Wa'alaikumsalam Wr. Wb. Uni Ifah n.a.h.

Dek karano ado pesan:  "mohon dikoreksi tulisan uni ya", ambo cubo tunaikan
amanah ko.
Tulisan uni nan asli di bawah ado kato atau frasa/kalimat nan ambo buek
jadi biru taba dan nomor untuak diberi catatan.
Iko masukan dari ambo:

1.* Tentang "pendidikan setara Master".*

Ambo alun menemukan data bahwa pendidikan Pak Sjaf adalah "setara Master"
(atau Magister/S2). Gelar pendidikan resmi Pak Sjaf adolah *Mr. *nan
merupakan singkatan dari bahasa Belanda *Meester in de Rechten*, atau
sarjana hukum dalam bahasa Indonesia. Panggilan singkat untuk orang yang
mempunyai gelar itu adalah "Meester" seperti mengucapkan "Mister" dalam
bahasa Inggris.

Tetapi justru ini juga kelebihan Pak Sjaf, karena meski beliau seorang
sarjana hukum, dan memulai karir profesional sebagai jaksa di Kediri, namun
kemudian Bung Karno (dan Bung Hatta) mempercayai pos-pos ekonomi untuk
dijabat oleh Pak Sjaf, seperti Menteri Kemakmuran, Menteri Keuangan, dan
Gubernur (terakhir) De Javasche Bank yang kemudian berubah menjadi Gubernur
Bank Indonesia (dengan Pak Sjaf sebagai Gub BI pertama).

2. *Tentang NKRI*

Pada saat Agresi Militer II (1948) terjadi, sekaligus awal PDRI, konsep
"NKRI" bukanlah kata yang lazim diucapkan saat itu. Yang selalu disebut
hanya "Republik" atau "Republik Indonesia", meski UUD 1945 sudah
menyebutkan bentuk negara adalah negara kesatuan.

Konsep "NKRI" baru ramai disebut setelah Mosi Integral M. Natsir (1950)
melihat potensi perpecahan negara baru ini (sebelumnya pernah ada Negara
Federal/BFO Van Mook dan Republik Indonesia Serikat/RIS).

3. *Tentang Perundingan Roem-Roijen*

Pak Sjaf (dan kubu PDRI)* tak pernah terlibat* dalam perundingan
Roem-Roijen. Justru hal inilah yang memicu pertentangan sengit antara kubu
PDRI dengan para politisi yang ditahan Belanda di Bangka (Bung Karno, Bung
Hatta, dll) yang disebut "Tracee Bangka". Kelompok Bangka.

Ketika datang tawaran perundingan dari Belanda yang disampaikan Mr. Van
Roijen, kubu PDRI merasa mereka yang akan dipercaya Bung Karno untuk maju
ke meja perundingan sebagai konsekuensi dari telah diberikannya mandat
kepada Pak Sjaf oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Jadi betapa kecewa,
sekaligus marahnya kubu PDRI, ketika wakil Republik di perundingan saat itu
justru dipercayakan kepada Mr. Mohammad Roem, yang menunjukkan BK/BH hanya
"setengah hati" mempercayakan pengelolaan pemerintahan kepada PDRI.

Belum lagi asas ketidaksetaraan yang muncul dari perundingan, karena
Belanda (melalui Van Roijen) berunding dengan pihak yang mereka tawan
(melalui penunjukan BK/BH kepada Mr. Roem). Dalam logika PDRI, tidak
mungkin akan muncul hasil yang adil dari "perundingan boneka" seperti itu.

Dan bukan hanya kubu PDRI (di Sumatra) yang marah dengan skenario
 perjanjian Roem-Roijen itu, melainkan juga Panglima Besar Sudirman yang
sedang bergerilya di Jawa. Sudirman mengirimkan surat kritik sang keras
kepada Bung Karno, dengan tembusan kepada Pak Sjaf.
Naskah asli surat itu ada di Arsip Nasional, Jakarta, dan ambo kutip untuk
novel ambo *Presiden Prawiranegara *(hal. 329-330) sbb:

---
... Minta keterangan apakah orang-orang yang masih ditahan (dalam tawanan)
atau dalam pengawasan Belanda berhak berunding? Lebih-lebih menentukan
sesuatu yang berhubungan dengan politik untuk menentukan status negara
kita, sedangkan telah ada Pemerintah Pusat Darurat yang diresmikan sendiri
oleh Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno ke seluruh dunia pada 19/12/1948.
    Sejak tanggal tersebut kekuasaan pimpinan negara telah diserahkan pada
Pemerintah Pusat Darurat yang dipimpin oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara.
Semoga Pemerintah Pusat Darurat tetap mendapat perlindungan Tuhan, sehingga
senantiasa tegak teguh dan tetap dalam pendiriannya. Amin.

Panglima Besar APRI
Letnan Jenderal Sudirman
-----

Ketidakpercayaan BK/BH untuk memercayakan juru runding dari pihak Republik
kepada Pak Sjaf/Kubu PDRI ini yang membuat seluruh pendukung PDRI marah
besar, sehingga Bung Hatta mengutus Pak Natsir, sahabat Pak Sjaf, untuk
melunakkan sikap PDRI. Selain Pak Natsir, utusan dari pihak "Tracee Bangka"
yang ikut adalah Dr. Leimena dan Dr. Abdul Halim. Tapi sikap kubu PDRI tak
melemah sedikit pun, kecuali, dan hanya kecuali -- di sinilah terlihat
kebesaran jiwa Pak Sjaf -- saat mengajak seluruh pendukung dan anggota
kabinet PDRI untuk berpikir lebih tenang, setelah perundingan yang alot dan
berujung jalan buntu di depan mata.

Inti pendapat Pak Sjaf kepada seluruh anggota PDRI yang hadir, "meski
secara *de jure *dan *de facto* saat ini kita yang memegang pemerintahan,
namun di tingkat internasional tetap nama Bung Karno-Bung Hatta yang
dikenal dunia. Kalau kita terus berbeda pendapat yang memunculkan dua
kepemimpinan nasional, maka selain membuat rakyat bingung juga selalu
menguntungkan Belanda karena itu yang terjadi di sepanjang sejarah."

Singkat cerita, pertemuan dramatis di Koto Kaciek, Guguk Panjang (sekitar 3
km dari Padangjopang), pada 6 Juli 1949 itu menghasilkan keputusan penting,
"PDRI tetap tak mengakui hasil perundingan Roem-Roijen, tapi bersedia
mengembalikan kepemimpinan nasional kepada Bung Karno dan Bung Hatta demi
kemaslahatan negara yang lebih besar."

Menurut catatan sejarah berdasarkan penuturan para saksi mata, Pak Natsir
sampai menangis dan memeluk erat Pak Sjaf atas sikap kenegarawan beliau
yang luar biasa. Sebab di awal perundingan, Pak Natsir pun tercatat
mengatakan bahwa sebetulnya beliau setuju dengan cara pandang kubu PDRI,
bahwa seharusnya Pak Sjaf, atau wakil yang ditunjuk Pak Sjaf mewakili PDRI
lah, yang berhak mewakili Indonesia dalam perundingan Roem-Roijen itu.

Kalau menurut pembacaan pribadi ambo, iko sebuah "reasonable doubt"
(takok-takok yang berdasarkan kondisi paling realistis saat itu), besar
kemungkinan sekiranya Bung Karno dan Bung Hatta memercayakan PDRI yang maju
menghadapi Van Roijen, maka yang akan menjadi juru runding utama adolah
satu di antara dua kemungkinan ini, yaitu:
1. Mr. Sjafruddin sendiri, tersebab selain sebagai Ketua PDRI beliau juga
menjabat sebagai Menteri Luar Negeri ad interim, atau
2. Mr. T. Muhammad Hasan, Wakil Ketua PDRI, yang juga alumnus Leiden dan
salah seorang kawan akrab Bung Hatta karena sama-sama aktivis Perhimpunan
Indonesia saat keduanya belajar di Belanda.

Kalau itu yang terjadi, maka nama perundingan akan menjadi
"Prawinegara-Roijen" atau "Hasan-Roijen", bukan "Roem-Roijen". Dan proses
perundingan pun akan lebih alot karena kubu PDRI tak akan rela melihat
butir-butir usulan Van Roijen yang sangat menguntungkan Belanda dan
merugikan Republik. (Ini yang dikhawatirkan Pangsar Sudirman, karena Mr.
Roem mewakili "tahanan", maka secara psikologis sudah "jatuh mental" untuk
tawar menawar dengan lebih gigih, dibanding jika dilakukan oleh PDRI).

4. *Tentang sebutan "Presiden PDRI"*

Sebutan itu tak dikenal dalam sejarah, karena status resmi Pak Sjaf adalah
Ketua PDRI.
Kenapa "Ketua" bukan "Presiden" padahal di dalam PDRI ada, sedikitnya, dua
sarjana hukum ulung seperti Pak Sjaf sendiri dan Mr. T.M. Hasan?

Tak lain karena radiogram pemberian mandat mendirikan PDRI dari Bung Karno
dan Bung Hatta itu *tak pernah sampa*i ke tangan mereka berdua, karena
kurir yang disuruh mengirim ke kantor pos dan telegram (PTT) di Jogja,
menemukan kantor PTT sudah diduduki pasukan Belanda (akibat Bung Karno
menggelar rapat kabinet dadakan lebih dulu, sehingga kalah cepat dalam
menguasai kantor strategis).

Tanpa memegang mandat resmi, Pak Sjaf dan Mr. TM Hasan tahu bahwa jika
menggunakan istilah "Presiden PDRI" (juga "Wakil Presiden PDRI") kelak di
kemudian hari bisa menjadi masalah hukum SEANDAINYA mandat tak pernah ada,
karena berarti mereka melakukan kudeta kepemimpinan nasional. Jadi, ini
adalah sikap yang sangat hati-hati, taat hukum, meski di tengah
ketidakpastian situasi waktu itu. Status "Ketua PDRI" itu sekaligus
menunjukkan bahwa Pak Sjaf bahkan sejak awal sekali tak punya ambisi untuk
menjadi "Presiden".

Demikian Uni Ifah, beberapa masukan ambo berdasarkan amanah dari Uni agar
"mohon dikoreksi tulisan uni ya".

Semoga berkenan.

Wass,

ANB
45, Cibubur


* * *

Pada 30 Januari 2014 08.56, Hanifah Damanhuri <[email protected]> menulis:

>
> Assalammualaikum Wr Wr Mak Kusia dan Dunsanak Sapalanta Yth
>
> Penasaran uni, dapek uni ciek tulisan
>
> Lalu uni tulih pulo tulisan suko-suko uni
> Mohon dikoreksi tulisan uni ya
>
>
> *Mr. **Syafruddin Prawiranegara*
>
> *http://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara
> <http://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara>*
>
>
> * <http://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara>*
>
> *"Saya ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita tidak
> perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah".*
>
> Bergetar jiwaku membaca kalimat penutup ditulisan itu
> Subhanallah
>
> Alhamdulillah
>
> Lailla haillallah
>
> Allahu Akbar
>
> Berpendidikan sangat tinggi setara Master (1) kala itu
>
> Menggambarkan kecerdasan dan kebangsawanan beliau
>
> Tampan terlihat di foto
>
> Berjiwa patriot
>
> Menjadikannya dipercaya memegang amanah
>
> Berbagai jabatan diembannya
>
>
>
> Pada saat genting
>
> Tatkala Presiden dan Wakil Presiden ditangkap Belanda
> Mr. Syafruddin Prawiranegara mendapat mandat untuk menyelamatkan NKRI (2)
>
> Beliau yang sedang berada di Bukittinggi saat agresi Belanda
>
> Memilih tetap di Bukittinggi untuk menjalankan pemerintahan
>
> Kepiawaiannya dan kecerdasannya
>
> Mampu mengajak Belanda untuk berunding
> Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda (3)
>
>
>
> Sebagai kesatria sejati
> Kelihatan Mr. Syafruddin Prawiranegara
>
> Tidak serakah dan sangat memegang amanah
>
> Mandat sebagai Presiden PDRI (4)
>
> Dikembalikan kepada yang memberi mandat
>
> Menggambarkan beliau pengikut ajaran Rasullullah Muhammad SAW
>
>
>
> Pengaruh paham komunis yang melanda Indonesia
>
> Ketimpangan pembangunan di pusat dan di daerah
>
> Menjadi pemicu munculnya pergolakan di NKRI
>
>
>
> Soekarno yang berubah haluan
>
> Hatta muslim yang taat lengser ke prabon
>
> Tentu saja membuat risau  Mr. Syafruddin Prawiranegara
>
> Sebagai orang yang pernah menyelamatkan NKRI
>
> Tidak mungkin beliau tinggal diam disituasi kacau begitu
>
> Belanda bisa dia kalahkan apalagi Soekarno
>
>
>
> Panggilan jihad
>
> Bersama-sama orang yang berjihad
>
> Dengan memanfaatkan jejaring yang pernah dimiliki sebagai Presiden PDRI
>
> Mr. Syafruddin Prawiranegara menjadi pemimpin pergolakan PRRI
>
> Kehebatan Mr. Syafruddin Prawiranegara yang diakui oleh Soekarno
>
> Dibalas dengan serangan tanpa ampun
>
> Perang telah membuat kawan jadi lawan
> Banyak korban berjatuhan
>
>
>
> Beruntunglah para korban yang jihad
>
> Arwahnya ditempatkan di tempat yang mulia
>
> Mungkin sekarang mereka tersenyum di alam sana
>
> Walaupun jasadnya mungkin ditangisi oleh orang yang ditinggalkannya
>
> Yang tak ikhlas akan kepergiannya disiksa tentara
>
>
>
> Mr. Syafruddin Prawiranegara
> Telah dinobatkan jadi Pahlawan NKRI
>
> Atas jasa-jasanya yang berhasil memegang amanat
>
> Alhamdulillah
>
>
>
>
>
> Padang, 30 Januari 2014
>
>
>
> Hanifah Damanhuri
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke