السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sanak-sanak sa palanta yth.
Semoga artikel berikut bermanfa'at bagi kita semua.
Salam
FMNS
L65bdg


Tingkatan Orang Berpuasa
18 Juli 2013 09:50 WIB

Umat muslim berbuka puasa bersama.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr HM Harry M Zein

 “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari puasanya itu 
kecuali rasa haus dan lapar.” (HR Turmudzi)

Secara sederhana, bulan puasa adalah bulan dimana diwajibkan umat Islam 
(beriman) untuk menahan lapar dan haus sepanjang hari, mulai matahari terbit 
hingga matahari terbenam. 

Sebagaimana Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas 
kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar 
kamu bertakwa." (QS al-Baqarah:183).

Namun membaca ayat di atas, puasa bukan sebatas menahan lapar dan haus sejak 
mulai terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari. Rasulullah pernah 
bersabda bahwa puasa adalah perlindungan, dan perlindungan ini akan bisa 
dirasakan selama manusia bisa memaknai nilai-nilai puasa yang dijalankannya.

Untuk bisa mengambil makna dari puasa tersebut, dipastikan setiap orang 
berbeda-beda, dan tergantung dengan tingkat keimanan. Tingkat keimanan itu yang 
menurut sebagian besar ulama tafsir adalah perbedaan derajat puasa itu sendiri. 
Maksudnya adalah kemampuan setiap Muslim dalam menjalankan puasa.

Imam al-Ghazali dalam bukunya Ihya Ulumuddin memberikan klasifikasi puasa yang 
dijalankan yakni dengan tiga tingkatan. Tingkat pertama adalah puasa umum, 
tingkat kedua puasa khusus dan tingkat paling tinggi adalah puasa khusus yang 
lebih khusus lagi. 

Tingkat puasa umum merupakan tingkatan puasa yang paling rendah, berpuasa hanya 
sekadar menahan rasa lapar dan haus. Puasa ini termasuk puasa untuk orang awam. 
Banyak ditemui puasa jenis ini di sekeliling kita, dimana mereka berpuasa, 
tetapi tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah SWT seperti 
bergunjing, berbohong atau menipu hingga korupsi.

Mengenai perkara ini, Rasulullah SAW pernah bersabda yang diriwayatkan Turmudzi 
berbunyi, “Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak didapatkan dari 
puasanya itu kecuali hafsu dan lapar.” 

Meski bergunjing, berdusta, atau menipu tidak termasuk dalam hal-hal yang 
membatalkan puasa, tetapi perbuatan tercela itu termasuk bagian yang 
membatalkan hakikat puasa.

Puasa tingkatan kedua adalah puasa khusus. Artinya adalah berpuasa di samping 
menahan lapar dan haus, juga memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan 
maksiat atau tercela. Puasa khusus juga diartikan berpuasa untuk menahan 
pendengaran, pandangan, lisan, tangan, kaki dan seluruh anggota badan kita 
untuk tidak mengerjakan kemaksiatan. 

Misalnya menahan telinga kita untuk tidak mendengarkan kebohongan, atau menahan 
pandangan mata kita untuk tidak melihat hal-hal yang mendorong diri kita untuk 
berbuat kemaksiatan, serta menahan lisan kita untuk tidak berkata bohong pada 
orang lain. 

Berapa banyak kebohongan yang kita lakukan tanpa kita sadari baik itu bohong 
yang bersifat sepele maupun besar. Tingkatan puasa ini adalah orang-orang yang 
shaleh. Rasulullah SAW bersabda, “Puasa adalah perisai (tabir penghalang dari 
perbuatan dosa). Maka apabila seseorang dari kamu sedang berpuasa, janganlah ia 
mengucapkan sesuatu yang keji dan janganlah ia berbuat jahil.”  (HR 
Bukhari-Muslim)

Sedangkan tingkatan puasa yang paling tinggi adalah puasa khusus yang lebih 
khusus. Artinya puasa hati dari segala kehendak hina dan segala pikiran duniawi 
serta mencegahnya memikirkan apa-apa yang selain Allah. Puasa level ini adalah 
puasanya para nabi-nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. 

Puasa khusus yang dikhususkan juga berarti puasa hati dari memperturutkan diri 
untuk memikirkan hal-hal duniawi, menahan diri dari untuk tetap istiqamah hanya 
memikirkan Allah dan selalu mengingatnya, jika mendapatkan kenikmatan maka 
tidak pernah lupa untuk selalu bersyukur dan jika mendapatkan musibah tidak 
pernah mengeluh, selain hanya berkata "Sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah 
dan kepada-Nya kita akan kembali". 

Inilah derajat tertinggi dari puasa. Kembali pada diri kita sendirilah yang 
bisa mengukur sampai di derajat manakah puasa yang selama ini kita jalankan. 
Sudahkah puasa tersebut bisa betul-betul terefleksikan dalam keseharian kita? 


Red: Heri Ruslan
Komen
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke