Tarimo kasih Mak Muchlis Hamid n.a.h.

Acara di Jogja ini merupakan ketiga setelah di Kukusan, Depok (belakang UI)
dan di jamaah pengajian Masjid Al Hakim BSD City. Insya Allah awal pekan
ini di (Univ. Muhammadiyah) Purwokerto, dan setelah itu Solo. Semua atas
undangan mereka, bukan inisiatif ambo atau penerbit. Jadi tampaknya memang
ada kerinduan umat terhadap sosok Buya Hamka.

Satu hal yang bagi ambo cukup menjadi "pertanyaan" adalah mengapa dari
seluruh acara ini, termasuk yang berlangsung sebelum Ramadhan, yang
bersemangat justru masyarakat non-Minang (kecuali di UBH Padang atas
inisiatif Uni Rita Desfitri, awal April lalu). Begitu juga dengan
radio-radio yang sudah mengadakan talk-show (hampir 10 radio), seluruhnya
radio umum dan dakwah non-Minang.

Sebetulnya, minimnya respon mayarakat/komunitas Minang seperti ini bukan
"pengalaman pertama". Ketika novel sejarah "Presiden Prawiranegara" terbit
(2011) dan menurut Aisyah Prawiranegara, putri Ayah Sjaf, sangat berperan
dalam menggolkan Mr. Sjafruddin Prawiranegara yang sudah di-blacklist baik
Orde Lama maupun Orde Baru, sebagai Pahlawan Nasional baru (2011), ambo pun
pernah menulis di milis ini tentang "respon dingin" masyarakat/organisasi
Minang. Satu-satunya respon positif yang muncul saat itu adalah dari
almarhum Pak Darwin Bahar, yang di hari-hari terakhir hidupnya sempat
membaca novel PP itu dan membayangkan bagaimana bermanfaatnya jika kisah
perjuangan Pak Saaf itu bisa dimuat bersambung di harian Minang, seperti
Singgalang.

Jadi, meski ambo "menyiapkan diri" untuk tidak terkejut seandainya dengan
novel sejarah tentang Buya Hamka ini pun respon warga Minang (dengan
indikator dari respon dunsanak Palanta RN) ini tetap "tidak antusias", ambo
umumkan juga di sini proses kelahiran TCBP. Dan memang dengan jumlah
pesanan sekitar 80-an novel (kurang dari 10 % anggota milis yang sekitar
1200-an, dan biaya pengiriman sudah digratiskan oleh Renny ke mana pun
alamat pengiriman di pojok bumi ini), jumlah pesanan itu masih di bawah
milis alumni sekolah ambo yang memesan hampir 3 kali lipat, padahal latar
belakang budaya mereka heterogen, justru sedikit sekali yang Minang.

Mohon maaf, bukannya ambo kecewa Mak Muchlis, insya Allah indak. Sejak awal
memutuskan untuk fokus sebagai penulis novel sejarah 3 tahun lalu, dan
mundur sebagai jurnalis, ambo sudah tahu ini risiko penulis, profesi yang
sangat berat di negeri ini. Apalagi jika yang ditulis adalah kisah yang
membutuhkan banyak riset dan makan waktu, seperti TCBP yang bagian
pertamanya ini saja butuh waktu 1,5 tahun.

Selain itu, respon pembaca kita terhadap selera novel pun kadang-kadang
sangat mudah terpukau glorifikasi. Misalnya, novel-novel best seller
belakangan ini yang sering merupakan kisah hidup penulisnya sendiri, dengan
menggunakan nama lain sebagai alter ego, langsung mendapat beragam
sanjungan hanya karena sang penulis (tokoh dalam novel itu) semua mengambil
template "from zero to hero" (biasanya dari anak kampung tapi sukses kuliah
di luar negeri). Ini template dari "novel motivasi" sekarang.

Tanpa mengabaikan pencapaian para penulis yang menjadikan kisah hidup
mereka sendiri sebagai bahan tulisan, sudahkah perjuangan mereka sebanding
dengan Buya Hamka, yang sekolah formal hanya sampai kelas 2 SD tapi
mendapatkan gelar doktor kehormatan dari universitas asing dengan tanda
tangan sang presiden negara itu (Gamal Abdul Nasser).

Belum lagi perjuangan Buya Hamka yang majalahnya (Panji Masyarakat)
dibredel oleh Soekarno, sahabatnya sendiri, karena memuat tulisan Bung
Hatta yang saat itu sudah patah arang dengan BK. Lalu Buya Hamka pun kelak
dijebloskan ke dalam penjara oleh sahabatnya itu dengan bermacam fitnah
yang bahkan membuat ulama sekelas Buya Hamka pun terpikir untuk BUNUH DIRI
saat menjalani interogasi, saking beratnya (ada di "Tasawuf Modern"). Dll
pengalaman Buya Hamka yang sudah proven, terbukti jauh di atas rata-rata
ulama Indonesia sendiri.

Jadi Mak Muchlis, kalau memang kita semua punya komitmen agar kisah Buya
Hamka ini menjadi pelajaran, pendorong, hikmah, dan inspirasi bagi generasi
muda Indonesia, khususnya generasi muda Minang khususnya, tugas untuk
menyiarkan kisah Buya sesungguhnya adalah tugas kita semua.

Ambo sebagai penulis sudah mencoba menuangkan dan merekonstruksi kehidupan
sosok besar ini sesuai kemampuan ambo yang terbatas. Penerbit (Salamadani
Grafindo, Bandung) pun sudah mengambil bagian lewat upaya mereka
menerbitkan hard copy dan versi soft copy (e-book) novel ini melalui
kerjasama dengan Wayang Force dan QBaca.

Tinggal, apa yang akan dilakukan stakeholder Minang lainnya terhadap kisah
Buya Hamka ini? Apakah (lagi-lagi) hanya menjadi penonton di pinggiran atau
mau lebih aktif berkiprah sebagai agen perubahan sosial?

Ketika "Sang Pencerah" (kisah tentang KH Ahmad Dahlan mendirikan
Muhammadiyah) difilmkan oleh sebuah "PH India", di Bali Post muncul berita
dengan judul besar "Kisah Ulama Islam difilmkan Orang Hindu" (maksudnya
Raam Punjabi).

Kini saya melihat sebuah pola deja vu akan terjadi pada Desember 2013
ketika film "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" dari roman Buya Hamka juga
dibuat (sedang syuting) oleh "PH India" lainnya. Besar kemungkinan koran
seperti Bali Post pun akan menurunkan berita dengan pola serupa "Kisah
Tokoh Besar Minang dan Islam Internasional Dijadikan Film Oleh Orang Hindu."

Strategi kebudayaan etnis Minang kontemporer, menurut saya, sudah tak
sensitif pada warisan besar sendiri, sehingga kita sudah selayaknya malu
jika selalu membandingkan kebesaran intelektual Minang masa lampau dan
sekarang, karena jangan-jangan kita sendiri yang merupakan bagian penting
dari rontoknya "spirit Minang" yang pernah begitu berjaya di panggung
kesusastraan dan kebudayaan masa silam. Sudah tak ada lagi semangat,
ghirah, untuk menjadi bagian dari perubahan sosial itu.

Kalau ada yang berpikir bahwa "ah, novel TCBP itu kan karya Akmal, ngapain
saya capek-capek ikut mempopulerkan?", maka pertama-pertama yang harus
diperhatikan adalah bahwa novel TCBP ini memang saya yang tulis, tapi BUKAN
TENTANG KISAH HIDUP SAYA seperti kecenderungan novel kontemporer para
penulis sekarang. Dan itu sebuah perbedaan besar.

(Agustus nanti insya Allah ada serombongan penulis Malaysia yang sudah
mengajak bertemu. Jangan salahkah mereka juga kalau nanti Buya Hamka pun
"diklaim" sebagai milik mereka, karena respon dingin masyarakat Minang
sendiri). Wallahua'lam.

Wassalam,

ANB
45, Cibubur






Pada Rabu, 17 Juli 2013, Muchlis Hamid menulis:

> Bung Akmal,
> Ambo mengucapkan selamat atas gelar bincang di Jogja. Semoga TCBP makin
> dikenal sebagaimana Buya Hamka dikenal dan terkenal sampai ke seluruh
> Nusantara dan negara jiran.
> Salam,
> Muchlis Hamid
>
>   ------------------------------
>  *From:* Akmal Nasery Basral <[email protected] <javascript:_e({},
> 'cvml', '[email protected]');>>
> *To:* "[email protected] <javascript:_e({}, 'cvml',
> '[email protected]');>" 
> <[email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>>
>
> *Sent:* Monday, July 15, 2013 4:38 PM
> *Subject:* [R@ntau-Net] (OOT) Membincang Buya Hamka di Jogjakarta
>
>
> Assalamu'alaikum Bundo, Mamak, Uni, Uda, dunsanak Palanta RN,
>
> Masjid Syuhada, Kota Baru, Jogjakarta akan menggelar bincang Ramadhan
> menyangkut sosok mulia, Allahyarham Prof.  Dr. H. Abdul Malik Karim
> Amrullah (1908-1981), a.k.a. Buya Hamka, bersama ambo dan Abiedah El
> Khalieqy, pada Selasa, 16 Juli, 16.00-17.30, dilanjutkan dengan buka puasa
> bersama.
>
> Silakan diberitahukan kepada komunitas-komunitas Minang di Jogja dan
> sekitarnya, terutama para pasangan muda yang mempunyai anak remaja, agar
> kisah hidup masa remaja Buya Hamka lebih diketahui dan dijadikan hikmah
> parenting.
>
> Sampai bertemu besok. Insya Allah.
>
> Wassalam,
>
> ANB
> 45, Cibubur.
>
> "Novel Tadarus Cinta Buya Pujangga yang ditulis saudara Akmal Nasery
> Basral ini setara dengan disertasi." - Prof. Dr. H. Aliyah Hamka, putri
> Buya, dalam sambutan di PP Muhammadiyah, Menteng, 7 Juni 2013.
>
> "Saya membaca dengan khusyuk novel ini, beberapa kali terhenti akibat
> menangis terharu, tapi beberapa kali juga tertawa terpingkal-pingkal
> membaca kisah remaja Malik yang sangat saya kenal di dalam hidup saya." -
> H. Afif Hamka, putra Buya Hamka.
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti 
> [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>.
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>
>
>   --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti 
> [email protected]<javascript:_e({}, 'cvml', 
> '[email protected]');>.
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke