Nakan Akmal jo kanda Maturidi,
Ambo mengenal dakek Kivlan Zen sajak adiak angkatan kami tu manggantikan
ambo manjadi Komandan Kontingen Garuda XVII/B ( ambo Komandan Kontingen
Garuda XVII/A ) nan bamarkas di Zamboanga City., Mindanao Barat ,
Filipina Selatan. Tugas Pokok Kontingen Garuda XVII adolah manjago jo
mangamati berjalan nya Persetujuan Damai antaro Pemerintah Filipina jo
MNLF ( Moro National Liberation Front).
Dalam proses serah terima Tugas dan Tanggungjawab sebagai Komandan
Kontingen Garuda XVII pado tahun 1995 itu nan balansuang sekitar satu
minggu ambo mengenal dakek pribadi Kivlan Zen. Sabananyo Kivlan aslinyo
urang Bukit Tinggi, sahinggo ado tadanga protes ,kok Padang lagi gantinyo..
Memang bana, Kivlan mengorbit karano kedekatannyo jo Prabowo. Manuruik
caritonyo Kivlan berperan dalam menjembatani proses pengangkatan Faisal
Tanjuang Komandan Seskoad waktu itu sampai manjadi Panglima ABRI jo
R.Hartono manjadi KASAD. Sajak itulah muncul istilah "ABRI HIJAU" jo
"ABRI MERAH PUTIH". Ambo sendiri ikuik dituduah tamasuak pok "ABRI
HIJAU" dan pandukuang ICMI dikalangan Perwira BAIS ABRI dek kelompok
nan ciek lai ( sabananyo labiah cocok disabuik Pok LBM ) , dek karano
tapiliah jadi Komandan Kontingen GARUDA XVII. M.DIN Syamsuddin
memang acok maso itu ikuik badiskusi di BAIS ABRI. Fadli Zon pernah
bakunjuang di Markas kami di Zamboanga nan nampaknyo dakek jo KASAD
R.Hartono. Ambo sendiri ndak tau apo misinyo di Zamboanga.
Kivlan Zen memang perwira pemberani ( buliah disabuik nekad ), dia
pernah masuk ke Camp Abu Bakar MILF ( Moro Islamic Liberation Front )
dalam perjalanan darat dari Zamboanga City tanpa pengawalan kecuali
hanyo supir nan anggota Marinir Filipina nan diperbantukan di Kontingen
Garuda XVII sampai ka Davao City di wilayah Timur Mindanao.. Dubes RI di
Manila Mayjen Purn.P.Damanik ( POK LBM) pernah mambisiakkan ka ambo nan
waktu itu batugeh manjadi Konjen RI di Davao City, tolong agiah tau
adiak anda itu jan malabiahi Tugas jo Tangguang Jawab nan diagiahkan
pamarentah RI sabagai Observer perdamaian antaro Pemerintah Filipina jo
MNLF jadi indak tamasuak MILF.., sabab pejabat Militer Filipina pernah
menunjukkan ketidak nyamanan mereka. Memang bana kecek Kivlan bahaso
Prabowo dulu pro Islam, tapi kini indak lai, hanyo mamanfaatkan Islam.
Mungkin itu sababnyo Kivlan mamiliah jadi Caleg PPP bukan Gerindra.
Tapi apokah kehadiran Kivlan di PPP nan mandorong Ketum PPP Surya Dharna
Ali merapat ke Prabowo? Wallahu alam. Sekedar malangkoki sajo.
Wassalam,
AA Tangsel.
On 01/04/2014 14:20, Akmal Nasery Basral wrote:
Mak Maturidi,
kalau disebutkan bahwa Kivlan Zen pernah mengakui akan menembak Amien
Rais jika yang terakhir tetap berani menggelar /People Power/ satu
juta umat di Lapangan Monas pada 20 Mei 1998, bagaimana menurut
penilaian Mak Maturidi tentang posisi mantan Kepala Staf Kostrad ini?
Saat itu Kivlan menyatakan tak ragu untuk membuat Monas seperti
Lapangan Tiananmen 1989 (mengacu pada pembantaian aktivis
pro-demokrasi Cina).
Dari sisi sejarah, ambo termasuk yang menyayangkan Amien Rais
membatalkan /people power/ itu (sebagai wartawan majalah berita, hari
itu ambo sudah beberapa puluh meter saja dari Monas yang lengang dan
banyak pasukan). Karena sejak itu pulalah kharisma Amien Rais yang
awalnya begitu dipercaya rakyat, perlahan-lahan melorot dan tak pernah
kembali ke puncak lagi sampai dipermalukan dengan telak dalam pilpres
2004.
Selain itu, sekiranya /people power/ yang bertepatan dengan Hari
Kebangkitan Nasional 20 Mei 1998 itu terjadi, kita juga akan melihat
apakah Kivlan Zen konsisten dengan ucapannya untuk menembak Amien
Rais, atau hanya agar "ikut tercatat" dalam arus besar sejarah
Indonesia? Memang saat itu begitu genting (19-20 Mei 1998 ambo dengan
pass/ID wartawan majalah berita bisa berkeliaran di jalan protokol
Sudirman-Thamrin yang sangat lengang untuk meliput), dan dalam hati
ambo tidak terlalu percaya bahwa Amien Rais /betul-betul /akan
ditembak kalau berani melanjutkan rencananya.
Kalaupun takdir Amien Rais saat itu mati di ujung bedil atas perintah
Kivlan Zen, maka Amien Rais akan menjadi syahid dan para penembaknya
(sampai komandan mereka ke atas) akan mendapat catatan hitam selamanya
dalam sejarah republik.
Silakan simak artikel di bawah ko, terutama yang /dihighlight /warna
kuning.
Serial Konflik Elite
<http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/06/serial-konflik-elite/>
Posted on April 6, 2009 by adit20m
MAYJEN TNI (Purn.) Kivlan Zen, 58 tahun, membuat pentas politik
pemilihan presiden “hangat-hangat kuku”. Soalnya, pensiunan jenderal
kelahiran Langsa, Aceh, ini meluncurkan buku Konflik dan Integrasi TNI
AD. Dalam buku setebal 178 halaman itu, bekas Kepala Staf Komando
Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) ini menulis perihal
konflik antarperwira tinggi di kalangan TNI Angkatan Darat. Termasuk
konflik yang melibatkan Jenderal (Purn.) Wiranto, yang tengah getol
berkampanye untuk pemilu presiden. Salah satu bab dari buku itu
mengungkap aktivitas masa lalu Wiranto. Kivlan, misalnya, menganggap
Wiranto harus bertanggung jawab atas tragedi Mei 1998 dan pembentukan
Pam Swakarsa.
Buku ini disebut Kivlan sebagai “pengembangan atas tesis saya pada
saat mengambil gelar S2 magister social development di pascasarjana
Universitas Indonesia pada tahun 2002″. Tesis yang diterbitkan oleh
Fadli Zon, kawan dekat Letjen (Purn.) Prabowo Subianto, berjudul
Hubungan Integrasi Internal TNI AD dan Integrasi Bangsa Indonesia.
Sebagai sebuah karya ilmiah, tesis Kivlan terbilang “biasa saja”.
Spektrum waktu dalam buku ini terlalu lebar. Kivlan mencoba merangkum
konflik TNI-AD sejak 1945 hingga tahun 2000. Akibatnya, “Tesis ini
seperti buku sejarah yang dangkal,” ujar Anhar Gonggong, sejarawan
dari LIPI. Toh tesis ini mengantarkan Kivlan meraih gelar magister
dari Fakultas Pascasarjana UI.
Berikut beberapa nukilan yang penting.
* Benny Moerdani Versus Prabowo
Perseteruan Jenderal L.B. Moerdani dengan Mayor Prabowo Subianto
berawal dari persoalan ideologi dan agama. Menurut Kivlan, konflik ini
mulai terjadi saat Prabowo menjadi staf khusus Menteri Pertahanan dan
Keamanan/Panglima ABRI Jenderal L.B. Moerdani (1982-1985).
“Sebagai staf khusus, Mayor Prabowo Subianto mendapat penjelasan
rencana menghancurkan gerakan-gerakan Islam secara sistematis. Prabowo
memperoleh informasi ini karena Jenderal Benny Moerdani melihat latar
belakang bapaknya, Prof. Soemitro Djojohadikusumo, seorang sosialis,
dan ibunya seorang penganut Kristen dari Manado. Namun Prabowo
Subianto merasa tidak cocok dan melaporkan langkah-langkah Benny
kepada mertuanya, Presiden Soeharto.”
Mengetahui rencananya dibocorkan kepada Presiden Soeharto, tutur
Kivlan, Benny Moerdani marah besar. Prabowo, yang telah menjadi Wakil
Komandan Detasemen 81 Kopassus, kesatuan elite antiteror, dimutasi
menjadi Kepala Staf Kodim.
“Ini menimbulkan kebencian dan ketidakberdayaan sangat mendalam
Prabowo Subianto terhadap Jenderal Benny Moerdani. Prabowo juga
melakukan pendekatan terhadap Komandan Seskoad Mayjen TNI Feisal
Tanjung dan Pangdam Brawijaya Mayjen R. Hartono. Bersamaan dengan itu,
Benny menyiapkan penggantinya, mulai dari Letjen Sahala Radjagukguk,
Mayjen Sintong Panjaitan, Brigjen Theo Syafei, Kolonel Luhut
Panjaitan, dan Letkol R.R. Simbolon.”
* Feisal Tanjung Versus Hartono
Setelah tongkat komando ABRI pada 21 Mei 1993 beralih ke pundak
Jenderal TNI Feisal Tanjung, peta persaingan pun berubah. Peran
kelompok pendukung Benny Moerdani, yang dikenal dengan “ABRI
merah-putih”, mulai digeser oleh “ABRI hijau”, yang dekat dengan
kelompok Islam. Tak seperti panglima sebelumnya, Feisal Tanjung lebih
dekat ke Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, yang dipimpin oleh B.J.
Habibie. Tapi persaingan merebut jabatan dan pengaruh tetap ada.
Pangab Jenderal Feisal Tanjung sering tak sepaham dengan KSAD Jenderal
R. Hartono.
“Konflik juga terjadi antara Jenderal Feisal Tanjung dan Mayjen
Prabowo. Soalnya, Prabowo dinilai dekat dengan Jenderal R. Hartono,
yang dianggap ingin menjadi Panglima ABRI sebelum Sidang Umum MPR
1998. Feisal Tanjung juga menilai Hartono sering membawa nama ABRI
untuk mendukung Golkar.”
Di lain paragraf:
“Jenderal Hartono dinilai gagal menghambat naiknya Abdurrahman Wahid
menjadi Ketua Umum PB NU untuk ketiga kalinya. Soeharto tak mau
menghadiri pelantikan Abdurrahman Wahid karena suka mengkritik
Soeharto dan pernah mendukung Benny Moerdani menjadi presiden pada 1993″
* Wiranto Versus Prabowo
Pada Maret 1998 terjadi mutasi besar-besaran di tubuh ABRI. Jenderal
Wiranto, bekas ajudan Presiden Soeharto, diangkat menjadi Menteri
Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI, menggantikan Feisal Tanjung.
Sedangkan Prabowo, menantu Presiden Soeharto, pangkatnya dinaikkan
menjadi jenderal berbintang tiga. Prabowo menempati pos baru sebagai
Panglima Kostrad, yang secara historis merupakan “jalur resmi” menuju
kursi KSAD dan Panglima ABRI.
Tapi Wiranto dan Prabowo diam-diam bersaing untuk memperkuat
posisinya. Kedua jenderal ini terlibat persaingan merebut simpati
Soeharto dan para perwira ABRI lainnya.
“Jenderal Wiranto dianggap tidak senang dengan kalangan Islam dan
lebih dekat dengan Benny Moerdani. Kemudian terjadi persaingan antara
Letjen Prabowo dan Jenderal Wiranto untuk mendapatkan perhatian
Soeharto. Terutama ketika gerakan anti-Soeharto semakin kuat dimotori
kalangan mahasiswa. Panglima ABRI Wiranto mengatakan dengan tegas
bahwa demonstrasi mahasiswa tak boleh keluar kampus.”
Saat kerusuhan Mei 1998, pertikaian antara Wiranto dan Prabowo memuncak.
“Keadaan semakin kacau ketika meletus peristiwa Trisakti 12 Mei 1998
dan diikuti kerusuhan massa 13-15 Mei 1998. Jenderal Wiranto tak
serius menanganinya. Padahal ia memegang kekuatan TNI dan Polri. Pada
tanggal 14 Mei, Wiranto tetap berangkat ke Malang untuk menjadi
inspektur upacara serah-terima tanggung jawab Pasukan Pemukul Reaksi
Cepat (PPRC). Padahal sebelumnya Letjen Prabowo telah menyarankan agar
Wiranto membatalkan acaranya di Malang.”
Proses pembiaran, cerita Kivlan, juga terlihat dari sikap Wiranto yang
tak mendukung upaya pemindahan pasukan Kostrad dari Jawa Timur dan
Makassar. Padahal Kodam V Jakarta Raya saat itu sangat membutuhkan
pasukan tambahan untuk mengamankan Ibu Kota.
“Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin, Pangdam V Jaya, meminta tambahan pasukan
ke Kostrad. Namun Mabes ABRI tidak memberikan angkutan Hercules untuk
membawa pasukan Kostrad dari Jawa Timur dan Makassar. Karena keadaan
mendesak, Kostrad akhirnya mencarter pesawat milik Mandala di Makassar
dan pesawat milik Garuda di Surabaya untuk membawa pasukan dengan
biaya sendiri.”
Selain mengungkap konflik antarperwira tinggi ABRI, Kivlan Zen juga
mengungkap beberapa kisah menarik. *Kivlan, misalnya, menyatakan
pernah mengancam akan menembak “Tokoh Reformasi” Amien Rais bila pada
20 Mei 1998 berani melakukan people power di Lapangan Monas.*
“Pada hari Kebangkitan Nasional itu, Amien Rais merencanakan people
power mengepung Istana Negara. *Namun people power itu tak jadi
dilaksanakan antara lain karena adanya ancaman dari Kepala Staf
Kostrad Mayjen Kivlan Zen. Kepala Staf Kostrad akan menangkap atau
terjadi pertumpahan darah seperti peristiwa Tiananmen di Beijing tahun
1989*. Untuk menghadang gerak laju massa, aparat keamanan telah
menyiapkan kawat berduri pada jalan-jalan masuk ke Monas. Aparat juga
menempatkan tank yang siap menghalau massa serta tembakan peluru tajam
seperti di Tiananmen.”
Tanggal 21 Mei 1998 menjadi hari bersejarah bagi Republik. Presiden
Soeharto, yang sudah 32 tahun berkuasa, menyatakan berhenti. Wakil
Presiden B.J. Habibie, di hadapan Ketua Mahkamah Agung, disumpah
menjadi presiden.
“Letjen Prabowo menghadap Habibie di rumahnya di Patra Jasa, Kuningan,
pukul 23.00. Prabowo membawa konsep susunan kabinet yang disiapkan
oleh Mayjen Kivlan Zen, Fadli Zon, dan Din Syamsuddin. Calon terkuat
Pangab dalam kabinet Habibie waktu itu adalah Letjen Hendropriyono.
Namun Jenderal Wiranto berhasil mempengaruhi Presiden Habibie dengan
mengatakan ada pasukan liar mengepung rumah Presiden.”
Pada 10-13 November 1998 MPR mengadakan sidang istimewa. Agenda
utamanya adalah soal percepatan pemilu dari 2002 menjadi 1999. Sidang
Istimewa MPR juga mengubah Ketetapan MPR tentang GBHN. Tapi sidang
istimewa itu banyak ditentang mahasiswa dan tokoh politik. Panglima
ABRI Jenderal Wiranto, menurut Kivlan Zen, meminta dirinya melakukan
pengerahan massa untuk mendukung SI MPR. Dari sinilah kemudian muncul
pasukan milisi Pam Swakarsa.
“Jenderal Wiranto memanggil Mayjen Kivlan Zen pada 4 November 1998
sekitar pukul 15.30 di Mabes ABRI Jalan Merdeka Barat. Jenderal
Wiranto kira-kira mengatakan, ‘Kiv, kok orang anti-SI semua. Saya
dengar kamu bisa mengalahkan massa untuk masuk MPR. Nah, sekarang kamu
kerahkan lagi mendukung SI. Ini juga perintah dari Presiden Habibie.’
Pertemuan itu berlangsung empat mata sekitar 15 menit. Soal pendanaan
awal, Wiranto mengarahkan Kivlan untuk bertemu pengusaha Setiawan
Djody dan staf wakil presiden, Jimmly Ashiddiqie.”
Setelah terbentuk Pam Swakarsa, Wiranto terlibat pertemuan yang
mengkoordinasikan pergerakan pasukan milisi itu. Pada 9 November 1998,
sekitar pukul 09.00-10.00, dilakukan rapat di rumah dinas Wiranto di
Kompleks Menteri, Jalan Denpasar Raya, Jakarta. Hadir dalam pertemuan
itu, ujar Kivlan, antara lain: Pangab Jenderal Wiranto, Pangdam Jaya
Mayjen Djadja Suparman, Kapolda Metro Jaya Mayjen Noegroho Djajoesman,
dan Mayjen Kivlan Zen.
“Dalam rapat tersebut disepakati bahwa tugas pokok Kodam adalah
mengamankan Pam Swakarsa apabila terjepit. Pola operasinya: Pam
Swakarsa di depan menghadapi massa dan ABRI di belakangnya. Namun
dalam prakteknya tidak jarang Pam Swakarsa malah digebuki pasukan
Marinir karena mereka tidak diberi tahu.”
Sumber: http://setiyardi.wordpress.com/2009/04/06/serial-konflik-elite/
* * *
Pada 30 Maret 2014 11.25, Maturidi Donsan <[email protected]
<mailto:[email protected]>> menulis:
UNTUK RENUNGAN BAGI UMAT ISLAM
Ambo copaskan dibawahko:
*Mayjen (Purn) Kivlan Zen: Waspada! 12 Kelompok Anti Islam Kuasai
DPR *
http://3.bp.blogspot.com/-_37Q1aQIi3k/UkmEk3twOjI/AAAAAAAAAYs/DWi1ydnfIXU/s320/Kivlan+Zen.jpg
<http://3.bp.blogspot.com/-_37Q1aQIi3k/UkmEk3twOjI/AAAAAAAAAYs/DWi1ydnfIXU/s1600/Kivlan+Zen.jpg>
*Mayjen (Purn) Kivlan Zen:
Waspada! 12 Kelompok Anti Islam Kuasai DPR*
JAKARTA - Saat menyampaikan sambutannya dalam Pengajian Politik
Islam di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013),
mantan Kepala Staf Kostrad (Kakostrad) Mayjen (Purn) Kivlan Zen
mengakui, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto
yang pernah menjawab Pangkostrad itu dulu pernah dekat dengan
Islam. Tetapi kini Prabowo hanya menjadikan Islam sebagai alat.
**
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7)
serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan
di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
kirim email ke [email protected]
<mailto:[email protected]>.
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.