Carito taka iko indak paralu dibuka lai. Tidak ada yg bisa dibanggakan. Kecuali kalau malawan komunis. Suami mak tuo ambo pun yg juga pentolan PRRI ikut jadi korban yg makamnya sampai kini indak tahu. Pada 2013 8 22 19:42, "Andiko" <[email protected]> menulis:
> RAID TO PASILIHAN > > > http://bumipanorama.org/index.php?option=com_content&view=article&id=65:raid-to-pasilihan&catid=34:nostalgia&Itemid=56 > > Written by Administrator > Thursday, 23 July 2009 05:10 > > Pada suatu siang awal Desember 1959, Team Combat Intel dari Batalyon > Taruna Zeni (Akademi Zeni AD) yang beroperasi di sekitar Danau Singkarak – > Sumatera Barat, sedang melaksanakan pengamanan perbaikan jalan dari Tembok > ke Sulit Air. Tim ini terdiri dari 4 orang Sersan Mayor Taruna, yaitu Ta > Nurdin Muchtar, Ta Tjuk Fatahyo, Ta Murtedjo dan Ta F. Sukorahardjo > (penulis). > > Setelah makan siang, sekitar pukul 12.30 Wakil Komandan Batalyon (Wa Dan > Yon) yang sedang berada bersama kami menyampaikan berita bahwa ada perintah > dari Komandan Resimen Tim Pertempuran (RTP) III untuk menghancurkan > jembatan di desa Pasilihan di atas sungai Ombilin. Hancurnya jembatan ini > untuk mencegah perkuatan pasukan PRRI dari Sawahlunto ke wilayah Sulit Air. > Setelah mempelajari peta, Wa Dan Yon memutuskan untuk menyelesaikan tugas > ini sekarang juga. Akhirnya kelompok yang terdiri dari Tim Combat Intel, > Pelda Sutisno (pelatih bahan peledak), 2 orang PKD yaitu Kopda Badunai dan > Pratu Syahdullah dan supir truk serta pembantunya. Jadi 10 orang ini > menjadi suatu tim yang dipimpin Wa Dan Yon. Akhirnya Tim berangkat ke > Sulit Air yang memakan waktu ± 30 menit dengan kendaraan truk. > > Di Sulit Air melakukan persiapan antara lain membagi bahan peledak TNT 808 > (300 gram) masing-masing taruna mendapat 10 buah lengkap dengan sumbu api > serta detonatornya. Sedangkan Wa Dan Yon sedang mencari bantuan pasukan > Yonif 451 yang ada di Sulit Air. Akhirnya Wa Dan Yon datang dan > memberitahukan bahwa hanya mendapat bantuan ½ regu atau sekitar 6 orang > Tamtama yang dipimpin oleh seorang kopral. > Sekitar pukul 14.00 kita bergerak ke Pasilihan dengan formasi regu Yon 451 > di depan Tim Combat Intel, kelompok Wa Dan bersama Peltu Tisna serta Kopda > Badunai dan Syahdullah kawal di belakang. Sebagai penunjuk jalan ikut > serta seorang penduduk setempat. > Tatkala sampai di pinggir kota Sulit Air, di tembok pagar rumah-rumah > penduduk banyak tulisan “kompi Bulidar”. Bulan lalu Sulit Air diserbu dan > direbut dari PRRI oleh Kompi 2 Yon Taruna Zeni, saya ikut dalam penyerbuan > tersebut mengikuti Dan Yon. Memang benar yang kita hadapi waktu itu > pasukannya Bulidar. > Setelah setengah jam bergerak, terasa gerakan lambat sekali, mungkin > karena di depan terlalu hati-hati. Kita usul agar taruna yang di depan > untuk mempercepat gerakan agar sebelum matahari terbenam sudah sampai > sasaran, dan Wan Dan Yon setuju. Kita bagi dua, Ta Murtejo dengan saya. > Sedangkan Ta Nurdin dengan Ta Tjuk Fatahyo. Kita bergerak cepat dengan > cara berlari salib-menyalib untuk saling melindungi. > > Menjelang memasuki kawasan hutan, di tengah ladang jagung ada gubuk agak > di ketinggian, kita melihat ada bekas makanan dan abu dari dapur yang masih > agak hangat. Mungkin ini posisi pos depan musuh. Memasuki hutan hanya ada > jalan setapak yang sempit dan tidak mungkin kita berlari salib-menyalib, > jadi kita berjalan bergantian di depan. Lewat hutan yang masih perawan, > kadang-kadang di sebelah kanan jalan ada jurang yang dalam. Setelah > berjalan beberapa jam, kita sampai pada padang rumput ± selebar 500 m dan > ke depan sejauh 600 m, setelah itu kebun singkong berlatar-belakang tebing > batu tinggi yang di bawahnya mengalir sungai Ombilin. > > Di depan terlihat 2 orang dengan jarak lebih dari 300 m habis mandi di > sungai yang mengalir di samping kita. Wa Dan Yon memerintahkan untuk > menembak kedua orang tersebut. Ta Murtejo sudah membidik, tapi saya tidak > setuju karena suara tembakan kita akan memancing musuh. Akhirnya kedua > orang tersebut menghilang di balik kebun singkong. Menurut penunjuk jalan, > pandangan ke depan sebelah kiri adalah letak jembatan yang akan kita > hancurkan. Di sebelah kanan ada bukit kecil, di puncaknya ada tiang bambu > berbendera kecil. Biasanya tiang itu dipakai sebagai kode kalau ada > pasukan TNI, tiang itu dirubuhkan. Wa Dan Yon membagi tugas. Tim Combat > Intel, 4 orang taruna bersama Peltu Tisna menghancurkan jembatan yang > letaknya ± 1 km ke depan agak ke kiri. Sedangkan 2 anggota PKD dan regu > Infanteri Yon 451 menguasai sekitar bukit yang ada tiang benderanya, > letaknya ± 500 m di depan sebelah kanan. Jadi ± 500 m di hilir jembatan. > Diperkirakan musuh berada di desa Pasilihan yang letaknya di atas tebing > batu di seberang sungai Ombilin. Tebing batu ini berdiri tegak 90 derajat > setinggi 40 m. Perkiraan musuh ± 1 Yon dari Yon Tentara Pelajar dengan > persenjataan lengkap. Peta > > Kurang lebih 1 km kita berjalan, sampailah kita di sebuah jembatan gantung > dengan panjang sekitar 30 m, lebar 2 m dan 15 m di atas permukaan sungai > yang beriak suara keras karena ada jeram-jeram kecil. Kita bagi tugas, Ta > Nurdin ke seberang jembatan sebagai kawal depan menghadap jalan menanjak > tebing terjal di mana musuh berada di depan. Ta Tjuk Fatahyo sebagai > pengawasan pemasangan bahan peledak yang dilakukan oleh Ta Murtejo dan > Peltu Tisna. > Saya berposisi sebagai kawal belakang berada ± 10 m dari pangkal jembatan. > Sebelah kanan saya sungai dan sebelah kiri sawah yang datarannya 1 m lebih > tinggi dari jalan. Sedangkan Wa Dan Yon ± 100 m di belakang di pinggir > sungai kecil dekat kebun singkong. Saya mengusulkan bahan peledak dipasang > tidak di kabel di tengah jembatan tetapi di tiang kabel, dengan maksud > apabila jembatan nanti runtuh kabel dan sebagian dari kayu jembatan masih > utuh untuk digunakan lagi kelak. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari > arah Kopda Badunai dan kawan-kawan. > > Kemudian terdengar suara rentetan tembakan gencar dari suara senapan mesin > dari atas tebing di seberang sungai, Ta Tjuk Fatahyo berteriak memanggil Ta > Nurdin yang berada di seberang sungai. Peltu Tisna yang sedang memasang > bahan peledak di tengah jembatan mundur, tidak jadi dipasang. Akhirnya Ta > Murtejo dan Peltu Tisna memasang bahan peledak di kabel pangkal jembatan > dan terus meledakannya. Jembatan runtuh ke sungai dengan suara bergemuruh. > Tembakan senapan mesin berat suaranya beralih ke arah kita, tetapi tidak > terdengar suara peluru berdesing di sekitar kita, mungkin peluru melintas > jauh di atas kita karena tingginya tebing. > Saya berdiri untuk melihat situasi, di seberang sawah terlihat 5 orang > keluar dari rumah ± 100 m jaraknya dari jembatan. Dua di antaranya memakai > baret coklat yang warnanya sama dengan baret taruna yang sedang kita pakai. > Saya yakin mereka anggota Yon Bulidar karena yang 2 orang bersenjata. Saya > membidik dengan junggle riffle untuk menghabisi mereka, namun sayang > senjata saya macet. Mereka mungkin melihat saya, tetapi tidak melihat > teman-teman karena letak sawah lebih tinggi dari teman-teman yang merunduk. > Tiba-tiba terdengar 2 suara dentuman, saya kenali itu adalah suara mortir > 60 mm. Saya kenali betul suaranya karena sebulan lalu saya bertugas > sebagai komandan pucuk mortir, ada waktu penyerangan ke Penyinggahan. > > Saya berteriak “awas mortir...!”. Saya merunduk di samping tebing sawah. > Saya mendengar bunyi benda jatuh dua kali di kiri saya. Saya pastikan itu > bunyi mortir yang tidak meledak. Saya pastikan itu bunyi. Hari sudah > mulai gelap sekitar pukul 18.00. Saatnya kita mundur karena tugas sudah > selesai, kami serentak berteriak “Maju!”. Teriakan ini ditujukan untuk > menipu musuh. Dan ternyata tembakan senapan mesin dari posisi musuh yang > berada di atas tebing seberang sungai berhenti menembak. Kami bergerak > mundur untuk bergabung dengan Wa Dan Yon, > > Tidak lama kemudian datang Kopda Badunai cs membawa 2 orang tawanan dan > melaporkan menembak mati 2 orang musuh. Kedua orang yang ditembak tersebut > mungkin penjaga tiang bambu berbendera di atas bukti tadi. Tim mulai > bergerak kembali ke Sulir Air. Hari mulai gelap, memaksa bergerak agak > perlahan di tengah hutan lebat itu. Regu Infanteri bergerak paling depan. > Wa Dan Yon bersama kami di tengah. Kopda Badunai cs dan pengemudi di > belakang membawa tawanan yang tua. Sedang tawanan yang muda tangannya saya > ikatkan dengan ujung laras senjata saya dengan tali. Popornya saya pegang > dekat picu sehingga kalau dia macam-macam tinggal tarik picu saja. Dia > badannya besar, lebih tinggi dari saya, namanya Basri, pelajar kelas 2 SMA, > tinggal di Lubuk Basung dekat Padang Panjang. > Dia mengaku dibujuk temannya tadi untuk bergabung dengan Tentara Pelajar > PRRI. Dia minta dengan sangat jangan diapa-apakan, dia mau menurut bahkan > mau membantu kita. Makin jauh masuk hutan makin gelap. Penunjuk jalan > mengusulkan agar punggung kita dilumuri jamur yang bersinar karena > mengandung fosfor dan tumbuh di pinggir jalan yang kita lalui. Jadi kita > jalan mengikuti sinar jamur di punggung teman. Tiba-tiba di belakang > terdengar beberapa tembakan, ternyata tawanan yang dibawa Pratu Syahdullah > lari terjun ke jurang sebelah kiri jalan ditembaki Kopda Badunai. Karena > gelap dan jurang itu dalam kita tinggalkan saja. > Menjelang desa Sulit Air, Tim bertemu dengan Satgas 751 yang mendapat > tugas dari Dan Yonif 751 untuk mencari kita. Rupanya Dan Yon Taruna Zeni > Mayor Czi Sarsono telah berada di Sulit Air dan minta bantuan Dan Yonif 451 > untuk mencari kami. Pada sekitar jam 01.30 pagi kita sampai di markas > Komando Yonif 451, Dan Yon Taruna langsung menanya Ta Tjuk Fatalyo. “Ada > korban?” dijawab “Tidak ada, Pak…”Nampak Dan Yon merasa lega setelah tahu > kita semua selamat dan sukses menyelesaikan tugas.Badan lelah, basah karena > hujan, lapar, terasa nikmat sekali makan nasi dan masakan Padang yang > panas. Dan tugas telah selesai dengan sukses. Sampai di markas Kompi I di > tembok, paginya, sementara Basri kita masukkan ke kamar penduduk di mana > kita tinggal. > Siangnya ada petugas dari Seksi I Yon Taruna untuk menjemput Basri karena > akan diserahkan ke RTP di Solok. Kami minta izin ntuk menahan Basri dengan > alasan akan dimanfaatkan dalam tugas-tugas berikut. Wa Dan Yon setuju, > Basri tetap bersama kami sehari-hari membantu seperti mengambil makanan dan > lain-lain. Tujuan kami menahan Basri semata-mata untuk tujuan kemanusiaan. > Pada akhir bulan Desember kita sehari sebelum kita ke Padang persiapan > kembali ke Bandung, Basri kita lepaskan.Barangkali tugas Raid ini > menjadikan kebanggaan bagi Akademi Zeni AD, karena mungkin baru kali inilah > di dunia ini ada Taruna/Kadet Akademi Militer diberi tugas Raid. Batalyon > Taruna Zeni tugas operasi ke daerah Komando Operasi 17 Agustus sebenarnya > merupakan realisasi kurikulum Akademi pada semester terakhir pendidikan > kita diberi tugas. > Biasanya tugas operasi DI/TII di Jawa Tengah atau Jawa Barat saja. Atas > usul Brigjen TNI G.P.H. Djatikusumo mantan Dir Zi AD (saat itu Konsul > Jenderal di Singapura, Kasad memerintahkan tugas operasi ke Ko Ops 17 > Agustus ini. Tugas pokok yang diberikan kepada Batalyon Taruna Zeni AD > adalah memulihkan jalur jalan KA antara Solok – Padang Panjang. Kerusakan > rel KA dan tergulingnya lokomotif dan beberapa gerbong dapat diselesaikan > dalam waktu 2 minggu. Selanjutnya melakukan pembersihan terhadap kedudukan > pasukan PRRI di sekitar jalur jalan Solok – Padang Panjang. Tugas ni > diselesaikan dengan menyerang kedudukan tentara PRRI di Sumani – Singkarak, > Tembok, Ombilin, Sulit Air, Paninjauan. Juga kedudukan musuh di seberang > Danau Singkarak seperti Malalo dan Panyinggahan. > Tugas ini dapat dilaksanakan sampai akhir Desember. Sebenarnya Ko Ops 17 > Agustus masih ingin menugaskan Batalyon untuk mengikuti operasi pembersihan > sisa-sisa PRRI di Gunung Merapi Kompleks. Tetapi Wa Kasad Brigjen TNI > Gatot Subroto tidak setuju karena para Taruna sudah terlalu lama > meninggalkan bangku kuliah. Pada tanggal 23 Desember 1959 ditarik ke > Padang. Pada tanggal 31 Desember 1959 kita semua naik kapal ADRI XIII, dan > pada tanggal 2 Januari 1960 mendarat di Tanjung Priok. Akibat dari operasi > ini angkatan kami (Angkatan IV) yang seharusnya dilantik menjadi Perwira > (Letnan Dua) pada tanggal 5 Oktober 1959 baru dilaksanakan pada tanggal 20 > Mei 1960. Demikian pula bagi Angkatan V dan VI kenaikan tingkatnya > tertunda. > Last Updated on Thursday, 23 July 2009 05:24 > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
