Catatan Putriku tentang Ibunya


Tak kusangka

Dalam rangka hari ibu

Aku dapat kiriman dari putriku



Rasa kemaren baru dia protes

“Mama itu tak seperti mama temanku yang ajari anaknya”

Protes yang tak pernah kugubris



Siapa nyana jadi tulisan yang indah

Subhanallah, Alhamdulillah

Nanar mataku membacanya



Salam



Hanifah (Padang, 24 Desember 2013)



*Mimpi dan kenyataan seorang ibu bernama hanifah*

Posted on December 24,
2013<http://fadillaazeaza.wordpress.com/2013/12/24/mimpi-dan-kenyataan-seorang-ibu-bernama-hanifah/>by
fadillaazeaza <http://fadillaazeaza.wordpress.com/author/fadillaazeaza/>

“Keajaiban dalam hidup adalah terlahir dari rahim mama Hanifah Damanhuri.
Seorang wanita yang telah memberi kami cinta, pengorbanan, dan pelajaran
mengenai mengelola keuangan” -fauzul azmi zen.

Kutemukan kalimat tersebut di wall facebook ku dari seorang pria yang
satu-satunya terlahir dari rahim yang sama. Kalimat tersebut memang tak
berlebihan, menjadi anak seorang hanifah sungguhlah membuat kami sangat
beruntung.

Panggil saja ifah, dilahirkan di agam (sungai tanang) 15 agustus 1962 dari
rahim seorang ibu cantik bernama djasidar. Ifah merupakan seorang pemimpi
besar yang amat pemalu. Dikalangan teman-temannya, beliau dikenal tak bisa
marah dan termasuk sekumpulan orang introvert. Ifah merupakan seorang
wanita yang memiliki iq diatas rata-rata dan pernah mendapatkan nilai TEst
potensi akademik (tertinggi) mengalahkan laki-laki pada zamannya. Membaca
adalah hobinya, dan beliau merupakan anak IPA sejati ( sangat menyukai
hal-hal berbau eksak seperti matematika dan sejenisnya)
20 Juli 1986, menikahlah beliau dengan seorang ekstrovert super ceria dan
super lucu dan bukan merupakan anak IPA melainkan anak Sastra ..Super
kebalikan dari dirinya, Muhammad Zen, yang kelak pada akhirnya menjadi ayah
super hebat bagi keluarganya.

Hanifah pernah bermimpi untuk kuliah di salah satu 100 universitas terbaik
dunia. Bermimpi menuntut ilmu tanpa batas. Beliaupun melanjutkan kuliah ke
ITB jurusan matematika, pada masa itu si sulung masih bawel-bawelnya,
maklumlah anak balita. Hanifah pun menjadi tak tenang, hingga akhirnya
beliau kubur mimpinya sejenak untuk melanjutkan kuliah..
Kemudian lahirlah anak ke2 yang nantinya menjadi anak yang paling bawel
dibandingkan anak pertama. Setelah si bungsu beranjak memasuki usia 6
tahun, Hanifah kembali mengejar mimpinya untuk menuntut ilmu tanpa batas…
Mungkin mimpi untuk sekolah di 100 universitas besar harus dilupakan, demi
anak dan keluarga tercinta. Hingga UI (Universitas Indonesia) Fakultas Ilmu
Komputer pun menjadi pilihannya. Saat itu rezim suharto sedang di ujung
tanduk. Si bungsu yang sedang liburan ke Jakarta pun menyaksikan secara
langsung kejadian 13 mei itu.. Dilihatnya banyak orang berunjuk rasa.. Dan
saat itu dilihatnya pula mamanya di ajak.. Kejadian tersebut membekas di
kepala si bungsu yang bernama dilla itu.
Hingga sepulang ke Bengkulu, si dilla mengajak abangnya yang biasa dia
panggil Ijul, untuk berunjuk rasa. unjuk rasa kenaikan uang jajan.. Saat
itu dilla kecil masih duduk di kelas 2 SD. Dilla kecil memang anak yang
bandel, percaya tak percaya.. Umur 3 tahun, gagang ember jadi bengkok
dibuatnya.. Tetua tetua bilang, tangan si dilla itu “magis”. Ah lupakan
tentang itu.. Maaf out of topic.
Pernahkah engkau melihat seorang ibu memarahi anaknya ketika anaknya tidak
dapat rangking? Atau malah anda sendiri pernah mengalaminya? Pernahkah
engkau lihat seorang ibu mengerjakan PR anaknya? Atau malah anda pernah
mengalaminya? Pernahkah orang tua anda menasihati anda untuk jangan
mencontek? Berbuatlah jujur…?

Alhamdulillah.. Hanifah merupakan seorang ibu yang mendidik anaknya dengan
cara membuat anaknya berpikir. Sekalipun tak pernah ia kerjakan PR anaknya
pun tak pernah ia memarahi anaknya bila anaknya tidak dapat rangking.. Tapi
jangan sekali-kali tidak jujur apalagi mencontek.. Beliau bisa muntab!!
“Untuk apa kamu rangking kelas bila hasilnya mencontek, bagi mama kejujuran
itu paling penting”

Beruntung rasanya punya ibu seperti itu.
Ada yang berkata pada dilla remaja,
“Mama mu itu dulu selalu juara, gak pernah gak juara.. Tapi lihat sekarang
siapa yang sukses. Mamamu karirnya hanya sebatas dosen. Lihat aku.. Gak
pernah juara semasa sekolah.. Tapi sekarang.. Bisa dilihat siapa yang lebih
sukses”
Dilla remaja hanya diam dan tertawa dalam hati. Bagi seorang anak.. Ibu
yang sukses adalah ibu yang tak pernah meminta perannya digantikan orang
lain..
Bagu seorang anak ibu yang sukses adalah ibu yang selalu membuat anaknya
mandiri, memasak masakan untuk keluarganya, bukan digantikan oleh
pembantu.. Apa gunanya sukses di dunia kerja versi orang itu bila keluarga
terlantar.. Masak untuk keluarga tak sempat..mendidik anak lebih dekat ke
pembantu.. Di mana letak suksesnya?
Ya. Ibu kami tak pernah rela menghabiskan uangnya untuk sekedar mempoles
anaknya agar terlihat cantik dan tampan.. Tapi beliau tak pernah segan
untuk mengeluarkan uang seberapapun demi sesuatu yang menambah pengetahuan
anaknya..

Beruntung kami kan?
Kurang sukses apalagi beliau?
Di mata kami, beliau adalah ibu juara 1. Yang apabila mengaji, walau mata
kami terpejam, kami tau itu adalah beliau.. (Hanifah mempunyai nada unik
saat mengaji. Dan satu satunya di dunia). Beliau selalu menegur, bila
sehari saja tak ada suara lantunan alquran di rumah. Selalu menegur bila
dalam sebulan tak solat malam.
Di mana bisa kami cari lagi duplikat ibu seperti itu?
Bahkan ketika beliau dalam kondisi berdarah-darah akibat terkena tumor
rahim (miom) masih sempat beliau mengajar mahasiswanya di kelas.
Di mana lagi kami dapat mencari sosok yang akan sangat muntab bila melihat
mahasiswanya tidak jujur atau tidak disiplin.
Dimana lagi dapat kami temukan sosok manusia yang ketika di fitnah oleh
orang lain, dia tidak membalasnya dan berdoa kebaikan untuk orang itu..
Dimana lagi kami dapat menemukan orang yang polos meskipun usianya telah 51
tahun.
Dan bahkan kini di usia 51 tahun, tetap saja beliau semangat menuntut ilmu
meskipun alasan lainnya adalah menemani si bungsu kuliah..
Ah jadi teringat. Tanpa hijrahnya beliau ke kota yang sama dengan si
bungsu, mana mungkin si bungsu mampu kuliah 4 Tahun di salah satu jurusan
teknik itu.
Ah jadi teringat, si bungsu menangis tersedu-sedu melihat abangnya
menikah.. Tak rela abangnya diambil orang.. Tapi hanifah tetap berdiri
tegar, menguatkan si sulung untuk menjadi pemimpin dalam keluarga barunya.
Harusnya bukan pada cinta rangga bersajak “Baru sekali ini aku melihat
karya surga dari mata seorang hawa” harusnya pada ibu lah dia bersajak..

Maka sekali lagi, sungguh benarlah…

“Keajaiban dalam hidup adalah terlahir dari rahim mama Hanifah Damanhuri.
Seorang wanita yang telah memberi kami cinta, pengorbanan, dan pelajaran
mengenai mengelola keuangan” -fauzul azmi zen.

Dari negeri tertimur di garis lintang utara – menebus mimpi mu yang
tertunda-

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke