Adidunsanak Palanta RN n.a.h,
rupanya topik ini sudah memanjang, melebar, meluas, sampai mengait-kaitkan
dengan RS Siloam, bahkan terus menjalar sampai Bunda Theresa dan Paus
segala.
Lucu juga penarikan kesimpulan seperti ini.

Untuk menyegarkan kembali apa tugas pokok seorang Wakil Gubernur (yang di
Jakarta saat ini dipegang oleh Ahok), ambo kutip UU No. 32/2004 pasal 26
huruf F yang menerangkan adanya 12 (dua belas) tugas ex officio Wagub DKI,
yakni:

1. Ketua Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah
2. Ketua Lembaga Kerjasama Tripartit
3. Ketua Komunitas Intelijen Daerah (KOMINDA)
4. Ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK)
5. Ketua Dewan Pembina Jakarta Islamic Center
6. Ketua Badan Pembina Lembaga Bahasa dan Ilmu Al Qur’an
7. Ketua Badan  Pembina Pengembangan Tilawatil Qur’an
8. Ketua Dewan Pertimbangan Badan Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh (BAZIS)
9. Ketua Dewan Pembina Badan Pembina Perpustakaan Masjid
10. Ketua Badan Pembina KODI
11. Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan Umat Beragama
12. Ketua Majelis Pembimbing Daerah dan Majelis Pembimbing Daerah Harian
Gerakan Pramuka DKI Jakarta.

Tugas no 5-9 (font hijau) berkaitan langsung dengan dunia keislaman untuk
wilayah DKI. Jadi, dari tupoksi Wagub ini saja terlihat bahwa perhatian
Ahok terhadap para hafizul Qur'an di DKI memang masih bertaut dengan bidang
kerjanya (Ahok sebagai Wagub, bukan Ahok sebagai non-muslim dan Cina).
Apalagi seperti dalam artikel itu, disebutkan Ahok tidak jalan sendiri tapi
berkonsultasi dengan Dr. Quraish Shihab, Direktur Pusat Studi Al Qur'an
Jakarta.  Ambo pernah mendapat penjelasan dari salah seorang mubaligh muda,
anak buah Dr. Shihab di PSAQ, di mana anak muda juga seorang doktor dari Al
Azhar Kairo dan menantu pahlawan nasional dari Bekasi, KH. Noer Ali, bahwa
perhatian PSAQ bukan hanya pada studi akademis tentang Qur'an, melainkan
juga kehidupan para penghafal Qur'an sehari-hari.

Di Cibubur sendiri, sekitar 10 km radius dari rumah ambo, ambo kenal
pribadi dengan hampir 10 orang hafizul Qur'an yang merupakan imam rawatib
di sejumlah masjid. Salah seorang hafiz ini, umur 27 tahun, sudah menikah
dan punya anak 1, awalnya sempat ditawari sebagai guru oleh salah satu
sekolah Islam swasta di Cibubur. Tetapi kemudian tak diambilnya. "Tugasnya
lebih banyak dari honor yang ditawarkan," kata alhafiz yang sedang kuliah
S-2 di PTIQ ini. "Sehingga akhirnya saya menerima tawaran masjid ini
(sebagai imam)" katanya.  Saya tak bertanya, berapa yang dia dapatkan
sebagai imam masjid. Tapi yang jelas, untuk rumah bagi keluarganya
disediakan oleh sang pemilik masjid.

Ini yang ambo kira dimaksud Ahok bahwa para penghafal Qur'an itu
hebat-hebat, punya daya ingat yang bagus, sehingga kalau diberdayakan
sebagai penerjemah atau bidang lain yang berkaitan dengan transformasi ilmu
agama, akan membuat standar hidup mereka juga lebih baik.

Jadi, ketika ambo mengirim link (awal) berita ini, dalam konteks Ahok
sebagai Wagub DKI yang punya tugas di bidang keagamaan ini (sekali lagi
secara ex officio tugas Wagub, bukan tugas Gubernur) maka ambo menambahkan
komentar "Pejabat muslim lain ke mana?" yang selayaknya dibaca, "para Wagub
muslim lainnya sebelum ini (sebelum) Ahok, apakah juga memikirkan kehidupan
para hafizul Qur'an?"

Cobalah para apak, bundo, mamanda, uni, uda, yang lamo tingga (atau paranah
tingga) di Jakarta, mangingek-ingek ado ndak sabalun ko seorang Wagub DKI
pernah secara terbuka menyatakan pikirannya tentang kehidupan para
penghafal Qur'an?

Lha kok kini dek karano ado surang Wagub nan mamikiakan kehidupan para
alhafiz nan sudaro-sudaro awak tu, malah sang Wagub yang diberondong
su'udzhon dengan macam-macam tudingan? Bukankah seharusnya awak bersyukur
ado Wagub nan bapakia sajauah ko? Dan publikasi tentang perhatian Ahok
kepada para penghafal Qur'an ini justru sebaiknya disebarluaskan, bukan
untuk memuji Ahok membabi buta, melainkan kelak sebagai kontrol sosial bagi
Ahok pula kalau karena satu dan lain hal (mungkin akibat tumpukan banyak
tugas lain) dia terlalai mewujudkan janjinya ini.

Kalaupun niat Ahok mendapat kesangsian dari sejumlah dunsanak, apo indak
sabaiaknyo awak istighfar dan mambuka baliek pasan Nabi bahwa Allah
mencatat niat baik hamba-Nya (tidak disebutkan dalam matan hadis hanya
mencatat niat baik muslim sajo, tapi mencatat niat baik hambaNya, yang
berarti semua orang) dengan satu kebaikan, dan kalau hamba itu mewujudkan
niat kebaikannya maka akan diganjar 1o kebaikan sampai 700 kebaikan,
sementara jika hamba itu berniat jahat, tidak ada catatan kejahatan atas
niat itu sampai kejahatan itu diwujudkan sang hamba, dan dicatat malaikat
sebagai satu kejahatan.

Bayangkan, betapa murah hatinya Allah Swt terhadap niat baik hambaNya.
 Sementara Allah begitu baik, kok bisa kita yang sama-sama makhluk dengan
orang yang sudah berniat berbuat baik seperti Ahok, malah menyabot hak
menilai niat seseorang yang sejatinya hanya milik Allah?

Yang juga penting kita renungkan adalah QS 5:8: ... *dan janganlah
kebencianmu terhadap satu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berlaku
adillah karena itu lebih dekat pada ketakwaan* ..."

Bukan salah Ahok dia terlahir berdarah Cina. Dan bukan karena dia Cina maka
kita mengukur tugasnya sebagai Wakil Gubernur DKI. Tapi karena dia sekarang
menjadi Wagub dan ada tugas Wagub yang berkaitan dengan kehidupan komunitas
muslim seperti pada paparan tugas di atas, dalam konteks itulah ambo
memberikan apresiasi.
Nanti kalau Ahok melenceng dalam tugasnya sebagai Wagub, ya kita kritik.
Tapi juga bukan karena dia Cina, melainkan karena dia tidak kapabel
menjalankan tugas konstitusi yang diamanatkan kepadanya sebagai Wagub.

Jadi bagi sanak Syafruddin Syaiyar yang (ingin ambo khususnya)
membandingkan hal ini dengan kisah khalifah Umar bin Abdul Aziz, jangan
naiflah kalau belum mengerti konteks masalah ini sanak. Apo sanak
Syafruddin nan tingga di KL, Malaysia, lai tahu kehidupan para penghafal
Qur'an di Jakarta? Kalau iyo lai tahu, apo paranah sanak mamikiakan serius
masalah ko? Kalau alah paranah juo mamikiakan serius masalah ko, buliah
tahu ambo apo nan alah sanak lakukan untuk para sudaro-sudaro awak nan alah
mendedikasikan waktu dan hidup mereka sebagai hafizul Qur'an tu?

Wallahu a'lam

Salam,

ANB
45, Cibubur

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke