Itulah bu, Nan kecek bini ka 3 sanak nan murah hati mambagi pitih jo oto ka cewek-cewek ko, alah 4 kali lakinyo mangaku kilaf untuak 4 kasus paragiahan pitih jo oto tu ( http://news.detik.com/read/2013/05/08/154400/2241245/10/1/4-curhat-istri-fathanah-diselingkuhi-hingga-ditikam-sahabat#bigpic). Kok ka baragiah, agiahlah ka nan kurang....he..he..
Kini tapaso maido'i kandang situmbin. Salam andiko Pada Jumat, 10 Mei 2013 9:54:20 UTC+7, [email protected] menulis: > > Andiko, > > Dek samakin lamo dunia takambang, lambek laun kudian Tradisi Barosok ko > lah tabang kalua Ranah. Lah di pagunoan urang untuak bapolitik. Istilah Iko > lah lakek jadi namonyo " politik dagang sapi ". > > Makelar antar makelar pun jadi objek penyidikan KaPeKa. He..he :D > > Baa gak ati ? > > Salam, > > Bu Evy > Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone > ------------------------------ > *From: * Andiko <[email protected] <javascript:>> > *Sender: * [email protected] <javascript:> > *Date: *Thu, 9 May 2013 19:35:28 -0700 (PDT) > *To: *<[email protected] <javascript:>> > *ReplyTo: * [email protected] <javascript:> > *Subject: *[R@ntau-Net] Re: Pasar Ternak > > Barosok corao jua balinyo mak ngah, di bawah sedikit artikelnyo > > Tradisi Barosok yang Bikin Penasaran > REP | 05 November 2011 | 01:55 Dibaca: 157 Komentar: 17 Nihil > Hari raya kurban akan segera datang. Hawa-hawa nya sudah tercium dari > sekarang. Hhhmmm … dimana-mana terendus aroma yang cukup kuat, apalagi > kalau bukan aroma tubuh dan kotoran si emmooh dan si embek yang membuat > perut jadi turun naik. > > Tiba-tiba saja pedagang hewan kurban mendadak muncul dimana-mana. Di > pinggir-pinggir jalanan ibukota pedagang hewan kurban menjamur bak > cendawan di musim hujan ( lhaaa … emang sekarang lagi musim hujan kan .. > hehe..). Terlihat para calon pembeli mondar mandir untuk melihat-lihat > hewan yang sesuai dengan keinginan mereka, diselingi tawar menawar harga > dengan penjual secara terang-terangan. Para penjual pun berlomba menawarkan > harga yang bersaing agar para pembeli berkenan membeli hewan ternak mereka. > > Lain di ibukota, lain juga di kampung halaman saya, di Sumatera Barat > sana. Saya ingat dulu sewaktu saya masih SD, saya pernah di ajak oleh salah > seorang Om (kakak laki-laki ibu saya) saya ke sebuah pasar ternak di > daerah Payakumbuh. Om kala itu hendak membeli seekor sapi untuk di > kurbankan pada hari raya Idul Adha. Saya yang pertama kali di bawa ke pasar > ternak tersebut begitu heran, kenapa orang-orang saling bersalaman di balik > baju, sarung atau pun saputangan. Dan ternyata om saya juga melakukan hal > yang serupa dengan salah seorang pedagang. Dalam perjalanan pulang saya pun > menanyakan perihal yang membuat saya terheran sewaktu berada di pasar > ternak tadi. Om menjelaskan bahwa itu di sebut dengan istilah ” barosok “. > > Barosok sudah menjadi tradisi jual beli di pasar ternak secara turun > temurun di Sumatera Barat konon sejak zaman raja-raja Minangkabau dulu. Di > sebut Barosok karena tawar menawar terjadi dengan cara berpegangan (lebih > tepatnya berjabat) tangan di balik kain atau baju. Barosok dalam bahasa > Minang berarti dipegang dengan tangan. Tradisi ini cukup unik, setelah > pembeli merasa cocok dengan hewan yang akan dibelinya, maka tawar menawar > pun terjadi dengan si penjual. Mereka tidak mengeluarkan suara saat tawar > menawar harga, melainkan berjabat tangan di balik kain atau baju. > > Mereka tidak sekedar berjabat tangan saja, tetapi di balik kain tersebut > jari-jari mereka ” bermain ” sebagai penanda naik turunnya harga. > Masing-masing jari memiliki harga yang hanya bisa dimengerti oleh mereka > berdua saja. Setelah di dapat kesepakatan harga, maka sapi atau kerbau > boleh di bawa pulang oleh pembeli. > > Tradisi turun menurun yang masih berlangsung sampai sekarang ini memiliki > beragam makna, di antaranya adalah, agar harga hewan di pasaran ternak > tetap terjaga kerahasiaannya sehingga oknum-oknum berduit yang ingin > mengacaukan harga tidak bisa berkutik lagi. Kemudian jika si penjual pintar > bertransaksi, ia akan bisa memperoleh untung tanpa adanya tekanan dari > pihak lain. Si pembeli pun akan dengan leluasa menjual kembali hewannya > tersebut sesuai dengan harga yang diingikannya dan tentu akan mendapatkan > untung yang lebih. Dan yang terpenting adalah tradisi ini mengajarkan kita > bagaimana menjaga sebuah rahasia. > > Barosok, semoga menjadi tradisi unik negeri yang tak akan lekang oleh > zaman. > > > http://sosbud.kompasiana.com/2011/11/04/tradisi-barosok-yang-bikin-penasaran-409748.html > > Pada Jumat, 10 Mei 2013 7:12:30 UTC+7, sjamsir_sjarif menulis: >> >> Mungkinkah Pasar Ternak "Padang Siantah" dakek Situjuah nan paliang >> gadang di Sumatera Barat? Kini ka ado Pasar Ternak di Gunung Medan, mungkin >> ka labiah gadang. >> >> >> http://www.padangmedia.com/1-Berita/81684-Gubernur-Resmikan-Pasar-Ternak-Gunung-Medan.html >> >> >> Samantaro Peternakan jadi perhatian, baa lah kaba Simenthal Sumpu kini >> eeh? >> >> Salam, >> -- MakNgah >> >> -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] <javascript:>. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
