Orang Kaya adalah Orang yang Mau Berbagi
Oleh: Murtadha Kurniawan | 21 May 2013 | 23:13 WIB

Ini adalah kisah SAHABAT saya tentang ayahnya.:

Dulu saya pernah tidak setuju dengan ayah saya yang menolong orang tanpa 
menyelidiki terlebih dahulu. Entah kenapa ayah saya begitu mudahnya percaya 
pada orang2 yang meminta tolong kepadanya, baik itu tenaga maupun materi, 
selama ayah saya ada atau mampu, dia pasti akan berikan pada setiap orang tanpa 
pandang bulu. Sampai2 tabungan yg sebenarnya dia tujukan utk pergi hajipun 
habis dia berikan kepada orang-orang yg meminta bantuan materi kepadanya.

Pernah saya bertanya pada beliau, “Ayah kan belum pernah naik haji, mengapa 
ayah korbankan tabungan haji ayah utk orang2 yg ayah tidak tahu apakah mereka 
benar-benar membutuhkannya atau cuma menipu. Beliau menjawab “Nak, selama kita 
menganggap orang lain itu baik, maka pertolongan yg kita berikanpun akan 
dianggap baik oleh Allah. Masalah ibadah haji, Insya Allah, Allah akan 
mengganti nya nanti buat ayah. Seandainya tidakpun, sebenarnya rasa yg ayah 
rasakan saat kita mampu menolong orang yang membutuhkan itu saja sudah sangat 
cukup membahagiakan ayah, membuat ayah sangat bersukur kepada Allah”.

Saat itu saya masih memprotesnya, “Tapi ibadah haji itu kan wajib bagi yg 
mampu, sedangkan ayah bukan tidak mampu, tapi ayah tidak mau mampu. Seandainya 
ayah sungguh2 mengumpulkan uang ayah tanpa harus mengganggu gugatnya lagi meski 
ada yg butuh bantuan, bilang aja gak ada uang, kalau uang yg ada hanya uang 
tabungan haji. Kalau ayah memanajemennya dg baik, dan membagi2 harta yg ayah 
miliki pada pos2 yg sudah ayah tentukan sebelumnya, tentu ayah tidak harus 
sampai mengorbankan tabungan haji ayah” kataku setengah berteriak. Dengan sabar 
ayahku menjawab “Ayah doakan suatu saat kamu akan mengerti bahwa ibadah itu 
tidak harus dipaksakan dengan mengorbankan hak2 orang lain. Yang paling utama, 
ayah tidak mengorbankan hak2 ibu mu dan anak2 ayah utk hidup cukup dan mendapat 
pendidikan sampai kamu dapat berdiri sendiri”.

Setelah ayah meninggal, sempat terselip penyesalan mngapa ayah tdk mendengar 
kata2ku, dan yang terjadi sekarang yg ayah wariskan Cuma rumah kecil dan bbrp 
barang sederhana, sedangkan adikkku ada yang masih kecil.

Hal pertama yg menghiburku adalah banyaknya pelayat yg mengiringi ayah ke 
kuburan. Orang2 di jalan yang melihat iring2an pelayat menyangka yang 
dimakamkan adalah pejabat.

Tak perlu menunggu lama, banyak orang2 berdatangan dan dulu mengaku pernah 
dibantu oleh ayah, karena mereka sekarang sudah sukses, merekapun memberi 
bantuan kepada keluarga kami. Bahkan ada yang menawarkan pekerjaan kepada anak2 
ayah yg ingin bekerja. Kami menolaknya dengan baik-baik. Uang bantuan yg tidak 
seberapa itu kami jadikan modal awal suatu usaha kecil2an. Ternyata usaha kami 
berkembang sangat cepatnya karena lebih banyak lagi orang2 yg merasa pernah 
ditolong ayah, membantu usaha kami. Dan setiap saya atau adik2 saya melakukan 
suatu urusan atau bepergian keluar kotapun, hampir bisa dipastikan kami bertemu 
meskipun tidak secara sengaja dengan orang2 yg mengaku mengenal ayah kami. Dan 
begitu tahu bhw kami anak ayah, maka kemudahan2lah yg kami dapat dari mereka.

Dan saat ini dari hasil bisnis keluarga yg berkembang pesat saya sudah 
menghajikan almarhum ayah saya dan kami sekeluargapun sudah haji. Ayah saya 
memang mungkin semasa hidupnya tidak pernah melihat Ka’bah secara langsung, 
tapi beliau mendapatkan pahala hajinya. Ini membuat saya teringat kata2 beliau 
bahwa Insya Allah, Allah nanti akan menggantikan haji ayah . Ayah mungkin tidak 
pernah bersimpuh di Masjid Haram dan Nabawi, tapi ayah membuat bersimpuh hati 
ribuan orang yg ditolongnya. Semua kebaikan ayah, kami lah anak-anaknya yg 
menuai nya, menikmati hasilnya di dunia. Dan saya yakin ayah menuai hasilnya di 
akherat. Ayah kami memang tidak mewariskan harta yg banyak, tetapi beliau 
mewariskan kepada semua orang kebaikan yg banyak. Dan karena kebaikan itulah 
kami hidup dihormati & disayangi oleh orang2. Dalam hati Saya berjanji saya 
akan meneruskan sikap dan sifat ayah saya dan kulihat bayangan ayah tersenyum 
saat ku Wukuf di Arafah.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke