Assalamualaikum w.w. Sanak Dewis Natra dan para sanak sa palanta,
Nampaknyo iyo paralu bana didanga suaro padusi dalam marumuskan ABS SBK ko. Memang agak aneh juo, awak bangga bana ka sistem kekerabatan matrilineal, tapi suaro padusi indak kito agiah tampwk nan layak.
Ambo satuju. Nantik ambo usulkan tambahan anggota Tim ko. Ambo catat manjadi DIM 32: PERANAN PEREMPUAN.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 70+6+19, Jakarta) 'Taqdir di tangan Allah, Nasib di tangan Manusia'
'Ya Allah, tunjukilah selalu aku jalan yang lurus dan Engkau ridhoi' ''Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya' 'Mari berlomba berbuat
kebaikan'
'Puji syukur aku sampaikan pada-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada aku dan keluargaku'. 'Setiap manusia adalah baik, sampai terbukti sebaliknya' 'Jangan pernah berhutang dan jangan mudah berpiutang'
--- On Fri, 2/29/08, [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: ALHAMDULILLAH, TIM KOMPILASI ABS SBK TELAH TERBENTUK. To: [email protected] Date: Friday, February 29, 2008, 7:15 AM
Pak Saf,
Alhamdulillah, semoga team menghasilkan
sesuatu nan berarti bagi generasi minang kedepan.
Pak Saaf, saran bundo untuak manambah
anggota nan dari Bundo Kanduang mungkin paralu juo diperatian, karano salamoko
banyak juo nan konsen, "Kurangnyo peranan Bundo kanduang dalam adat"
Sarupo artikel nan ambo dapek dibawahko,
(Lupo ambo sumbernyo), jadi kedepanpun dalam perumusan kompilasi ABS SBK,
sadonyo alah terwakilkan,
Bundo Kanduang, Matriarkat, dan Wanita
Minangkabau
Dasriel Rasmala
BILA kita berasumsi karya sastra adalah
refleksi kehidupan manusia pada zamannya, maka alangkah majunya perempuan
Minangkabau. Dalam roman Siti Nur-baya, Marah Roesli menggambarkan
Siti Nurbaya sudah berdansa-dansi dengan pacarnya Samsul Bahri dan bersekolah
di sekolah modern di Padang pada awal abad ke-20. Padahal pada saat hampir
bersamaan, RA Kartini sedang mati-matian berusaha memberi pendidikan bagi
kaumnya di pendopo Kadipaten Rem-bang Jawa Tengah dan mengeluhkan betapa
malang nasib kaumnya dibanding lelaki.
Namun, Marah Roesli mungkin berpikir terlalu
maju. Atau dia mendambakan kondisi ideal yang diharapkannya lalu dituangkan
ke dalam karya sastranya, sebab perikehidupan perempuan Minangkabau pada
awal abad ke-20 masih tergolong sangat rendah dan direndahkan.
Perempuan Minangkabau mungkin pernah merasa
bangga sebab konon ada raja di Minangkabau bergelar Bundo Kanduang (Ibu
Kandung). Namun, sampai sekarang setelah begitu banyak peneliti meneliti
kebenaran mitos Bundo Kanduang ini, belum juga diperoleh kebenaran ilmiah
tentang keberadaan raja perempuan itu. Bundo Kanduang adalah mitos di tengah
masyarakat dan dikaitkan dengan fakta sejarah tentang Raja Adityawarman
yang mudah ditelusuri para peneliti keberadaannya. Dan patung yang diyakini
sebagai patung Adityawarman pun terkoleksi di Museum Nasional, Jakarta.
Informasi yang agak terkait dengan sejarah
tentang eksistensi Bundo Kanduang ini ada juga. Konon, tahun 1275 Kera-jaan
Singosari mengirim ekspedisi damai ke Minangkabau yang bernama Pamalayu.
Raja Minangkabau memberikan tiga anaknya untuk dididik di Singosari: Dua
perempuan Dara Petak dan Dara Jingga, serta adik lelaki mereka Adityawarman.
Pergolakan politik di Singosari membuat ke-rajaan itu ambruk dan Raden
Wijaya mendirikan Majapahit. Dara Petak menikah dengan Raden Wijaya yang
melahirkan Jayanegara, yang kemudian jadi Raja Majapahit. Sedangkan Dara
Jingga kembali ke Minangkabau. Ketika Raja Minangkabau wafat, Aditya-warman
yang sudah menjadi Panglima Majapahit kembali ke Minangkabau dan menjadi
raja. Namun, pendidikan Ma-japahit yang feodal ternyata tidak diterima
di Minangkabau, sehingga Adityawarman menyingkir ke Jambi, dan naiklah
Dara Jingga menjadi ratu dan bergelar Bundo Kanduang. Setelah itu, catatan
sejarah berbaur dengan mitos dan dongeng yang sulit diterima nalar. Yang
jelas, mayoritas masyarakat Minangkabau sangat meyakini cerita adat Minangkabau
tentang Bundo Kanduang.
LALU, apakah benar pada etnis Minangkabau
yang menganut paham matriarkat, kaum perempuan mendapatkan hak-haknya secara
sempurna sehingga mereka terkesan lebih diperhatikan dan dihormati, karena
posisinya itu di dalam adat?
Masih perlu dipertanyakan dan diperdebatkan.
Munculnya roman Siti Nurbaya adalah ekspresi pengarangnya untuk
mengangkat persoalan yang masih memojokkan posisi kaum perempuan. Perlakuan
terhadap perempuan di Minangkabau tidak lebih baik, jika tidak ingin dikatakan
lebih buruk, dibandingkan dengan di etnis lain di Indonesia. Marah Roesli
saat itu sudah melihat ketidakadilan perlakuan terhadap para pewaris Bundo
Kanduang. Paham matriarkat yang memberikan hak istimewa terhadap kaum pe-rempuan,
sebenarnya tak lebih dari sekadar kehormatan yang simbolis belaka.
Dengan berasumsi kisah tentang Bundo Kanduang
benar-benar ada, sebenarnya hal itu sudah tercermin sebab Bundo Kanduang
menurut sejarah adat adalah kekuasaan simbolis belaka.
Pemerintahan sehari-hari dilakukan Raja Adat
dan Raja Ibadat, dan masih ditambah lagi oleh Basa Empat Balai yang semuanya
adalah lelaki. Kekuasaan orang bawahan Bundo Kanduang ini sangat dominan
dan mutlak. Misalnya, bila ada masalah agama, maka keputusan Tuan Kadi
(salah satu dari Basa Empat Balai) adalah mutlak dan mengikat. Begitu juga
masalah kehidupan lainnya, meskipun pola demokratis adat Minangkabau menyebabkan
rakyat boleh menentukan menerima atau tidak, sebab sebagaimana kata pepatah,
"raja
alim raja disembah, raja lalim raja disanggah."
Dalam pemerintahan sehari-hari, yang sebenarnya lebih berkuasa adalah penguasa
nagari, sebab kerajaan hanyalah federasi dari sejumlah nagari yang sangat
otonom. Dan di banyak nagari tidak dikenal yang namanya Basa Empat Balai
itu, terutama di Luhak Agam!
DEWASA ini kedudukan perempuan di Minangkabau
tetap saja seperti nasib Bundo Kanduang yang simbolis itu. Memang harta
pusaka kaum jatuhnya ke tangan anak pe-rempuan dan anak lelaki harus hidup
dari pencahariannya sendiri. Tetapi, keputusan strategis tentang adat dan
kehidupan sehari-hari tetap berada di tangan ninik-mamak yang semua
lelaki. Tidak ada satu keputusan pun yang selesai di tangan perempuan,
termasuk dalam mengelola harta pusaka yang katanya mutlak menjadi milik
perempuan. Satu-satunya warisan budaya yang menjadi kebanggaan perempuan
Minangkabau mungkin hanyalah bahwa anak yang mereka lahirkan mengikuti
garis keturunan silsilah ibunya.
Dalam struktur masyarakat pun perempuan yang
dikelompokkan sebagai Bundo Kanduang itu nyaris hanya pelengkap belaka,
sehingga terpenuhi di semua lapisan masyarakat. Kasus uang jemputan di
Kabupaten Padang Pariaman memperlihatkan betapa perempuan dan barisan Bundo
Kanduang-nya tak berdaya, dan tak lebih dari obyek. Peran para pelopor
pemberdayaan perempuan di Minangkabau seperti Hj Rahmah El Yunnusiyah (pendidikan),
Rohana Kudus, Rasuna Said atau yang lain yang sudah melantunkan protes
mereka secara konkret, yakni dengan mendi-dik kaum mereka sendiri agar
menyadari hak-hak mereka, ternyata tidak terlalu menggema bila sudah berhadapan
dengan hukum adat.
Perempuan Minangkabau boleh bangga karena
lembaga pendidikan Diniyyah Putri, Padang Panjang (berdiri 1923), yang
dibangun Rahmah, misalnya, mengangkat martabat perempuan,sehingga haknya
memperoleh pendidikan setara dengan laki-laki tercapai.
Paham matriarkat di Minangkabau sebenarnya
sama sekali tidak mampu mengangkat martabat perempuan agar setara dengan
laki-laki, semua masih tergantung pada laki-laki. Harta pusaka memang di
tangan perempuan, tetapi harta pusaka umumnya tidak boleh diperjualbelikan.
Paling hanya bisa digadaikan. Itu pun dengan ketentuan sangat ketat, yakni
(1) bilo rumah gadang katirisan (bila rumah adat bocor); atau (2)
adaik pusako indak tagak (belum mengangkat pengulu), atau (3) anak
gadih balun balaki (ada gadis yang belum bersuami), dan (4) mayik
tabujua di tangah rumah (ada kerabat yang meninggal). Lalu apa yang
bisa dilakukan kaum perempuan Minangkabau untuk memperbaiki nasibnya? Berjuang
tentunya. Karena ini persoalan adat, maka jalur yang dipakai juga harus
jalur adat pula. Dan adat adalah hak otonom nagari sebagai kesatuan adat
terkecil sehingga perjuangan mengangkat martabat ini membutuhkan waktu
panjang, sebab mungkin harus dimulai dari nagari. Tetapi, apa salahnya?
Dasriel Rasmala Peminat masalah sosial
kemasyarakatan dan budaya
"Dr.Saafroedin BAHAR"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]
29/02/2008 03:36
|
|
To
| [email protected]
|
|
cc
| Warni DARWIS <[EMAIL PROTECTED]>,
Miko MIKARDO <[EMAIL PROTECTED]>, Darul MAKMUR <[EMAIL PROTECTED]>,
"Dra. Adriyetti AMIR, SU" <[EMAIL PROTECTED]>,
Ilhamdi TAUFIK <[EMAIL PROTECTED]>, MH Bachtiar Abna SH <[EMAIL PROTECTED]>,
Rahima <[EMAIL PROTECTED]>, hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]>,
"Prof. Dr Azyumardi AZRA" <[EMAIL PROTECTED]>, Prof
Dr Taufik ABDULLAH <[EMAIL PROTECTED]>, Suryadi <[EMAIL PROTECTED]>
|
|
Subject
| [EMAIL PROTECTED] Re: ALHAMDULILLAH, TIM
KOMPILASI ABS SBK TELAH TERBENTUK. |
|
Waalaikumsalam w.w. Bundo Hayatun dan para
sanak sa palanta,
Samo-samo basyukur kito Bundo jo alah tabantuaknyo tim nan akan manangani
ABS SBK sabagai jati diri Minang ko. Pak Gamawan manjalehkan bahaso
gagasan ko sabananyo alah ado dalam pikiran baliau sawakatu manjadi Bupati
Solok dahulu, tapi alun bisa dilaksanakan, karano dahulu masih kareh resistensi
urang , kato baliau.
Assalamualaikum w.w. para `sanak sa palanta,
Susunannya adalah sebagai berikut.
1. Penasehat : Gamawan Fauzi Gubernur Sumbar, Marlis Rahman Wagub Sumbar.
2. Pengarah Ir. H.Azwar Anas (Cerdik Pandai), Drs Hasan
Basri Durin (Cerdik Pandai). Drs H Muchtiar Muchtar (Cerdik Pandai), Prof
Dr Ir Musliar Kasim (Perguruan Tinggi).
3. Penanggung Jawab : Drs Yohannes Dahlan, Sekretaris Daerah.
4. Wakil Penanggung Jawab: Drs Asrul Syukur, Ass Pemerintahan.
5. Ketua Pelaksana : Drs Suhermanto Reza, SH, MM, Karo Pem Nag/Kel.
6. Sekretaris :Dr. H Erizal, Kabag Administrasi.
6. Anggota: M.Yani SH (Kabag Perangkat), Zainuddin S. SH (Kasubbag Peng.Data),
Arloli Aziz, SH (Kasubbag Tata Usaha).
7. Tim Perumus : Dr `Duski Samad, M.Ag (Ulama), Edy Utama (Budayawan/Adat),
Drs Mas'ud`Abidin (MUI), Fasli Djalal, Ph D (Diknas), Dr Ir Yuzirwan Rasyid,
MS (Perguruan Tinggi/LKAAM), Ilhamdi Taufik, SH (Perguruan Tinggi), Dra
Adriyetti Amir, SU (Perguruan Tinggi/Wanita), Dr Gusti Asnan (Perguruan
Tinggi),H. Bachtiar Abna, SH,MH,(Perguruan Tinggi), Ir Basyril Basar,
MM (PWI), Ir Heri Bachrizal Tanjung, M.Si (LSM), Drs Muchtar Naim (DPD
RI), Drs Syafrudin Bahar (Komnas HAM).
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 70+6+18, Jakarta)
|
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo!
Mobile. Try
it now.
|
Looking for last minute shopping deals? Find
them fast with Yahoo! Search.
|