 
wartawan asal Australia yang bertugas di Indonesia pada kurun 1969-1970 
untuk Melbourne Herald dan selama 1976-1980 untuk Far Eastern Economic 
Review. 

Jenkins mampu menggambarkan posisi militer dan politik para Jenderal 
periode 1975 hingga 1983 dalam bukunya, Suharto and His Generals: 
Indonesian Military Politics, 1975-1983, yang terbit 26 tahun silam. 
Kejaksaan Agung pada 1986 melarang buku ini beredar, seperti juga terhadap 
buku karya Harold Crouch, The Army and Politics in Indonesia.

Sebenarnya pelarangan itu berkaitan dengan artikel Jenkins di Sydney 
Morning Herald pada Juli 1986, yang memaparkan kekayaan Soeharto. Jenkins 
menyatakan, Soeharto telah melanjutkan tradisi korupsi Ferdinand Marcos 
dari Filipina. Orde Baru pun meradang, sampai-sampai hubungan diplomatik 
istimewa Australia-Indonesia turun derajat menjadi diplomatik biasa.

Buku Jenkins ini mengupas hal yang sama dengan buku Crouch. Hanya, buku 
Crouch lebih lengkap, yakni mengupas sejarah militer sejak era Presiden 
Soekarno. Meski demikian, Crouch memuji buku ini sebagai salah satu kajian 
politik Orde Baru yang paling mendalam.

Perbedaan lain di antara kedua penulis ini adalah dalam penyajiannya, 
karena perbedaan profesi. Crouch seorang ilmuwan, sedangkan Jenkins 
memadukan reportase gaya jurnalis dengan pendekatan akademik. “Jenkins 
menulis sebagai jurnalis profesional yang menggunakan perlengkapan seorang 
akademisi,” puji John A. MacDougall, editor pada Indonesia Reports.

Crouch pun menyanjung karakter Jenkins, yang membuat dia dapat diterima 
narasumbernya. Kedalaman buku Jenkins terletak pada wawancara Jenkins 
dengan para jenderal Orde Baru, kecuali Soeharto. Bagi Crouch, tidak mudah 
mendapatkan keterangan dari mereka, apalagi dari empat jenderal di 
lingkaran dalam Soeharto. “Sosok Jenkins sangat tenang, sopan, dan santai,” 
puji Crouch.

Jenkins menilai ada empat jenderal yang dianggap sebagai anak emas 
Soeharto. Mereka adalah Letnan Jenderal Ali Moertopo, Jenderal Benny 
Moerdani, Jenderal Yoga Soegama, dan Laksamana Sudomo. Mereka lebih dikenal 
dengan sebutan “Kabinet Dapur” atau “Dewan Pusat”. “Mereka punya hubungan 
pribadi di samping hubungan resmi,” Jenkins menuliskan.

Tiga jenderal memiliki latar belakang intelijen yang kuat, kecuali Sudomo, 
yang dinilai jago di bidang keamanan. Tiga jenderal (selain Ali Moertopo) 
saling mengisi di tiga pos penting: Kementerian Pertahanan dan Keamanan, 
Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, serta Badan Koordinasi 
Intelijen. Mereka sengaja ditempatkan saling tumpang-tindih. Benny berada 
di ketiganya. “Ini bukti Benny paling ahli dalam intelijen.”

Empat jenderal itu tidak memiliki masa tugas tertentu seperti lazimnya 
seorang tentara. Mereka dipilih bukan karena kemampuannya, melainkan 
lantaran persetujuan pribadi dan kepercayaan Soeharto. Posisi intelijen dan 
keamanan dinilai lebih penting ketimbang Panglima ABRI, yang pergantiannya 
seperti urut kacang dari angkatan Akademi Militer.

Kementerian Dalam Negeri dan Kepala Staf Kekaryaan adalah dua posisi emas 
bagi Soeharto. Kedua jabatan itu selalu dipegang oleh jenderal yang loyal 
kepada Soeharto atau paling tidak loyal kepada empat jenderal inti. 
Soeharto dan empat jenderal itu menilai kedua jabatan tersebut menjamin 
tercapainya dwifungsi ABRI, yaitu menempatkan anggota militer di luar 
bidang militer.

Karena dwifungsi, banyak tentara menjadi kepala daerah, anggota legislatif, 
eselon satu di departemen, serta pemimpin badan usaha milik negara. Posisi 
yang tidak hanya strategis secara politik, tapi juga menguntungkan secara 
ekonomi bagi tentara yang terpilih untuk di-”karya”-kan. Akibatnya, posisi 
sipil sering lebih diperebutkan ketimbang jabatan di kemiliteran.

Di bidang politik, ABRI lugas mendukung Golongan Karya. Alasannya, Golkar 
dianggap sebagai kelompok politik yang menjamin UUD 1945 dan Pancasila. 
Dukungan ini menuai kecaman, terutama dari perwira militer yang selama ini 
menjadi oposan Soeharto. 

Jenkins juga mampu menggambarkan peta kekuatan kaum oposan ini. Ada dua 
kelompok: Forum Studi dan Komunikasi (FSK) dan Lembaga Kesadaran 
Berkonstitusi (LKB). FSK dibentuk oleh perwira aktif seperti Letnan 
Jenderal A.J. Mokoginta, Letnan Jenderal Djatikusumo, dan Letnan Jenderal 
Jasin. Sedangkan LKB dikomandoi oleh A.H. Nasution. Di dalamnya antara lain 
ada mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin dan Kepala Kepolisian Hoegeng.

Betapapun kerasnya kritik dari lingkup internal militer, Soeharto tetap 
berkukuh pada kebijakannya. Apalagi Soeharto hampir setiap hari memotong 
pita sebagai ekspresi seremoni keberhasilan pembangunan, misalnya dalam 
pembangunan jalan, jembatan, saluran irigasi, dan bendungan. Inilah yang 
membuat Soeharto yakin untuk tidak mempedulikan ocehan para oposannya.

Akbar Tri Kurniawan

Judul : Soeharto & Barisan Jenderal Orba, Rezim Militer Indonesia 1976-1983
Penulis : David Jenkins
Penerjemah: Harsutedjo
Penerbit Indonesia : Komunitas Bambu
Edisi: April 2010
Tebal: xl + 381 halaman

Pada Jumat, 03 Mei 2013 15:07:29 UTC+7, Muchwardi Muchtar menulis:
>
> Jenderal-jenderal Kerjanya Memperkaya Diri, Bukan Perjuangkan Kepentingan 
> Rakyat, Usut Tuntas Kekayaan SBY 
>     
> JAKARTA - Tokoh senior  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), AP 
> Batubara, menilai pertemuan para jenderal purnawirawan di Istana, hanya 
> rekayasa Presiden SBY. Yakni, supaya orang melihat SBY bisa bertemu dengan 
> Prabowo serta Luhut Panjaitan Cs.
>
> “Pertemuan dengan jenderal itu rekayasa SBY. Meski Prabowo juga ambisi 
> jadi presiden. Luhut (Panjaitan) sebagai pengusaha, urusi saja usahanya. 
> Dia itu kaya raya sejak jadi Menteri Perdagangan dulu,” kata AP, sapaan 
> akrab AP Batubara kepada wartawan, Kamis (14/3/2013).
>
> Kalau Prabowo berambisi menjadi presiden, lanjut AP, Luhut Panjaitan yang 
> kini menjadi ketua tim sukses Aburizal Bakrie (Ical) sebagai calon 
> presiden, juga berambisi menjadi menteri lagi. “Luhut mau jadi menteri? 
> Ala, siapa yang gak mau jadi menteri,” kata Sesepuh Dewan Pertimbangan 
> Pusat (Deperpu) PDIP ini.
>
> Apa istimewanya pertemuan jenderal pensiun kok dibesar-besarkan, memangnya 
> jenderal hebat? “Apa rakyat senang sama jenderal-jenderal. Sekarang itu 
> jenderal sudah tidak laku dijual. Justru lebih laku penyanyi Ayu Ting Ting 
> kalau dijual. Militer di era sekarang ini sudah tdiak laku dijual, karena 
> sekarang ini banyak oknum militer khususnya jenderal-jenderal kerjanya 
> memperkaya diri, bukan perjuangkan kepentingan rakyat,” jawab AP.
>
> Menurut AP, tentara/jenderal itu kalau sudah pensiun tidak ada apa-apanya. 
> “Rakyat di Indoensia sekarang ini melihat jenderal dan keluarganya hidupnya 
> mewah-mewah. Jadi, sudah tidak ada lagi jenderal yang merakyat seperti 
> Jenderal Sudirman, TB Simatupang atau Jenderal AH Nasution,” tandas 
> Penasihat politik Megawati Soekarnoputri ini.
>
> Lebih lanjut, AP menilai, figur SBY adalah jenderal yang tidak tegas dan 
> bahkan peragu. Termasuk dalam menghadapi kasus Century, SBY 
> plintat-plintut. “Ini karena presiden (SBY) diduga terlibat skandal 
> Century. Jika tidak, pasti (Century) sudah disikat,” tandas mantan Ketua 
> Gabungan Serikat Buruh yang pernah digencet rezim Soeharto ini.
>
> Ia pun melihat SBY sedang berupaya melakukan ‘manuver’ menjelang masa 
> jabatannya berkahir 2014, termasuk rajin ‘memanggil’ para jenderal 
> purnawirawan belakangan ini. “Ini karena SBY ingin cari selamat. Karena 
> itu, saya berjanji sesuai dengan pengaruh saya, akan minta usut kekayaan 
> SBY,” tegas politisi senior PDIP.
>
> AP mengakui, memang ada Undang-Undang yang tidak boleh menghukum mantan 
> presiden, keculai jika tebrukti melakukan tindak pidana. “Tapi presiden 
> tetap bisa dimintai pertanggungjawaban tentang kesalahan/penyelewengan yang 
> diperbuatnya. Yang tidak boleh dipermasalahkan itu keputusan-keputusan 
> presiden. Tapi kalau kasus Century, harus diperiksa, tidak boleh didiamkan. 
> Karena menyangkut kekayaan negara yang diselewengkan,” tuturnya.Thu, 
> 14/03/2013 [psn/ian]
>  

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke