Alaikumsalam,
Ado kisah surang kawan nan alah malang melintang bakarajo diberbagai perusahaan 
di Amerika.

Ado proyek grant utk Indonesia. Inyo melamar melalui recruiter AS dan terpilih 
sebagai expatriate utk bakarajo di Jkt. Dek iko ado hubungan jo pemerintah hrs 
melalui Bappenas. Nah disiko ado masalah. Dek kawan tu masih WNI indak bisa di 
kategorikan expatriate. Inyo dianggap tenaga ahli local dgn gaji rupiah. Lah 
tahulah ujuangnya. Ma namuah kawan tu. 

Diaspora ingin beebuat utk NKRI, tapi dipandang rendah oleh bangsa sendiri. 

-------- Original message --------
From: Darwin Chalidi <[email protected]> 
Date:04/11/2014  5:09 AM  (GMT-05:00) 
To: Rantau Net <[email protected]> 
Subject: Re: [R@ntau-Net] (OOT) Kurang Dihargai di Indonesia, Pembuat Mobil 
Listrik Pilih Pulang ke Jepang 

Sanak Palanta RN NAH.

Apo masalah sebenarnya dari bangsa ini yg tdk menghargai warganya sendiri 
akibat lebih maju atau punya kelebihan. Tetapi kalau bangsa lain yg dtg dgn 
kelebihan dan keahlian yg mungkin lebih rendan kok diterima dgn tangan terbuka.

Contoh lain dlm bidang keilmuan Agama, lulusan Cairo boleh dibilang sangat2 tdk 
dipandang mata oleh sebagian lulusan pesantren lokal.

Apakah sdh ada penelitian mengenai karakter bangsa dibidang yg satu ini?

Salam. Darwin Chalidi.
On Apr 11, 2014 2:18 PM, "Zubir Amin" <[email protected]> wrote:
Dd Daarwin Chalidi nn baik n sanak palanta nn berbaha gia.
Thn 2003 dlm perjalanan dinas ka Genewa,Swiss dari Marseilles,Parancih,di lobby 
hotel tampek JB nginap(lupo namo hotelnyo),JB disambut dek surang resepsionis 
hotel tu nn berwajah Asia.dgn sangat sopannya.
Dlm percakapan singkat dgn resipsionis itu, ternyata anak ini dari Bandung.Ia 
menamatkan pendidikan perhotelannya(S1) di Swiss.
JB katakan,kenapa kamu tidak bekerja di hotel2 berbintang di Jkt or Bali.
Anak ini tercenung sebentar n sebutir dua butir air. mata meleleh dipipinya 
sambil menjawab,"Pak saya sdh mencoba bekerja di HI di Jkt sesuai dgn keahlian 
saya.Tapi keahlian n ijazah saya Tidak dihargai.terbukti dari gaji n posisi nn 
saya terima jauh sekali jika di bandingkan dgn teman2 saya nn seangkatan nn 
bekerja di hotel2 di Eropa n Amerika.
Akhirnya saya cabut dari Jkt n bekerja di Geneva dgn gaji n fasilitas nn sangat 
mencukupi".
Kaitan caritoko dgn subject diateh, hampir mirip.
Hampia ndak ado 'pihak pem bisnis or kalangan pemgambil keputusan' di Pusat-JKT 
blm menghargai keahlian lulusan lua nagari dari
Putra2 terbaik banga n negara kita ini.
Mungkin urang itu mangiku ti sikap 'sombong' ughang Mi nang,'pandai bana wa'ang 
aden ndak mambutuhkan ang ku doh.Kayo bana angku,aden ndak ka mamintak doh.
Bajibun kini Darwin putra/i terbaik bangsa ini lulusan LN nn ndak mau pulang ke 
Indonesia dgn saribu ciek alasan.n labiah mamilliah hiduik n karajoi di LN. 
JB,DtRJ,75thn,sadang di Jem ber,Jatim.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
From: Darwin Chalidi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 11 Apr 2014 13:30:05 +0700
To: Rantau Net<[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] (OOT) Kurang Dihargai di Indonesia, Pembuat Mobil 
Listrik Pilih Pulang ke Jepang

Batua bana tu Ajo Buyuang. Dokek bona ka umah mintuo ambo. Sodiah bona awak dek 
ten. Ughang awak lah babuek tapi indak di caliak.
Awak mandoakan cukuiklah pulang dulu ka Padang Jopang sajo dulu. Jan jauah bana 
ka nagari matahari terbit.
Bagurau habih makan pulang dari surau. Kakanyangan mato mangantuak Ajo.

Salam. Darwin Chalidi. Tangsrl.

On Apr 11, 2014 1:21 PM, "Zubir Amin" <[email protected]> wrote:
Darwin,kalao Padang Jopang tu saingek JB di daerah Pikum buah,masih di Sumbar 
or Ina.
He3x.
JB,DtRJ.75thn,dlm perjalanan
ke Jember,Jatim.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
From: Darwin Chalidi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 11 Apr 2014 09:32:52 +0700
To: Rantau Net<[email protected]>
ReplyTo: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] (OOT) Kurang Dihargai di Indonesia, Pembuat Mobil Listrik 
Pilih Pulang ke Jepang

Indak pulang ka Padang tapi ka Padang Jopang.
KAMIS, 10 APRIL 2014 , 11:00:00



Menteri BUMN Dahlan Iskan saat Melihat Mobil Listrik, Selo. Foto: Jawa Pos
KARYA anak bangsa yang bisa membanggakan dunia, belum tentu mendapat tempat di 
negeri sendiri. Kekhawatiran Ricky Elson, si pembuat mobil listrik itu akhirnya 
terbukti. Ia pun tak ingin lama-lama kecewa. Daripada ilmunya sia-sia, kini si 
pemuda asli Padang ini memilih ingin kembali ke negeri Sakura.

Sekian lama Ricky menunggu izin mobil listrik yang dibuatnya bersama Menteri 
BUMN Dahlan Iskan. Berharap mobil listrik bernama Selo dan Gendhis itu, dapat 
menjadi inspirasi kelahiran mobil listrik buatan anak negeri. Namun apa daya, 
izin mobil listrik buatan pria kelahiran Padang 11 Januari 1980 itu tak kunjung 
keluar. Bahkan terkesan digantung oleh  Kementerian Riset dan Teknologi 
(Kemenristek).

"Saya tak bisa lagi menahannya (untuk pulang ke Jepang). Dulu saya 
bermohon-mohon agar pemuda ini mau kembali ke Indonesia. Ilmunya soal mobil 
listrik sangat berguna. Tapi ternyata benar, ilmu itu tidak dihargai di 
negerinya sendiri. Dia masih muda, masa depannya masih panjang,". Begitulah 
pernyataan kecewa yang diungkapkan Dahlan Iskan, perihal rencana Ricky kembali 
ke Jepang.

Dahlan yang ditemui wartawan di rumahnya di Surabaya, Rabu (9/4) pantas kecewa. 
Semangatnya melahirkan mobil masa depan, mobil listrik buatan anak negeri, 
ternyata tidak mendapat sambutan baik dari koleganya di Kemenristek. Padahal 
untuk membuat mobil listrik, Dahlan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. 
Bahkan untuk memaksa Ricky mau kembali ke Indonesia, Dahlan sampai rela seluruh 
gajinya sebagai menteri diberikan pada Ricky.

"Ricky ini sudah 14 tahun di Jepang. Ia sudah memiliki hak paten internasional 
mobil listrik di sana. Saya merayunya habis-habisan agar mau kembali ke 
Indonesia. Dia sempat takut dengan resiko gajinya turun dan belum tentu ilmunya 
dihargai. Saya terus yakinkan dia dan memberikan seluruh gaji saya tiap bulan 
untuknya. Saya minta dia membangun mimpi mobil listrik buatan anak Indonesia, 
akhirnya dia mau dan kita buat Tucuxi, Selo  dan Gendhis," kisah Dahlan 
mengenai awal perkenalannya dengan Ricky.

"Namun ternyata, kekhawatiran Ricky terjadi. Ternyata sambutan dalam negeri 
(soal mobil listrik) tidak baik. Tidak ada kepastian dan tidak ada ketentuan 
yang jelas. Saya harus minta maaf pada Ricky. Saya bayangkan dulu orang dari 
luar negeri kalau pulang bisa dimanfaatkan, ternyata tidak," tambah Dahlan 
masih dengan nada kecewa.

Dahlan seolah kehabisan alasan untuk tetap menahan pemuda cerdas itu bertahan 
di Indonesia. Apalagi hingga saat ini, Kemenristek tak jua memberikan 
penjelasan, mengapa izin itu belum dikeluarkan. Padahal mobil-mobil listrik 
buatan Ricky, sudah pernah mejeng di acara KTT APEC di Bali.

"Kalau sampai satu atau dua bulan ini tidak ada kejelasan, saya harus izinkan 
dia (Ricky) pulang ke Jepang. Dia ini anak muda yang cerdas. Masa depannya 
masih panjang. Saya tidak mau menggantung masa depannya dengan bertahan di 
Indonesia," kata Dahlan.

Izin yang Tak Kunjung Keluar

Mobil listrik Tucuxi, Selo dan Gendhis telah lama selesai. Mungkin ini bukan 
mobil listrik pertama yang dibuat di Indonesia. Namun inilah jajaran mobil 
listrik yang pertama kali dikerjakan seluruhnya oleh putra putri bangsa.

Untuk mendapatkan izin ketiga mobil listrik ini, pada awalnya Dahlan meminta 
surat izin mobil listrik kepada Kementerian Perhubungan, namun kementerian 
tersebut tidak bisa memberikan izin.

"Akhirnya Kemenhub dan Menristek bicara dan akhirnya urus izin di Menristek. 
Ini sedang kita urus," kata Dahlan menjawab wartawan beberapa bulan lalu.

Namun seiring berlalunya waktu, izin dari Kemenristek tak kunjung ada 
kejelasan. Padahal Menristek Gusti Muhammad Hatta pernah memuji mobil listrik 
Selo saat melakukan ujicoba.

Berbagai carapun sudah ditempuh bekas Dirut PLN ini agar mengantongi izin 
menggunakan mobil bernama 'Selo' itu. Dari mengirim pesan singkat (SMS), 
telephone, hingga mengirimkan surat pribadi pada Kemenristek. Hanya saja, 
upayanya hingga kini tak berbuah manis.

"Saya sudah kirim surat pribadi, sebagai salah satu orang yang bisa kendarai 
mobil listrik itu untuk uji coba. Sampai sekarang enggak dibales. Saya udah 
SMS, telepon juga sudah. Jawabannya cuma 'ya' saja, tapi tidak dikasih 
izinnya," papar Dahlan heran.

Menteri yang ogah pakai pengawalan ini juga bingung, beberapa bus listrik yang 
juga masih nangkring di Kemenristek masih kesulitan keluar izinnya. Padahal 
secara tak langsung, bus-bus listrik itu sudah melewati jarak jauh, dari 
Jakarta-Bandung-Yogjakarta-Jakarta.

"Kalau mobil listrik warna hijau waktu itu pernah saya kendarai sendiri sampai 
1000 km. Maksud saya gitu, kalau saya pakai dulu terus baru dikritik apanya 
saja yang kurang, tapi ini mau dipakai enggak bisa," sesal mantan Dirut PLN ini.

Perkenalan Ricky Elson dengan Dahlan

Saat kunjungannya ke Balikpapan beberapa waktu lalu, Kaltim Pos (Grup JPNN) 
sempat membuat laporan mengenai sosok Ricky Elson. Pemuda kelahiran tahun 1980 
ini menempuh pendidikan sarjana hingga program master di Jepang. Ia mengambil 
ilmu spesifikasi Teknik Mesin di Polytechnic University of Japan. Dia selalu 
jadi lulusan terbaik hingga dilirik seorang profesor di sana yang merupakan 
perancang motor di Nidec Corporation. Ricky pun memenuhi tawaran itu.

Meski sempat kesulitan, Ricky berhasil beradaptasi. Bahkan, dia jadi andalan di 
perusahaan tersebut. Banyak pelajaran berharga didapatkan Ricky di sana. 
Terutama untuk menumbuhkan semangat kerja. Di perusahaan tersebut, kalimat 
motivasi jadi cambuk semangat karyawan. Yakni; segera kerjakan, pastikan 
kerjakan, dan kerjakan sampai selesai!

Selain itu, perusahaan-perusahaan di Jepang punya pengertian sendiri bagi 
setiap jenjang pendidikan. S-1 misalnya. Artinya jenjang ini sekadar tahu 
bagaimana memecahkan masalah. Sedangkan S-2, bagaimana menemukan masalah dan 
menyelesaikannya. Terakhir, S-3 adalah bisa membuat masalah dan memecahkannya 
sendiri.

Berbagai filosofi Negeri Samurai ini rupanya membentuk karakter Ricky menjadi 
orang yang produktif. Buktinya, enam tahun sejak bekerja di Nidec Corporation, 
dia berhasil jadi andalan. Sekitar 80 persen produk perusahaan ini merupakan 
karya sang Putra Petir ini.

Adapun Nidec Corporation bergerak di bidang elektronik, memproduksi elemen 
motor presisi alias mikromotor.

Selama 14 tahun di Jepang, Ricky telah menemukan belasan teknologi motor 
penggerak listrik yang sudah dipatenkan oleh pemerintah Jepang.

Namun demikian, di tengah kariernya yang sedang bagus, Ricky memilih kembali ke 
Indonesia. Dia turut membeberkan alasannya pada para mahasiswa kemarin. 
Pertemuan Ricky dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, 
ternyata menjadi titik segalanya.

Bermula dari pertemuan sekitar 3 jam itu, Dahlan melobi Ricky untuk pulang dan 
berkarya di Tanah Air.

Bagi Ricky, pertemuan serupa bukan hal baru. Ada beberapa tokoh nasional yang 
sebelumnya menemui Ricky dan menawarkan untuk bekerja di Indonesia. Dia 
dijanjikan banyak hal yang barang tentu menggiurkan. Gaji tinggi mulai puluhan 
juta sampai ratusan juta rupiah, hingga diberi perusahaan, sudah biasa 
didengarnya. Tapi dia selalu menolak. Kenapa kali ini berubah?

“Yang saya tangkap, Pak Dahlan Iskan itu berbeda. Dia tak kasih janji-janji. 
Hanya berkata ‘Sudah cukup Anda kerja di luar negeri. Maukah ikut dengan saya? 
Kita bersama-sama berbuat untuk Indonesia’,” ucap Ricky menirukan percakapan 
dengan Dahlan Iskan saat itu.

“Beliau sangat paham. Dia minta saya pulang. Saya pun tak tahu kenapa tak 
menolak padahal yang lain berani menggaji hingga dua kali lipat dari yang saya 
terima kala itu,” sambungnya.

Dahlan yang mengetahui bahwa tenaga dan pikiran Ricky dihargai sangat tinggi, 
saat itu mengaku tak bisa memberikan hal serupa.

Namun supaya Ricky mau, Dahlan tanpa pusing-pusing langsung menawarkan gajinya 
sebulan sebagai menteri BUMN, untuk menjadi bayaran Ricky tiap bulan.

Berkat kesamaan visi membangun Indonesia, akhirnya kesepakatan tercapai. 
Apalagi, dia bertekad mau membalas jasa para guru yang membantunya bisa kuliah 
hingga ke Jepang. Ricky pun balik ke Indonesia dan memulai proyek mobil listrik 
Indonesia.

Selo dan Gendhis, mobil listrik karya Ricky yang sekarang jadi sorotan. Karya 
anak bangsa tak kalah dengan mobil sport buatan luar negeri. Padahal, durasi 
pengerjaannya hanya lima bulan. Selo memiliki kecepatan 250 kilometer per jam 
sedangkan Gendhis 180 kilometer per jam. “Karena mengejar untuk ditampilkan di 
APEC, motor dan controller-nya masih pakai buatan luar negeri,” sebutnya.

Menurut Ricky, langkah membuat mobil listrik saat ini sudah tepat. Beberapa 
waktu ke depan, dunia diprediksi beralih ke kendaraan listrik. Ini kesempatan 
buat Indonesia untuk memulai industrinya. Bahkan, bukan hanya Indonesia, 
seluruh negara saat ini turut berproduksi mobil listrik.

“Jika tidak dari sekarang, puluhan tahun lagi akan dipertanyakan apa produksi 
Indonesia,” ucap Ricky. “Indonesia butuh penggagas. Dari sini diharapkan lahir 
pengembang mobil listrik lain,” sambungnya.

Cerita di balik pemberian nama mobil listrik karya Ricky ini turut dibeberkan. 
Mulanya, mobil tersebut bakal dinamai Gundala. Nama itu diambil dari tokoh 
fiksi pahlawan super yang dijuluki Putra Petir. Tapi, Gundala terlanjur jadi 
nama komik. Hingga muncul nama Selo dari legenda Ki Ageng Selo yang dikenal 
dapat menangkap petir. Akhirnya nama inilah yang didaulat jadi nama mobil 
listrik Indonesia dengan model sedan sport.

“Kalau Gendhis, memang ingin dicari yang manis untuk mendampingi Selo. Jadi 
diambillah Gendhis yang artinya gula dari Bahasa Jawa,” imbuhnya.

Segera Pulang ke Jepang

Meski asli Indonesia, prestasi Ricky Elson justru mentereng di negeri Sakura. 
Di sana, ia sebenarnya telah menduduki jabatan penting. Yakni sebagai kepala 
Divisi penelitian dan pengembangan teknologi permanen magnet motor dan 
generator NIDEC Coorporation, Kyoto, Minamiku-kuzetonoshiro cho388, Jepang.

Ilmu anak Padang ini, sedikitnya telah menghasilkan sekitar 14 teori mengenai 
motor listrik dan telah pula dipatenkan oleh pemerintah Jepang. Ia telah 
kembali ke tanah air, namun kini ia berencana untuk segera pulang kembali ke 
Jepang. Melalui akun facebooknya, pembuat kincir angin terbaik di dunia untuk 
kelas 500 watt peak ini mengaku, perusahaan di Jepang tempatnya bekerja dulu, 
terus mengirimi tawaran untuknya kembali. Apalagi menurutnya, saat ini 
Indonesia belum bersahabat untuk hasil-hasil karyanya.Oh Indonesia... (afz/jpnn)

Copas dari JPPN.Com.

Darwin Chalidi, Tangsel

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNe

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke