Asslmlkm,

Mamak dan dunsanak...

Dek ado manyingguang masalah Century jo Budiono bagai di siko, ko ambo
dapek bacaan rancak ttg Century ko....
Mungkin ado nan baminat  mambaco....

---------- Forwarded message ----------
From: <[email protected]>
Date: 2013/11/26
Subject: Jejak Boediono di Century



Jejak Boediono di Century

Bambang Soesatyo
Anggota Timwas Century DPR RI

Alasan krisis ekonomi global yang selalu digunakan Boediono dalam
menyelamatkan Bank Century sebagai bank gagal yang dapat berdampak
sistemik, terpatahkkan dengan kesaksian JK yang ketika itu sebagai
pelaksana tugas presiden karena SBY berada di AS.

Sebelumnya diketahui, pada 30 Oktober dan 3 November 2008, Bank Century
mengajukan Fasilitas Repro Aset (yang kemudian disikapi oleh BI menjadi
FPJP). sebesar Rp1 triliun. Permintaan Bank Century itu ditolak. Menurut
analisis BI, Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Century hanya sebesar
positif 2,35 persen. Masih jauh di bawah CAR minimal untuk mendapatkan
fasilitas pinjaman yang dinyatakan dalam Peraturan BI 10/26/PBI/2008, yakni
8 persen.

Guna mengakali aturan itu, temuan BPK menyebutkan bahwa pada tanggal 14
November 2008 BI sengaja mengubah aturan persyaratan CAR dengan mengganti
angka minimal 8 persen menjadi minimal 0 persen atau “positif” saja.

Namun fakta menunjukan dalam temuan BPK, bahwa posisi CAR Bank Century pada
pada saat pengikatan FPJP, merosot menjadi  negatif 3,53 persen. Sehingga,
dengan bantuan perubahan syarat CAR itu pun sesungguhnya Bank Century masih
tetap  tidak memenuhi syarat untuk memperoleh FPJP.

Di sisi lain, BPK juga mencatat proses pencairan FPJP (kredit) untuk Bank
Century senilai Rp.689 miliar hanya dalam waktu yang tidak lazim. Yakni
kurang dari 5 jam dengan membuat tanggal dan jam mundur atau tidak dalam
waktu yang tidak sebenarnya pada akta notaris dan waktu pencairan yang juga
tidak lazim, yakni jumat malam pukul 20.35 wib. (Catatan: dalam akta
tertulis penanda tanganan akat kredit, 14 November 2008 pukul 13.30wib.
Fakta temuan Pansus Century DPR penandatangan dilakukan pada tanggal 15
November 2008 pukul 02.00 dinihari). Artinya, pencairan FPJP berdasarkan
surat kuasa Boediono selaku Gubernur BI kepada tiga pejabat BI, dilakukan
sebelum para pihak menandatangi pengikatan akat kredit.

Temuan BPK selanjutnya adalah, penyerahan nilai jaminan atau anggunan
dilakukan seminggu kemudian. Itupun nilainya tidak sesuai ketentuan
sebagaimana diatur dalam peraturan BI, yakni di bawah 150 persen. Celakanya
lagi, belakangan diketahui sebagaimana temuan BPK, bahwa sebagian jaminan
untuk mendapatkan FPJP yang disampaikan pihak Bank Century senilai Rp
467,99 miliar nyata-nyata tidak aman. Namun demikian, Boediono selaku
pimpinan rapat Dewan Gubernur ketika itu, tetap kekeh menyetujui pemberian
FPJP untuk Bank Century.

Itu soal FPJP. Bagaimana soal bailout?

Ternyata dana FPJP senilai Rp.689milir yang digelontorkan Boediono kepada
Bank Century, dalam waktu sekejap habis. Bank Century kembali colaps.
Untuk. Menolong  lagi Bank Century, diam-diam pada malam hari 20 November
2008, singkat kata setelah melalui proses panjang dan perdebatan sengit
dalam mencari-cari alasan atau argumentasi yang masuk akal untuk kembali
menolong Century, Boediono menandatangani surat bernomor 10/232/GBI/Rahasia
tentang Penetapan Status Bank Gagal PT Bank Century Tbk dan Penanganan
Tindak Lanjutnya.

Di dalam surat itu antara lain disebutkan bahwa salah satu cara untuk
mendongkrak rasio kecukupan modal bank Century dari negatif 3,53 persen
(per 31 Oktober 2008) menjadi positif 8 persen adalah dengan menyuntikkan
dana segar sebagai Penyertaan Modal Sementara (PMS) sebesar Rp 632 miliar.

Surat itu kemudian dibahas dalam "rapat konsultasi" yang digelar sebelum
rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) pada malam hari itu juga.
Setelah "rapat konsultasi" yang diikuti sejumlah petinggi dan pengambil
kebijakan sektor fiskal dan jasa keuangan itu, Boediono dan Sri Mulyani
menggelar Rapat KSSK hingga subuh keesokan harinya, 21 November 2008.

Dalam “rapat konsultasi” menjelang Rapat KSSK di gedung Djuanda, kompleks
Kementerian Keuangan pada pergantian malam itu, Boediono menjadi pihak yang
paling ngotot membela status Bank Century dan jalan keluar yang dianggapnya
perlu.

Jejak sikap ngotot Boediono dapat ditelusuri dari transkrip rekaman
pembicaraan "rapat konsultasi" dan dokumen resmi notulensi "rapat
konsultasi" yang beredar luas di masyarakat pada akhir tahun 2009 lalu.

Dalam notulensi “rapat konsultasi” setebal lima halaman itu disebutkan
bahwa rapat yang dipimpin Sri Mulyani dibuka sebelas menit lewat tengah
malam tanggal 21 November 2008. Juga disebutkan bahwa rapat digelar khusus
untuk membahas usul BI agar Bank Century yang oleh BI diberi status “Bank
Gagal yang Ditengarai Berdampak Sistemik” dinaikkan statusnya menjadi “Bank
Gagal yang Berdampak Sistemik”.

Boediono mendapatkan kesempatan pertama untuk mempresentasikan permasalahan
yang sedang dihadapi Bank Century.

Sri Mulyani adalah pihak pertama yang mengomentari rekomendasi Boediono.
Dia mengatakan bahwa reputasi Bank Century selama ini, sejak berdiri
Desember 2004 dari merger Bank Danpac, Bank CIC, dan Bank Pikko, memang
tidak bagus. Lalu Sri Mulyani meminta agar peserta rapat yang lain
memberikan komentar atas saran Boediono.

Badan Kebijakan Fiskal (BKF), misalnya, menolak penilaian BI atas Bank
Century. Menurut BKF, “analisa risiko sistemik yang diberikan BI belum
didukung data yang cukup dan terukur untuk menyatakan bahwa Bank Century
dapat menimbulkan risiko sistemik. Juga menurut BKF, analisa BI lebih
bersifat analisa "dampak psikologis.”

Sikap Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) pun hampir serupa. Dengan
mempertimbangkan ukuran Bank Century yang tidak besar, secara finansial
Bank Century tidak akan menimbulkan risiko yang signifikan terhadap
bank-bank lain.

“Sehingga risiko sistemik lebih kepada dampak psikologis.”

Tetapi Boediono bertahan pada pendapatnya. Dan pada akhirnya dia tidak saja
memenangkan pertarungan dalam rapat tertutup tersebut. Namun juga berhasil
meyakinkan Srimulyani selaku ketua KSSK untuk menandatangaani persetujuan
bailout sebesar Rp.632miliar pada pukul 5 subuh hari sabtu tanggal 22
November 2008.

Pertanyaan menariknya, apa yang terjadi setelah persetujuan bailout ditanda
tangani Srimulyani? Hanya dalam tempo dua hari, yaitu sabtu dan minggu.
Senin pagi sudah tergelontor dari kocek LPS sekitar Rp.2,7triliun.
Bagaimana bisa dihari libur, tidak ada kliring, Century bisa jebol
triliunan? Itulah barangkali yang menjelaskan mengapa Srimulyani kemudian
marah dan merasa tertipu oleh BI.

Lalu apakah setelah marah-marah di dalam rapat dengan seluruh petinggi BI
dan LPS termasuk Boediono selaku Gubernur BI sebagai terungkap dalam dalam
notulen, transkrip dan rekaman rapat tersebut, kucuran dana ke Bank Century
berhenti? Ternyata tidak. Pembobolan terus berlangsung, mulai akhir
November 2008 saat menjelang pemilu legislatif April 2009. Hingga pasca
pemilu pemilihan presiden dan wakil presiden pada Juni 2009 dengan total
penarikan Rp.6,7triliun


*Salam dan Terima Kasih,*
*Dedi Suryadi*

_____________________________________________________________________________
                       *****    Sukses Seringkali Datang Pada Mereka Yang
Berani Bertindak Dan   *****
      ******Jarang Menghampiri Penakut Yang Tidak Berani Mengambil
Konsekuensi (Jawaharlal Nehru**)* *****
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
          "The Best Human Being Among of You is The Most Beneficial for The
Others" (Hadith by Bukhari)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
****...."Kasihilah Yang Di Bumi, Maka Yang Di Langit Akan Mengasihimu...
".....*****
                  "Love What On Earth, Then What On Sky Will Love You ..."


Pada 3 Desember 2013 08.27, Bakhtiar Muin PhD <[email protected]> menulis:

> Assalamualaikum.
>
>
>
> Angku Zaid Dunil yg budiman.
>
>
>
> Mohon maaf, kalau cara menulis ambo lancing, tapi ambo memberanikan diri
> kepado angku, urang gadang, mantan Direktur Utama Bank BDN, mantan boss
> kawan2 ambo.
>
> Ambo pernah batandang ke kantor angku, waktu Cholil Hassan jadi vice
> president bank BDN. Angku tidak pernah dengar namo ambo, tapi ambo kenal
> angku sebagai boss teman2 ambo yg di BDN.
>
>
>
> Dari tutur kata yg sangat sopan, halus dan sangat baik, ambo mangarati
> angku Zaid Dunil urang gadang nan randah hati, dan sangat baik.
>
> Ambo baco posting angku, lurus bana, berdasarkan ilmu pengetahuan, teori2
> ekonomi.
>
>
>
> Pangalaman ambo bagaul jo urang baik2, seperti Syahril Sabirin, Malik
> Fajar, Moh Nuh, angku nan mantan dirut bank. Urang baik2 iko, kurang
> tapikia di nyo walaupun doctor di kicuah para bandit.
>
>
>
> Ambo teringat, waktu ada diskusi Kahmi dengan SBY, Syahril Sabirin,
> ditahun 1994, kalau ngak keliru. Ambo tanyo samo kawan ambo Syahril
> Sabirin, baa kok sampai kecolongan 6oo Triliun BLBI. Baliau menjelaskan
> dari teori2 ekonomi, menggigil beliau menerangkannya. Diskusi indak ambo
> teruskan, takuik ambo Syahril Sabirin sakit. Begitu juo, sampai sekarang,
> kalau ambo lihat, Boediono tetap saja kekeh membela diri mengenai BLBI dan
> Century, kebijakan yg benar. Begitu juga Sri Mulyani.
>
> Boediono, Syahril Sabirin, Dradjad Djiwandono, Anwar Makarim, Arief
> Budiman, Ambo, samo2 ka Amerika, generasi HIID tahun 1976, dimana kami
> bertemu di Harvard.
>
> Dari tulisan2 angku ambo lihat cara berpikir angku sejalan dengan
> Boediono, Syahril Sabirin, Sri Mulyani, Drajad Djiwandono. Maaf kalau ambo
> keliru, angku direktur utama BDN, yg melihat dunia ini baik, Padahal diluar
> kantua angku, banyak bandit yg dipengaruhi syeitan.
>
> Ambo sama sekali tidak mamarintah angku, tapi ambo menyarankan agar angku
> bajalan pagi sepanjang Toll Jakarta Cikampek,melihat langsung bagaimana
> tanah didaerah itu jatuh ke tangan konglomerat dalam ratusan ribu hektar.
>
> Begitu juga, Jakarta yg dulunya, tanah2 luas bekas kebun karet jatuh ke
> tangan konglomerat dalam ratusan ribu ha.
>
>
> Cubo juo, angku lihat, bagaimana kredit bank yg angku kucurkan trilliunan
> ke konglomerat, sebagai prime customer dengan bunga rendah, di kreditkan
> kembali untuk mencicil property dan mobil, dengan bunga tinggi.
>
> Apo batanyo, sama sekali tidak mamarintah, apakah terpikir oleh urang2
> gadang seperti angku, memberi kredit ratusan trilliun kepada konglomerat.
>
> 300 trilliun kredit ke konglomerat sebg prime customer dengan bunga 8%,
> dikreditkan kembali ke masyarakat, seperti KTA dengan bunga 20-30 setahun.
> Taruklah bunga 20% saja, yg dibayar oleh rakyat.
>
> Selisih 12% dikalikan 300 Trilliun, sudah 36 Trilliun, dapat uang dengan
> ongkang2 saja.
>
> Jadi tidak masuak di kapalo ambo, kebijakan Boediono, Sri Mulyani.
>
> Belum lama ini, dalam kongres Diaspora, Sri Mulyani juga memberi ceramah2
> investment, capital market dsbnya. Pertumbuhan ekonomi dllnya.
>
> Income Indonesia, bakal naik2 sekian ribu dollar.
>
>
>
> Nan Jaleh di ambo, 30 tahun jadi pagawai nagari, jadi dosen ITB, tidak
> pernah ngurus pangkat, gaji lebih dari satu abad tidak dibayar, pension
> kurang dari tiga juta.
>
>
> Ambo sudah umur 65 tahun, masih berjuang untuk hidup keperluan se hari2.
> Selama 30 tahun jadi dosen ITB, untuk hidup cari makan sendiri, jadi
> konsultan.
>
>
>
> Sementara kolusi kebijakan antara penguasa dan pengusaha, melahirkan
> konglomerat modal dengkul, jadi kaya raya ratusan trilliun.
>
>
>
> Boediono, samo2 sakola ke Amerika, mengeluarkan kebijakan mendiskriminasi
> bangsa sendiri. Gaji Ekspat dengan kita yg sama sakola ke Amerika, lebih
> dari 10-20 kalinya. Di Amerika, kita karajo, gaji sama antara melayu dan
> bulek, di negeri sendiri, kita di diskriminasi. Suatu tragedi.
>
>
>
> Boediono, Syahril Sabirin, Dradjad Djiwandono CS, dikirim ke luar negeri
> dapat perlakuan khusus dari negeri paman Syam.
>
> Mereka2 yg berangkat dari Departemen Keuangan, dapat tunjangan
> depkeu,dapat dari Amerika USAID, dapat lagi dari Ford Foundation tunjangan
> keluarga, sementara kami dari perguruan tinggi, para isteri kerja menguli
> jadi membersihkan apartemen, baby sitters, laundry.
>
> Kalau ambo cukup baruntuang, istri ambo karadjo jadi pegawai state, jadi
> lumayanlah, dapat jaminan kesehatan, dan gaji yg lumayan.
>
> Mengenai data2 yg angkut pertanyaan, ambo indak menjawab, karano data2 yg
> diserahkan perkumpulan gereja ke PEMDA, sangat jauh berbeda dengan data2
> BPS, dan data2 departemen agama, dan departemen dalam negeri.
>
>
>
> Jadi data mana yg benar, apakah data2 dewan gereja atau data2 BPS,
> departemen agama. Data Dewan gereja ber lipat2 dibandingkan dengan BPS,
> Departemen Agama. Seperti kota Bandung, data dewan gereja, mengklaim, rumah
> peribadatan mereka, baik dalam bentuk gereja, atau rumah2 yg dialih
> fungsikan jadi gereja lebih dari 4500. Data yg angku postingkan sangat
> kecil dibandingkan klaim dewan gereja.
>
> Angka 30% untuk kota Bandung, adalah voting capacity dari Kristen di
> Bandung, yg sangat penting diperhitungkan dalam pilkada.
>
> Kristen saat ini, mengklaim voting capacitynya 30%, sehingga mereka yakin,
> siapapun yg mengambil Kristen, jadi wakilnya, akan menang jadi presiden di
> Indonesia. Test Case sdh dilakukan di DKI, dan berlanjut di pilpres 2014.
>
> Kalau urang Minang khawatir dengan Kristenisasi, kalau ambo yakin
> islamisasi.
>
>
>
> Ambo Yakin Sulawesi Utara, pusat Kristen, dalam tempo beberapa puluh tahun
> saja, Islam dan Kristen akan seimbang di Sulut.
>
>
>
> Ambo memang bombastis, karena urang Minang takuik Kristenisasi, ambo bom
> dengan beberapa puluh tahun, Kristen, Islam akan seimbang di Minang, ingin
> tahu reaksi urang Minang.
>
>
>
> Abad ke 21, adalah abad bangkitnya ummat Islam di dunia. Di Barat Amerika,
> Eropa, Australia, Islam the fastest growing religion.
>
>
>
> Sekali lagi ambo minta maaf, ambo tidak sama sekali menyuruah angku
> melihat lapangan, tapi buliah ambo menyarankan angku, melihat langsung
> kejahatan di lapangan, sehingga yunior2 angku, tidak lagi mengucurkan dana
> ratusan trilliun ke konglomerat hitam.
>
>
>
> Ambo tidak anti investasi, investasi sangat baik, apalagi bunga uang di
> negara2 maju rendah, bisa dimanfaatkan untuk pembangunan.
>
> Tapi bukan investasi Lippo, yg akan menjungkir balikkan pariuk nasi, urang
> awak.
>
>
>
> Superblok berdiri di kota2 Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi,
> Payakumbuh, Solok dllnya, urang akan beralih belanja di superblock, karena
> serba ada, efisien, akan mematikan pusat2 perdagangan yg ada sekarang, jadi
> kota tua, sepi pembeli.
>
> Kalau superblock dibangun, bangunlah oleh urang Padang sandiri, atau
> serahkan ka adiak ambo. Beliau sanggup bangun superblock. Tapi bisnis adiak
> ambo, bisnis murni, tidak ada unsur sogok menyogok.
>
> Tasarah urang Padang, mau bangun superblock sendiri, atau mau jadi kuli
> Lippo.
>
>
>
> Salam
>
> Bakhtiar Muin
>
> 65 tahun, asal Padang Panjang.
>
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke