Assalamualaikum.

 

Angku Zaid Dunil yg budiman.

 

Mohon maaf, kalau cara menulis ambo lancing, tapi ambo memberanikan diri
kepado angku, urang gadang, mantan Direktur Utama Bank BDN, mantan boss
kawan2 ambo.

Ambo pernah batandang ke kantor angku, waktu Cholil Hassan jadi vice
president bank BDN. Angku tidak pernah dengar namo ambo, tapi ambo kenal
angku sebagai boss teman2 ambo yg di BDN.

 

Dari tutur kata yg sangat sopan, halus dan sangat baik, ambo mangarati angku
Zaid Dunil urang gadang nan randah hati, dan sangat baik.

Ambo baco posting angku, lurus bana, berdasarkan ilmu pengetahuan, teori2
ekonomi.

 

Pangalaman ambo bagaul jo urang baik2, seperti Syahril Sabirin, Malik Fajar,
Moh Nuh, angku nan mantan dirut bank. Urang baik2 iko, kurang tapikia di nyo
walaupun doctor di kicuah para bandit.

 

Ambo teringat, waktu ada diskusi Kahmi dengan SBY, Syahril Sabirin, ditahun
1994, kalau ngak keliru. Ambo tanyo samo kawan ambo Syahril Sabirin, baa kok
sampai kecolongan 6oo Triliun BLBI. Baliau menjelaskan dari teori2 ekonomi,
menggigil beliau menerangkannya. Diskusi indak ambo teruskan, takuik ambo
Syahril Sabirin sakit. Begitu juo, sampai sekarang, kalau ambo lihat,
Boediono tetap saja kekeh membela diri mengenai BLBI dan Century, kebijakan
yg benar. Begitu juga Sri Mulyani.

Boediono, Syahril Sabirin, Dradjad Djiwandono, Anwar Makarim, Arief Budiman,
Ambo, samo2 ka Amerika, generasi HIID tahun 1976, dimana kami bertemu di
Harvard.

Dari tulisan2 angku ambo lihat cara berpikir angku sejalan dengan Boediono,
Syahril Sabirin, Sri Mulyani, Drajad Djiwandono. Maaf kalau ambo keliru,
angku direktur utama BDN, yg melihat dunia ini baik, Padahal diluar kantua
angku, banyak bandit yg dipengaruhi syeitan.

Ambo sama sekali tidak mamarintah angku, tapi ambo menyarankan agar angku
bajalan pagi sepanjang Toll Jakarta Cikampek,melihat langsung bagaimana
tanah didaerah itu jatuh ke tangan konglomerat dalam ratusan ribu hektar.

Begitu juga, Jakarta yg dulunya, tanah2 luas bekas kebun karet jatuh ke
tangan konglomerat dalam ratusan ribu ha.


Cubo juo, angku lihat, bagaimana kredit bank yg angku kucurkan trilliunan ke
konglomerat, sebagai prime customer dengan bunga rendah, di kreditkan
kembali untuk mencicil property dan mobil, dengan bunga tinggi.

Apo batanyo, sama sekali tidak mamarintah, apakah terpikir oleh urang2
gadang seperti angku, memberi kredit ratusan trilliun kepada konglomerat.

300 trilliun kredit ke konglomerat sebg prime customer dengan bunga 8%,
dikreditkan kembali ke masyarakat, seperti KTA dengan bunga 20-30 setahun.
Taruklah bunga 20% saja, yg dibayar oleh rakyat.

Selisih 12% dikalikan 300 Trilliun, sudah 36 Trilliun, dapat uang dengan
ongkang2 saja.

Jadi tidak masuak di kapalo ambo, kebijakan Boediono, Sri Mulyani.

Belum lama ini, dalam kongres Diaspora, Sri Mulyani juga memberi ceramah2
investment, capital market dsbnya. Pertumbuhan ekonomi dllnya.

Income Indonesia, bakal naik2 sekian ribu dollar.

 

Nan Jaleh di ambo, 30 tahun jadi pagawai nagari, jadi dosen ITB, tidak
pernah ngurus pangkat, gaji lebih dari satu abad tidak dibayar, pension
kurang dari tiga juta.


Ambo sudah umur 65 tahun, masih berjuang untuk hidup keperluan se hari2.
Selama 30 tahun jadi dosen ITB, untuk hidup cari makan sendiri, jadi
konsultan.

 

Sementara kolusi kebijakan antara penguasa dan pengusaha, melahirkan
konglomerat modal dengkul, jadi kaya raya ratusan trilliun.

 

Boediono, samo2 sakola ke Amerika, mengeluarkan kebijakan mendiskriminasi
bangsa sendiri. Gaji Ekspat dengan kita yg sama sakola ke Amerika, lebih
dari 10-20 kalinya. Di Amerika, kita karajo, gaji sama antara melayu dan
bulek, di negeri sendiri, kita di diskriminasi. Suatu tragedi.

 

Boediono, Syahril Sabirin, Dradjad Djiwandono CS, dikirim ke luar negeri
dapat perlakuan khusus dari negeri paman Syam.

Mereka2 yg berangkat dari Departemen Keuangan, dapat tunjangan depkeu,dapat
dari Amerika USAID, dapat lagi dari Ford Foundation tunjangan keluarga,
sementara kami dari perguruan tinggi, para isteri kerja menguli jadi
membersihkan apartemen, baby sitters, laundry.



Kalau ambo cukup baruntuang, istri ambo karadjo jadi pegawai state, jadi
lumayanlah, dapat jaminan kesehatan, dan gaji yg lumayan.

Mengenai data2 yg angkut pertanyaan, ambo indak menjawab, karano data2 yg
diserahkan perkumpulan gereja ke PEMDA, sangat jauh berbeda dengan data2
BPS, dan data2 departemen agama, dan departemen dalam negeri.

 

Jadi data mana yg benar, apakah data2 dewan gereja atau data2 BPS,
departemen agama. Data Dewan gereja ber lipat2 dibandingkan dengan BPS,
Departemen Agama. Seperti kota Bandung, data dewan gereja, mengklaim, rumah
peribadatan mereka, baik dalam bentuk gereja, atau rumah2 yg dialih
fungsikan jadi gereja lebih dari 4500. Data yg angku postingkan sangat kecil
dibandingkan klaim dewan gereja.

Angka 30% untuk kota Bandung, adalah voting capacity dari Kristen di
Bandung, yg sangat penting diperhitungkan dalam pilkada.

Kristen saat ini, mengklaim voting capacitynya 30%, sehingga mereka yakin,
siapapun yg mengambil Kristen, jadi wakilnya, akan menang jadi presiden di
Indonesia. Test Case sdh dilakukan di DKI, dan berlanjut di pilpres 2014.

Kalau urang Minang khawatir dengan Kristenisasi, kalau ambo yakin
islamisasi.

 

Ambo Yakin Sulawesi Utara, pusat Kristen, dalam tempo beberapa puluh tahun
saja, Islam dan Kristen akan seimbang di Sulut.

 

Ambo memang bombastis, karena urang Minang takuik Kristenisasi, ambo bom
dengan beberapa puluh tahun, Kristen, Islam akan seimbang di Minang, ingin
tahu reaksi urang Minang.

 

Abad ke 21, adalah abad bangkitnya ummat Islam di dunia. Di Barat Amerika,
Eropa, Australia, Islam the fastest growing religion.

 

Sekali lagi ambo minta maaf, ambo tidak sama sekali menyuruah angku melihat
lapangan, tapi buliah ambo menyarankan angku, melihat langsung kejahatan di
lapangan, sehingga yunior2 angku, tidak lagi mengucurkan dana ratusan
trilliun ke konglomerat hitam.

 

Ambo tidak anti investasi, investasi sangat baik, apalagi bunga uang di
negara2 maju rendah, bisa dimanfaatkan untuk pembangunan.

Tapi bukan investasi Lippo, yg akan menjungkir balikkan pariuk nasi, urang
awak.

 

Superblok berdiri di kota2 Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi, Payakumbuh,
Solok dllnya, urang akan beralih belanja di superblock, karena serba ada,
efisien, akan mematikan pusat2 perdagangan yg ada sekarang, jadi kota tua,
sepi pembeli.

Kalau superblock dibangun, bangunlah oleh urang Padang sandiri, atau
serahkan ka adiak ambo. Beliau sanggup bangun superblock. Tapi bisnis adiak
ambo, bisnis murni, tidak ada unsur sogok menyogok.

Tasarah urang Padang, mau bangun superblock sendiri, atau mau jadi kuli
Lippo.

 

Salam

Bakhtiar Muin

65 tahun, asal Padang Panjang.




 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke