lah kanai bahaso arab ko yo paniang lo wak, sia ko lah, apo warga negara arab atau arab nan tingga di puncak atau urang awak nan tingga di arab.

kebetulan ambo pas bana sedang mamacik koran Kompas dan disinan ado di Halaman 2 disinan tatulis sub judulnyo "‎Penculikan Aktivis" dan judulnyo"Bawaslu: Wiranto tak Melanggar. 
untuak jalehnyo silahkan bali Kompas, atau pinjam juo buliah, nan ambo ndak kamingkas tulisan iko, beko kanai dongkak lo dek pro Jokowi hehehehe.

silahkan membaca, Kompas media Mainstream dan antah lo kok lah kanai sipak lo ndak atau bapihak lo dituduah koran ko.


Nanang, sadang mambaco Kompas.Jkt

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Indosat network.
From: زهرمان ارماندز موابيزي
Sent: Thursday, 26 June 2014 09:16
Subject: Re: [R@ntau-Net] Di Apakan Pati kita ini ? ( maaf tidak semua)

Suaranews

24 Juni 2014
Gile Bener... Wiranto Dan Jenderal Kubu Jokowi Lainnya Ternyata Yang Perintahkan 13 Aktivis 98 Supaya 'Dibinasakan'

wiranto luhut

Situasi nasional pasca turunnya Presiden Suharto belumlah menjamin stabilitas nasional. Hal ini dikatakan Jenderal Wiranto terkait desakan pemerintah Amerika Serikat dan Australia serta sejumlah LSM HAM internasional dan LSM lokal yang menuntut diselidikinya secara tuntas pelanggaran HAM terhadap kerusuhan Mei dan penangkapan sejumlah aktifis.

Dimana 13 aktifis yang masih dalam kontrol Pangkoops Jaya. Karena itu perlu diambil langkah strategis untuk melakukan suatu upaya meredam atas langkah mantan Danjen Kopassus yang sudah diluar subordinasi, melepaskan 9 aktifis tanpa adanya perintah dari Pangab sehingga menyebabkan makin membesarnya tuntutan reformasi dari mahasiswa.

Demikian butir kedua dari notulensi rapat terbatas yang dilakukan mantan Panglima ABRI Jenderal Purn Wiranto pada 17 Juli 1998 silam. Notulensi rapat ini dijadikan bukti yang diserahkan Koordinator Umum Jaringan Mahasiswa Indonesia untuk Keadilan (Jamaika) Eko Wardaya ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Senin (23/6).

Butir pertama dari notulensi rapat terbatas, dinyatakan bahwa rapat dibuka pada pukul 17.00 WIB. Dipimpin Jenderal Wiranto dan dihadiri Letjen Agum Gumelar, Jenderal Subagio Hadisiswoyo, Jenderal Fachrul Rozi dan Letnan Jenderal Yusuf Kartanegara. Rapat digelar di rumah Pangab Wiranto.

Pada butir ketiga, Letjen Agum Gumelar berpendapat mengenai perlunya dilakukan kanalisasi agar diciptakan aktor yang dijadikan tokoh utama segala dalang kerusuhan Mei dan penangkapan aktifis kiri dan Islam.

Keempat, Jenderal Subagio Hadisiswoyo menyarankan agar kepergian sejumlah perwira TNI ke Malang tanggal 12 Mei 1998 bisa dijadikan alibi untuk mengarahkan pada mantan Danjen Kopassus (Prabowo) sebagai aktor utama dibalik kerusuhan di Jakarta dan penangkapan aktifis.

Kelima, Letjen Fachrul Rozi mengusulkan agar segera dibentuk Dewan Kehormatan Perwira tanpa melalui Mahkamah Militer untuk memberhentikan mantan Danjen Kopassus agar tercipta opini publik bahwa mantan Danjen Kopassus tersebutlah tokoh kerusuhan di Jakarta dan penangkapan aktifis serta rencana kudeta pada Presiden Habibie.

Butir terakhir, para peserta rapat menanyakan kepada Jenderal Wiranto tentang 13 aktifis yang masih dalam pengendalian Pangkoops Jaya, lalu Jenderal Wiranto memerintahkan agar disukabumikan saja dan seluruh peserta rapat menyetujui dan segera Kasad akan memanggil Pangkoops Jaya.

Dalam notulensi rapat yang dicatat oleh Sekpri Pangab tersebut, seluruh peserta rapat membubuhkan tandatangannya masing-masing. Notulen yang bersifat rahasia dan terbatas ini dalam bab perihal dinyatakan sebagai 'Operasi Kuningan'.

On 24 Jun 2014 11:31, "Maturidi Donsan" <[email protected]> wrote:

Dd Zaid Dunil (ZD) dan sanak dipalanta n a.h.

 

"Ini tambahan informasi yang mengungkapkan bahwa tuduhan kepada Prabowo itu rekayasa oleh Wiranto dkk"

Dd ZD bisa ditolong dibukakan sajo langsuang di RN ko, melalui  


http://www.suaranews.com/2014/06/gile-bener-wiranto-dan-jenderal-kubu.html

susahlo  dibuka.

Atau alah ado kawan  nan bisa mambukanyo, bagilah basamo.



Pada 24 Juni 2014 08.15, Zaid Dunil <[email protected]> menulis:
Ini tambahan informasi yang mengungkapkan bahwa tuduhan kepada Prabowo itu rekayasa oleh Wiranto dkk :

http://www.suaranews.com/2014/06/gile-bener-wiranto-dan-jenderal-kubu.html

Wass
Dunil Zaid, 71. Kpg Ujuang Pandan Parak Karampbia Pdg, tingga di Jkt.




2014-06-21 9:58 GMT+07:00 fashnoor2006 via RantauNet <[email protected]>:
Pak Maturidi dan sanak2 sa palanta yth.
Tulisan di bawah menjelaskan bhw sebetulnya jend Wiranto dapat diminta pertanggungjawabannya menyangkut kerusuhan sosial bulan Mei 1998 yll.
Salam, Fashridjal M. Noor Sidin/L/66/bdg

Perkosaan Massal di Kerusuhan Mei 1998 Itu Memang Ada (Tinjauan Buku)

Daniel H.t.
10 May 2014 | 13:41

Sumber: Buku dan foto koleksi penulis

Judul Buku: Tragedi Mei 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan
Oleh Dewi Anggraeni

Penerbit Buku Kompas
Tebal: xxxiv + 214 halaman

Tragedi Mei 1998 masih menyimpan sejumlah misteri maha besar sampai sekarang. Tragedi ini adalah salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia setelah merdeka. Padahal sebagian besar para pelaku dan saksi-saksi sejarahnya masih hidup sampai dengan hari ini. Jadi, bagaimana pun, sampai kini, kegagalan membuka misteri tersebut tak lepas dari tidak adanya rasa tanggung jawab dan tidak adanya keberanian para pelaku dan saksi-saksi sejarahnya mengungkapkannya, dan pemerintah yang paling berwenang dan mempunyai kekuatan untuk membukanya, tetapi itu tak dilakukannya.

Sejak awal runtuhnya rezim Orde Baru Presiden Soeharto (21 Mei 1998), yang diganti dengan wakilnya, B.J. Habibie sampai dengan pemerintah yang sekarang, belum ada tanda-tanda keseriusan untuk mengungkapkan misteri tersebut.

Salah satu misteri yang paling menarik perhatian baik secara nasional, maupun internasional adalah kasus perkosaan yang terutama sekali menimpa perempuan-perempuan etnis Tionghoa di Jakarta, antara tanggal 13 - 15 Mei 1998, dan sesudahnya.

Pada masa-masa itu sampai dengan beberapa tahun kemudian memang beredar luas di masyarakat bahwa di tengah-tengah terjadinya kerusuhan Mei 1998 itu telah terjadi juga perkosaan massal (gang rape) terhadap banyak sekali perempuan-perempuan etnis Tionghoa. Tetapi, informasi itu lebih banyak beredar dalam bentuk gosip. Gosip itu diperparah dengan beredarnya hoax berupa foto-foto yang katanya berasal dari perkosaan etnis Tionghoa, yang kemudian bisa dibuktikan palsu. Ini membuat kepercayaan terhadap Tim relawan semakin menipis.

Tidak adanya korban perkosaan yang tampil di depan umum membuat publik kemudian meragukan kebenaran informasi tersebut. Pemerintah yang saat itu tidak terlalu serius menangani kasus itu diuntungkan dengan kondisi demikian.

Padahal sebenarnya saat itu juga, sejumlah tokoh masyarakat, pekerja kemanusiaan, dan pembela hak asasi manusia (HAM), yang terdiri dari berbagai etnis, agama, dan profesi itu, tergugah untuk bersatu bahu-membahu melakukan investigasi terhadap kebenaran kasus perkosaan itu. Hasilnya, sungguh mengejutkan bahwa memang benar telah terjadi banyak kasus perkosaan yang menimpa perempuan-perempuan Tionghoa itu. Para relawan itu kemudian secara diam-diam melakukan pendekatan-pendekatan kemanusiaan terhadap para korban yang sebagian besar berada dalam keadaan sangat memprihatinkan baik dari aspek psikologis, maupun fisik. Mereka sangat tertutup, dan sangat ketakutan setiap kali melihat orang yang tidak dikenalnya, terutama laki-laki dalam jumlah banyak.

Tim Relawan tentang Kemanusiaan beberapa kali meminta bertemu dengan Menteri Pertahanan dan Keamanan / Panglima ABRI pada saat itu, Jenderal Wiranto, Menteri Peranan Wanita, dan Menteri Dalam Negeri, tetapi tidak mendapat respon sebagaimana mestinya. Akhirnya, para relawan itu memutuskan untuk meminta bertemu langsung dengan Presiden B.J. Habibie untuk melaporkan temuan mereka. Setelah beberapa kali berusaha, akhirnya Presiden Habibie bersedia bertemua dengan mereka.

Pada 15 Juli 1998 berlangsunglah pertemuan itu di Bina Graha. Pada saat itu, yang hadir semua perempuan. Mereka menyampaikan laporannya, dan menuntut pemerintah meminta maaf, dan mengutuk kasus perkosaan terhadap perempuan itu. Habibie yang semula juga ragu dengankebenaran informasi tentang pemerkosaan itu, menjadi percaya setelah membaca laporan tim relawan yang disertai dengan sejumlah foto.

Reaksi Habibie saat itu, wajahnya yang tadinya penuh keraguan menjadi berubah. Tiba-tiba dia berkata kepada para relawan itu, "Saya ingat sekarang. Seorang keponakan saya, seorang dokter, pernah menceritakan hal serupa. Saya percaya anda sekalian. Keponakan saya tidak akan berbohong kepada saya," lalu katanya, dia atas nama pemerintah bersedia membuat pernyataan maaf dan mengutuk peristiwa perkosaan itu. Pernyataan itu dibaca Presiden Habibie pada hari itu juga di dalam suatu konferensi pers yang khusus diadakan untuk itu.

Dari pertemuan dengan Habibie itu juga dihasilkan janji Habibie untuk mendirikan badan independen, yang nantinya dinamakan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), dan dibentuknya Tim Gabungan Pencari Fakta atas Kerusuhan Mei 1998. Namun, sampai sekarang belum ada proses hukum lebih lanjut untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku dan otaknya,

Demikianlah yang ditulis di dalam buku yang berjudul Tragedi 1998 dan Lahirnya Komnas Perempuan (Penerbit Buku Kompas,2014), oleh Dewi Angraeni, seorang penulis aktif yang tinggal di Melbourne, Australia, yang juga adalah kontributor Majalah Tempo. Dewi menulis buku ini berdaraskan dokumen-dokumen Tragedi Mei 1998 dan wawancara dengan para relawan yang terlibat langsung dalam investigasi dan penanganan korban-korban pemerkosaan Mei 1998 itu.

Buku itu diawali dengan kisah pertemuan dengan Presiden Habibie itu dengan penyampaian laporan hasil investigasi Tim Relawan untuk Kemanusiaan mengenai fakta terjadinya pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa itu. Kemudian, "flash-back" di bab-bab berikutnya mengenai bagaimana sampai Tim Relawan untuk Kemanusiaan itu terbentuk sebagai respon atas jatuhnya korban jiwa dan korban pemerkosaan pada waktu itu.

Buku Tragedi Mei 1998dan Lahirnya Komnas Perempuan ini mengisahkan beratnya perjuangan para relawan tersebut, keprihatinannya terhadap reaksi masyarakat pada umumnya, dan lebih-lebih kepada pemerintah yang bersikap apatis terhadap kasus yang merendahkan martabat perempuan pada umumnya itu. Meskipun juga berhasil mendapat perhatian dari Presiden B.J. Habibie, yang secara langsung menyatakan permintaan maaf dan kutukan pemerintah atas kejadian tersebut.

Misalnya, di halaman 59-60, ditulis mengenai kesaksian Guru Besar Ilmu Psikologi Universitas Indonesia ketika itu, Prof. Dr. Saparinah Sadli, yang Ketua Tim Relawan, kemudian juga diangkat sebagai Ketua Komnas Perempuan yang pertama (22 Juli 1998), yang saat itu sedang berupaya bertemu dengan Wiranto, secara tak sengaja perhatiannya tertarik pada tayangan televisi yang sedang menyiarkan pernyataan Wiranto, menjawab pertanyaan wartawan. Wiranto menjawab, anak buahnya sudah mendatangi semua rumah sakit di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia, bahkan juga di Singapura, untuk bertemu dengan korban-korban perkosaan yang laporannya mereka terima, namun mereka selalu mendapat jawaban, tidak ada korban perkosaan. Jadi, menurut Wiranto, itu semua hanya dugaan semata. Tidak ada bukti. Tidak ada korban. Tidak ada saksi.

Bukan main marahnya Saparinah, karena dia baru saja datang dari kawasan Pluit menjumpai beberapa korban.Dia langsung menghubungi beberapa rekan relawannya, memutuskan untuk bertemu langsung dengan Presiden Habibie. Kemudian terjadilah pertemuan 15 Juli 1998 yang disebutkan di atas.

Diungkapkan pula di dalam buku ini, betapa sulitnya mereka meyakinkan publik, terutama pemerintah yang sangat kaku dalam menyikapi upaya pengungkapan kasus pemerkosaan itu. Bahkan seorang tokoh pembela HAM internasional seperti Sidney Jones pun dikatakan sempat meragukan kebenaran adanya pemerkosaan-pemerkosaan terhadap etnis Tionghoa itu. Semua orang, termasuk Jones minta bukti berupa harus bisa melihat dan mendengar sendiri kesaksian-kesaksian para korban. Padahal para korban itu kondisi jiwa dan fisiknya rata-rata sangat, sangat memprihatinkan. Ada yang sampai dibuang keluarganya sendiri dengan alasan pembawa aib, ada yang gila, dan ada yang bunuh diri.  Mereka sangat takut bila melihat orang yang tidak dikenalnya, terutama sekali laki-laki. Tim relawan sendiri memerlukan pendekatan yang ekstra hati-hati dan sabar sebelum bisa meyakinkan para korban bahwa tim relawan itu orang-orang yang bermaksud baik, sangat sungguh-sungguh mau menolong mereka.

Perkosaan massal itu kebanyakan terjadi rumah korban, dan tidak sedikit juga yang terjadi di tempat umum (di jalanan). Pelaku setelah diperkosa,  juga dirusak fisiknya, termasuk dimutilasi. Ada yang, misalnya dengan, maaf, dipotong kedua putingnya.

Pada buku itu juga dimuat arsip berita di koran Suara Pembaruan (26/06/1998), mengenai saksi mata seorang wartawan Media Indonesia, bernama Selamet Saragih. Dia mengaku mengalami trauma yang dalam setelah melihat sendiri dengan mata kepalanya, di kawasan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, dua orang perempuan Tionghoa berusia sekitar 25 tahun, yang diseret keluar dari mobil sedan Honda mereka oleh sejumlah laki-laki, yang langsung menelanjangi mereka, melecehkan etnis mereka, kemudian diseret beramai-ramai ke arah Jembatan Grogol.

Korban-korban perkosaan yang berhasil didekati para relawan itu menyatakan mereka diancam para pelaku pemerkosaan itu, kalau sampai berani muka mulut, mereka, atau anggota keluarga mereka yang lain akan diperkosa lagi dengan cara yang serupa atau yang lebih kejam lagi.

Oleh karena itu bagi tim relawan sangat tak masuk akal kalau orang-orang itu meminta bertemu dan mendengar kesaksian para korban, sebelum mereka percaya adanya kasus pemerkosaan massal (di Jakarta) itu.

Sri Palupi, koordinator investigasi dan pendataan Tim Relawan untuk Kemanusiaan, berkata, "Bayangkan seandainya ibu kamu, kakak kamu, adik kamu, anak kamu adalah seorang korban perkosaan, apakah kamu mau mereka muncul ke publik? Kredibilitas? Kredibilitas yang kami pentingkan bukan kredibilitas kalian, tapi kredibilitas para korban. Kepercayaan korban kepada kami."

Tim relawan tak mau kepercayaan yang begitu sulit didapat dari para korban, dikhianati mereka dengan menampilkan para korban itu ke hadapan publik, atau mempertemukan mereka dengan orang lain. Terhadap korban perkosaan biasa saja hal itu sangat sulit dilakukan, apalagi terhadap korban perkosaan dalam kasus kerusuhan Mei 1998 itu. Semua korban bukan hanya diperkosa saja, secara bergilir, tetapi juga direndahkan etnisnya, dan disiksa secara fisik. Tidak sedikit yang dilakukan di hadapan keluarganya. Bahkan ada orangtua korban yang tak tahan lantas menyuruh anaknya bunuh diri sebelum pergi meninggalkannya begitu saja!.

Belakangan Sidney Jones meminta maaf atas ketidakpercayaannya kepada Tim Relawan setelah terjadinya kasus pembunuhan yang dilakukan secara sadis terhadap Ita Martadinata. Ita Mardinata adalah seorang siswi SMA dari etnis Tionghoa, yang saat itu baru berusia 18 tahun. Dia adalah salah satu korban yang perlahan-lahan bersama keluarganya mulai berhasil merajut kembali kehidupannya. Ibunya bahkan bergabung dengan Tim Relawan. Ita sudah menyatakan kesediaannya untuk memberi kesaksian di hadapan beberapa kelompok internasional pembela hak asasi manusia di Amerika Serikat, siap beranbgkat bersama rombongan ke sana dipimpin Karlina Supeli. Tetapi, sebelum berangkat dia dibunuh secara keji di rumahnya, pada Jumat, 9 Oktober 1998.

Sri Palupi menganalisis bahwa sejak krisis moneter pada 1997, sudah ada gejala-gejala akan timbulnya kerusuhan Mei 1998 itu, dengan memanfaatkan sentimen anti-Tionghoa yang sebelumnya sudah dibentuk oleh beberapa pejabat/aparat pada berbagai kesempatan. Mereka, termasuk para jenderal yang tidak ada hubungannya dengan urusan ekonomi, berbicara dalam ranah publik seolah-olah mereka memahami betul masalah ekonomi. Dalam berbagai pernyataannya, mereka mengatakan bahwa krisis ekonomi melanda Indonesia karena orang Tionghoa melarikan uang rakyat ke luar negeri, sengaja menimbun sembako sehingga rakyat sengsara dan kelapran, orang Tionghoa-lah penyebab terjadinya krisis ini, dan sebagainya.

Analisis Sri Palupi ini sejalan dengan hasil investigasi dari TGPF yang dilaporkan di dalam buku Kerusuhan Mei 1998, Fakta, Data & Analisa (edisi revisi, 2007). Di dalam buku itu antara lain TGPF menemukan indikasi kuat kerusuhan Mei 1998 tidak lepas dari pengkondisian situasi, antara lain mengkristalkan sentimen anti-Tionghoa (anti-Cina) di kalangan masyarakat luas.  TGPF bahkan menyebutkan pengkondisian tersebut sudah mulai dibentuk sejak 1995, dengan timbulnya berbagai kerusuhan anti-Cina yang marak, antara lain di Situbundo, Tasikmalaya, Rengasdengklok, dan Ujung Pandang.

Hasil investigasi TGPF menyebutkan khusus di Jakarta,  korban tewas karena terperangkap dalam kebakaran berjumlah 1.190 orang, 27 tewas karena senjata tajam.benda lain, 91 luka-luka. Sedangkan Polda Metro Jaya menyebut angka 451 tewas, luka-luka tidak tercatat. Kodam Jaya menyebut angka 463 tewas, 69 luka-luka.

TGPF menyebutkan dalam laporannya bahwa kekerasan seksual/perkosaan benar telah terjadi. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang diketuai oleh Professsor Dr. Mahar Marjono melakukan verifikasi data dengan menggunakan prosedur yang dinamakan Protokol Jakarta yang bersumber pada Protokol Minnesota, dan mengakui kasus itu ada.

Tim Relawan untuk Kemanusiaan juga menemukan fakta bahwa kerusuhan Mei memang sengaja dikobarkan, terbukti dengan tak hadirnya aparat di dalam setiap peristiwa. Atau kalau aparat ada, mereka hanya diam saja. Para provokar, pimpinan, dan sejumlah pelaku kerusuhan mempunyai ciri-ciri yang sama di setiap kerusuhan di seluruh wilayah

Laporan Tim Relawan menyatakan, "Bagaimana 'kebetulan' harus dijelaskan oleh fakta keluasan lingkup kejadian di wilayah seluas Jakarta dan sekitarnya? Bagaimana  sang 'kebetulan' itu harus dijelaskan oleh kesamaan waktu dari banyak peristiwa perusakan, penjarahan, dan pembakaran di wilayah seluas Jakarta dan sekitarnya? Bagaimana si 'kebetulan' itu harus dijelaskan oleh berbagai kesamaan 'awal peristiwa' perusakan, penjarahan, dan pembakaran? (misalnya, pengajak dan pemimpin perusakan tidak datang dari daerah warga setempat; modus kedatangan pengajak dan pemimpin perusakan dengan kendaraan; tidak ada peristiwa perusakan yang dimulai oleh warga setempat). Dan bagaimana si 'kebetulan' itu harus dijelaskan oleh kesamaan pola janggal berikut: bahw apara pengajak dan pimpinan perusak/pembakaran tidak ikut menjarah. Bahkan dalam banyak kasus, para pengajak dan pemimpin segera meninggalkan massa yang mulai bergerak untuk merusak dan menjarah."

Sedangkan ciri khas para provokar dan penggerak kerusuhan itu sama di setiap wilayah, yakni:

-Kelompok pemuda yang memakai pakaian pelajar SLTA atau pakaian yang biasa dipakai mahasiswa-jaket dengan warna-warna tertentu.

-Kelompok remaha berpakaian lusuh, berwajah tanpa emosi, dingin, dan sangar,

-Kelompok pemuda berbadan kekar, berambut cepak, bersepatu bot militer,

-Kelompok pemuda yang berbadan kekar, berwajah dingin, sangar, dan bertato.

Pada 13 Juli, Laporan Tim relawan untuk Kemanusiaan, juga juga diterbitkan Komnas Perempuan bersama dengan Laporan TGPF diserahkan kepada Komnas HAM yang saat itu dipimpin oleh Asmara Nababan. Judul laporannya: "Dokumen Awal No. 3 tentang Perkosaan Massal dalam Rentetan Kerusuhan Puncak Kebiadaban dalam Kehidupan Bangsa."

Di dalam laporan itu antara disebut dari 13 Mei - 3 Juli 1998 dirincikan mengenai jumlah kasus perkosaan itu, secara total korban perkosaan dan pelecehan seksual massal yang melapor atau dilaporkan sebanyak 168 korban, 20 di antaranya tewas. Yang masih hidup kebanyakan menderita luka-luka fisik dan trauma psikologis yang dalam.

Penulis buku ini, Dewi Anggraeni, menganalisis etnis Tionghoa dan perempuannya sengaja dijadikan sasaran kerusuhan dan pemerkosaan, karena kelompok ini dianggap paling lemah, paling gampang dijadikan sasaran, karena tidak bisa melawan. Kelompok ini sengaja dijadikan sasaran juga karena memang sebelumnya sudah dikondisikan sebagai obyek untuk memicu suatu kerusuhan.

Dewi juga menulis di bukunya itu, etnis Tionghoa bukan sasaran utama dari kerusuhan Mei, tetapi mereka dimanfaatkan sebagai sasaran antara untuk menimbulkan kerusuhan besar itu. Kerusuhan sengaja diciptakan untuk maksud-maksud dan ambisi politik tertentu dari sutradaranya.

Massa sengaja diprovolkasi untuk melakukan perusakan, penjarahan, dan pembakaran aset-aset Tionghoa yang kemudian menjalar ke properti umum lainnya, sehingga pecahlah kerusuhan besar.

Sent from my BlackBerry(R) smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!


--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup.

Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke