Ibu, Bapak, Mamak, Uda, Uni dan Dunsanak di Palanta NAH.

Pengalaman pribadi naik Angkot. Ambo mencoba melihat dari sisi si Sopir.
Mudah2an ada manfaatnya.
Anda mungkin pernah jengkel, menggerutu dalam hati, marah kepada sopir angkot 
yang ngetem sembarangan. Memperlambat  jalannya saat lampu berwarna hijau. 
Berhenti di mulut jalan, pertigaan, perempatan menunggu penumpang. Akibatnya 
membuat jalan jadi macet. Sang sopir menoleh ke tempat lain dan merasa tidak 
berbuat salah.
Kelakuan sopir angkot seperti itu, dapat dimaklumi berdasarkan pengalaman kami 
naik angkot P. 02 warna Orange dari Bekasi ke Pondok Gede. Kami duduk di 
samping sopir sambil ngobrol ngalor ngidul sepanjang jalan. Begini ceritanya.
Sang sopir kesal melihat pengendara sepeda motor yang berjalan seenaknya. Dulu, 
bawa ongkot bisa meliuk-liuk dijalanan karena sepi. Penumpang banyak. Sekarang 
harus ekstra hati-hati. Kalau motor kesenggol, kita bisa dikeroyok oleh 
pengendara sepeda motor lainnya.  Mereka sangat kompak. Padahal motor yang 
salah. Kata si sopir membuka pembicaraan.
Melihat wajah sopir yang ramah, kami beranikan diri membuka pembiracaan.
Bang. Angkot P.02 ini berapa banyak ?
“Lebih kurang 800 unit. Angkot terbanyak di Jawa Barat” . Jawabnya.
Apa Abang pernah hitung jarak dari Pondok Gede ke Bekasi ?. “Kurang lebih 34 KM 
satu putaran.
“Bawa angkot sekarang, tidak seperti dulu Pak. Dulu penumpang banyak. Sekarang, 
sejak uang muka beli motor ringan, penumpang angkot beralih ke Motor”. Kata si 
Abang.
Oooooo, gitu yaaaa..
Dari jalan Ir. Juanda melewati Terminal Bekasi sampai perempatan jalan Cut 
Mutia, hanya kami sendiri penumpangnya. Banyak angkot P.02 yang berhenti di 
pinggir jalan dan saling menyusul.
Sudah lama bawa angkot ?. Saya lihat Abang bawahnya santai aja. “Saya sopir 
tembak. Dari pada nganggur saya bawa satu rit selama 3 (tiga) jam”.
Kalau nembak, hitungannya bagaimana ?.
“Satu rit bayar kepada sopir yang punya batangan sebesar Rp 50.000,-. Lebihnya 
buat beli rokok. Sekarang sudah dapat Rp 60.000,00. Ada lebihan Rp. 10.000,00″. 
Kata Bang Sopir sambil menghitung uang recehan.
Bisa jadi, untuk mengejar uang setoran ini kelakuan sopir yang kami tulis 
diawal tulisan ini penyebabnya. Kalau tekor,  harus bayar sendiri atau besoknya 
tak bisa nembak lagi karena sang sopir batangan (sopir utama penanggung jawab 
angkot) tidak percaya lagi.
Kerjaan utamanya apa Bang ?.
“Saya sopir truck Expedisi yang mengantar barang dari Jakarta ke seluruh kota 
di Pulau Jawa dan Bali. Pernah juga saya antar barang ke Samarinda, Kalimantan 
Timur”.
Kalau bawa Truck bagaimana hitungannya ?.
“Untuk tujuan ke Sidoarjo, kita dapat uang jalan sebesar Rp 4 juta. Termasuk 
didalaminya uang BBM Rp 2 juta. Sisa Rp 2 juta pandai-pandai kita mengolahnya. 
Kalau hemat banyak yang bisa dibawah pulang”.
Biasanya berapa yang tersisa ?.” Kurang lebih Rp 1 juta”.
Saya pernah lihat, di jalan Truck di setop Polisi. Kenapa di setop ?.
“Bapak seperti nggak tahu aja”.
Kalau ada pengeluaran di jalan seperti, bayar polisi cepek, tukang parkir dan 
bayar keamanan. Apakah bisa ditagihkan ke perusahaan ?.
“Nggak bisa Pak, untuk bayar - bayar yang begituan sebenarnya uang pribadi 
kita”.
Ooooo….begitu yaaaa….. Kasian Pak Sopir.
Kalau bawa Truck, ada Keneknya ?.
” Kalau jalan di Jawa saya nggak pakai Kenek karena gaji Kenek kita yang bayar. 
Kalau luar Jawa seperti ke Kalimantan saya pakai kenek untuk ngobrol di jalan 
karena  uang jalannya lumayan.
Kapan lagi bawa Truck ?. ” Hari Kamis depan ke Sidoarjo. Sudah ada jadwalnya 
setiap bulan.”
Berapa lama sekali jalan ?. Perjalanan pulang pergi selama satu Minggu. Waktu 
ke Samarinda 17 hari “.
Lama juga ya!.
” Kita naik kapal dari Surabaya ke Banjarmasin. Terus perjalanan melalui 
Balikpapan. Di Kalimantan ada dua kali penyeberangan seperti kita nyeberang di 
Ketapang - Gilimanuk kalau ke Bali”
Abang ini gendut, hatinya selalu senang. Saya memuji.
” Apa sih yang harus dipikirkan”  Kata sopir yang membuat saya tersentak. Saya 
yang relatif lebih baik banyak mengeluh. Ini kurang, itu kurang he he he.
Sang sopir tembak yang mengaku berasal dari Garut turun di Warung sebelum 
perempatan Komsen dan diganti oleh sopir batangan (sopir utama).
Bang. Saya belum bayar sambil mengeluarkan uang. ” Bapak bayar sama Pak Jono”.
Sopir tembak menyerahkan uang kepada Pak Jono dan memberitahu bahwa saya 
satu-satunya penumpang yang naik dari Bekasi.
Setelah berganti sopir, kami mulai lagi membuka pembicaraan dengan sopir utama 
yang sudah cukup berumur. Kami taksir umurnya tak kurang dari 50 tahun.
Pak !. Sopir tadi namanya siapa ?. “Asep (nama samaran, nama asli untuk 
konsumsi saya aja) urang Garut. Kata Pak Sopir.
Bapak namanya siapa ?
“Nama saya Jono, saya bukan orang Jawa, tapi berasal dari Tasikmalaya “.
Si Bapak memberikan penjelasan sambil tersenyum.
Pak Jono. Berapa Kang Asep bayar kepada Bapak dan ada berapa orang sopir tembak 
?
“Bayarnya Rp. 50.000 satu rit. Minyak dari kita. Sopir tembak hanya si Asep. 
Saya tidak mau kasi yang lain karena tanggung jawab ada pada saya. Kalau si 
Asep saya sudah percaya, bawa mobilnya tidak ugal-ugalan”.
Uang setoran satu hari berapa ?. ” Rp. 170.000 diluar BBM sebesar Rp 80.000 per 
hari”.
Bisa berapa rit per hari ?. ” Rata-rata 6 rit per hari, bisa juga 5 rit dan 
bisa 7 rit kalau jalanan lancar. Saya bawa mobil ini dari jam 11 siang sampai 
jam 11 malam”.
Pak !. Pinggir yaa….
Kami turun sebelum pasar Pondok Gede setelah menempuh perjalanan sepanjang 10 
KM dengan waktu tempuh selama 1,5 jam. Selama dalam perjalanan, penumpang yang 
turun naik kurang dari 10 orang.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan Sopir angkot tadi, kami coba 
menghitung-hitung Untung Rugi menjadi sopir.
Masing-masing sopir harus mendapatkan uang minimal Rp 250.000 yaitu Rp 170.000 
uang setoran ditambah Rp 80.000 BBM.
Dari 800 unit Angkot P.02, jumlah uang minimal yang harus didapat setiap hari 
adalah  800 X Rp 250.000 = Rp. 200.000.000,-
Tarif Angkot per penumpang Rp. 4.000, sehingga jumlah penumpang paling sedikit 
untuk trayek P. 02 adalah Rp. 200.000.000/Rp. 4.000 = 50.000 penumpang.
Jumlah penumpang per satu unit Angkot per hari adalah 50.000/800 = 52 orang 
(pembuatan).
Kapasitas Angkot sebanyak 10 penumpang. Perjalanan 5 Rit atau 10 kali pulang 
pergi sehingga jumlah penumpang sekali jalan sebanyak 5 - 6 orang.
Dengan perhitungan di atas, Sopir Angkot hanya bisa membayar uang setoran dan 
BBM. Belum ada uang yang bisa dibawah pulang untuk keluarga.
Agar sopir mendapat penghasilan sama dengan UMR sebesar Rp. 2,2 juta per bulan 
atau satu hari Rp 70.000,-, maka tambahan penumpang yang harus di dapat adalah 
Rp 70.000/Rp 4.000 = 18 orang (Pembuatan).
Total jumlah penumpang per hari adalah 52 + 18 = 70 orang.
Agar semua sopir angkot P.02 dapat penghasilan setara UMR, jumlah penumpang per 
hari untuk trayek P.02 adalah sebanyak 800 X 70 = 56.000 orang.
Yang menjadi pertanyaan. Apakah ada penumpang sebanyak 56.000 orang ?. Ingat, 
pada jalur tersebut, terdapat juga beberapa Nomor Angkot dengan kata lain 
trayeknya tumpang tindih
Dari data dan perhitungan sederhana tersebut, untuk memberikan kehidupan yang 
layak kepada Sopir Angkot dan supaya mengendarai Angkotnya dengan tertib.
Beberapa solusi yang mungkin bisa diterapkan adalah :
Satu : Lakukan survey yang lebih teliti untuk menghitung ratio jumlah angkot 
dengan jumlah penumpang yang tersedia. Jalur trayek saat ini yang tumpang 
tindih termasuk juga bagian yang harus disurvey. Survey dilakukan oleh Lembaga 
Independent dan hasilnya disampaikan kepada Dinas Perhubungan dan instansi 
terkait sebagai rekomendasi untuk mengambil kebijakan.
Dua : Rencana pemerintah menerapkan dua harga BBM yang lebih murah untuk 
angkutan umum perlu ditinjau ulang. Harga yang lebih murah tersebut dapat 
membuat sopir angkot bolak balik mengisi BBM untuk dijual kepada pemilik mobil 
pribadi.
Tiga : Keberpihakan pemerintah kepada sopir dan pemilik angkot ) dilakukan 
dengan cara memberikan bantuan langsung. Sopir angkot mendapatkan bantuan tunai 
setiap bulan yang ditransfer ke rekeningnya. Setiap priode, umpamanya sekali 
dalam tiga bulan daftar sopir yang mendapat bantuan tunai diperbahaui (di 
update) oleh instansi terkait (Dinas Perhubungan dan atau Polisi Lalu Lintas) 
untuk menghindari penyalahgunaan. Kepada pemilik angkot diberikan bantuan 
pembiayaan ringan seperti kredit likuiditas oleh Bank Indonesia yang pernah 
diterapkan zaman Orde Baru. Perbaikan atau maintenance angkot secara 
gratisdilakukan oleh bengkel yang bekerjasama dengan pemerintah.
Sepertinya, cara-cara tersebut di atas dapat meminimalisir penyalahgunaan.
Angkot akan menjadi sarana angkutan umum : Nyaman, Murah dan Aman.

Salam

Reflus/55 tahun.
Tanjuang Barulak, Batusangkar 
Sent from my iPad

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke