Oleh : Syafri Segeh Sutan Rajo Pangeran, Wartawan Senior di Sumatera Barat

 

TUNTUTAN Dewan Banteng yang terpenting diantaranya adalah: 

• Menuntut pemberian serta pengisian otonomi luas bagi daerah-daerah dalam
rangja pelaksanaan sistem Pemerintahan desentralisasi serta pemberian
perimbangan keuangan antara pusat dan daerah yang wajar,layak dan adil.

• Menuntut dihapuskan segera sistem sentralisme yang dalam kenyataannya
mengkaibatkanb birokrasi yang tidak sehat dan juga menjadi pokok pangkal
dari korupsi, stagnasi pembangunan daerah, hilangnya inisiatif dan kegiatan
daerah serta kontrol.

• Menuntut suatu Komando Pertahanan Daerah dalam arti Teritorial, operatif
dan administratif yang sesuai dengan pembagian administratif dari Negara
Republik Indonesia dewasa ini dan merupakan komando utama dalam Angkatan
Darat.Juga menuntut ditetapkannya eks. Divisi Banteng Sumatera Tengah
sebagai kesatuan militer yang menjadi satu korps dalam Angkatan Darat.

 

Walaupun Letkol Ahmad Husein selaku Ketua Dewan Banteng mengambil alih
jabatan Gubernur Sumatera Tengah dari tangan Gubernur Ruslan Mulyoharjo,
namun Ahmad Husein tidak ditindak sebagai Komandan  Resimen 4 TT. I. BB,
malah sebaliknya tuntutan Dewan Banteng agar dibentuk satu Komando Militer
di Sumatera Tengah yaitu Komando Militer Daerah Sumatera Tengah (KDMST)
dipenuhi lepas dari TT. I BB dan Letkol, Ahmad Husein diangkat menjadi
Panglima KDMST. Dewan Banteng tetap mengakuo Sukarno sebagai Presiden
Republik Indonesia, tetap mengakui Pemerintahan Juanda dan tetap mengakui
Jenderal A.H. Nasution  sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

 

Berbeda dengan Dewan Banteng, Kolonel Maluddin Simbolon, Panglima TT. I BB
setelah mengumumkan pembentukan Dewan Garuda yang seluruh pengurusnya
militer pada tanggal 22 Desember 1956, dua hari sesudah Dewan Banteng, pada
hari itu juga Simbolon menyatakan melepaskan diri dari Pemerintahan Juanda
dan menyatakan daerah TT. I BB dalam keadaan Darurat Perang (SOB).
Pemerintah Juanda cepat memberikan jawaban.Pada hari itu juga memerintah
KSAD memecat Simbolon dari jabatan Panglima TT.I BB dan mengangkat Kepala
Stafnya Letkol.Jamin Ginting menggantikan Simbolon menjadi Panglima TT.I BB.
Simbolon bersama sejumlah anak buahnya akhirnya melarikan diri ke Sumatera
Barat, Padang dan tidak kembali lagi ke Medan.

 

Setelah Pemerintah Pusat tidak memperhatikan usul alokasi dana untuk
pembangunan daerah Sumatera Tengah,maka Dewan Banteng tidak mengirimkan lagi
seluruh penghasilan Daerah Sumatera Tengah ke Pusat, ditahan di daerah dan
digunakan untuk pembangunan Daerah. Masalah ini meningkatkan konlik dengan
Pemerintah Pusat. Selanjutnya, Dewan Banteng melakukan “Barter”, pedagang
langsung dengan luar negeri, tanpa melalui prosedur yang lazim yaitu melalui
Departemen Perdagangan dan Bea Cukai. Yang dibarter adalah teh, karet dan
hasil bumi Sumatera Tengah lainnya. Dana yang diperoleh dari hasil barter
itu digunakan untuk mendatangkan alat-alat berat untuk pembangunan jalan
seperti traktor, buldozer, aspal dan  berbagai alat berat lainnya.

 

Dalam beberapa bulan saja keadaan pembangunan di Sumatera Tengah meningkat,
sehingga ada jalan dinamakan orang “ Jalan Dewan Banteng”.Pembangunan
Sumatera Tengah di bawah Dewan Banteng dianggap terbaik waktu itu di
Indonesia. Untuk mempercepat pembangunan di daerah-daerah Kabupaten dan
Kota, Dewan Banteng pernah membagi-bagikan uang Rp. 1juta kepada tiap
Kabupaten dan Kota.Kalau sekarang uang Rp.1 juta tidak punya harga, akan
tetapi pada tahun 1957 itu uang Rp. 1 juta punya nilai yang tinggi. Keadaan
ini tidak berlangsung lama, hanya sekitar dua tahun, karena situasi politik
di Jakarta bertambah panas disebabkan sikap dan tingkah laku Presiden
Sukarno yang membela Partai Komunis Indonesia (PKI) yang waktu itu
berakiblat ke Moskow. Waktu itu Sukarno akrab dengan Moskow.

 

Setelah pemilihan umum tahun 1955 PKI keluar sebagai partai politik nomor
empat besar sesudah PNI, Masyumi dan NU. Di Sumatera Tengah sendiri PKI
hanya mendapat suara sekitar 5.7%. Akibatnya adalah : muncul konsep Presiden
yang ingin membentuk Kabinet Kaki Empat yang disebutnya sebagai Kabinet
Nasakom, Nasional (PNI), agama (Masyumi dan NU) dan Komunis (PKI).Konsep
Sukarno ini ditentang oleh banyak pihak terutama partai-partai Islam yang
kemudian melahirkan gerakan anti Komunis. Suasana Politik di Jakarta semakin
panas.

Di dalam bulan Agustus 1957 rumah Kol. Dahlan Jambek di granat, tetapi tidak
menimbulkan korban. Akibatnya Kol. Dahlan Jambak dan keluarganya hijrah ke
Padang. Sejak itu Kol.Dahlan Jambek bersama dengan Yazid Abidin menggiatkan
kampanye anti komunis di Sumatera Tengah. Di Padang dibentuk Gerakan Bersama
Anti Komunis (Gebak) yang dipimpin langsung oleh Kol Dahlan Jambek bersama
Yazid Abidin. Gerakan anti komunis di Sumatera Tengah itu secara tidak
disadari atau mungkin memang disengaja untuk menarik bantuan dari Amerika
Serikat, karena sejak tahun 1953, tiga tahun sebelum Dewan Banteng, Amerika
telah memperhatikan perkembangan Komunisme di Indonesia.

 

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat waktu itu John Foster Dullas
menginstruksikan Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta Hugh S. Cumming: Di
atas segalanya lakukanlah apa yang dapat anda gunakan untuk memastikan,
bahwa Sumatera tidak jatuh ke tangan komunis. Menurut Dullas, dipeliharanya
suatu negara kesatuan dapat mempunyai bahaya-bahaya khusus dan saya mengacu
kepada Tiongkok (kekalahan Chiang Kai Shek oleh Mao Tse Tung di daratan
Cina) tidak berarti lagi pada saat Tiongkok jatuh ketangan komunis. Pada
akhirnya kita mendapatkan suatu wilayah Tiongkok yang utuh, tetapi demi
keuntungan kaum komunis.

 

Ditegaskan oleh Dullas, kalau antara suatu Indonesia yang wilayahnya utuh,
tetapi condong dan maju menunjuk komunis dan perpecahan negara itu menjadi
kesatuan-kesatuan geografis, maka saya lebih suka pada kemungkinan ke dua,
sebab menyediakan suatu tempat bertumpu yang dapat dipergunakan Amerika
Serikat untuk menghapus komunisme di suatu tempat atau tempat yang lainnya
dan lalu pada akhirnya, kalau menghendaki begitu, tiba kembali pada suatu
Indonesia yang bersatu.

 

Dalam pada itu, Wakil Presiden Amerika Serikat  RichardNixon menganjurkan
agar Amerika Serikat bekerja melalui kalangan militer Indonesia. Dewan
Keamanan Nasional AS kemudian memutuskan membentuk suatu Panitia Ad Hoc
antara Departemen tentang Indonesia untuk menyiapkan suatu laporan mengenai
implikasi-implikasi dari peristiwa akhir-akhir ini terhadap keamanan AS
rencana-rencana tindak yang mungkin diambil (dari buku 50 tahun Amerika
Serikat—Indonesia, oleh Paul F. Gardner). Dapat dilihat dari kutipan-kutipan
di atas, bahwa betapa seriusnya Amerika Serikat terhadap komunisme di
Indonesia, jauh sebelum pemilu tahun 1955. (***)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/116/61/

Kamis, 06 Maret 2008 


No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.21.6/1316 - Release Date: 06/03/2008
18:58
 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke