Pak Akmal yang saya hormati,

Sebagai tambahan motivasi dan tuntunan bagi kita, dialog antara 'Ali
radhiyallahu 'anhu dan Rasulullah Shallallahu 'alayhi wa Sallam berikut
sangat relevan:

Ali berkata, *“Wahai Rasulullah, apakah saya harus memerangi mereka hingga
mereka menjadi seperti kita?”*. Beliau menjawab, *“Berjalanlah dengan
tenang, sampai kamu tiba di sekitar wilayah mereka. Lalu serulah mereka
untuk masuk Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang wajib mereka
tunaikan. Demi Allah, apabila Allah menunjuki seorang saja melalui dakwahmu
itu lebih baik bagimu daripada kamu memiliki onta-onta
merah<http://muslim.or.id/aqidah/lebih-baik-daripada-onta-merah.html>
.”* (HR. Bukhari dan Muslim, lihat *Syarh Muslim* [8/31])


Dari artikel 'Lebih Baik daripada Onta Merah —
Muslim.Or.Id<http://muslim.or.id/hadits/lebih-baik-daripada-onta-merah.html>
'
Sebagaimana Pak Akmal sampaikan, memang menjadi teladan yang baik merupakan
cara efektif agar kita menjadi sebab sampainya hidayah atau setidaknya
menjaga nama baik Islam. Ada seorang teman dekat saya (laki-laki, keturunan
Tionghoa) yang dengan hidayah Allah kembali ke pangkuan Islam beberapa
tahun lalu. Satu hal yang membuat dia tertarik adalah seorang kawan kami
yang berlaku baik kepada ibunya. Cukup lama juga sejak dia tertarik ke
Islam hingga akhirnya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadah,
bahkan dia sempat juga mencoba berpuasa. Ketika dia bertanya-tanya ke saya,
saya hanya mengingatkannya bahwa kita tidak tahu akan hidup sampai kapan
sehingga jika dia memang telah yakin, sayang jika ditunda-tunda. Memang ada
tentangan dari pihak keluarganya, tetapi dengan upayanya tetap terus
berbuat baik terhadap orang tuanya, sepanjang tidak melanggar syari'at,
keluarganya kini telah dapat menerima, walhamdulillah.

Allahu Ta'aala a'laam.

Wassalaam,
-- 
Abu 'Abdirrahman, Ahmad Ridha bin Zainal Arifin bin Muhammad Hamim
(l. 1400 H/1980 M)


2013/9/23 Akmal Nasery Basral <[email protected]>

> Lae Jaha n.a.h, maaf baru sempat jawab posting lae.
>
> 1. Betul, tugas Nabi hanya menyampaikan. Persisnya menyampaikan kabar
> gembira (basyiran) dan peringatan (nadziran). Konten ayat seperti ini
> tersebar di banyak surah. Dan Allah lah yang menggerakkan hati. Memberi
> hidayah.
>
> Tapi seperti apa "menyampaikan" itu? Apakah dalam konteks pasif seperti
> dalam pengertian sebagian besar muslim selama ini? Atau dalam konteks aktif
> seperti Nabi tetap mengajak paman beliau Abi Thalib yang sudah di saat-saat
> menjelang ajal enggan mengucap syahadat, tapi Nabi dengan lemah lembut
> terus mengajaknya memeluk Islam?
>
> Jadi pengertian "Islamisasi" itu yang sebaiknya jangan dimaknai dengan
> pemaksaan agar orang beralih menjadi muslim, karena hal spt itu memang tak
> dibenarkan dalam Islam. Tak ada paksaan untuk memeluk Islam (2:256).
>
> Konteks pendapat saya sebelumnya adalah adakah SPIRIT (yang artinya
> bersifat internal) dari setiap muslim untuk mencoba melakukan Islamisasi?
> Minimal terhadap satu orang non-muslim sepanjang hidup?
>
> Mengapa spirit melakukan Islamisasi ini lebih terasa dilakukan oleh para
> mualaf, apalagi yang kemudian menjadi mubaligh/mubalighah, seperti Syaikh
> Yusuf Estes, atau di dalam negeri Ust. Bernard Abdul Jabbar, Ust. Felix
> Siauw atau Ustdz Irena Handono?
>
> 2. "Apakah kita mau memulai babak baru pertumpahan darah" tulis Lae Jaha?
>
> Tentu tidak. Tapi pemahaman bahwa "Islamisasi = pertumpahan darah"
> seakan-akan sudah menjadi konstanta sendiri di benak Lae Jaha, bukankah
> agak mencemaskan? Karena saya tak melihatnya seperti itu. Saya melihatnya
> dalam level yang lebih personal. Katakanlah saya mempunyai jabatan penting
> di sebuah perusahaan dan menjadi atasan dari sejumlah bawahan muslim dan
> non-muslim.
>
> Lalu bagaimana cara saya mengambil keputusan dalam pekerjaan?:
>
> A. Jika saya selalu mementingkan bawahan saya yang muslim, bahkan ketika
> performancenya tidak optimal dibandingkan rekannya yang non-muslim, maka
> yang saya lakukan (sebagai atasan) sudah tidak Islami.
>
> B. Tetapi jika saya berbuat adil, jujur, dalam menerapkan standar
> penilaian profesional terhadap bawahan, sehingga para karyawan non-muslim
> melihat dan merasakan keadilan itu, maka pada prinsipnya saya sudah
> melakukan Islamisasi, khususnya terhadap core values sebagai seorang
> profesional.
>
> Sebab bukankah hal-hal seperti ini yang membuat Khalid bin Walid, mantan
> Panglima Quraisy yang mengalahkan pasukan muslim di Perang Uhud, justru
> kemudian berbalik, revert, menjadi pengikut Nabi, bahkan menjadi salah
> seorang panglima perang terbesar Islam.
>
> Apakah masuk Islamnya Khalid bin Walid karena dia dipaksa secara fisik
> untuk masuk Islam? (saya parafrasekan dari kalimat lae Jaha tentang "babak
> baru pertumpahan darah"), ataukah Khalid melihat nilai-nilai keislaman yang
> begitu luhur mencuat dari para Sahabat Nabi dan terutama Nabi sendiri yang
> saat itu merupakan musuh besarnya?
>
> Jadi, jika kita sendiri yang selalu alergi mendengar kata "Islamisasi"
> seakan-akan mempunyai format, bentuk, dan dimensi yang sama dengan
> "Kristenisasi", bukankah sejatinya problem pemahaman terhadap Islamisasi
> itu berada di dalam cara pandang kita sendiri?
>
> 3. Tentang kiprah lae Jaha di bidang pendidikan dan contoh-contoh yang
> disertakan, saya mendukung. Semoga Allah terus memudahkan upaya lae Jaha
> untuk berkiprah di bidang pendidikan.
>
> Wass,
>
> ANB
> 45, Cibubur
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke