Kalau Dino Patti Djalal apo pulo tu isunyo. 3 tahun ambo bahubungan arek jo 
liau salamo jadi dubes di washington, ambo lliek liau salah seorang rising star 
generasi muda Indonesia. Berwawasan, santun dan terbuka dgn pendapat orang 
lain. Ka maju di konvensi PD inyo minta pandapek senior jo kawan dakek.

Waktu perpisahan jo liau kapatang, dima Dorce hadir manghibur, sato pulo 
bakomentar dimuko rang rami: "Semoga Pak Dino jadi presiden, sekalian membantah 
mitos bahwa hanya orang Jawa saja yg bisa jadi presiden".

Baa diawak?

Sent from my T-Mobile 4G LTE Device

-------- Original message --------
From: Tasrilmoeis <[email protected]> 
Date: 12/30/2013  3:34 AM  (GMT-05:00) 
To: [email protected] 
Subject: RE: [R@ntau-Net] Fwd: JIL 
 
Kini ko baru ado CaCaPres, alun bisa bana awak manantukan pilihan. CaPres 
sendiri baru akan nampak setelah pemilu April 2014.
Namo nan ado kin iko banyak nan cuma untuak ma angek2 kan saluang sen.
 
Wassalam
Tan Ameh (55+)
 
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of Zorion Anas
Sent: Monday, December 30, 2013 2:16 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Fwd: JIL
 
Repot banget sama AB, apa kl dia jd presiden Indonesia jadi Turki? Jangan naif, 
pilih saja yg mau dipilih, saya pilih Gita saja, walaupun ada yg bikin isue 
disini bapaknya ahmadiyah. Egp. Saya beragama dgn hati saya bukan dgn isu2 
murahan di luar sana. Salam.

Salam,
Zorion Anas, 58, Padang

Pada 2013 12 30 14:10, "Andri Satria Masri" <[email protected]> menulis:
Iko ciek lai second opinion yg bisa dibaco sebagai referensi mengenal 
Universitas Paramadina:

Rektor, Mahasiswa Paramadina dan Isue JIL

Oleh: Gheisz Chalifah

(Sumber: 
http://edukasi.kompasiana.com/2013/12/10/rektor-mahasiswa-paramadina-dan-isue-jil--617253.html)

Tadi malam  saya  berbincang dgn keluarga, dua anak saya  pulang di hari yang 
bersamaan. Luthfi Chalifah kembali ke Jakarta dalam rangka liburan semester dan 
Hamzah Chalifah kembali ke Jakarta setelah survey berbagai kampus untuk program 
S2 di Os. Mereka bercerita tentang pengalaman di negri yg mereka tinggali. Yang 
menarik adalah cerita Hamzah, dalam satu kesempatan Hamzah memenuhi sebuah 
undangan makan malam di sebuah komunitas. Sehabis makan malam sebagaimana 
biasanya yg diperbincangkan adalah masalah agama, dan Hamzah hanya mendengarkan 
saja apa yang mereka perbincangkan, namun di tengah perbincangan terlontar 
berbagai pernyataan bahwa Paramadina itu JIL, Anies Baswedan itu JIL. 

Anak saya yg satu ini biasanya tidak suka banyak omong apa lagi berdebat dia 
selalu menghindar untuk hal semacam itu, namun krn yg disebut adalah kampusnya 
maka dia ikut berkomentar.
Hamzah bertanya: anda  tau Paramadina dimana kampusnya.? anda  tau apa yg 
diajarkan di Paramadina? Atau  pernah melakukan penelitian di kampus Paramadina 
? Sebagian yang sedang berbincang itu menjawab dengan meyakinkan bahwa 
Paramdina memang Kampus JIL tanpa menjawab pertanyaan.

Hamzah bertanya lagi : kalu gitu kasih tau ana dimana alamat kampus Paramadina 
itu.? org itu ga bisa jawab. Lalu Hamzah menyatakan : Saya kuliah di Paramdina 
dan saya  tidak pernah diajarkan hal- hal yang berbau JIL. Kok ente orang bisa 
lebih tau dari saya ?
Mahasiswa paramadina tidak berurusan dgn yang kalian katakan, kita kuliah 
sesuai dgn program kuliah bukan kuliah agama, kuliah ekonomi yang diajarkan 
masalah Ekonomi. Asal kalian tau, Dosen saya awalnya kuliah di Paramdina 
setelah lulus dia mengajar di Paramadina dan dosen saya itu bilang: kampus ini 
sejak Pak Anies jadi Rektor lebih seperti pesantren dibanding sebelumnya 
emangnya ente lebih kenal Anies Baswedan dari pada dosen ana.?

Tiba2 Luthfi yang dari tadi mendengarkan memotong : Tumben lo Zah mau 
ngeladenin yang begituan..

Hamzah : gue kesel aja ada orang sok lebih tau dari gue yang kuliah di situ.

Saya tertawa mendengar pembicaraan malam ini, anak itu memberi perlawanan 
terhadap orang 2 yang jauh lebih dewasa  disebabkan kampusnya disorot dgn 
negatif tanpa ada argumen pendukung.

Hamzah masih bersemangat menceritakan pengalamannya itu disamping 
keterkejutannya menemui orang 2 yang bicara dgn yakin tanpa data dan mudah 
memvonis.  Kemudian dalam diskusi itu Hamzah bertanya kembali: darimana ente 
dapat info itu?  satu orang menjawab : ana membaca dimedia online sambil 
menyebutkan nama media tersebut..
Hamzah : Ooohhh pantesann.

Saya serempak bersama Luthfi yg berada di meja makan gerrrrrrrrr… mendengarnya.

Lain yang dialami Hamzah lain pula yang dialami oleh Sulis, Dalam satu 
kesempatan Sulis diminta untuk tampil bernyanyi disebuah pesantren, ketika 
menjelang tampil seorang anak  pemilik pesantren itu bertanya. Kamu kuliah 
dimana ?  “aku kuliah di paramadina.” jawab Sulis.
kemudian laki laki itu berucap : Rektor kamu Anies Baswedan bukannya Syiah.?
Belum sempat Sulis melanjutkan kisahnya saya sudah tertawa ngakak.

Habis nyanyi aku langsung pulang, aku milih makan diluar dari pada masih ada 
disitu, Sotoy banget ada orang bicarakan rektor ku tapi ga tau apa - apa.  
Masih muda sok tau  otaknya kosong.  lanjut Sulis sambil terus menggerutu, 
“Sebelumnya aku agak sering mengisi acara di Pesantren itu tapi sejak sianak 
pemilik pesantren  ngomong seenaknya,  aku Illfeel banget, aku ga mau lagi 
ngisi acara dipesantren itu,  lo cari aja orang lain… gue ogah.

 

Pada 30 Desember 2013 13.55, Andri Satria Masri <[email protected]> menulis:
Assalamualaikum sado nan di Palanta R@ntaunet...

Pak MM*** begitu yakin mengecek Anies Baswedan sebagai seorang tokoh JIL 
penerus paham Nurcholis Madjid.
Apakah pak MM*** sudah tahu luar dalam tentang beliau?
Ambo alun berani "manuduah" AB sbg orang JIL walau alah mambaco beberapa carito 
ttg beliau.
Dari penelusuran ambo ttg AB ko ambo cubo lewakan di siko supayo awak ndak 
manuduah tanpa bukti2 yg otentik.


UNIVERSITAS PARAMADINA
(Sumber; 
http://rofiuddarojat.wordpress.com/2012/04/14/paramadina-kampus-liberal-sebuah-tabayun/)
Di pemahaman sebagian umat Islam, terutama yang konservatif dan radikal, kampus 
Paramadina dianggap sebagai kampus ‘nyeleneh’ dan ‘sesat’. Kampus ini sering 
dihubungkan dengan pemikiran Islam Liberal yang diusung Jaringan Islam Liberal, 
dll. Bahkan dulu ketika saya masih di pondok dan mengutarakan ingin mencoba 
beasiswa di Paramadina, hampir satu angkatan geger. Mereka menganggap 
keputusanku pada saat itu adalah keputusan yang tidak masuk akal, bahkan ada 
yang menganggap konyol. Guru (di sana disebutnya ustadz) konseling ku sampai 
mengatakan, “ngapain kamu ke Paramadina? Kaya nggak ada kampus lain aja”. 
Ustadz tahfidz-ku juga berkata, “selama masih ada kampus yang bisa 
menyelamatkan aqidah kita, buat apa ke Paramadina”. Tidak heran, orang yang 
kuliah di Paramadina sampai sekarang masih dianggap melenceng dan nyeleneh.

Anggapan itu tidak mengherankan, karena kampus Paramadina didirikan oleh 
cendekiawan muslim yang kontroversial, Nurcholish Madjid alias Cak Nur. 
Pemikiran Cak Nur, yang terkenal sebagai penganut neo-modernis ala Fazlur 
Rahman, terkenal sebagai Ketua Umum PB HMI dua periode 1966-1969. 
Kontroversinya muncul ketika berpidato dengan judul  ”Keharusan Pembaharuan 
Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” pada tahun 1970. Pada isi pidatonya 
tersebut, Cak Nur mengkritik umat Islam yang terbelakang. Islam di Indonesia 
menurutnya sedang stagnan. Dalam pidato tersebut, dia menyarankan kepada umat 
Islam agar melakukan pembaharuan dengan melakukan empat hal: sekulerisasi, 
kebebasan berpikir, terbuka, dan idea of progress. Pidato tersebut mendapatkan 
banyak kritikan sekaligus makian dari beberapa umat Islam. Setelah 
menyeleseikan studi doktoralnya di Chicago University, Cak Nur membuat lembaga 
keagamaan bernama Yayasan Paramadina bersama beberapa intelektual muda pada 
saat itu yaitu Djohan Effendi, Utomo Dananjaya, Fahmi Idris, Emil Salim, Dawam 
Rahardjo, dll. Di dalam yayasan tersebut, diadakan beberapa kegiatan kajian 
keagamaan seperti Klub Kajian Agama (KKA). Setelah terjadinya reformasi di 
Indonesia pada 1998, Yayasan Paramadina membuat sebuah universitas yang 
diharapkan akan menjadi kampus alternatif di Indonesia. Awalnya kampus ini 
bernama Universitas Paramadina Mulya. Namun saat ini bernama Universitas 
Paramadina saja. Melihat hubungan historis yang begitu kuat, tidak heran bila 
kampus ini dihubung-hubungkan dengan pemikiran “liberal” Cak Nur. Namun apakah 
benar kampus Paramadina dijadikan tempat indoktrinasi gagasan-gagasan 
neo-modernisnya?

Mungkin kata liberal itu sendiri harus dijelaskan terlebih dahulu, apa yang 
dimaksud dengan liberal. Bila ‘liberal’ yang dimaksud adalah makna asli liberal 
itu sendiri yaitu adanya kebebasan berpikir dan berpendapat dalam lingkup 
akademis, saya kira betul Paramadina adalah kampus liberal. Semua paham dari 
yang kiri ekstrem sampai kanan ekstrem ada dan dilindungi kebebasannya di 
Paramadina. Bahkan semua kampus progressif di dunia ini adalah kampus liberal 
dalam arti tersebut. Kampus adalah wadah intelektual dimana segala pendapat dan 
ekspresi harus dijaga, agar gagasan yang bagus tidak terdominasi karena 
berbagai faktor. Tentu saja, sesuai dengan filsafat kebebasan ala J.S Mill, 
kebebasan yang tidak mengganggu kebebasan orang lain.

Di Paramadina, dalam hal gerakan memang terdapat tradisi yang berbeda dengan 
kampus lain. Politik kampus yang terjadi  di kampus-kampus besar, di Paramadina 
cenderung tidak ada. Banyak faktornya, salah satunya adalah ketidakadaan 
pemikiran itu sendiri. Selain itu, kampus Paramadina yang sudah terlanjur dicap 
“liberal” membuat pemikiran-pemikiran yang berbeda sulit masuk kesana. 
Disamping karena biaya ngampus di Paramadina yang tidak kecil, membuat gagasan 
Cak Nur hanya bisa disaingi mayoritasnya oleh anak-anak hedon yang tentu saja 
apatis terdapat pemikiran dan gerakan politik.

Namun perubahan terjadi setelah Anies Baswedan menjadi rektor pada tahun 2007. 
Anies sebagai tokoh muda yang baru saja menyeleseikan doktor di Amerika Serikat 
(AS), membuat banyak perubahan berarti di Paramadina. Salah satunya adalah 
membuka Paramadina Fellowship (PF) yaitu program beasiswa kuliah gratis 
sekaligus tempat tinggal bagi anak kurang mampu. Program yang dimulai pada 
tahun 2008 ini menuai banyak apresiasi positif. Karena selain memberikan 
kesempatan belajar kepada anak kurang mampu, tapi juga menambahkan daya saing 
prestasi mahasiswa Paramadina. Tak heran, karena penerima beasiswa ini melewati 
seleksi yang sangat ketat.

Dampak lainnya adalah infiltrasi pemikiran ke Paramadina. Salah satunya adalah 
pemikiran tarbiyah/PKS dengan didirikannya KAMMI komsat gabungan yang meliputi 
kampus Paramadina, Bidakara, dan Sampoerna. Ketua komisariatnya adalah 
mahasiswa penerima beasiswa PF angkatan 2008 untuk jurusan Teknik Informatika. 
Selain itu, ada juga mahasiswa PF 2009 yang aktif di pengajian Majlis 
Rasulullah. Kajian tentang ekonomi syariah pun tidak ketinggalan. Celana 
ngatung dan jenggot tipis jilbab lebar kini mulai bermunculan di Paramadina 
walaupun tidak dominan. Adanya kelompok-kelompok yang tidak “khas Cak Nur” ini 
tidak mendapat resistensi yang berarti. Kalaupun ada, ini berkaitan dengan 
eksistensi KAMMI secara organisasi dan hanya kurangnya komunikasi antara 
petinggi masing-masing organisasi. Secara umum, Paramadina mulai menerima 
hadirnya pemikiran-pemikiran lain ini.

Selain adanya infiltrasi pemikiran melalui jaringan beasiswa, Paramadina di 
bawah Anies juga mulai mengalihkan marketisasi mereka dengan lebih menonjolkan 
aspek kampus umum dan modern, daripada sebagai kampus Cak Nur. Strategi ini 
tidak mengherankan, karena kampus Paramadina sering disalah pahami sebagai 
kampus liberal ala Cak Nur. Masyarakat Indonesia pun kini mulai mengenal 
Paramadina sebagai kampusnya “Anies Baswedan” daripada kampus “Cak Nur”. Anies 
yang sering tampil di TV, mulai populer di kalangan masyarakat terutama sejak 
meluncurkan Indonesia Mengajar yang diapresiasi banyak pihak.

Jadi apakah kampus Paramadina adalah kampus liberal? Jawabannya tergantung. 
Liberal secara makna aslinya yang memerdekakan manusia, iya. Liberal sebagai 
stereotype dan stigma buruk, tentu saja tidak. Wallahu a’lam.

 
 

Pada 30 Desember 2013 10.29, Muchwardi Muchtar <[email protected]> 
menulis:
 
 
---------- Pesan terusan ----------
Dari: Zulharbi Salim <[email protected]>
Tanggal: 30 Desember 2013 08.59
Subjek: JIL
Kepada: RantauNet <[email protected]>
Cc: Hanifah Damanhuri <[email protected]>


(--)Anis Baswedan etnis Arab salah seorg tokoh JIL. Penerus paham Nurcholis 
Majid..
HZS


(+) Yes...!!!!!!!!!!!!!!!!! 
(Hari ko wanyo masih jadi rektor Univ Paramadina. Dan sacaro sistemik mancetak 
cendiakiawan Islam baru nan bapaham JIL, nan manyatokan bahaso kasado agamo tu 
samo. Samo-samo manyambah ciek kekuatan/kekuasaan nan banamo T-U-H-A-N).

Hati-hati mambali galeh urang (di 9/4/14 nan manuju ka 20/10/14) sabalun tabali 
puteh untuak kadimakan anak cucu awak nantik.

Salam & maaf..............................,
mm***
 
--
.
.
 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.



--
 

Andri Satria Masri, S.E., M.E.
Kasubag Sistim Informasi, Aplikasi dan Persandian
Bagian Pengolahan Data Elektronik Setdakab Padang Pariaman
L/41/Koto/Nagari Sungai Sariak/Kecamatan VII Koto/Kab. Padang Pariaman
 
Hidup Adalah Pengabdian Seumur Hidup Kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan.
My profiles: 
Contact me: [email protected] [email protected]
Get a signature like this. CLICK HERE.  




--
 

<

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke