Tarimo kasih Angku Reflusmen Ramli jo Angku Fashridjal M. Noor Sidin; lah buliah katarangan "rit" [trip atau trayek tu] nan kini baru MakNgah tahu.
Iko tukuaaak, iko tambaaah ... Padang Gantiang Tanjuang Barulak Katigo jo Saruaso Bakato aia dalam luhak Kok indak ka mandi mambasuah muko ... http://laguminanglamo.wordpress.com/2007/07/30/lansek-manih/ Salam, -- MakNgah Sjamsir Sjarif --- In [email protected], Reflusmen Ramli <reflus.ramli@...> wrote: > > MakNgah NAH. > > "rit" bisa juga disebut "trip". > > Anak Urang Tanjuang Barulak > Barulak Barulai Pulo > Den Eting Langsek Nan Masak. > Nan Busuak Tingga Dek Ambo > > Salam > > Reflus. > > > Sent from my iPad > > On 5 Jun 2013, at 13:02, "sjamsir_sjarif" <hambociek@...> wrote: > > > Bagus ceritanya. Tetapi MakNgah perlu pula tanya istilah "rit"; apa artinya? > > > > Padang Gantiang Tanjuang Barulak > > Katigo jo Saruaso > > Bakato aia dalam luhak > > Kok indak ka mambali maago sajo ... > > > > Salam, > > -- MakNgah > > Sjamsir Sjarif > > > > --- In [email protected], Reflusmen Ramli <reflus.ramli@> wrote: > >> > >> Ibu, Bapak, Mamak, Uda, Uni dan Dunsanak di Palanta NAH. > >> > >> Pengalaman pribadi naik Angkot. Ambo mencoba melihat dari sisi si Sopir. > >> Mudah2an ada manfaatnya. > >> Anda mungkin pernah jengkel, menggerutu dalam hati, marah kepada sopir > >> angkot yang ngetem sembarangan. Memperlambat jalannya saat lampu berwarna > >> hijau. Berhenti di mulut jalan, pertigaan, perempatan menunggu penumpang. > >> Akibatnya membuat jalan jadi macet. Sang sopir menoleh ke tempat lain dan > >> merasa tidak berbuat salah. > >> Kelakuan sopir angkot seperti itu, dapat dimaklumi berdasarkan pengalaman > >> kami naik angkot P. 02 warna Orange dari Bekasi ke Pondok Gede. Kami duduk > >> di samping sopir sambil ngobrol ngalor ngidul sepanjang jalan. Begini > >> ceritanya. > >> Sang sopir kesal melihat pengendara sepeda motor yang berjalan seenaknya. > >> Dulu, bawa ongkot bisa meliuk-liuk dijalanan karena sepi. Penumpang > >> banyak. Sekarang harus ekstra hati-hati. Kalau motor kesenggol, kita bisa > >> dikeroyok oleh pengendara sepeda motor lainnya. Mereka sangat kompak. > >> Padahal motor yang salah. Kata si sopir membuka pembicaraan. > >> Melihat wajah sopir yang ramah, kami beranikan diri membuka pembiracaan. > >> Bang. Angkot P.02 ini berapa banyak ? > >> “Lebih kurang 800 unit. Angkot terbanyak di Jawa Barat†. Jawabnya. > >> Apa Abang pernah hitung jarak dari Pondok Gede ke Bekasi ?. “Kurang > >> lebih 34 KM satu putaran. > >> “Bawa angkot sekarang, tidak seperti dulu Pak. Dulu penumpang banyak. > >> Sekarang, sejak uang muka beli motor ringan, penumpang angkot beralih ke > >> Motor†. Kata si Abang. > >> Oooooo, gitu yaaaa.. > >> Dari jalan Ir. Juanda melewati Terminal Bekasi sampai perempatan jalan Cut > >> Mutia, hanya kami sendiri penumpangnya. Banyak angkot P.02 yang berhenti > >> di pinggir jalan dan saling menyusul. > >> Sudah lama bawa angkot ?. Saya lihat Abang bawahnya santai aja. “Saya > >> sopir tembak. Dari pada nganggur saya bawa satu rit selama 3 (tiga) jam†. > >> Kalau nembak, hitungannya bagaimana ?. > >> “Satu rit bayar kepada sopir yang punya batangan sebesar Rp 50.000,-. > >> Lebihnya buat beli rokok. Sekarang sudah dapat Rp 60.000,00. Ada lebihan > >> Rp. 10.000,00″. Kata Bang Sopir sambil menghitung uang recehan. > >> Bisa jadi, untuk mengejar uang setoran ini kelakuan sopir yang kami tulis > >> diawal tulisan ini penyebabnya. Kalau tekor, harus bayar sendiri atau > >> besoknya tak bisa nembak lagi karena sang sopir batangan (sopir utama > >> penanggung jawab angkot) tidak percaya lagi. > >> Kerjaan utamanya apa Bang ?. > >> “Saya sopir truck Expedisi yang mengantar barang dari Jakarta ke seluruh > >> kota di Pulau Jawa dan Bali. Pernah juga saya antar barang ke Samarinda, > >> Kalimantan Timur†. > >> Kalau bawa Truck bagaimana hitungannya ?. > >> “Untuk tujuan ke Sidoarjo, kita dapat uang jalan sebesar Rp 4 juta. > >> Termasuk didalaminya uang BBM Rp 2 juta. Sisa Rp 2 juta pandai-pandai kita > >> mengolahnya. Kalau hemat banyak yang bisa dibawah pulang†. > >> Biasanya berapa yang tersisa ?.†Kurang lebih Rp 1 juta†. > >> Saya pernah lihat, di jalan Truck di setop Polisi. Kenapa di setop ?. > >> “Bapak seperti nggak tahu aja†. > >> Kalau ada pengeluaran di jalan seperti, bayar polisi cepek, tukang parkir > >> dan bayar keamanan. Apakah bisa ditagihkan ke perusahaan ?. > >> “Nggak bisa Pak, untuk bayar - bayar yang begituan sebenarnya uang > >> pribadi kita†. > >> Ooooo….begitu yaaaa….. Kasian Pak Sopir. > >> Kalau bawa Truck, ada Keneknya ?. > >> †Kalau jalan di Jawa saya nggak pakai Kenek karena gaji Kenek kita yang > >> bayar. Kalau luar Jawa seperti ke Kalimantan saya pakai kenek untuk > >> ngobrol di jalan karena uang jalannya lumayan. > >> Kapan lagi bawa Truck ?. †Hari Kamis depan ke Sidoarjo. Sudah ada > >> jadwalnya setiap bulan.†> >> Berapa lama sekali jalan ?. Perjalanan pulang pergi selama satu Minggu. > >> Waktu ke Samarinda 17 hari “. > >> Lama juga ya!. > >> †Kita naik kapal dari Surabaya ke Banjarmasin. Terus perjalanan melalui > >> Balikpapan. Di Kalimantan ada dua kali penyeberangan seperti kita > >> nyeberang di Ketapang - Gilimanuk kalau ke Bali†> >> Abang ini gendut, hatinya selalu senang. Saya memuji. > >> †Apa sih yang harus dipikirkan†Kata sopir yang membuat saya > >> tersentak. Saya yang relatif lebih baik banyak mengeluh. Ini kurang, itu > >> kurang he he he. > >> Sang sopir tembak yang mengaku berasal dari Garut turun di Warung sebelum > >> perempatan Komsen dan diganti oleh sopir batangan (sopir utama). > >> Bang. Saya belum bayar sambil mengeluarkan uang. †Bapak bayar sama Pak > >> Jono†. > >> Sopir tembak menyerahkan uang kepada Pak Jono dan memberitahu bahwa saya > >> satu-satunya penumpang yang naik dari Bekasi. > >> Setelah berganti sopir, kami mulai lagi membuka pembicaraan dengan sopir > >> utama yang sudah cukup berumur. Kami taksir umurnya tak kurang dari 50 > >> tahun. > >> Pak !. Sopir tadi namanya siapa ?. “Asep (nama samaran, nama asli untuk > >> konsumsi saya aja) urang Garut. Kata Pak Sopir. > >> Bapak namanya siapa ? > >> “Nama saya Jono, saya bukan orang Jawa, tapi berasal dari Tasikmalaya > >> “. > >> Si Bapak memberikan penjelasan sambil tersenyum. > >> Pak Jono. Berapa Kang Asep bayar kepada Bapak dan ada berapa orang sopir > >> tembak ? > >> “Bayarnya Rp. 50.000 satu rit. Minyak dari kita. Sopir tembak hanya si > >> Asep. Saya tidak mau kasi yang lain karena tanggung jawab ada pada saya. > >> Kalau si Asep saya sudah percaya, bawa mobilnya tidak ugal-ugalan†. > >> Uang setoran satu hari berapa ?. †Rp. 170.000 diluar BBM sebesar Rp > >> 80.000 per hari†. > >> Bisa berapa rit per hari ?. †Rata-rata 6 rit per hari, bisa juga 5 rit > >> dan bisa 7 rit kalau jalanan lancar. Saya bawa mobil ini dari jam 11 siang > >> sampai jam 11 malam†. > >> Pak !. Pinggir yaa…. > >> Kami turun sebelum pasar Pondok Gede setelah menempuh perjalanan sepanjang > >> 10 KM dengan waktu tempuh selama 1,5 jam. Selama dalam perjalanan, > >> penumpang yang turun naik kurang dari 10 orang. > >> Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan Sopir angkot tadi, kami coba > >> menghitung-hitung Untung Rugi menjadi sopir. > >> Masing-masing sopir harus mendapatkan uang minimal Rp 250.000 yaitu Rp > >> 170.000 uang setoran ditambah Rp 80.000 BBM. > >> Dari 800 unit Angkot P.02, jumlah uang minimal yang harus didapat setiap > >> hari adalah 800 X Rp 250.000 = Rp. 200.000.000,- > >> Tarif Angkot per penumpang Rp. 4.000, sehingga jumlah penumpang paling > >> sedikit untuk trayek P. 02 adalah Rp. 200.000.000/Rp. 4.000 = 50.000 > >> penumpang. > >> Jumlah penumpang per satu unit Angkot per hari adalah 50.000/800 = 52 > >> orang (pembuatan). > >> Kapasitas Angkot sebanyak 10 penumpang. Perjalanan 5 Rit atau 10 kali > >> pulang pergi sehingga jumlah penumpang sekali jalan sebanyak 5 - 6 orang. > >> Dengan perhitungan di atas, Sopir Angkot hanya bisa membayar uang setoran > >> dan BBM. Belum ada uang yang bisa dibawah pulang untuk keluarga. > >> Agar sopir mendapat penghasilan sama dengan UMR sebesar Rp. 2,2 juta per > >> bulan atau satu hari Rp 70.000,-, maka tambahan penumpang yang harus di > >> dapat adalah Rp 70.000/Rp 4.000 = 18 orang (Pembuatan). > >> Total jumlah penumpang per hari adalah 52 + 18 = 70 orang. > >> Agar semua sopir angkot P.02 dapat penghasilan setara UMR, jumlah > >> penumpang per hari untuk trayek P.02 adalah sebanyak 800 X 70 = 56.000 > >> orang. > >> Yang menjadi pertanyaan. Apakah ada penumpang sebanyak 56.000 orang ?. > >> Ingat, pada jalur tersebut, terdapat juga beberapa Nomor Angkot dengan > >> kata lain trayeknya tumpang tindih > >> Dari data dan perhitungan sederhana tersebut, untuk memberikan kehidupan > >> yang layak kepada Sopir Angkot dan supaya mengendarai Angkotnya dengan > >> tertib. > >> Beberapa solusi yang mungkin bisa diterapkan adalah : > >> Satu : Lakukan survey yang lebih teliti untuk menghitung ratio jumlah > >> angkot dengan jumlah penumpang yang tersedia. Jalur trayek saat ini yang > >> tumpang tindih termasuk juga bagian yang harus disurvey. Survey dilakukan > >> oleh Lembaga Independent dan hasilnya disampaikan kepada Dinas Perhubungan > >> dan instansi terkait sebagai rekomendasi untuk mengambil kebijakan. > >> Dua : Rencana pemerintah menerapkan dua harga BBM yang lebih murah untuk > >> angkutan umum perlu ditinjau ulang. Harga yang lebih murah tersebut dapat > >> membuat sopir angkot bolak balik mengisi BBM untuk dijual kepada pemilik > >> mobil pribadi. > >> Tiga : Keberpihakan pemerintah kepada sopir dan pemilik angkot ) dilakukan > >> dengan cara memberikan bantuan langsung. Sopir angkot mendapatkan bantuan > >> tunai setiap bulan yang ditransfer ke rekeningnya. Setiap priode, > >> umpamanya sekali dalam tiga bulan daftar sopir yang mendapat bantuan tunai > >> diperbahaui (di update) oleh instansi terkait (Dinas Perhubungan dan atau > >> Polisi Lalu Lintas) untuk menghindari penyalahgunaan. Kepada pemilik > >> angkot diberikan bantuan pembiayaan ringan seperti kredit likuiditas oleh > >> Bank Indonesia yang pernah diterapkan zaman Orde Baru. Perbaikan atau > >> maintenance angkot secara gratisdilakukan oleh bengkel yang bekerjasama > >> dengan pemerintah. > >> Sepertinya, cara-cara tersebut di atas dapat meminimalisir penyalahgunaan. > >> Angkot akan menjadi sarana angkutan umum : Nyaman, Murah dan Aman. > >> > >> Salam > >> > >> Reflus/55 tahun. > >> Tanjuang Barulak, Batusangkar -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/ - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
