Ass.ww, Pak MN dan sanakdipalanta n.a.h
Basabalah pak MN, mungkin awak harus menunggu beberapa decade lagi kedepan bisa media komunikasi tulis dan lisan bisa digunakan dengan efektif ke semua penjuru. Mungkin nanti di era anak cucu kita. Saya baru lebih menyadari, sekarang saja sudah 2013 masih saja media komunikasi ini belum efektif digunakan. Sejak tahun 1958 sebagai pegawai negeri saya mencoba menggunakan media komunilkasi tulis maupun lisan (waktu itu yang ada baru telepon engokol dan surat menyurat via pos tercatat atau lepas, atau pakai ekpedisi kalau kantor ke kantor. Saya banyak merasakan sbb. 1. Komunikasi tulis dan lisan ini hanya bisa lancar pada taraf yang setara dan kebawah. 2. Komunikasi tulis dan lisan keatas tetap saja sulit. Pejabat disurati apalagi lisan dengan telepon, apalagi agak menyinggung kebijaksanaannya atau kehormatannya, kita tidak akan sulit dapat perlayanan. Poin 2 ini rupanya masih berlangsung sampai saat ini, inilah yang berlaku antara pak MN dan Gub Sumbar dalam memanfaatkan media komunikasi walaupun medianya sudah canggih sekarang ini. Walaupun media komunikasi ini sudah berkembang cepat dan canggih namun belum bisa dimanfaatkan maksimal mungkin karena perubahan kultur tidak dapat mengikuti perubahan media yang canggih itu, hal ini mungkin disebabkan : 1. Jiwa feodal mungkin masih tebal disemua individu dimana saja mungkin tak pilih suku dan etnis di negara luar mungkin sudah banyak perubahan,di Indonesia bawahan masih diharapkan untuk merunduk keatas. Ada satu hal, mungkin persaan saya saja, perasaan kawan di palanta mungkin berbeda, yang saya rasakan termasuk ke diri saya sendiri, individu kalau sudah beranjak naik ketingkat yang lebih tinggi apakah uang, kedudukan dsb, seiring dengan itu rasa feodalnya juga mengikut. Saya tidak munafik, bagaimana kawan-kawan yang lain entahlah, tentu masing-masing yang bisa jujur kepada dirinya. Di palanta RN kenapa kita bisa menggunakan komunikasi tulis tanpa sekat karena ada UUnya dari rang dapua, sedangkan diluar mungkin UUnya belum/tidak ada. Atau mungkin sudah ada tapi karena jiwa feodal itu ikut menanjak seiring dengan menanjaknya keduduk maka sekat itu bertambah tebal. Dalam berhubungan keatas, atasan masih mengharapkan agar bawahannya menghadap (jawa di- sowani) kalau tidak susah untuk berkomunikasi. Ini sampai sekarang tampaknya masih berlaku untuk kesemua lini tidak saja di pemerintahan tapi juga di masyarakat umum. Tidak dipungkiri yang bisa menggunakan media komunikasi ini tanpa sekat, ada, tapi mungkin tak banyak. Kebanyakan mungkin komunikasi tanpa sekat ini hanya berlaku dalam urusan uang. Memang mungkin urusan uang inilah kalau dikantor yang bisa memutus mata rantai tata tertib birokrasi atau memutus sowan-sowan di masarakat luar. Ini contohnya banyak Mungkin urusan uang ini yang tidak ada antara pak MN dan Gub Sumbar makanya komunikasi dengan tulisan tak dijawab apalagi lisan dengan HP atau telepon, tentu akan dijawab “maaf mohon tingglkan pesan anda setelah nada berikut”. Begitulah pak MN, pak Prayitno mungkin perlu dijanguak (janguak bukan untuk orang meninggal) / disowani karena beliau mungkin berdarah jawa (dari namanya) maaf kalau saya salah. Wass, Maturidi (L-75) Asal Talang- Solok-Kutianyia Duri Riau Pada 25 November 2013 00.29, Mochtar Naim <[email protected]> menulis: > > *SURAT TERBUKA* > *Kepada Gubernur Sumatera Barat* > *Tentang* > *SURAT TERBUKA* > > *Mochtar Naim* > *24 Nov 2013* > > *Sdr Prof Dr H Irwan Prayitno* > *Selaku Gubernur Sumatera Barat* > *Assalamu ‘alaikum w.w.,* > > *Presiden Amerika Serikat, Barack Husein Obama, dan sekian banyak presiden > dan kepala2 negara lainnya di dunia ini, selalu membalas surat2 yang datang > kepada mereka, dari siapapun datangnya, baik resmi maupun tak resmi, baik > terbuka maupun tertutup. Malah mereka membiasakan diri untuk menjawabnya > dalam tenggang waktu seminggu.* > *Saya telah mengirim surat terbuka kepada Sdr selaku Gubernur Sumbar > beberapa kali, selain juga kepada sejumlah Bupati, Walikota dan pejabat2 > lainnya di Sumbar, tapi tak ada yang berbalas. Pada hal selaku pejabat, > untuk membalas surat2, tidak ada masalah, karena punya sekretaris dua-tiga. > Dan selaku pejabat, adalah kewajiban pejabat bersangkutan untuk melayani > warga daerahnya karena pasti ada hal yang perlu disampaikan. Sekarang tak > masanya lagi untuk menyampaikan apa2 harus dengan tatap muka, baik karena > faktor waktu, jarak, dan kesempatan.* > *Jika Sdr masih berminat untuk lanjut dengan tugas Sdr selaku Gubernur > Sumbar, ataupun tugas2 lainnya selaku pejabat, ada bagusnya kalau Sdr > meniru cara Presiden Obama itu, agar tugas menjadi lancar, komunikasi > timbal-balik tercipta, dan warga yang melakukan itu juga senang hati dan > bangga pula. Apalagi kalau dibawakan kepada etika agama, “menyampaikan > pesan itu sunnat, tetapi membalasnya wajib.”* > *Wassalam,* > > *Mochtar Naim* > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Grup Google. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
