Ass.Wr.Wb Copas Adinda ANB mengenai subject diatas dgn parameter Islami Index 
yg dibuat negara Non Muslim apakah sdh memasukkan bgmn kualitas kedzaliman atas 
nilai2 islam dlm hal hubungan bebas (Free Sex), tugas anak kpd orang tuanya, 
homoseksual, yg sdh di klaim sbg hak Individu bila ditindak akan dicap sbg 
pelanggaran HAM, spt Sultan Brunei yg akan mentrapkan Hukum Islam, dikecam 
negara2 Barat

Sangenek dr ambo Roy N.A 
Jakarta
 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Akmal Nasery Basral <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 13 May 2014 19:48:47 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [R@ntau-Net] (OOT) Seislami Apakah Kita?

KOLOM <http://m.islamindonesia.co.id/section/7-Kolom>
Seorang Muslim tengah menolong seorang perempuan tua di suatu negara Eropa

Selasa, 13 Mei 2014 16:12 WIB


Seislami Apakah Kita?

Penulis : Irfan Amalee


*Renungan untuk yang selalu menganggap dirinya sebagai Muslim.*


SYAIKH Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir pernah geram terhadap dunia
Barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang. Kepada Renan, filsuf
Perancis, Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat,
cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya. Dengan ringan Renan,
yang juga pengamat dunia Timur Tengah mengatakan (kira-kira begini
katanya), “Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Quran.
Tapi tolong tunjukan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan
kehebatan ajaran Islam”. Dan Abduh pun terdiam.

Satu abad kemudian beberapa peneliti dari George Washington University
ingin membuktikan tantangan Renan. Mereka menyusun lebih dari seratus
nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (*shiddiq*), amanah, keadilan,
kebersihan, ketapatan waktu, empati,  toleransi, dan sederet ajaran
Al-Quran serta akhlaq Rasulullah Saw. Bebekal sederet indikator yang mereka
sebut sebagai *islamicity index* mereka datang ke lebih dari 200 negara
untuk mengukur seberapara islami negara-negara tersebut. Hasilnya? Selandia
Baru dinobatkan sebagai negara paling Islami. Indonesia? Harus puas di
urutan ke 140. Nasibnya tak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang
kebanyakan bertengger di rangking 100-200.

Apa itu islam? Bagaimana sebuah negara atau seseorang dikategorikan islami?
Kebanyakan ayat dan hadis menjelaskan Islam dengan menunjukkan
indikasi-indikasinya, bukan definisi. Misalnya hadis yang yang menjelaskan
bahwa “Seorang Muslim adalah orang yang di sekitarnya selamat dari tangan
dan lisannya” itu indikator. Atau hadis yang berbunyi, “Keutamaan Islam
seseorang adalah yang meninggalkan yang tak bermanfaat”. “Barangsiapa yang
beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati tetangga ... Hormati tamu
...  Bicara yang baik atau diam”. Jika kita koleksi sejumlah hadis yang
menjelaskan tentang islam dan iman, maka kita akan menemukan ratusan
indikator keislaman seseorang yang bisa juga diterapkan pada sebuah kota
bahkan negara.

Dengan indikator-indikator di atas tak heran ketika Muhamamd Abduh melawat
ke Perancis akhirnya dia berkomentar, “Saya tidak melihat Muslim di sini,
tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebaliknya di Mesir saya melihat begitu
banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam”.

Pengalaman serupa dirasakan Professor Afif Muhammad ketika berkesempatan ke
Kanada yang merupakan negara paling islami no 5. Beliau heran melihat
penduduk di sana yang tak pernah mengunci pintu rumahnya. Saat salah
seorang penduduk ditanya tentang hal ini, mereka malah balik bertanya,
“mengapa harus dikunci?” Di kesempatan lain, masih di Kanada, seorang
pimpinan ormas Islam besar pernah ketinggalan kamera di halte bis. Setelah
beberapa jam kembali ke tempat itu, kamera masih tersimpan dengan posisi
yang tak berubah. Sungguh ironis jika kita bandingkan dengan keadaan di
negeri muslim yang sendal jepit saja bisa hilang di rumah Allah yang Maha
Melihat. Padahal jelas-jelas kata “iman” sama akar katanya dengan aman.
Artinya, jika semua penduduk beriman, seharusnya bisa memberi rasa aman.
Penduduk Kanada menemukan rasa aman padahal (mungkin) tanpa iman. Tetapi
kita merasa tidak aman di tengah orang-orang yang (mengaku) beriman.

Seorang teman bercerita, di Jerman, seorang ibu marah kepada seorang
Indonesia yang menyebrang saat lampu penyebrangan masih merah. “Saya
mendidik anak saya bertahun-tahun untuk taat aturan, hari ini Anda
menghancurkannya. Anak saya ini melihat Anda melanggar aturan, dan saya
khawatir dia akan meniru Anda”. Sangat kontras dengan sebuah video di
Youtube yang menayangkan seorang bapak-bapak di Jakarta dengan pakaian
jubah dan sorban naik motor tanpa helm. Ketika ditangkap polisi karena
melanggar, si Bapak tersebut malah marah dengan menyebut-nyebut bahwa
dirinya habib.

Mengapa kontradiksi ini terjadi? Syaikh Basuni ulama Kalimantan pernah
berkirim surat kepada Muhamamd Rashid Ridha ulama terkemuka dari Mesir.
Suratnya berisi pertanyaan: “*Limadza taakhara muslimuuna wataqaddama
ghairuhum?”*, mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju? Surat itu
dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip
dari pertanyaan itu. Inti dari jawaban Rasyid Ridha, Islam mundur karena
meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan ajarannya.

Umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran *iqra* (membaca) dan
cinta ilmu. Tidak aneh dengan situasi seperti itu, Indonesia saat ini
menempati urutan ke- 111 dalam hal tradisi membaca. Muslim juga
meninggalkan budaya disiplin dan amanah, sehingga tak heran negara-begara
Muslim terpuruk di kategori *low trust society* yang masyarakatnya sulit
dipercaya dan sulit mempercayai orang lain alias selalu penuh curiga.
Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam, karena itu
jangan heran jika kita melihat mobil-mobil mewah di kota-kota besar
tiba-tiba melempar sampah ke jalan melalui jendela mobilnya.

Siapa yang salah? Mungkin yang salah yang membuat survey. Seandainya
keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah jama’ah hajinya pastilah
Indonesia ada di ranking pertama.

*) Aktivis perdamaian dan pegiat di Gerakan Islam Cinta (GIC). Untuk
berdiskusi lebih lanjut dengan Irfan silakan hubungi di @G_IslamCinta atau
@IrfanAmaLee

http://m.islamindonesia.co.id/detail/1884-Seislami-Apakah-Kita

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke