Mak Maturidi,
kalau disebutkan bahwa Kivlan Zen pernah mengakui akan menembak Amien Rais
jika yang terakhir tetap berani menggelar *People Power* satu juta umat di
Lapangan Monas pada 20 Mei 1998, bagaimana menurut penilaian Mak Maturidi
tentang posisi mantan Kepala Staf Kostrad ini? Saat itu Kivlan menyatakan
tak ragu untuk membuat Monas seperti Lapangan Tiananmen 1989 (mengacu pada
pembantaian aktivis pro-demokrasi Cina).

Dari sisi sejarah, ambo termasuk yang menyayangkan Amien Rais
membatalkan *people
power* itu (sebagai wartawan majalah berita, hari itu ambo sudah beberapa
puluh meter saja dari Monas yang lengang dan banyak pasukan). Karena sejak
itu pulalah kharisma Amien Rais yang awalnya begitu dipercaya rakyat,
perlahan-lahan melorot dan tak pernah kembali ke puncak lagi sampai
dipermalukan dengan telak dalam pilpres 2004.

Selain itu, sekiranya *people power* yang bertepatan dengan Hari
Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998 itu terjadi, kita juga akan melihat apakah
Kivlan Zen konsisten dengan ucapannya untuk menembak Amien Rais, atau hanya
agar "ikut tercatat" dalam arus besar sejarah Indonesia? Memang saat itu
begitu genting (19-20 Mei 1998 ambo dengan pass/ID wartawan majalah berita
bisa berkeliaran di jalan protokol Sudirman-Thamrin yang sangat lengang
untuk meliput), dan dalam hati ambo tidak terlalu percaya bahwa Amien
Rais *betul-betul
*akan ditembak kalau berani melanjutkan rencananya.

Kalaupun takdir Amien Rais saat itu mati di ujung bedil atas perintah
Kivlan Zen, maka Amien Rais akan menjadi syahid dan para penembaknya
(sampai komandan mereka ke atas) akan mendapat catatan hitam selamanya
dalam sejarah republik.

Silakan simak artikel di bawah ko, terutama yang *dihighlight *warna kuning.


Serial Konflik 
Elite<http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/06/serial-konflik-elite/>
Posted on April 6, 2009 by adit20m

MAYJEN TNI (Purn.) Kivlan Zen, 58 tahun, membuat pentas politik pemilihan
presiden “hangat-hangat kuku”. Soalnya, pensiunan jenderal kelahiran
Langsa, Aceh, ini meluncurkan buku Konflik dan Integrasi TNI AD. Dalam buku
setebal 178 halaman itu, bekas Kepala Staf Komando Strategis Cadangan
Angkatan Darat (Kostrad) ini menulis perihal konflik antarperwira tinggi di
kalangan TNI Angkatan Darat. Termasuk konflik yang melibatkan Jenderal
(Purn.) Wiranto, yang tengah getol berkampanye untuk pemilu presiden. Salah
satu bab dari buku itu mengungkap aktivitas masa lalu Wiranto. Kivlan,
misalnya, menganggap Wiranto harus bertanggung jawab atas tragedi Mei 1998
dan pembentukan Pam Swakarsa.

Buku ini disebut Kivlan sebagai “pengembangan atas tesis saya pada saat
mengambil gelar S2 magister social development di pascasarjana Universitas
Indonesia pada tahun 2002″. Tesis yang diterbitkan oleh Fadli Zon, kawan
dekat Letjen (Purn.) Prabowo Subianto, berjudul Hubungan Integrasi Internal
TNI AD dan Integrasi Bangsa Indonesia. Sebagai sebuah karya ilmiah, tesis
Kivlan terbilang “biasa saja”. Spektrum waktu dalam buku ini terlalu lebar.
Kivlan mencoba merangkum konflik TNI-AD sejak 1945 hingga tahun 2000.
Akibatnya, “Tesis ini seperti buku sejarah yang dangkal,” ujar Anhar
Gonggong, sejarawan dari LIPI. Toh tesis ini mengantarkan Kivlan meraih
gelar magister dari Fakultas Pascasarjana UI.

Berikut beberapa nukilan yang penting.

* Benny Moerdani Versus Prabowo

Perseteruan Jenderal L.B. Moerdani dengan Mayor Prabowo Subianto berawal
dari persoalan ideologi dan agama. Menurut Kivlan, konflik ini mulai
terjadi saat Prabowo menjadi staf khusus Menteri Pertahanan dan
Keamanan/Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani (1982-1985).

“Sebagai staf khusus, Mayor Prabowo Subianto mendapat penjelasan rencana
menghancurkan gerakan-gerakan Islam secara sistematis. Prabowo memperoleh
informasi ini karena Jenderal Benny Moerdani melihat latar belakang
bapaknya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, seorang sosialis, dan ibunya
seorang penganut Kristen dari Manado. Namun Prabowo Subianto merasa tidak
cocok dan melaporkan langkah-langkah Benny kepada mertuanya, Presiden
Soeharto.”

Mengetahui rencananya dibocorkan kepada Presiden Soeharto, tutur Kivlan,
Benny Moerdani marah besar. Prabowo, yang telah menjadi Wakil Komandan
Detasemen 81 Kopassus, kesatuan elite antiteror, dimutasi menjadi Kepala
Staf Kodim.

“Ini menimbulkan kebencian dan ketidakberdayaan sangat mendalam Prabowo
Subianto terhadap Jenderal Benny Moerdani. Prabowo juga melakukan
pendekatan terhadap Komandan Seskoad Mayjen TNI Feisal Tanjung dan Pangdam
Brawijaya Mayjen R. Hartono. Bersamaan dengan itu, Benny menyiapkan
penggantinya, mulai dari Letjen Sahala Radjagukguk, Mayjen Sintong
Panjaitan, Brigjen Theo Syafei, Kolonel Luhut Panjaitan, dan Letkol R.R.
Simbolon.”

* Feisal Tanjung Versus Hartono

Setelah tongkat komando ABRI pada 21 Mei 1993 beralih ke pundak Jenderal
TNI Feisal Tanjung, peta persaingan pun berubah. Peran kelompok pendukung
Benny Moerdani, yang dikenal dengan “ABRI merah-putih”, mulai digeser oleh
“ABRI hijau”, yang dekat dengan kelompok Islam. Tak seperti panglima
sebelumnya, Feisal Tanjung lebih dekat ke Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia, yang dipimpin oleh B.J. Habibie. Tapi persaingan merebut jabatan
dan pengaruh tetap ada. Pangab Jenderal Feisal Tanjung sering tak sepaham
dengan KSAD Jenderal R. Hartono.

“Konflik juga terjadi antara Jenderal Feisal Tanjung dan Mayjen Prabowo.
Soalnya, Prabowo dinilai dekat dengan Jenderal R. Hartono, yang dianggap
ingin menjadi Panglima ABRI sebelum Sidang Umum MPR 1998. Feisal Tanjung
juga menilai Hartono sering membawa nama ABRI untuk mendukung Golkar.”

Di lain paragraf:

“Jenderal Hartono dinilai gagal menghambat naiknya Abdurrahman Wahid
menjadi Ketua Umum PB NU untuk ketiga kalinya. Soeharto tak mau menghadiri
pelantikan Abdurrahman Wahid karena suka mengkritik Soeharto dan pernah
mendukung Benny Moerdani menjadi presiden pada 1993″

* Wiranto Versus Prabowo

Pada Maret 1998 terjadi mutasi besar-besaran di tubuh ABRI. Jenderal
Wiranto, bekas ajudan Presiden Soeharto, diangkat menjadi Menteri
Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI, menggantikan Feisal Tanjung.
Sedangkan Prabowo, menantu Presiden Soeharto, pangkatnya dinaikkan menjadi
jenderal berbintang tiga. Prabowo menempati pos baru sebagai Panglima
Kostrad, yang secara historis merupakan “jalur resmi” menuju kursi KSAD dan
Panglima ABRI.

Tapi Wiranto dan Prabowo diam-diam bersaing untuk memperkuat posisinya.
Kedua jenderal ini terlibat persaingan merebut simpati Soeharto dan para
perwira ABRI lainnya.

“Jenderal Wiranto dianggap tidak senang dengan kalangan Islam dan lebih
dekat dengan Benny Moerdani. Kemudian terjadi persaingan antara Letjen
Prabowo dan Jenderal Wiranto untuk mendapatkan perhatian Soeharto. Terutama
ketika gerakan anti-Soeharto semakin kuat dimotori kalangan mahasiswa.
Panglima ABRI Wiranto mengatakan dengan tegas bahwa demonstrasi mahasiswa
tak boleh keluar kampus.”

Saat kerusuhan Mei 1998, pertikaian antara Wiranto dan Prabowo memuncak.

“Keadaan semakin kacau ketika meletus peristiwa Trisakti 12 Mei 1998 dan
diikuti kerusuhan massa 13-15 Mei 1998. Jenderal Wiranto tak serius
menanganinya. Padahal ia memegang kekuatan TNI dan Polri. Pada tanggal 14
Mei, Wiranto tetap berangkat ke Malang untuk menjadi inspektur upacara
serah-terima tanggung jawab Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC). Padahal
sebelumnya Letjen Prabowo telah menyarankan agar Wiranto membatalkan
acaranya di Malang.”

Proses pembiaran, cerita Kivlan, juga terlihat dari sikap Wiranto yang tak
mendukung upaya pemindahan pasukan Kostrad dari Jawa Timur dan Makassar.
Padahal Kodam V Jakarta Raya saat itu sangat membutuhkan pasukan tambahan
untuk mengamankan Ibu Kota.

“Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin, Pangdam V Jaya, meminta tambahan pasukan ke
Kostrad. Namun Mabes ABRI tidak memberikan angkutan Hercules untuk membawa
pasukan Kostrad dari Jawa Timur dan Makassar. Karena keadaan mendesak,
Kostrad akhirnya mencarter pesawat milik Mandala di Makassar dan pesawat
milik Garuda di Surabaya untuk membawa pasukan dengan biaya sendiri.”

Selain mengungkap konflik antarperwira tinggi ABRI, Kivlan Zen juga
mengungkap beberapa kisah menarik. *Kivlan, misalnya, menyatakan pernah
mengancam akan menembak “Tokoh Reformasi” Amien Rais bila pada 20 Mei 1998
berani melakukan people power di Lapangan Monas.*

“Pada hari Kebangkitan Nasional itu, Amien Rais merencanakan people power
mengepung Istana Negara. *Namun people power itu tak jadi dilaksanakan
antara lain karena adanya ancaman dari Kepala Staf Kostrad Mayjen Kivlan
Zen. Kepala Staf Kostrad akan menangkap atau terjadi pertumpahan darah
seperti peristiwa Tiananmen di Beijing tahun 1989*. Untuk menghadang gerak
laju massa, aparat keamanan telah menyiapkan kawat berduri pada jalan-jalan
masuk ke Monas. Aparat juga menempatkan tank yang siap menghalau massa
serta tembakan peluru tajam seperti di Tiananmen.”

Tanggal 21 Mei 1998 menjadi hari bersejarah bagi Republik. Presiden
Soeharto, yang sudah 32 tahun berkuasa, menyatakan berhenti. Wakil Presiden
B.J. Habibie, di hadapan Ketua Mahkamah Agung, disumpah menjadi presiden.

“Letjen Prabowo menghadap Habibie di rumahnya di Patra Jasa, Kuningan,
pukul 23.00. Prabowo membawa konsep susunan kabinet yang disiapkan oleh
Mayjen Kivlan Zen, Fadli Zon, dan Din Syamsuddin. Calon terkuat Pangab
dalam kabinet Habibie waktu itu adalah Letjen Hendropriyono. Namun Jenderal
Wiranto berhasil mempengaruhi Presiden Habibie dengan mengatakan ada
pasukan liar mengepung rumah Presiden.”

Pada 10-13 November 1998 MPR mengadakan sidang istimewa. Agenda utamanya
adalah soal percepatan pemilu dari 2002 menjadi 1999. Sidang Istimewa MPR
juga mengubah Ketetapan MPR tentang GBHN. Tapi sidang istimewa itu banyak
ditentang mahasiswa dan tokoh politik. Panglima ABRI Jenderal Wiranto,
menurut Kivlan Zen, meminta dirinya melakukan pengerahan massa untuk
mendukung SI MPR. Dari sinilah kemudian muncul pasukan milisi Pam Swakarsa.

“Jenderal Wiranto memanggil Mayjen Kivlan Zen pada 4 November 1998 sekitar
pukul 15.30 di Mabes ABRI Jalan Merdeka Barat. Jenderal Wiranto kira-kira
mengatakan, ‘Kiv, kok orang anti-SI semua. Saya dengar kamu bisa
mengalahkan massa untuk masuk MPR. Nah, sekarang kamu kerahkan lagi
mendukung SI. Ini juga perintah dari Presiden Habibie.’ Pertemuan itu
berlangsung empat mata sekitar 15 menit. Soal pendanaan awal, Wiranto
mengarahkan Kivlan untuk bertemu pengusaha Setiawan Djody dan staf wakil
presiden, Jimmly Ashiddiqie.”

Setelah terbentuk Pam Swakarsa, Wiranto terlibat pertemuan yang
mengkoordinasikan pergerakan pasukan milisi itu. Pada 9 November 1998,
sekitar pukul 09.00-10.00, dilakukan rapat di rumah dinas Wiranto di
Kompleks Menteri, Jalan Denpasar Raya, Jakarta. Hadir dalam pertemuan itu,
ujar Kivlan, antara lain: Pangab Jenderal Wiranto, Pangdam Jaya Mayjen
Djadja Suparman, Kapolda Metro Jaya Mayjen Noegroho Djajoesman, dan Mayjen
Kivlan Zen.

“Dalam rapat tersebut disepakati bahwa tugas pokok Kodam adalah mengamankan
Pam Swakarsa apabila terjepit. Pola operasinya: Pam Swakarsa di depan
menghadapi massa dan ABRI di belakangnya. Namun dalam prakteknya tidak
jarang Pam Swakarsa malah digebuki pasukan Marinir karena mereka tidak
diberi tahu.”

Sumber: http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/06/serial-konflik-elite/

* * *

Pada 30 Maret 2014 11.25, Maturidi Donsan <[email protected]> menulis:

>  UNTUK RENUNGAN BAGI UMAT ISLAM
>
> Ambo copaskan dibawahko:
>
> *Mayjen (Purn) Kivlan Zen: Waspada! 12 Kelompok Anti Islam Kuasai DPR *
>
> [image:
> http://3.bp.blogspot.com/-_37Q1aQIi3k/UkmEk3twOjI/AAAAAAAAAYs/DWi1ydnfIXU/s320/Kivlan+Zen.jpg]<http://3.bp.blogspot.com/-_37Q1aQIi3k/UkmEk3twOjI/AAAAAAAAAYs/DWi1ydnfIXU/s1600/Kivlan+Zen.jpg>
>
>
> *Mayjen (Purn) Kivlan Zen: Waspada! 12 Kelompok Anti Islam Kuasai DPR*
>
> JAKARTA - Saat menyampaikan sambutannya dalam Pengajian Politik Islam di
> Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013), mantan Kepala
> Staf Kostrad (Kakostrad) Mayjen (Purn) Kivlan Zen mengakui, Ketua Dewan
> Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang pernah menjawab Pangkostrad
> itu dulu pernah dekat dengan Islam. Tetapi kini Prabowo hanya menjadikan
> Islam sebagai alat.
>
>
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke