<http://id.berita.yahoo.com/tiga-dari-empat-orang-indonesia-menyuap-polisi-033236900.html>Sanak
komunitas r@ntaunet n.a.c.

Kalau barito nan dimuek dek TEMPO ko batua, nampaknyo negara-negara di
Asean ---kecuali Singapura?--- ampiang samo sajo cokinyo.

Antahlah...........!

Salam.............,

*mm****

*Tiga dari Empat Orang Indonesia Menyuap Polisi
<http://id.berita.yahoo.com/tiga-dari-empat-orang-indonesia-menyuap-polisi-033236900.html>
*

TEMPO.CO, Jakarta - Tamparan itu datang dari Transparency International
Indonesia (TII). Hasil survei Transparency International Indonesia
menunjukkan kepolisian di negeri ini dinilai sebagai lembaga paling korup.
Manajer Anticorruption Information Center TII Ilham Saenong mengatakan, 75
persen dari 1.000 responden di lima kota, yaitu Jakarta, Surabaya, Medan,
Makassar, dan Bandung, mengaku menyuap polisi dalam setahun terakhir.
"Umumnya, mereka memberikan uang untuk mendapatkan pelayanan yang lebih,"
kata Ilham saat dihubungi kemarin.

Survei ini diadakan secara internasional pada September 2012 dan Maret 2013
melalui wawancara tatap muka. Survei diadakan di 107 negara dengan
melibatkan 114 ribu responden. Mayoritas responden, atau sebanyak 91
persen, juga menilai polisi bercitra buruk. Peringkat berikutnya adalah
partai politik dan parlemen, 89 persen; disusul pegawai negeri sipil, 79
persen. Menurut Ilham, masyarakat menilai fasilitas pelayanan publik
menjadi ladang suap karena tak ada prosedur jelas dan transparan.

Sekretaris Jenderal TII Dadang Trisasongko mengatakan kepolisian, parlemen,
dan lembaga peradilan di Indonesia memang paling sering melakukan korupsi.
Peringkat korupsi kepolisian, parlemen, dan peradilan di Indonesia, kata
Dadang, bahkan jauh melebihi negara lain di Asia Tenggara. Publik menilai
upaya pemberantasan korupsi juga belum berhasil. "Di antara negara ASEAN,
peringkat Indonesia memburuk," katanya.

Menurut dia, berbagai peristiwa ikut mempengaruhi tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap pemberantasan korupsi. Misalnya, pelemahan terhadap
Komisi Pemberantasan Korupsi dan keterlibatan anggota parlemen dalam kasus
korupsi. Akibatnya, masyarakat pun enggan melaporkan kasus korupsi yang
diketahuinya kepada lembaga yang berwenang mengusutnya. "Masyarakat tak
percaya kepada lembaga-lembaga itu."

Secara terpisah, juru bicara Mahkamah Agung Ridwan Manshur mengimbau
lembaga peradilan agar mencegah pola korupsi sekecil apa pun. Dia juga
meminta pengadilan memperkuat pengawasan internal dan terbuka terhadap
pengaduan masyarakat.

ANANDA BADUDU | MAYA NAWANGWULAN | GALVAN YUDISTIRA | WAYAN AGUS PURNOMO |
MUHAMAD RIZKI | PRAM

Hasil Survei Persepsi Korupsi

Institusi

Indonesia(%)

Malaysia (%)

Vietnam (%)

Thailand (%)

Filipina (%)

Korsel (%)

Polisi

91

76

72

71

69

35

Partai Politik

89

69

27

68

58

70

Parlemen

89

44

28

45

52

64

Peradilan

86

35

53

18

56

38

PNS

79

46

55

58

64

36

Pebisnis

54

40

33

37

30

33

Pendidikan

49

13

49

32

32

30

Kesehatan

47

9

58

21

31

21

Militer

41

10

25

23

43

31

Ormas

31

6

15

12

15

43

LSM

27

17

19

18

25

20

Media Masa

19

22

25

20

14

36

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke