>>: parameter Islami Index yg dibuat negara Non Muslim ...

Wa'alaikumussalam Pak Roy N. Amiroeddin,

IslamicityIndex itu bukan dibuat negara non-muslim, tapi dua profesor
ekonomi dari George Washington University. Yang pertama bernama
Scheherazade Rehman, padusi, kelahiran Pakistan besar di Bahrain dan Turki
sebelum ke AS. Yang kedua Hossein Askari kelahiran Iran, pernah menjadi
penasehat Menteri Keuangan Arab Saudi. Itu sebabnya dalam IslamicityIndex
diukur juga Economic IslamicityIndex dengan parameter a.l.:  kesetaraan
peluang untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan, serta praktik
pemberantasan korupsi di pemerintahan, seperti tertulis singkat dalam
posting awal ambo.

Dari nama kedua profesor dan sekelumit biodata keduanya, tampaknya mereka
beragama Islam.

Allahu A'lam.

Wassalam,

ANB

* * *

Pada 19 Mei 2014 22.34, <[email protected]> menulis:

> Ass.Wr.Wb Copas Adinda ANB mengenai subject diatas dgn parameter Islami
> Index yg dibuat negara Non Muslim apakah sdh memasukkan bgmn kualitas
> kedzaliman atas nilai2 islam dlm hal hubungan bebas (Free Sex), tugas anak
> kpd orang tuanya, homoseksual, yg sdh di klaim sbg hak Individu bila
> ditindak akan dicap sbg pelanggaran HAM, spt Sultan Brunei yg akan
> mentrapkan Hukum Islam, dikecam negara2 Barat
>
> Sangenek dr ambo Roy N.A
> Jakarta
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
> ------------------------------
> *From: * Akmal Nasery Basral <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Tue, 13 May 2014 19:48:47 +0700
> *To: *[email protected]<[email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *[R@ntau-Net] (OOT) Seislami Apakah Kita?
>
> KOLOM <http://m.islamindonesia.co.id/section/7-Kolom>
>  Seorang Muslim tengah menolong seorang perempuan tua di suatu negara Eropa
>
>  Selasa, 13 Mei 2014 16:12 WIB
>
>
> Seislami Apakah Kita?
>
> Penulis : Irfan Amalee
>
>
> *Renungan untuk yang selalu menganggap dirinya sebagai Muslim.*
>
>
>  SYAIKH Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir pernah geram terhadap dunia
> Barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang. Kepada Renan, filsuf
> Perancis, Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat,
> cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya. Dengan ringan Renan,
> yang juga pengamat dunia Timur Tengah mengatakan (kira-kira begini
> katanya), “Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Quran.
> Tapi tolong tunjukan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan
> kehebatan ajaran Islam”. Dan Abduh pun terdiam.
>
> Satu abad kemudian beberapa peneliti dari George Washington University
> ingin membuktikan tantangan Renan. Mereka menyusun lebih dari seratus
> nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (*shiddiq*), amanah, keadilan,
> kebersihan, ketapatan waktu, empati,  toleransi, dan sederet ajaran
> Al-Quran serta akhlaq Rasulullah Saw. Bebekal sederet indikator yang mereka
> sebut sebagai *islamicity index* mereka datang ke lebih dari 200 negara
> untuk mengukur seberapara islami negara-negara tersebut. Hasilnya? Selandia
> Baru dinobatkan sebagai negara paling Islami. Indonesia? Harus puas di
> urutan ke 140. Nasibnya tak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang
> kebanyakan bertengger di rangking 100-200.
>
> Apa itu islam? Bagaimana sebuah negara atau seseorang dikategorikan
> islami? Kebanyakan ayat dan hadis menjelaskan Islam dengan menunjukkan
> indikasi-indikasinya, bukan definisi. Misalnya hadis yang yang menjelaskan
> bahwa “Seorang Muslim adalah orang yang di sekitarnya selamat dari tangan
> dan lisannya” itu indikator. Atau hadis yang berbunyi, “Keutamaan Islam
> seseorang adalah yang meninggalkan yang tak bermanfaat”. “Barangsiapa yang
> beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati tetangga ... Hormati tamu
> ...  Bicara yang baik atau diam”. Jika kita koleksi sejumlah hadis yang
> menjelaskan tentang islam dan iman, maka kita akan menemukan ratusan
> indikator keislaman seseorang yang bisa juga diterapkan pada sebuah kota
> bahkan negara.
>
> Dengan indikator-indikator di atas tak heran ketika Muhamamd Abduh melawat
> ke Perancis akhirnya dia berkomentar, “Saya tidak melihat Muslim di sini,
> tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebaliknya di Mesir saya melihat begitu
> banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam”.
>
> Pengalaman serupa dirasakan Professor Afif Muhammad ketika berkesempatan
> ke Kanada yang merupakan negara paling islami no 5. Beliau heran melihat
> penduduk di sana yang tak pernah mengunci pintu rumahnya. Saat salah
> seorang penduduk ditanya tentang hal ini, mereka malah balik bertanya,
> “mengapa harus dikunci?” Di kesempatan lain, masih di Kanada, seorang
> pimpinan ormas Islam besar pernah ketinggalan kamera di halte bis. Setelah
> beberapa jam kembali ke tempat itu, kamera masih tersimpan dengan posisi
> yang tak berubah. Sungguh ironis jika kita bandingkan dengan keadaan di
> negeri muslim yang sendal jepit saja bisa hilang di rumah Allah yang Maha
> Melihat. Padahal jelas-jelas kata “iman” sama akar katanya dengan aman.
> Artinya, jika semua penduduk beriman, seharusnya bisa memberi rasa aman.
> Penduduk Kanada menemukan rasa aman padahal (mungkin) tanpa iman. Tetapi
> kita merasa tidak aman di tengah orang-orang yang (mengaku) beriman.
>
> Seorang teman bercerita, di Jerman, seorang ibu marah kepada seorang
> Indonesia yang menyebrang saat lampu penyebrangan masih merah. “Saya
> mendidik anak saya bertahun-tahun untuk taat aturan, hari ini Anda
> menghancurkannya. Anak saya ini melihat Anda melanggar aturan, dan saya
> khawatir dia akan meniru Anda”. Sangat kontras dengan sebuah video di
> Youtube yang menayangkan seorang bapak-bapak di Jakarta dengan pakaian
> jubah dan sorban naik motor tanpa helm. Ketika ditangkap polisi karena
> melanggar, si Bapak tersebut malah marah dengan menyebut-nyebut bahwa
> dirinya habib.
>
> Mengapa kontradiksi ini terjadi? Syaikh Basuni ulama Kalimantan pernah
> berkirim surat kepada Muhamamd Rashid Ridha ulama terkemuka dari Mesir.
> Suratnya berisi pertanyaan: “*Limadza taakhara muslimuuna wataqaddama
> ghairuhum?”*, mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju? Surat
> itu dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip
> dari pertanyaan itu. Inti dari jawaban Rasyid Ridha, Islam mundur karena
> meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan ajarannya.
>
> Umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran *iqra* (membaca) dan
> cinta ilmu. Tidak aneh dengan situasi seperti itu, Indonesia saat ini
> menempati urutan ke- 111 dalam hal tradisi membaca. Muslim juga
> meninggalkan budaya disiplin dan amanah, sehingga tak heran negara-begara
> Muslim terpuruk di kategori *low trust society* yang masyarakatnya sulit
> dipercaya dan sulit mempercayai orang lain alias selalu penuh curiga.
> Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam, karena itu
> jangan heran jika kita melihat mobil-mobil mewah di kota-kota besar
> tiba-tiba melempar sampah ke jalan melalui jendela mobilnya.
>
> Siapa yang salah? Mungkin yang salah yang membuat survey. Seandainya
> keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah jama’ah hajinya pastilah
> Indonesia ada di ranking pertama.
>
> *) Aktivis perdamaian dan pegiat di Gerakan Islam Cinta (GIC). Untuk
> berdiskusi lebih lanjut dengan Irfan silakan hubungi di @G_IslamCinta atau
> @IrfanAmaLee
>
> http://m.islamindonesia.co.id/detail/1884-Seislami-Apakah-Kita
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke