Lado maha...tapi ado pulo kelompok lain

Manggiliang lado dibubuhi gulo

Ambo kecekkan ka mareka, kalian kicuah urang yoo

Dibali lado maha2, beko disiram lado tu jo gulo. Tantu hilang padehnyo he he

---TR
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Hanifah Damanhuri <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 13 Jul 2013 11:04:19 
To: rantaunet<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] CABE OH CABE

CABE OH CABE



Harga cabe yang meroket membuat para ibu-ibu yang berbelanja menjadi
terkejut dan tak bisa berkata-kata. Berapapun harganya, cabe tetap harus
dibeli, walau mungkin jumlahnya dikurangi.



Terbayang saat kecil dulu.  Sering lauk pauk yang bercabe, kucuci terlebih
dahulu sebelum kumakan dengan nasi. Waktu itu aku tidak suka pedas. Kalau
aku berkunjung ke rumah bako, bakoku pasti menyiapkan menu yang tidak
becabe untukku.



Di masa ABG, kebiasaan bertandang dan membawa nasi untuk makan malam
membuatku terheran-heran dengan bekal yang dibawa teman, merah oleh cabe.
Malu beda sendiri akupun akhirnya belajar makan cabe.

“Minta sesuap nasimu Eri”, pintaku pada Eri

Eri menyodorkan piringnya dan aku ambil sesuap.

Pelan-pelan aku masukkan kemulut dan kukunyah. Aku merasakan pedas dan
mjkaku panas. “uuhhhh pedas pedas”, teriakku.

“Ha ha ha mukamu merah tuh kepedasan”, canda Eri

Teman-teman lain ikutan tertawa menyaksikan aku yang belajar makan cabe.

Aku menyambar minum dan minum cepat-cepat sehingga nasipun tertelan
bulat-bulat. “Ha ha ha tambah lagi?”, Tanya Eri

Aku menggeleng sambil mengambil dan menyuap nasiku yang tak pedas.

Tak lama kemudian, ketika rasa pedas berlalu,  “minta sesuap lagi”, kataku
pada Eri

Eri kembali menyodorkan piringnya dan mmempersilahkan aku mengambilnya
sesuap.

Sama seperti tadi, nasipun ditelan bulat-bulat didorong oleh air minum. Air
matapun terbit dan mengalir dipipi. Teman-teman tambah tertawa menyaksikan
bibir dan pipiku memerah, matapun  berair.



Sejak itu cabe sudah jadi bagian dari acara makanku. Aku sudah bisa ikut
makan satu piring bersama teman-teman. Bakoku tak perlu memasak khusus
untukku lagi ketika aku berkunjung ke rumah bako. Memang nikmat makan kalau
pakai cabe.



Ketergantungan pada cabe saat makan menjadi masalah ketika harga cabe
meroket begini.  Susahnya mengatur keuangan, apalagi sudah terbayang
pengeluaran besar-besaran untuk kembali kesekolah atau menyambut lebaran.
Cabe oh cabe ….



“Eri, punya bibit cabe rawit nggak?, begitu bunyi SMSku pada Eri yang
berada di kampung.  “Kapan perlu belikan anaknya di pasar kalau ada yang
jual. Bantu tanamkan di pekarangan rumah kami”, pesanku lagi.  Halaman
rumah sobatku Eri  penuh dengan aneka sayuran. Aku juga mau halaman rumah
ibuku seperti itu. Salah satu cara untuk mengatasi ketergantungan pada
cabe, dan menyiasati harganya yang melambung tinggi adalah dengan menanam
cabe rawit di pekarangan rumah. Mudah tumbuh dan tidak repot merawatnya,
indah pula tampaknya kalau sudah berbuah.



“Insya Allah akan dicarikan bibitnya”, balas Eri

“Kok baru teringat sekarang?”, pesannya lagi

“Biarlah telat, kan sekarang musim hujan, saat yang tepat menanamnya”,
pesanku lagi. “ Ha ha ha orang kota ngajarin orang kampung menanam cabe”,
balas Eri

“Yeeee nggak masalah kan?, mudah-mudahan lebaran haji nanti bisa panen”,
balasku

“Ha ha ha iya yah… siap laksanakan”, balasnya.

“ he he he”, balasku terbayang masa pramuka dahulu

Akupun tersenyum membayangkan bakal punya tanaman cabe rawit di halaman
rumah ibuku di kampung. Senyum yang sedikit menghilangkan rasa pusing
menghadapi harga cabe yang meroket.



Padang, 13 Juli 2013





Hanifah Damanhuri

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke