Dd Zaid Dunil (ZD) dan sanak dipalanta n a.h.


"Ini tambahan informasi yang mengungkapkan bahwa tuduhan kepada Prabowo itu
rekayasa oleh Wiranto dkk"

 Dd ZD bisa ditolong dibukakan sajo langsuang di RN ko, melalui


http://www.suaranews.com/2014/06/gile-bener-wiranto-dan-jenderal-kubu.html

susahlo  dibuka.

Atau alah ado kawan  nan bisa mambukanyo, bagilah basamo.


Pada 24 Juni 2014 08.15, Zaid Dunil <[email protected]> menulis:

> Ini tambahan informasi yang mengungkapkan bahwa tuduhan kepada Prabowo itu
> rekayasa oleh Wiranto dkk :
>
> http://www.suaranews.com/2014/06/gile-bener-wiranto-dan-jenderal-kubu.html
>
> Wass
> Dunil Zaid, 71. Kpg Ujuang Pandan Parak Karampbia Pdg, tingga di Jkt.
>
>
>
>
> 2014-06-21 9:58 GMT+07:00 fashnoor2006 via RantauNet <
> [email protected]>:
>
>> Pak Maturidi dan sanak2 sa palanta yth.
>> Tulisan di bawah menjelaskan bhw sebetulnya jend Wiranto dapat diminta
>> pertanggungjawabannya menyangkut kerusuhan sosial bulan Mei 1998 yll.
>> Salam, Fashridjal M. Noor Sidin/L/66/bdg
>>
>> Perkosaan Massal di Kerusuhan Mei 1998 Itu Memang Ada (Tinjauan Buku)
>>
>> Daniel H.t.
>> 10 May 2014 | 13:41
>>
>> Sumber: Buku dan foto koleksi penulis
>>
>> Judul Buku: Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan
>> Oleh Dewi Anggraeni
>>
>> Penerbit Buku Kompas
>> Tebal: xxxiv + 214 halaman
>>
>> Tragedi Mei 1998 masih menyimpan sejumlah misteri maha besar sampai
>> sekarang. Tragedi ini adalah salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah
>> Indonesia setelah merdeka. Padahal sebagian besar para pelaku dan
>> saksi-saksi sejarahnya masih hidup sampai dengan hari ini. Jadi, bagaimana
>> pun, sampai kini, kegagalan membuka misteri tersebut tak lepas dari tidak
>> adanya rasa tanggung jawab dan tidak adanya keberanian para pelaku dan
>> saksi-saksi sejarahnya mengungkapkannya, dan pemerintah yang paling
>> berwenang dan mempunyai kekuatan untuk membukanya, tetapi itu tak
>> dilakukannya.
>>
>> Sejak awal runtuhnya rezim Orde Baru Presiden Soeharto (21 Mei 1998),
>> yang diganti dengan wakilnya, B.J. Habibie sampai dengan pemerintah yang
>> sekarang, belum ada tanda-tanda keseriusan untuk mengungkapkan misteri
>> tersebut.
>>
>> Salah satu misteri yang paling menarik perhatian baik secara nasional,
>> maupun internasional adalah kasus perkosaan yang terutama sekali menimpa
>> perempuan-perempuan etnis Tionghoa di Jakarta, antara tanggal 13 - 15 Mei
>> 1998, dan sesudahnya.
>>
>> Pada masa-masa itu sampai dengan beberapa tahun kemudian memang beredar
>> luas di masyarakat bahwa di tengah-tengah terjadinya kerusuhan Mei 1998 itu
>> telah terjadi juga perkosaan massal (gang rape) terhadap banyak sekali
>> perempuan-perempuan etnis Tionghoa. Tetapi, informasi itu lebih banyak
>> beredar dalam bentuk gosip. Gosip itu diperparah dengan beredarnya hoax
>> berupa foto-foto yang katanya berasal dari perkosaan etnis Tionghoa, yang
>> kemudian bisa dibuktikan palsu. Ini membuat kepercayaan terhadap Tim
>> relawan semakin menipis.
>>
>> Tidak adanya korban perkosaan yang tampil di depan umum membuat publik
>> kemudian meragukan kebenaran informasi tersebut. Pemerintah yang saat itu
>> tidak terlalu serius menangani kasus itu diuntungkan dengan kondisi
>> demikian.
>>
>> Padahal sebenarnya saat itu juga, sejumlah tokoh masyarakat, pekerja
>> kemanusiaan, dan pembela hak asasi manusia (HAM), yang terdiri dari
>> berbagai etnis, agama, dan profesi itu, tergugah untuk bersatu bahu-membahu
>> melakukan investigasi terhadap kebenaran kasus perkosaan itu. Hasilnya,
>> sungguh mengejutkan bahwa memang benar telah terjadi banyak kasus perkosaan
>> yang menimpa perempuan-perempuan Tionghoa itu. Para relawan itu kemudian
>> secara diam-diam melakukan pendekatan-pendekatan kemanusiaan terhadap para
>> korban yang sebagian besar berada dalam keadaan sangat memprihatinkan baik
>> dari aspek psikologis, maupun fisik. Mereka sangat tertutup, dan sangat
>> ketakutan setiap kali melihat orang yang tidak dikenalnya, terutama
>> laki-laki dalam jumlah banyak.
>>
>> Tim Relawan tentang Kemanusiaan beberapa kali meminta bertemu dengan
>> Menteri Pertahanan dan Keamanan / Panglima ABRI pada saat itu, Jenderal
>> Wiranto, Menteri Peranan Wanita, dan Menteri Dalam Negeri, tetapi tidak
>> mendapat respon sebagaimana mestinya. Akhirnya, para relawan itu memutuskan
>> untuk meminta bertemu langsung dengan Presiden B.J. Habibie untuk
>> melaporkan temuan mereka. Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya Presiden
>> Habibie bersedia bertemua dengan mereka.
>>
>> Pada 15 Juli 1998 berlangsunglah pertemuan itu di Bina Graha. Pada saat
>> itu, yang hadir semua perempuan. Mereka menyampaikan laporannya, dan
>> menuntut pemerintah meminta maaf, dan mengutuk kasus perkosaan terhadap
>> perempuan itu. Habibie yang semula juga ragu dengankebenaran informasi
>> tentang pemerkosaan itu, menjadi percaya setelah membaca laporan tim
>> relawan yang disertai dengan sejumlah foto.
>>
>> Reaksi Habibie saat itu, wajahnya yang tadinya penuh keraguan menjadi
>> berubah. Tiba-tiba dia berkata kepada para relawan itu, "Saya ingat
>> sekarang. Seorang keponakan saya, seorang dokter, pernah menceritakan hal
>> serupa. Saya percaya anda sekalian. Keponakan saya tidak akan berbohong
>> kepada saya," lalu katanya, dia atas nama pemerintah bersedia membuat
>> pernyataan maaf dan mengutuk peristiwa perkosaan itu. Pernyataan itu dibaca
>> Presiden Habibie pada hari itu juga di dalam suatu konferensi pers yang
>> khusus diadakan untuk itu.
>>
>> Dari pertemuan dengan Habibie itu juga dihasilkan janji Habibie untuk
>> mendirikan badan independen, yang nantinya dinamakan Komisi Nasional Anti
>> Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan dibentuknya Tim
>> Gabungan Pencari Fakta atas Kerusuhan Mei 1998. Namun, sampai sekarang
>> belum ada proses hukum lebih lanjut untuk meminta pertanggungjawaban para
>> pelaku dan otaknya,
>>
>> Demikianlah yang ditulis di dalam buku yang berjudul Tragedi 1998 dan
>> Lahirnya Komnas Perempuan (Penerbit Buku Kompas,2014), oleh Dewi Angraeni,
>> seorang penulis aktif yang tinggal di Melbourne, Australia, yang juga
>> adalah kontributor Majalah Tempo. Dewi menulis buku ini berdaraskan
>> dokumen-dokumen Tragedi Mei 1998 dan wawancara dengan para relawan yang
>> terlibat langsung dalam investigasi dan penanganan korban-korban
>> pemerkosaan Mei 1998 itu.
>>
>> Buku itu diawali dengan kisah pertemuan dengan Presiden Habibie itu
>> dengan penyampaian laporan hasil investigasi Tim Relawan untuk Kemanusiaan
>> mengenai fakta terjadinya pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis
>> Tionghoa itu. Kemudian, "flash-back" di bab-bab berikutnya mengenai
>> bagaimana sampai Tim Relawan untuk Kemanusiaan itu terbentuk sebagai respon
>> atas jatuhnya korban jiwa dan korban pemerkosaan pada waktu itu.
>>
>> Buku Tragedi Mei 1998dan Lahirnya Komnas Perempuan ini mengisahkan
>> beratnya perjuangan para relawan tersebut, keprihatinannya terhadap reaksi
>> masyarakat pada umumnya, dan lebih-lebih kepada pemerintah yang bersikap
>> apatis terhadap kasus yang merendahkan martabat perempuan pada umumnya itu.
>> Meskipun juga berhasil mendapat perhatian dari Presiden B.J. Habibie, yang
>> secara langsung menyatakan permintaan maaf dan kutukan pemerintah atas
>> kejadian tersebut.
>>
>> Misalnya, di halaman 59-60, ditulis mengenai kesaksian Guru Besar Ilmu
>> Psikologi Universitas Indonesia ketika itu, Prof. Dr. Saparinah Sadli, yang
>> Ketua Tim Relawan, kemudian juga diangkat sebagai Ketua Komnas Perempuan
>> yang pertama (22 Juli 1998), yang saat itu sedang berupaya bertemu dengan
>> Wiranto, secara tak sengaja perhatiannya tertarik pada tayangan televisi
>> yang sedang menyiarkan pernyataan Wiranto, menjawab pertanyaan wartawan.
>> Wiranto menjawab, anak buahnya sudah mendatangi semua rumah sakit di
>> Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, bahkan juga di Singapura, untuk
>> bertemu dengan korban-korban perkosaan yang laporannya mereka terima, namun
>> mereka selalu mendapat jawaban, tidak ada korban perkosaan. Jadi, menurut
>> Wiranto, itu semua hanya dugaan semata. Tidak ada bukti. Tidak ada korban.
>> Tidak ada saksi.
>>
>> Bukan main marahnya Saparinah, karena dia baru saja datang dari kawasan
>> Pluit menjumpai beberapa korban.Dia langsung menghubungi beberapa rekan
>> relawannya, memutuskan untuk bertemu langsung dengan Presiden Habibie.
>> Kemudian terjadilah pertemuan 15 Juli 1998 yang disebutkan di atas.
>>
>> Diungkapkan pula di dalam buku ini, betapa sulitnya mereka meyakinkan
>> publik, terutama pemerintah yang sangat kaku dalam menyikapi upaya
>> pengungkapan kasus pemerkosaan itu. Bahkan seorang tokoh pembela HAM
>> internasional seperti Sidney Jones pun dikatakan sempat meragukan kebenaran
>> adanya pemerkosaan-pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa itu. Semua orang,
>> termasuk Jones minta bukti berupa harus bisa melihat dan mendengar sendiri
>> kesaksian-kesaksian para korban. Padahal para korban itu kondisi jiwa dan
>> fisiknya rata-rata sangat, sangat memprihatinkan. Ada yang sampai dibuang
>> keluarganya sendiri dengan alasan pembawa aib, ada yang gila, dan ada yang
>> bunuh diri.  Mereka sangat takut bila melihat orang yang tidak dikenalnya,
>> terutama sekali laki-laki. Tim relawan sendiri memerlukan pendekatan yang
>> ekstra hati-hati dan sabar sebelum bisa meyakinkan para korban bahwa tim
>> relawan itu orang-orang yang bermaksud baik, sangat sungguh-sungguh mau
>> menolong mereka.
>>
>> Perkosaan massal itu kebanyakan terjadi rumah korban, dan tidak sedikit
>> juga yang terjadi di tempat umum (di jalanan). Pelaku setelah diperkosa,
>>  juga dirusak fisiknya, termasuk dimutilasi. Ada yang, misalnya dengan,
>> maaf, dipotong kedua putingnya.
>>
>> Pada buku itu juga dimuat arsip berita di koran Suara Pembaruan
>> (26/06/1998), mengenai saksi mata seorang wartawan Media Indonesia, bernama
>> Selamet Saragih. Dia mengaku mengalami trauma yang dalam setelah melihat
>> sendiri dengan mata kepalanya, di kawasan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat,
>> dua orang perempuan Tionghoa berusia sekitar 25 tahun, yang diseret keluar
>> dari mobil sedan Honda mereka oleh sejumlah laki-laki, yang langsung
>> menelanjangi mereka, melecehkan etnis mereka, kemudian diseret
>> beramai-ramai ke arah Jembatan Grogol.
>>
>> Korban-korban perkosaan yang berhasil didekati para relawan itu
>> menyatakan mereka diancam para pelaku pemerkosaan itu, kalau sampai berani
>> muka mulut, mereka, atau anggota keluarga mereka yang lain akan diperkosa
>> lagi dengan cara yang serupa atau yang lebih kejam lagi.
>>
>> Oleh karena itu bagi tim relawan sangat tak masuk akal kalau orang-orang
>> itu meminta bertemu dan mendengar kesaksian para korban, sebelum mereka
>> percaya adanya kasus pemerkosaan massal (di Jakarta) itu.
>>
>> Sri Palupi, koordinator investigasi dan pendataan Tim Relawan untuk
>> Kemanusiaan, berkata, "Bayangkan seandainya ibu kamu, kakak kamu, adik
>> kamu, anak kamu adalah seorang korban perkosaan, apakah kamu mau mereka
>> muncul ke publik? Kredibilitas? Kredibilitas yang kami pentingkan bukan
>> kredibilitas kalian, tapi kredibilitas para korban. Kepercayaan korban
>> kepada kami."
>>
>> Tim relawan tak mau kepercayaan yang begitu sulit didapat dari para
>> korban, dikhianati mereka dengan menampilkan para korban itu ke hadapan
>> publik, atau mempertemukan mereka dengan orang lain. Terhadap korban
>> perkosaan biasa saja hal itu sangat sulit dilakukan, apalagi terhadap
>> korban perkosaan dalam kasus kerusuhan Mei 1998 itu. Semua korban bukan
>> hanya diperkosa saja, secara bergilir, tetapi juga direndahkan etnisnya,
>> dan disiksa secara fisik. Tidak sedikit yang dilakukan di hadapan
>> keluarganya. Bahkan ada orangtua korban yang tak tahan lantas menyuruh
>> anaknya bunuh diri sebelum pergi meninggalkannya begitu saja!.
>>
>> Belakangan Sidney Jones meminta maaf atas ketidakpercayaannya kepada Tim
>> Relawan setelah terjadinya kasus pembunuhan yang dilakukan secara sadis
>> terhadap Ita Martadinata. Ita Mardinata adalah seorang siswi SMA dari etnis
>> Tionghoa, yang saat itu baru berusia 18 tahun. Dia adalah salah satu korban
>> yang perlahan-lahan bersama keluarganya mulai berhasil merajut kembali
>> kehidupannya. Ibunya bahkan bergabung dengan Tim Relawan. Ita sudah
>> menyatakan kesediaannya untuk memberi kesaksian di hadapan beberapa
>> kelompok internasional pembela hak asasi manusia di Amerika Serikat, siap
>> beranbgkat bersama rombongan ke sana dipimpin Karlina Supeli. Tetapi,
>> sebelum berangkat dia dibunuh secara keji di rumahnya, pada Jumat, 9
>> Oktober 1998.
>>
>> Sri Palupi menganalisis bahwa sejak krisis moneter pada 1997, sudah ada
>> gejala-gejala akan timbulnya kerusuhan Mei 1998 itu, dengan memanfaatkan
>> sentimen anti-Tionghoa yang sebelumnya sudah dibentuk oleh beberapa
>> pejabat/aparat pada berbagai kesempatan. Mereka, termasuk para jenderal
>> yang tidak ada hubungannya dengan urusan ekonomi, berbicara dalam ranah
>> publik seolah-olah mereka memahami betul masalah ekonomi. Dalam berbagai
>> pernyataannya, mereka mengatakan bahwa krisis ekonomi melanda Indonesia
>> karena orang Tionghoa melarikan uang rakyat ke luar negeri, sengaja
>> menimbun sembako sehingga rakyat sengsara dan kelapran, orang Tionghoa-lah
>> penyebab terjadinya krisis ini, dan sebagainya.
>>
>> Analisis Sri Palupi ini sejalan dengan hasil investigasi dari TGPF yang
>> dilaporkan di dalam buku Kerusuhan Mei 1998, Fakta, Data & Analisa (edisi
>> revisi, 2007). Di dalam buku itu antara lain TGPF menemukan indikasi kuat
>> kerusuhan Mei 1998 tidak lepas dari pengkondisian situasi, antara lain
>> mengkristalkan sentimen anti-Tionghoa (anti-Cina) di kalangan masyarakat
>> luas.  TGPF bahkan menyebutkan pengkondisian tersebut sudah mulai dibentuk
>> sejak 1995, dengan timbulnya berbagai kerusuhan anti-Cina yang marak,
>> antara lain di Situbundo, Tasikmalaya, Rengasdengklok, dan Ujung Pandang.
>>
>> Hasil investigasi TGPF menyebutkan khusus di Jakarta,  korban tewas
>> karena terperangkap dalam kebakaran berjumlah 1.190 orang, 27 tewas karena
>> senjata tajam.benda lain, 91 luka-luka. Sedangkan Polda Metro Jaya menyebut
>> angka 451 tewas, luka-luka tidak tercatat. Kodam Jaya menyebut angka 463
>> tewas, 69 luka-luka.
>>
>> TGPF menyebutkan dalam laporannya bahwa kekerasan seksual/perkosaan benar
>> telah terjadi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang diketuai oleh Professsor
>> Dr. Mahar Marjono melakukan verifikasi data dengan menggunakan prosedur
>> yang dinamakan Protokol Jakarta yang bersumber pada Protokol Minnesota, dan
>> mengakui kasus itu ada.
>>
>> Tim Relawan untuk Kemanusiaan juga menemukan fakta bahwa kerusuhan Mei
>> memang sengaja dikobarkan, terbukti dengan tak hadirnya aparat di dalam
>> setiap peristiwa. Atau kalau aparat ada, mereka hanya diam saja. Para
>> provokar, pimpinan, dan sejumlah pelaku kerusuhan mempunyai ciri-ciri yang
>> sama di setiap kerusuhan di seluruh wilayah
>>
>> Laporan Tim Relawan menyatakan, "Bagaimana 'kebetulan' harus dijelaskan
>> oleh fakta keluasan lingkup kejadian di wilayah seluas Jakarta dan
>> sekitarnya? Bagaimana  sang 'kebetulan' itu harus dijelaskan oleh kesamaan
>> waktu dari banyak peristiwa perusakan, penjarahan, dan pembakaran di
>> wilayah seluas Jakarta dan sekitarnya? Bagaimana si 'kebetulan' itu harus
>> dijelaskan oleh berbagai kesamaan 'awal peristiwa' perusakan, penjarahan,
>> dan pembakaran? (misalnya, pengajak dan pemimpin perusakan tidak datang
>> dari daerah warga setempat; modus kedatangan pengajak dan pemimpin
>> perusakan dengan kendaraan; tidak ada peristiwa perusakan yang dimulai oleh
>> warga setempat). Dan bagaimana si 'kebetulan' itu harus dijelaskan oleh
>> kesamaan pola janggal berikut: bahw apara pengajak dan pimpinan
>> perusak/pembakaran tidak ikut menjarah. Bahkan dalam banyak kasus, para
>> pengajak dan pemimpin segera meninggalkan massa yang mulai bergerak untuk
>> merusak dan menjarah."
>>
>> Sedangkan ciri khas para provokar dan penggerak kerusuhan itu sama di
>> setiap wilayah, yakni:
>>
>> -Kelompok pemuda yang memakai pakaian pelajar SLTA atau pakaian yang
>> biasa dipakai mahasiswa-jaket dengan warna-warna tertentu.
>>
>> -Kelompok remaha berpakaian lusuh, berwajah tanpa emosi, dingin, dan
>> sangar,
>>
>> -Kelompok pemuda berbadan kekar, berambut cepak, bersepatu bot militer,
>>
>> -Kelompok pemuda yang berbadan kekar, berwajah dingin, sangar, dan
>> bertato.
>>
>> Pada 13 Juli, Laporan Tim relawan untuk Kemanusiaan, juga juga
>> diterbitkan Komnas Perempuan bersama dengan Laporan TGPF diserahkan kepada
>> Komnas HAM yang saat itu dipimpin oleh Asmara Nababan. Judul laporannya:
>> "Dokumen Awal No. 3 tentang Perkosaan Massal dalam Rentetan Kerusuhan
>> Puncak Kebiadaban dalam Kehidupan Bangsa."
>>
>> Di dalam laporan itu antara disebut dari 13 Mei - 3 Juli 1998 dirincikan
>> mengenai jumlah kasus perkosaan itu, secara total korban perkosaan dan
>> pelecehan seksual massal yang melapor atau dilaporkan sebanyak 168 korban,
>> 20 di antaranya tewas. Yang masih hidup kebanyakan menderita luka-luka
>> fisik dan trauma psikologis yang dalam.
>>
>> Penulis buku ini, Dewi Anggraeni, menganalisis etnis Tionghoa dan
>> perempuannya sengaja dijadikan sasaran kerusuhan dan pemerkosaan, karena
>> kelompok ini dianggap paling lemah, paling gampang dijadikan sasaran,
>> karena tidak bisa melawan. Kelompok ini sengaja dijadikan sasaran juga
>> karena memang sebelumnya sudah dikondisikan sebagai obyek untuk memicu
>> suatu kerusuhan.
>>
>> Dewi juga menulis di bukunya itu, etnis Tionghoa bukan sasaran utama dari
>> kerusuhan Mei, tetapi mereka dimanfaatkan sebagai sasaran antara untuk
>> menimbulkan kerusuhan besar itu. Kerusuhan sengaja diciptakan untuk
>> maksud-maksud dan ambisi politik tertentu dari sutradaranya.
>>
>> Massa sengaja diprovolkasi untuk melakukan perusakan, penjarahan, dan
>> pembakaran aset-aset Tionghoa yang kemudian menjalar ke properti umum
>> lainnya, sehingga pecahlah kerusuhan besar.
>>
>> Sent from my BlackBerry(R) smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
>> Teruuusss...!
>>
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>>   1. Email besar dari 200KB;
>>   2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>>   3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Google Grup.
>>
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke