Uda Akmal dan Sanak Sapalanta n a h,

Hahaha... Mungkin juga sudah jadi konstanta tersendiri :)

"Perebutan" massa antara Islam dan Kristen dari pengalaman saya terpapar 
olehnya bagi saya sudah pada tataran yang memprihatinkan. Dokumen Toronto di th 
90-an bukan omong kosong kalau sekarang mah hanya jadi urban legend.
Marga saya yg mayoritas kristen sering membawa saya masuk ke komunitas kristen 
di mana mereka merasa bebas membicarakan hal2 ini tanpa ragu. Salah satunya 
saya pernah 2 tahun masuk milis cyber-GKI hingga dikeluarkan tanpa 
sepengetahuan saya (didaftarkannya pun tanpa sepengetahuan saya. Nampaknya ada 
teman yg ceroboh berasumsi dan mendaftarkan saya). Mungkin ybs sadar kalo saya 
bukan kristen.

Juga berbagai encounter lain dgn umat kristen yang aktif dalam kristenisasi. 
Klien saya lebih banyak sekolah kristen. Nama saya ga laku di sekolah2 islam 
:). Well anyway dari berbagai pengalaman tsb saya melihat hal ini seperti balon 
yg sudah mencapai titik max utk meledak.

Saya tidak anti Islamisasi, sy memilih 'memerangi' dgn memperkuat generasi muda 
di bidang pendidikan dan menggugah utk melakukan Islamisasi dgn ilmu 
pengetahuan. Saya pernah melihat study dari berbagai bidang utk meng-kristenkan 
dunia pd umumnya dan Indonesia pd khususnya. Baik disiplin Marketing hingga 
kajian politis dari berbagai school of theology.

Saya juga tertarik dgn fenomena para reverts yg jadi da'i. Menurut saya mengapa 
kita tidak mempelajari Key Success Factor (KSF) Islam me-revert mereka. KSF 
kita riset juga agar jadi program marketing, etc. agar kita juga bisa bermain 
'cantik'.

Salut utk Ajo Duta dan sanak lainnya yg ber-menantukan para reverts. Saya terus 
terang takut. Sepupu sy, ayahnya seorang revert yg jauh lebih Islam dari 
ibunya. Sewaktu kecil saya menyaksikan oma-nya mengajari lagu2 anak gereja 
(mungkin tanpa disadari karena oma-nya ga tahu lagu apa2 selain lagu2 gereja) 
kepadanya. Saya pernah bersekolah di sekolah katolik. Teman2 sy yg meski Islam 
tp datang dari keluarga campur atau salah seorang org tuanya adalah 
revert/convert memiliki sikap ambigu dan cenderung agnostic bahkan atheistic. 
Atau tepatnya mungkin bukan atheistic/agnostic tetapi menolak agama apa pun 
karena tidak mau mengecewakan salah satu ortu dgn memilih agama. Just somewhere 
in between.

Ada banyak aspek setelah meng-Islamkan seseorang. Banyak hal itu bisa dijawab 
(meski tidak sempurna) dengan membangun infrastruktur sekolah Islam yang baik.

Saya punya mentor di bidang konsultan ini. Beliau sewaktu sekolah di Amerika 
menambah uang living cost-nya dgn menjadi spiritual counselor (sc) bagi prison 
inmates di dekat tempatnya tinggal. Tugasnya hanya menemani para inmates ketika 
mau curhat regardless agamanya. Kadang2 ada yg memilih sc yg Islam meski inmate 
ybs bukan Islam. Alhamdulillah. Banyak dari inmates itu reverts selama belasan 
tahun beliau di sana hingga menyelesaikan PhD-nya. Para reverts ini kemudian 
jadi successful citizen sehingga mampu berkunjung ke Indonesia mengunjungi 
beliau. Ah indahnya. Tapi nampaknya lahan saya bukan di situ. Lahan sy di 
sekolah,

Konstanta (bahasa Uda Akmal) itu mempertakut saya akan kegentingan hubungan 
Islam-Kristen.

Hubungan Islam-Kristen begitu gentingnya bisa dilihat dari apa yg saya alami 
ketika ikut seminar di th 2005 dgn topik tersebut yg dihadiri tokoh besar 
agama2 di Indonesia spt Komarudin Hidayat, Franz Magnis Suseno dll., yg 
berakhir dibubarkan karena ricuh. Padahal para tokoh besar ini adalah tokoh 
damai.

Mengenai memperlakukan bawahan yg heterogen dgn fair and square pun rasanya 
juga harus dilakukan dgn cantik. Saya pernah jadi HR Director di lembaga yg 
dibangun seorang fisikawan terkenal. (Mohon bagian ini confidential). Dalam 
penerimaan pegawai sy menerapkan prinsip fair and square. Memang bbrp org masuk 
karena titipan si bapak pendiri. Salah satunya kelepasan bercerita kepada saya 
karena marga saya. Dia bilang perlu anak buah jadi dia mau rekrut x-anak 
buahnya tanpa prosedur. Dia bilang "anak ini kristen juga kok, kan bapak bilang 
kita harus memberikan kesempatan lebih kepada mereka yang kristen".

Juga di sebuah perusahaan yg proses procurement-nya sangat ketat berhasil 
meloloskan travel bureau RAPTIM yg milik Vatican menjadi salah satu dari 2 
travel bureau rekanan perusahaan tersebut. Bagaimana mungkin itu terjadi? Legal 
Head dan Procurement Head dan GA Head kristen sehingga meski masuknya 2 tetapi 
semua pemesanan tiket tetap saja melalui RAPTIM meski jauh lebih mahal.

Belum lagi tentang anak ber-IQ 152 dengan nama Arab dari daerah yg mayoritas 
Islam diberi beasiswa ke SMP-SMA unggulan Kristen. Anak ini langganan juara 
OSN. Sy curiga ia sudah convert saat ini. Bahkan mungkin keluarganya pun sudah. 
Coba bayangkan apa jadinya dia di masa depan? Pemuda yg cerdas berpendidikan 
dgn segudang prestasi yg bernama Arab akan mudah mengecoh orang Islam, seperti 
halnya marga saya sering mengecoh umat Kristen.

Ini bukan di Indonesia saja. Sewaktu kuliah di Amerika dan riset di Belanda pun 
saya mengalami berinteraksi dgn para evangelists. Polanya sama. Tension-nya pun 
sama.

Ini sedikit lagi jadi perang. Banyak lagi yg tidak bisa saya ungkapkan karena 
keterbatasan ruang dan waktu. Pada dasarnya saya setuju hanya saja perlu cara 
yg yg cantik agar tidak meledak jadi perang. Nampaknya para reverts itulah yang 
mengerti. Wallahualam bishowab.

Rgds.
Jaha
Sent from not so-smart-phone

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke