Ass.ww. Says termasuk setuju dgn istilah "islamisaasi", krn tujuan beragama
Islam adalah utk membangun akhlaq. Tidaklah beragama orang yg tidak
berakhlaq, spt disebut Rasulullah tujuannya diutus ke muka bumi. Jadi
Islamisasi  istilah lain "penyantunan akhlaq manusia dalam rahmatin lil
alamin". Salam.
Pada 2013 9 23 11:06, "Akmal Nasery Basral" <[email protected]> menulis:

> Lae Jaha n.a.h, maaf baru sempat jawab posting lae.
>
> 1. Betul, tugas Nabi hanya menyampaikan. Persisnya menyampaikan kabar
> gembira (basyiran) dan peringatan (nadziran). Konten ayat seperti ini
> tersebar di banyak surah. Dan Allah lah yang menggerakkan hati. Memberi
> hidayah.
>
> Tapi seperti apa "menyampaikan" itu? Apakah dalam konteks pasif seperti
> dalam pengertian sebagian besar muslim selama ini? Atau dalam konteks aktif
> seperti Nabi tetap mengajak paman beliau Abi Thalib yang sudah di saat-saat
> menjelang ajal enggan mengucap syahadat, tapi Nabi dengan lemah lembut
> terus mengajaknya memeluk Islam?
>
> Jadi pengertian "Islamisasi" itu yang sebaiknya jangan dimaknai dengan
> pemaksaan agar orang beralih menjadi muslim, karena hal spt itu memang tak
> dibenarkan dalam Islam. Tak ada paksaan untuk memeluk Islam (2:256).
>
> Konteks pendapat saya sebelumnya adalah adakah SPIRIT (yang artinya
> bersifat internal) dari setiap muslim untuk mencoba melakukan Islamisasi?
> Minimal terhadap satu orang non-muslim sepanjang hidup?
>
> Mengapa spirit melakukan Islamisasi ini lebih terasa dilakukan oleh para
> mualaf, apalagi yang kemudian menjadi mubaligh/mubalighah, seperti Syaikh
> Yusuf Estes, atau di dalam negeri Ust. Bernard Abdul Jabbar, Ust. Felix
> Siauw atau Ustdz Irena Handono?
>
> 2. "Apakah kita mau memulai babak baru pertumpahan darah" tulis Lae Jaha?
>
> Tentu tidak. Tapi pemahaman bahwa "Islamisasi = pertumpahan darah"
> seakan-akan sudah menjadi konstanta sendiri di benak Lae Jaha, bukankah
> agak mencemaskan? Karena saya tak melihatnya seperti itu. Saya melihatnya
> dalam level yang lebih personal. Katakanlah saya mempunyai jabatan penting
> di sebuah perusahaan dan menjadi atasan dari sejumlah bawahan muslim dan
> non-muslim.
>
> Lalu bagaimana cara saya mengambil keputusan dalam pekerjaan?:
>
> A. Jika saya selalu mementingkan bawahan saya yang muslim, bahkan ketika
> performancenya tidak optimal dibandingkan rekannya yang non-muslim, maka
> yang saya lakukan (sebagai atasan) sudah tidak Islami.
>
> B. Tetapi jika saya berbuat adil, jujur, dalam menerapkan standar
> penilaian profesional terhadap bawahan, sehingga para karyawan non-muslim
> melihat dan merasakan keadilan itu, maka pada prinsipnya saya sudah
> melakukan Islamisasi, khususnya terhadap core values sebagai seorang
> profesional.
>
> Sebab bukankah hal-hal seperti ini yang membuat Khalid bin Walid, mantan
> Panglima Quraisy yang mengalahkan pasukan muslim di Perang Uhud, justru
> kemudian berbalik, revert, menjadi pengikut Nabi, bahkan menjadi salah
> seorang panglima perang terbesar Islam.
>
> Apakah masuk Islamnya Khalid bin Walid karena dia dipaksa secara fisik
> untuk masuk Islam? (saya parafrasekan dari kalimat lae Jaha tentang "babak
> baru pertumpahan darah"), ataukah Khalid melihat nilai-nilai keislaman yang
> begitu luhur mencuat dari para Sahabat Nabi dan terutama Nabi sendiri yang
> saat itu merupakan musuh besarnya?
>
> Jadi, jika kita sendiri yang selalu alergi mendengar kata "Islamisasi"
> seakan-akan mempunyai format, bentuk, dan dimensi yang sama dengan
> "Kristenisasi", bukankah sejatinya problem pemahaman terhadap Islamisasi
> itu berada di dalam cara pandang kita sendiri?
>
> 3. Tentang kiprah lae Jaha di bidang pendidikan dan contoh-contoh yang
> disertakan, saya mendukung. Semoga Allah terus memudahkan upaya lae Jaha
> untuk berkiprah di bidang pendidikan.
>
> Wass,
>
> ANB
> 45, Cibubur
>
>
>
>
> Pada 18 September 2013 14.47, Jaha Nababan <[email protected]>menulis:
>
>> Uda Akmal dan sanak sapalanta,
>>
>> Saya mencoba melihat dari sisi lain.
>>
>> Pertama bukankah nabi hanya menyampaikan? Dan Allah-lah yg menggerakkan
>> hati manusia apakah ia mau revert atau convert.
>>
>> Kedua, bila seisi jagat raya kafir pun tidak berkurang keagungan اَللّهُ.
>> My point dari dua hal ini adalah kita tidak dibiasakan/diajarkan mengajak
>> orang revert. Karena agresif-nya umat nasrani meng-convert non-nasrani maka
>> mekanisme yang cenderung kita kembangkan adalah semacam howto argue when
>> facing such attempts.
>>
>> Kita bukan satu2nya sasaran kristenisasi. Oleh karena itu teknik mereka
>> menjadi sangat beragam. Misalnya di Jepang, banyak anak muda kalo kesulitan
>> berdoa di kuil shinto atau budha tetapi kalo xmass mereka merayakan dgn
>> gegap gempita walau tanpa menganut agama kristen. Dari ini perlahan tapi
>> pasti tinggal di panen saja di Jepang.
>>
>> Ketiga sejarah menuliskan dengan darah ketika umat Islam 'aktif
>> mengislamkan'. Akhir2 ini pun Rohingya pun jadi korban. Saya baca bahwa
>> pendeta Budha mengkhawatirkan Burma menjadi seperti Indonesia yang dulu
>> negara Budha terbesar kini Islam. Apakah kita mau memulai babak baru
>> pertumpahan darah?
>>
>> Seingat saya kalangan kampus di barat, at least di Amerika yang saya
>> tahu, sekolah2 teologi kristiani belajar metode2 mutakhir meng-convert
>> kelompok masyarakat. Metode2 ini jadi bahan disertasi, thesis dan
>> penelitian yg terus berkesinambungan.
>>
>> Akhir kata agar lebih fokus mengapa kita tidak melakukan seperti yang
>> mereka lakukan. Minimum membangun lembaga kajian "howto revert non-muslim
>> the rahmatanlilalamin way"?
>>
>> Kita bisa mulai dengan mempelajari para reverts pra dan paska 9/11.
>> Dengar2 di Italia dan Eropa Islam berkembang dgn baik meski tidak ada
>> study2 atau program terencana sehingga parlemen merasa perlu melarang
>> penyebaran Islam, jilbab dll. Kita bisa menggunakan zakat kita utk mendanai
>> penelitian antropologis, sosiologis, atau logis2 yang lainnya.
>>
>> Saya aktif mengajak org bikin sekolah yang mengembalikan kejayaan
>> keilmuan Islam karena profesi saya sebagai konsultan pengembangan sekolah
>> unggulan. Berikut kekhawatiran saya lebih dari pada kristenisasi. Ini hanya
>> bbrp contoh dari banyak hal yg bisa terjadi di masa dpn.
>>
>> 1. Gelatin hanya dapat dibuat dari babi dan sapi. Sewaktu saya bekerja
>> pada produsen makanan terbesar di dunia, saya mengetahui hampir 100%
>> makanan modern menggunakan gelatin agar kenyal, mengkilat, tidak menempel
>> di gigi dll. Rasanya hingga saat ini belum ada negara muslim yg mampu
>> memproduksi gelatin sapi. Bahkan negara non-muslim yg menghasilkan gelatin
>> sapi tidak memotongnya secara halal. Ini sebabnya makanan di Malaysia yg
>> menggandung gelatin adalah haram.
>>
>> 2. Coba lihat di Ted.com ceramah-nya Mitchel Joachim "why grow homes?"
>> Bisa juga di Youtube dgn keyword yang sama. Idenya menarik membangun rumah
>> dgn rangka dari pohon hidup. Tetapi dindingnya yg adaptif terhadap suhu dan
>> cuaca dikembangkan dari cell babi in vitro. Wow, sooner or later anak cucu
>> kita sholat di dalam rumah dgn dinding dari cell babi.
>>
>> 3. Sebuah tes psikologi MMPI RF2 (Minnesota Multi Phasic Inventory
>> Released Format 2) dibangun dari membandingkan jawaban2 org sakit jiwa
>> dengan org sehat. Salah satu context pertanyaannya adalah "apakah anda
>> pernah dan sering memikirkan kematian?" Sebagai org muslim yg diajarkan utk
>> selalu ingat mati kita akan menjawab ya. Padahal jawaban itu akan memicu
>> indikasi antisocial dan beberapa pathology kejiwaan lainnya. Dan MMPI RF2
>> adalah alat test standar yg ditetapkan depkes RI utk seleksi pegawai
>> negeri, naik pangkat, dan anggota legislatif. Bayangkan berapa banyak umat
>> Islam tidak terjaring bila demikian. Untungnya sejak org yg mengusulkannya
>> pensiun (nasrani) alat test ini tidak banyak dipakai karena kurang
>> sosialisasi. Tetapi ybs mendirikan lembaga psikologi yg memberikan
>> pelatihan penggunaan alat ini di berbagai perusahaan. Saya pernah ikut
>> pelatihannya.
>>
>> Ok, point kedua saya adalah bila kita tidak segera memperkuat pendidikan
>> anak2 kita dengan membuat mereka kembali menjadi ilmuwan2 ternama
>> international di berbagai bidang kita akan menggali kuburan kita sendiri.
>>
>> So who's with me?
>>
>> Rgds.
>> Jaha Nababan, L40, Jatiasih Suku Jambak
>>
>> NB: saya menulis "Tantangan Sekolah Islam di Masa Depan" di majalah
>> Generasi milik Mizan Amanah edisi september. Kira2 itulah poin-nya. In Syaa
>> اَللّهُ bulan oktober akan saya buat sambungannya.
>> Sent from not so-smart-phone
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>>   1. Email besar dari 200KB;
>>   2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>   3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Grup Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke