Sanak palanta yang ambo hormati : Kisah PRRI yang ditulis Syafri Segeh wartawan senior Sumbar yang diforward kepalanta rantaunet sangat menarik untuk disimak , karena banyak memberikan informasi - informasi tambahann seputar peristira PRRI th 1958/1961. Namun demikian saya melihat masih ada beberapa hal yang masih samar dan belum terungkap sama sekali , istilah Mak Ngah masih "takalimbun" seperti antara lain :
1. Peranan OPR yang dibentuk oleh penguasa militer dari unsur unsur PKI yang telah bersimarajalela dan meresahkan rakyat . Banyak hal-hal tercela yang dilakukan para OPR ini seperti perampasan harta rakyat , pemerkosaan , pencurian binatang ternak . Saya punya pengalaman pahit dengan tingkah OPR ini , Setelah masa panen tiba maka oknum OPR akan mendatangi rumah - rumah penduduk dan manaksir berapa hasil panen yang didapatkan . Setelah itu 20 % harus diserahkan ke aparat desa/nagari sebagai upeti . Sampai kini mantan - mantan OPR yang masih tersisa akibat pengganyangan Peristiwa G30S banyak yang tidak berani lagi tinggal dikampung . 2.Satu hal lagi adalah sewaktu Kolonel Dahlan Jambek kembali ke pangkuan ibu pertiwi dan menyerahkan diri kepada pihak berwajib didaerah Tapanuli Selatan mengikuti seruan pemerintah pusat telah "disukabumikan" oleh penyusup PKI dalam wadah militer juga tidak disinggung seolah olah kejadian tersebut hilang begitu saja . Sejatinya orang yang sudah menyerah tidak boleh ditembak dan harus diperlakukan dengan baik . Wassalam : zul amry piliang ( 60 th 6 bln ) --- In [EMAIL PROTECTED], "Nofend St. Mudo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Selasa, 11 Maret 2008 > > > Oleh : Syafri Segeh, Wartawan Senior Sumatera Barat > > > Pada hari yang sama dengan pengumuman Syafruddin itu yaitu pada tanggal 17 > Agustus 1961 Presiden Sukarno mengumumkan pula "Amnesti Umum" (Pengampunan > umum) kepada seluruh pemberontak yang menyerah tanpa syarat sampai tanggal 5 > Oktober 1961 serta bersumpah setiap kepada konstitusi, negara dan Panglima > Besar Revolusi yaitu Sukarno. Hari berikutnya Zulkifli Lubis menyerah dan > seminggu kemudian Syafruddin, Assaat dan Burhanuddin Harahap bersama dengan > pemimpin sipil lainnya melapor kepada penguasa militer pemerintah dekat > Padang Sidempuan di Selatan Tapanuli yang dikuasai oleh Divisi Siliwangi > dari Jawa Barat. Syafruddin juga menyerahkan asset PRRI yang masih ada > sebanyak 29 kg emas batang kepada Nasution untuk diserahkan kepada Juanda. > Itulah akhir yang tragis dari PRRI. (***) > > > > http://www.padangekspres.co.id/content/view/339/61/ > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tuliskan Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian yg tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Agar dapat melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
