Barosok corao jua balinyo mak ngah, di bawah sedikit artikelnyo Tradisi Barosok yang Bikin Penasaran REP | 05 November 2011 | 01:55 Dibaca: 157 Komentar: 17 Nihil Hari raya kurban akan segera datang. Hawa-hawa nya sudah tercium dari sekarang. Hhhmmm … dimana-mana terendus aroma yang cukup kuat, apalagi kalau bukan aroma tubuh dan kotoran si emmooh dan si embek yang membuat perut jadi turun naik.
Tiba-tiba saja pedagang hewan kurban mendadak muncul dimana-mana. Di pinggir-pinggir jalanan ibukota pedagang hewan kurban menjamur bak cendawan di musim hujan ( lhaaa … emang sekarang lagi musim hujan kan .. hehe..). Terlihat para calon pembeli mondar mandir untuk melihat-lihat hewan yang sesuai dengan keinginan mereka, diselingi tawar menawar harga dengan penjual secara terang-terangan. Para penjual pun berlomba menawarkan harga yang bersaing agar para pembeli berkenan membeli hewan ternak mereka. Lain di ibukota, lain juga di kampung halaman saya, di Sumatera Barat sana. Saya ingat dulu sewaktu saya masih SD, saya pernah di ajak oleh salah seorang Om (kakak laki-laki ibu saya) saya ke sebuah pasar ternak di daerah Payakumbuh. Om kala itu hendak membeli seekor sapi untuk di kurbankan pada hari raya Idul Adha. Saya yang pertama kali di bawa ke pasar ternak tersebut begitu heran, kenapa orang-orang saling bersalaman di balik baju, sarung atau pun saputangan. Dan ternyata om saya juga melakukan hal yang serupa dengan salah seorang pedagang. Dalam perjalanan pulang saya pun menanyakan perihal yang membuat saya terheran sewaktu berada di pasar ternak tadi. Om menjelaskan bahwa itu di sebut dengan istilah ” barosok “. Barosok sudah menjadi tradisi jual beli di pasar ternak secara turun temurun di Sumatera Barat konon sejak zaman raja-raja Minangkabau dulu. Di sebut Barosok karena tawar menawar terjadi dengan cara berpegangan (lebih tepatnya berjabat) tangan di balik kain atau baju. Barosok dalam bahasa Minang berarti dipegang dengan tangan. Tradisi ini cukup unik, setelah pembeli merasa cocok dengan hewan yang akan dibelinya, maka tawar menawar pun terjadi dengan si penjual. Mereka tidak mengeluarkan suara saat tawar menawar harga, melainkan berjabat tangan di balik kain atau baju. Mereka tidak sekedar berjabat tangan saja, tetapi di balik kain tersebut jari-jari mereka ” bermain ” sebagai penanda naik turunnya harga. Masing-masing jari memiliki harga yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua saja. Setelah di dapat kesepakatan harga, maka sapi atau kerbau boleh di bawa pulang oleh pembeli. Tradisi turun menurun yang masih berlangsung sampai sekarang ini memiliki beragam makna, di antaranya adalah, agar harga hewan di pasaran ternak tetap terjaga kerahasiaannya sehingga oknum-oknum berduit yang ingin mengacaukan harga tidak bisa berkutik lagi. Kemudian jika si penjual pintar bertransaksi, ia akan bisa memperoleh untung tanpa adanya tekanan dari pihak lain. Si pembeli pun akan dengan leluasa menjual kembali hewannya tersebut sesuai dengan harga yang diingikannya dan tentu akan mendapatkan untung yang lebih. Dan yang terpenting adalah tradisi ini mengajarkan kita bagaimana menjaga sebuah rahasia. Barosok, semoga menjadi tradisi unik negeri yang tak akan lekang oleh zaman. http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/04/tradisi-barosok-yang-bikin-penasaran-409748.html Pada Jumat, 10 Mei 2013 7:12:30 UTC+7, sjamsir_sjarif menulis: > > Mungkinkah Pasar Ternak "Padang Siantah" dakek Situjuah nan paliang gadang > di Sumatera Barat? Kini ka ado Pasar Ternak di Gunung Medan, mungkin ka > labiah gadang. > > > http://www.padangmedia.com/1-Berita/81684-Gubernur-Resmikan-Pasar-Ternak-Gunung-Medan.html > > > Samantaro Peternakan jadi perhatian, baa lah kaba Simenthal Sumpu kini > eeh? > > Salam, > -- MakNgah > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
