aaa) Carito nan manariak dan paralu dikenang-kenang kembali untuk tidak
melupakan sejarah masa lalu minangkabau.
bbb) Kalau mau dicontoh baliak indak baa juo, tapi kalau nak bacakak jaan
dikampuang sendiri jadi ancua ranah minantu even sampai kiniko nak bangkiek yo
susah banaa tuu.Contoh Amerika Serikat mambuek ulah dikampuang Saddam Hussein,
itu baru batua.
ccc) Untuk generasi nan akan datang elok kito pikiekan juo Sumatera Barat
(Minangkabau) untuk 25 tahun yad. ataupun 100 tahun sekalipun untuk anak cucu
generasi yad. Apakah kito indak dapaeik mambangkiekkan batang nan tarandam
dimaso H.A. Salim, Moh.Natsir, St.Syahrir, Tan Malaka, Mr.Muh.Yamin dan lainnya?
Salam hormat kami dirantau urang
Aspermato, MA
"Nofend St. Mudo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) }
Selasa, 11 Maret 2008
Oleh : Syafri Segeh, Wartawan Senior Sumatera Barat
LIMA hari kemudian, maka Dewan Perjuangan menolak Keputusan Kabinet Juanda
dengan membentuk Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada
tanggal 15 Februari 1958 dengan Mr Syafruddin Prawiranegara sebagai Perdana
Menterinya, Maludin Simbolon sebagai Menteri Luar Negeri, Mr Burhanuddin
Harahap sebagai Menteri Pertahanan dan Menteri Kehakiman, Dr Sumitro
Joyohadikusimo sebagai Menteri Perhubungan dan Pelayaran, Mohd Syafei sebagai
Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (PP & K) dan Menteri Kesehatan.
JF Warouw sebagai Menteri Perhubungan, S Sarumpait sebagai Menteri Pertanian
dan Perburuan, Mohthar Lintang sebagai Menteri Agama, M Saleh Lahade sebagai
Menteri Penerangan dan A Gani Usman sebagai Menteri Sosial. PRRI kemudian
dilanjutkan dengan pembentukan Pemerintahan Federal atau disebut juga sebagai
Republik Persatuan Indonesia (RPI) yang diproklamirkan di Bonjol pada tanggal 8
Pebruari 1960, Syafruddin Prawiranegara diangkat menjadi Presidennya.
Pembentukan RPI ini membuat perpecahan di kalangan tokoh politisi sipil dengan
tokoh-tokoh militer yang non Islam. Sukarno kembali ke Jakarta dari kunjungan
istirahatnya di luar negeri pada tanggal 16 Pebruari 1958, sehari sesudah
Proklamasi PRRI.
Sukarno menegaskan, "Kita harus menghadapi penyelengara pada tanggal 15
Februari 1958 di Padang itu dengan tegas dan dengan segala kekuatan yang ada
pada kita." Pada dasarnya Sukarno menyokong rencana Juanda dan Nasution untuk
menggunakan kekerasan senjata. Kemudian Kabinet Juanda juga mengeluarkan
perintah untuk menangkap Mr Syafruddin Prawiranegara, Mr Burhanuddin Harahap
dan Dr Sumitro Joyohadikusomo. Situasi semakin panas, di Padang dan daerah lain
di Sumatera Barat digiatkan latihan-latihan militer terutama sekali terhadap
mahasiswa dan pelajar. Di mana-mana kelihatan orang berbaju hijau dan memanggul
senjata.
Senjata-senjata bantuan Amerika Serikat pun berhamburan jatuh dari pesawat
terbang pada beberapa tempat di Padang dan Bukittinggi pada malam hari. Tidak
hanya dengan pesawat terbang Amerika mengirimkan senjata, tetapi juga dengan
kapal-kapal selam. Menurut Dean Almy, Wakil CIA di Konsulat Amerika Serikat di
Medan, "kami juga mempunyai kapal-kapal selam di lepas pantai dekat Padang yang
menurunkan senjata-senjata dan amunisi pada malam hari." Pemerintah Pusat
melakukan pemboman-pemboman untuk melumpuhkan kekuatan PRRI terhadap jumlah
sasaran di Bukittinggi, Padang dan Painan. Menjelang pendaratan di Pantai
Padang, dilakukan pula penembakan-penembakan meriam dari kapal-kapal perang
yang sudah berada di hadapan pantai Padang.
Pada tanggal 17 April 1958, sekitar dua bulan setelah Proklamasi PRRI ,
Pemerintah Pusat mulai mendaratkan pasukannya di pantai merah, 9 km di utara
Kota Padang, tepatnya di pantai Parupuk Tabing di bawah Komando Kol Ahmad Yani
dengan sandi "Operasi 17 Agustus". Sandi operasi pusat ini kemudian menjadi
nama Komando Daerah Militer (KODAM) untuk daerah Sumatera Barat dan Riau.Kodam
III/17 Agustus itu berpusat di Padang. Pasukan Gaerak Cepat (PGT) Auri
diterjunkan dari pesawat udara di lapangan Udara Tabing. Kemudian mereka
bergerak menuju pusat kota dan pada sore itu juga kota Padang jatuh ke tangan
tentara pusat tanpa perlawanan. Tentara Pusat terus mendesak pasukan PRRI yang
mengambil taktik terus menerus mundur dari kota-kota dan bertahan di daerah
pegunungan dan perkampungan-perkampungan yang tidak akan dapat dijamah oleh
tentara Pusat.
Pada umumnya pasukan PRRI kembali mejajaki daerah-daerah yang dahulu di Zaman
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) seperti Sangir dan Bidar Alam.
Melihat pasukan PRRI yang makin terdesak itu oleh pasukan tentara pusat, maka
Amerika Serikat kembali berpaling kepada pemerintah Jakarta, mendekati Jenderal
Nasution. Perang saudara terjadi di mana-mana. Masyarakat di kampung-kampung
tertekan bathinnya, sehingga akhirnya terjadilah eksodus perantauan
besar-besaran meninggalkan kampung halamannya. Sementara operasi tentara pusat
berjalan menekan pasukan PRRI, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal
Nasution melancarkan pula "Operasi Pemanggilan Kembali" para pemberontak pada
akhir tahun 1960 agar perwira yang memberontak kembali kepangkuan Ibu Pertiwi.
Nasution mengirim utusan-utusan untuk berunding dengan pemberontak di Sumatera,
Sulawesi dan di Singapura.
Daerah yang pertama menyambut baik kebijaksaan Nasution itu adalah
tokoh-tokoh militer di Sulawesi pimpinan Kawilarang dan kemudian secara resmi
menghentikan perlawanan pada bulan April 1961. Syafruddin dan Natsir mengadakan
pertemuan Kabinet RPI-nya pada awal tahun 1961 dan memutuskan untuk menunjuk
Simbolon untuk berunding dengan Pemerintah Pusat. Simbolon melihat terbukanya
kesempatan baik apabila tokoh-tokoh militer berpisah dari politisi sipil dan
berunding untuk dirinya sendiri dengan tentara Pemerintah Pusat. Maka, pada
bulan April 1961 Simbolon dan Ahmad Husein memishakan diri dan melepaskan diri
dari nama RPI dan kemudian mendirikan Pemerintah Darurat Militer di bawah
pimpinan Ahmad Husein.
Tanggal 21 Juni 1961 Ahmad Husein beserta kawan-kawan militernya dan tokoh
tokoh politisi sipil lainnya di Sumatera Tengah kembali kepangkuan ibu pertiwi
di Solok dengan sekitar 600 orang anggota pasukannya. Sebulan kemudian yaitu
sekitar bulan Juli 1961 baru Syafruddin mengirim utusan kepada Jenderal
Nasution untuk membicarakan syarat-syarat penyerahan kembali kepangkuan ibu
Pertiwi itu dan sesudah diadakan pertukaran surat menyurat,maka Syafruddin
mengeluarkan pengumuman melalui radio pada tanggal 17Agustus 1961 yang
menyerukan kepada seluruh pasukan RPI supaya menghentikan perlawanan.
Pada hari yang sama dengan pengumuman Syafruddin itu yaitu pada tanggal 17
Agustus 1961 Presiden Sukarno mengumumkan pula "Amnesti Umum" (Pengampunan
umum) kepada seluruh pemberontak yang menyerah tanpa syarat sampai tanggal 5
Oktober 1961 serta bersumpah setiap kepada konstitusi, negara dan Panglima
Besar Revolusi yaitu Sukarno. Hari berikutnya Zulkifli Lubis menyerah dan
seminggu kemudian Syafruddin, Assaat dan Burhanuddin Harahap bersama dengan
pemimpin sipil lainnya melapor kepada penguasa militer pemerintah dekat Padang
Sidempuan di Selatan Tapanuli yang dikuasai oleh Divisi Siliwangi dari Jawa
Barat. Syafruddin juga menyerahkan asset PRRI yang masih ada sebanyak 29 kg
emas batang kepada Nasution untuk diserahkan kepada Juanda. Itulah akhir yang
tragis dari PRRI. (***)
http://www.padangekspres.co.id/content/view/339/61/
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.518 / Virus Database: 269.21.7/1322 - Release Date: 09/03/2008
12:17
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---