Nyiak Sunguik,
 kirimi pulo ambo nyiak.
Salam,
St.modo
Btm,33.plng

----- Original Message -----
From: "hambociek" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, March 05, 2008 1:44 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Selamat (Prof. RY Perry Burhan)



Rangkayo Nismah, Angku Perry Burhan, sarato RangLapau nan Basamo.

Tarimo kasih mamuek gambar jo berita tu. Dari jauah ambo mangucapkan
Selamat ka Angku Professor Perry Burhan nan ado gambarnyo dalam
berita tu. Karano batigo di gambar tu, nan maa nan baliau tu Nis?

Tarimo kasih.
Salam,
--Nyiak Sunguik
Sjamsir Sjarif

Tarimo kasih mangirimkan
--- In [EMAIL PROTECTED], Hayatun Nismah Rumzy <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Bundo sudah mengirim selamat dan bundo tengok di Google untuak nan
indak bisa manengok Google silakan baco:
>
>   ITS Kukuhkan Guru Besar Geokimia Organik Pertama di
Indonesia                Rektor ITS dan Guru Besar yang dilantik
usai acara pengukuhan
> Dalam rapat terbuka Senat ITS di Graha 10 Nopember, Rabu (12/9-
2007). Mereka dikukuhkan sebagai guru besar ke-59 dan 60 di ITS.
>
> Keduanya adalah Prof Dr RY Perry Burhan MSc dalam bidang Ilmu
Geokimia Organik pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
(FMIPA) dan Prof Dr Ir Mahfud DEA dalam bidang Ilmu Teknik Reaksi
Kimia pada Fakultas Teknologi Industri (FTI).
>
> Dengan pengukuhan tersebut, berarti Prof Perry Burhan menjadi guru
besar pertama dari bidang Ilmu Geokimia Organik di Indonesia. Saat
ini, di Indonesia hanya memiliki empat pakar di bidang Geokimia
Organik ini, namun baru Prof Perry yang berhasil dikukuhkan sebagai
guru besar.
>
> Ilmu Geokimia Organik sendiri merupakan ilmu yang masih cukup
baru. "Ilmu geokimia organik ini adalah ilmu yang mempelajari
senyawa-senyawa yang sudah menjadi fosil," paparnya.
>
> Karena itu, dalam orasi ilmiahnya, pria kelahiran Payakumbuh, 15
Februari 1959 ini mengangkat tema Geokimia Organik dan Peranannya
Dalam Eksplorasi Bahan Bakar Fosil untuk Kesejahteraan dn
Keselamatan Bangsa.
>
> Dalam orasinya tersebut, ayah satu putra ini mencoba mengungkapkan
banyaknya implementasi ilmu ini ke dalam kehidupan nyata. Melalui
fosil-fosil senyawa ini, menurut Perry, kita dapat merunut ke
belakang tentang asal usul makhluk hidup tersebut. Bahkan hingga
jejak migrasinya pun dapat terlacak.
>
> "Jadi kita bisa mengetahui bagaimana makhluk itu dulu sewaktu
hidup, bagaimana matinya, dan setelah jadi fosil pindah dari
tempatnya hidup atau tidak," sambung peraih gelar doktor dari
Universite Louis Pasteur, Strasbourg, Prancis.
>
> Kegunaan merunut masa lalu fosil senyawa ini salah satunya untuk
menentukan dengan pasti sumber minyak bumi. Dari hasil pengeboran,
dapat ditelusuri apakah lokasi tersebut memang benar-benar ladang
minyak ataukah hanya berupa semburan kecil belaka.
> "Sebab, kadang-kadang minyak bisa bermigrasi dari tempat asalnya
jika mengalami tekanan," ungkapnya. Selain itu, fosil senyawa ini
juga dapat digunakan untuk menentukan tingkat kematangan minyak bumi
yang akan dieksplorasi.
>
> Sementara itu, Prof Mahfud dalam orasi ilmiahnya mengangkat tema
Peranan Ilmu Teknik Reaksi Kimia dalam Pengembangan Produk Berbasis
Bahan Baku Terbarukan (Renewable Resources). Menurutnya, kebutuhan
akan produk-produk hasil turunan dari minyak bumi di masa yang akan
datang akan semakin sulit dan mahal untuk didapatkan.
>
> "Sebab minyak bumi itu sumber yang tidak tergantikan, sehingga
perlu dicarikan alternatif lain," ujar pria kelahiran Bangkalan, 2
Agustus 1961 ini mengingatkan.
>
> Kebutuhan pencarian alternatif pengganti ini sebenarnya sudah
dilakukan sejak dua dekade ke belakang. Namun, teknologi yang
dirumuskan di tahun 80'an ini belum juga populer hingga sekarang.
Salah satu contohnya adalah sumber tenaga biodiesel.
>
> "Masalah utama masih terletak pada harga, biodiesel belum dapat
bersaing dengan harga bahan bakar dari minyak bumi lainnya,"
sambungnya. Meski begitu, Prof Mahfud tetap optimistis sumber energi
alternatif ini bakal dilirik di masa depan.
>
> Mahfud mengaku, konsentrasi utama saat ini masih berkisar pada
pencarian sumber bahan bakar alternatif. Padahal, banyak bahan yang
menggunakan turunan minyak bumi yang juga harus segera dicarikan
atternatifnya. Misalnya, bahan baku plastik.
>
> "Selama ini, plastik dibuat dari polimer, padahal banyak bahan
yang bisa untuk menggantikan polimer ini, seperti dari ketela pohon
salah satunya," ungkap ayah tiga anak ini.
>
> Dari ketela ini, dapat disarikan menjadi gula, alkohol, hingga
polimer. Padahal, imbuhnya, hasil plastik dari ketela pohon justru
menjadi plastik yang ramah lingkungan karena dapat terurai sempurna.
(PR ITS/ly)
>
>





--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke