Bagus Bung Akmal, saya cari buku " Presiden Prawiranegara " di TB Gramedia 
Surabaya, habis.

Wassalam,
SB, 77, Sby. 

Sent from my iPad

> On 30 Jan 2014, at 10.56, Akmal Nasery Basral <[email protected]> wrote:
> 
> 
> Wa'alaikumsalam Wr. Wb. Uni Ifah n.a.h.
> 
> Dek karano ado pesan:  "mohon dikoreksi tulisan uni ya", ambo cubo tunaikan 
> amanah ko.
> Tulisan uni nan asli di bawah ado kato atau frasa/kalimat nan ambo buek jadi 
> biru taba dan nomor untuak diberi catatan.
> Iko masukan dari ambo:
> 
> 1. Tentang "pendidikan setara Master".
> 
> Ambo alun menemukan data bahwa pendidikan Pak Sjaf adalah "setara Master" 
> (atau Magister/S2). Gelar pendidikan resmi Pak Sjaf adolah Mr. nan merupakan 
> singkatan dari bahasa Belanda Meester in de Rechten, atau sarjana hukum dalam 
> bahasa Indonesia. Panggilan singkat untuk orang yang mempunyai gelar itu 
> adalah "Meester" seperti mengucapkan "Mister" dalam bahasa Inggris. 
> 
> Tetapi justru ini juga kelebihan Pak Sjaf, karena meski beliau seorang 
> sarjana hukum, dan memulai karir profesional sebagai jaksa di Kediri, namun 
> kemudian Bung Karno (dan Bung Hatta) mempercayai pos-pos ekonomi untuk 
> dijabat oleh Pak Sjaf, seperti Menteri Kemakmuran, Menteri Keuangan, dan 
> Gubernur (terakhir) De Javasche Bank yang kemudian berubah menjadi Gubernur 
> Bank Indonesia (dengan Pak Sjaf sebagai Gub BI pertama). 
> 
> 2. Tentang NKRI
> 
> Pada saat Agresi Militer II (1948) terjadi, sekaligus awal PDRI, konsep 
> "NKRI" bukanlah kata yang lazim diucapkan saat itu. Yang selalu disebut hanya 
> "Republik" atau "Republik Indonesia", meski UUD 1945 sudah menyebutkan bentuk 
> negara adalah negara kesatuan. 
> 
> Konsep "NKRI" baru ramai disebut setelah Mosi Integral M. Natsir (1950) 
> melihat potensi perpecahan negara baru ini (sebelumnya pernah ada Negara 
> Federal/BFO Van Mook dan Republik Indonesia Serikat/RIS). 
> 
> 3. Tentang Perundingan Roem-Roijen
> 
> Pak Sjaf (dan kubu PDRI) tak pernah terlibat dalam perundingan Roem-Roijen. 
> Justru hal inilah yang memicu pertentangan sengit antara kubu PDRI dengan 
> para politisi yang ditahan Belanda di Bangka (Bung Karno, Bung Hatta, dll) 
> yang disebut "Tracee Bangka". Kelompok Bangka. 
> 
> Ketika datang tawaran perundingan dari Belanda yang disampaikan Mr. Van 
> Roijen, kubu PDRI merasa mereka yang akan dipercaya Bung Karno untuk maju ke 
> meja perundingan sebagai konsekuensi dari telah diberikannya mandat kepada 
> Pak Sjaf oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Jadi betapa kecewa, sekaligus 
> marahnya kubu PDRI, ketika wakil Republik di perundingan saat itu justru 
> dipercayakan kepada Mr. Mohammad Roem, yang menunjukkan BK/BH hanya "setengah 
> hati" mempercayakan pengelolaan pemerintahan kepada PDRI.
> 
> Belum lagi asas ketidaksetaraan yang muncul dari perundingan, karena Belanda 
> (melalui Van Roijen) berunding dengan pihak yang mereka tawan (melalui 
> penunjukan BK/BH kepada Mr. Roem). Dalam logika PDRI, tidak mungkin akan 
> muncul hasil yang adil dari "perundingan boneka" seperti itu. 
> 
> Dan bukan hanya kubu PDRI (di Sumatra) yang marah dengan skenario  perjanjian 
> Roem-Roijen itu, melainkan juga Panglima Besar Sudirman yang sedang 
> bergerilya di Jawa. Sudirman mengirimkan surat kritik sang keras kepada Bung 
> Karno, dengan tembusan kepada Pak Sjaf. 
> Naskah asli surat itu ada di Arsip Nasional, Jakarta, dan ambo kutip untuk 
> novel ambo Presiden Prawiranegara (hal. 329-330) sbb:
> 
> ---
> ... Minta keterangan apakah orang-orang yang masih ditahan (dalam tawanan) 
> atau dalam pengawasan Belanda berhak berunding? Lebih-lebih menentukan 
> sesuatu yang berhubungan dengan politik untuk menentukan status negara kita, 
> sedangkan telah ada Pemerintah Pusat Darurat yang diresmikan sendiri oleh 
> Paduka Yang Mulia Presiden Soekarno ke seluruh dunia pada 19/12/1948.
>     Sejak tanggal tersebut kekuasaan pimpinan negara telah diserahkan pada 
> Pemerintah Pusat Darurat yang dipimpin oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara. 
> Semoga Pemerintah Pusat Darurat tetap mendapat perlindungan Tuhan, sehingga 
> senantiasa tegak teguh dan tetap dalam pendiriannya. Amin. 
> 
> Panglima Besar APRI
> Letnan Jenderal Sudirman
> -----
> 
> Ketidakpercayaan BK/BH untuk memercayakan juru runding dari pihak Republik 
> kepada Pak Sjaf/Kubu PDRI ini yang membuat seluruh pendukung PDRI marah 
> besar, sehingga Bung Hatta mengutus Pak Natsir, sahabat Pak Sjaf, untuk 
> melunakkan sikap PDRI. Selain Pak Natsir, utusan dari pihak "Tracee Bangka" 
> yang ikut adalah Dr. Leimena dan Dr. Abdul Halim. Tapi sikap kubu PDRI tak 
> melemah sedikit pun, kecuali, dan hanya kecuali -- di sinilah terlihat 
> kebesaran jiwa Pak Sjaf -- saat mengajak seluruh pendukung dan anggota 
> kabinet PDRI untuk berpikir lebih tenang, setelah perundingan yang alot dan 
> berujung jalan buntu di depan mata. 
> 
> Inti pendapat Pak Sjaf kepada seluruh anggota PDRI yang hadir, "meski secara 
> de jure dan de facto saat ini kita yang memegang pemerintahan, namun di 
> tingkat internasional tetap nama Bung Karno-Bung Hatta yang dikenal dunia. 
> Kalau kita terus berbeda pendapat yang memunculkan dua kepemimpinan nasional, 
> maka selain membuat rakyat bingung juga selalu menguntungkan Belanda karena 
> itu yang terjadi di sepanjang sejarah."
> 
> Singkat cerita, pertemuan dramatis di Koto Kaciek, Guguk Panjang (sekitar 3 
> km dari Padangjopang), pada 6 Juli 1949 itu menghasilkan keputusan penting, 
> "PDRI tetap tak mengakui hasil perundingan Roem-Roijen, tapi bersedia 
> mengembalikan kepemimpinan nasional kepada Bung Karno dan Bung Hatta demi 
> kemaslahatan negara yang lebih besar."
> 
> Menurut catatan sejarah berdasarkan penuturan para saksi mata, Pak Natsir 
> sampai menangis dan memeluk erat Pak Sjaf atas sikap kenegarawan beliau yang 
> luar biasa. Sebab di awal perundingan, Pak Natsir pun tercatat mengatakan 
> bahwa sebetulnya beliau setuju dengan cara pandang kubu PDRI, bahwa 
> seharusnya Pak Sjaf, atau wakil yang ditunjuk Pak Sjaf mewakili PDRI lah, 
> yang berhak mewakili Indonesia dalam perundingan Roem-Roijen itu.
> 
> Kalau menurut pembacaan pribadi ambo, iko sebuah "reasonable doubt" 
> (takok-takok yang berdasarkan kondisi paling realistis saat itu), besar 
> kemungkinan sekiranya Bung Karno dan Bung Hatta memercayakan PDRI yang maju 
> menghadapi Van Roijen, maka yang akan menjadi juru runding utama adolah satu 
> di antara dua kemungkinan ini, yaitu:
> 1. Mr. Sjafruddin sendiri, tersebab selain sebagai Ketua PDRI beliau juga 
> menjabat sebagai Menteri Luar Negeri ad interim, atau
> 2. Mr. T. Muhammad Hasan, Wakil Ketua PDRI, yang juga alumnus Leiden dan 
> salah seorang kawan akrab Bung Hatta karena sama-sama aktivis Perhimpunan 
> Indonesia saat keduanya belajar di Belanda. 
> 
> Kalau itu yang terjadi, maka nama perundingan akan menjadi 
> "Prawinegara-Roijen" atau "Hasan-Roijen", bukan "Roem-Roijen". Dan proses 
> perundingan pun akan lebih alot karena kubu PDRI tak akan rela melihat 
> butir-butir usulan Van Roijen yang sangat menguntungkan Belanda dan merugikan 
> Republik. (Ini yang dikhawatirkan Pangsar Sudirman, karena Mr. Roem mewakili 
> "tahanan", maka secara psikologis sudah "jatuh mental" untuk tawar menawar 
> dengan lebih gigih, dibanding jika dilakukan oleh PDRI). 
> 
> 4. Tentang sebutan "Presiden PDRI"
> 
> Sebutan itu tak dikenal dalam sejarah, karena status resmi Pak Sjaf adalah 
> Ketua PDRI.
> Kenapa "Ketua" bukan "Presiden" padahal di dalam PDRI ada, sedikitnya, dua 
> sarjana hukum ulung seperti Pak Sjaf sendiri dan Mr. T.M. Hasan?
> 
> Tak lain karena radiogram pemberian mandat mendirikan PDRI dari Bung Karno 
> dan Bung Hatta itu tak pernah sampai ke tangan mereka berdua, karena kurir 
> yang disuruh mengirim ke kantor pos dan telegram (PTT) di Jogja, menemukan 
> kantor PTT sudah diduduki pasukan Belanda (akibat Bung Karno menggelar rapat 
> kabinet dadakan lebih dulu, sehingga kalah cepat dalam menguasai kantor 
> strategis). 
> 
> Tanpa memegang mandat resmi, Pak Sjaf dan Mr. TM Hasan tahu bahwa jika 
> menggunakan istilah "Presiden PDRI" (juga "Wakil Presiden PDRI") kelak di 
> kemudian hari bisa menjadi masalah hukum SEANDAINYA mandat tak pernah ada, 
> karena berarti mereka melakukan kudeta kepemimpinan nasional. Jadi, ini 
> adalah sikap yang sangat hati-hati, taat hukum, meski di tengah 
> ketidakpastian situasi waktu itu. Status "Ketua PDRI" itu sekaligus 
> menunjukkan bahwa Pak Sjaf bahkan sejak awal sekali tak punya ambisi untuk 
> menjadi "Presiden".
> 
> Demikian Uni Ifah, beberapa masukan ambo berdasarkan amanah dari Uni agar 
> "mohon dikoreksi tulisan uni ya".
> 
> Semoga berkenan.
> 
> Wass,
> 
> ANB
> 45, Cibubur
> 
> 
> * * *
> 
> Pada 30 Januari 2014 08.56, Hanifah Damanhuri <[email protected]> menulis:
>> 
>> Assalammualaikum Wr Wr Mak Kusia dan Dunsanak Sapalanta Yth
>> 
>> Penasaran uni, dapek uni ciek tulisan
>> 
>> Lalu uni tulih pulo tulisan suko-suko uni
>> 
>> Mohon dikoreksi tulisan uni ya
>> 
>> 
>> 
>> Mr. Syafruddin Prawiranegara
>> 
>> http://id.wikipedia.org/wiki/Syafruddin_Prawiranegara
>> 
>> 
>> 
>> "Saya ingin mati di dalam Islam. Dan ingin menyadarkan, bahwa kita tidak 
>> perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah".
>> 
>> Bergetar jiwaku membaca kalimat penutup ditulisan itu
>> Subhanallah
>> 
>> Alhamdulillah
>> 
>> Lailla haillallah
>> 
>> Allahu Akbar
>> 
>> Berpendidikan sangat tinggi setara Master (1) kala itu
>> 
>> Menggambarkan kecerdasan dan kebangsawanan beliau
>> 
>> Tampan terlihat di foto
>> 
>> Berjiwa patriot
>> 
>> Menjadikannya dipercaya memegang amanah
>> 
>> Berbagai jabatan diembannya
>> 
>>  
>> 
>> Pada saat genting
>> 
>> Tatkala Presiden dan Wakil Presiden ditangkap Belanda 
>> Mr. Syafruddin Prawiranegara mendapat mandat untuk menyelamatkan NKRI (2)
>> 
>> Beliau yang sedang berada di Bukittinggi saat agresi Belanda
>> 
>> Memilih tetap di Bukittinggi untuk menjalankan pemerintahan
>> 
>> Kepiawaiannya dan kecerdasannya
>> 
>> Mampu mengajak Belanda untuk berunding
>> Perjanjian Roem-Royen mengakhiri upaya Belanda (3)
>> 
>>  
>> 
>> Sebagai kesatria sejati
>> Kelihatan Mr. Syafruddin Prawiranegara
>> 
>> Tidak serakah dan sangat memegang amanah
>> 
>> Mandat sebagai Presiden PDRI (4)
>> 
>> Dikembalikan kepada yang memberi mandat
>> 
>> Menggambarkan beliau pengikut ajaran Rasullullah Muhammad SAW
>> 
>>  
>> 
>> Pengaruh paham komunis yang melanda Indonesia
>> 
>> Ketimpangan pembangunan di pusat dan di daerah
>> 
>> Menjadi pemicu munculnya pergolakan di NKRI
>> 
>>  
>> 
>> Soekarno yang berubah haluan
>> 
>> Hatta muslim yang taat lengser ke prabon
>> 
>> Tentu saja membuat risau  Mr. Syafruddin Prawiranegara
>> 
>> Sebagai orang yang pernah menyelamatkan NKRI
>> 
>> Tidak mungkin beliau tinggal diam disituasi kacau begitu
>> 
>> Belanda bisa dia kalahkan apalagi Soekarno
>> 
>>  
>> 
>> Panggilan jihad
>> 
>> Bersama-sama orang yang berjihad
>> 
>> Dengan memanfaatkan jejaring yang pernah dimiliki sebagai Presiden PDRI
>> 
>> Mr. Syafruddin Prawiranegara menjadi pemimpin pergolakan PRRI
>> 
>> Kehebatan Mr. Syafruddin Prawiranegara yang diakui oleh Soekarno
>> 
>> Dibalas dengan serangan tanpa ampun
>> 
>> Perang telah membuat kawan jadi lawan
>> Banyak korban berjatuhan
>> 
>>  
>> 
>> Beruntunglah para korban yang jihad
>> 
>> Arwahnya ditempatkan di tempat yang mulia
>> 
>> Mungkin sekarang mereka tersenyum di alam sana
>> 
>> Walaupun jasadnya mungkin ditangisi oleh orang yang ditinggalkannya
>> 
>> Yang tak ikhlas akan kepergiannya disiksa tentara
>> 
>>  
>> 
>> Mr. Syafruddin Prawiranegara
>> Telah dinobatkan jadi Pahlawan NKRI
>> 
>> Atas jasa-jasanya yang berhasil memegang amanat
>> 
>> Alhamdulillah
>> 
>>  
>> 
>>  
>> 
>> Padang, 30 Januari 2014
>> 
>>  
>> 
>> Hanifah Damanhuri
>> 
>>  
>> 
>> 
>> 
>> 
>>  
>> 
>>  
>> 
>>  
>> 
>> -- 
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & 
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> --- 
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
>> Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
>> email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
> 
> -- 
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
> subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> --- 
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
> Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
> email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke