Sanak dipalanta n.a.h
Untuk renungan. Kenapa jalan tol yang prioritas, bukan jalan kereta api. Jalan tol ini akan memancig jumlah kendaran roda 2 dan 4 lebih banyak lagi. Sekarang ini saja Indonesia sudah megap-megap (ango-angok bawuang) dengan bahan bakar, dengan bertambahnya kendaraan roda 2 dan 4 keadaan akan lebih parah. Lain menteri lain policynya dulu waktu pak Hatta Rajasa, menggebu-gebu gubenur se Sumatra rapat di Palembang membuat kesepakatan ingin membangun jalan kereta api Tran Sumatra Railway dari Aceh ke Lampung. Karena akan menghemat banyak bahan bakar malah ada yang mengatakan sebelum tahun 2030 jalan kereta itu sudah rampung. Sekarang dengan kehadiran pak Khairul Tanjung. policynya lain lagi, untuk Sumatra yang akan diperioritaskan adalah jalan tol. Sekarang yang diprioritaskan 4 ruas jalan di Sumatra, Sumbar tak masuk. Kalau bagi saya sukurlah tak masuk kalau perlu tak masuk selamanya. Tak ada gunanya kita wah-wah-an dengan punya jalan tol tapi mungkin merusak tata nilai di Sumbar. Pandangan kita mungkin berbeda-beda, terlepas dari akan menaikkan pemakaian dan harga bahan bakar yang sekaligus juga menaikkan harga barang, juga jalan tol itu dibawahnya akan menjadi gudang penggiat pemurtadan dan pelacuran. Mereka yang dari segala arah adu nasib ke Sumbar yang tak bisa dibendung daerah (daerah adalah kamar hotel di NKRI), apalagi dengan pengerahan, yang tak punya tanah dan rumah akan menggunakan ruang bawah tol ini untuk hunian. Walaupun ada RT/RW setempat, tak akan bisa menjangkau penghuni bawah tol ini. Mereka beralasan inikan tanah Negara. Ditambah lagi dengan pesanan tertentu, penghuni liar ini aka ada pelindungnya dari oknum yang masih bertugas atau oknum yang mungkin sengaja dikirim ke Sumbar untuk maksud itu. Inilah kejadian sepanjang rel keraerta Api Padang Panjang Bukittinggi, mungkin juga menjalar Bukittinggi Payakumbuh. Apakah sekarang sudah dibersihkan… Kalau di jalan kereta api aktif mudah ditertibkan alasan keselamatan jiwa mereka, tapi kalau dibawah tol alasan itu tak bisa. Kecuali bawah tol itu dikrangkeng diiringi penegakan hukum yang tegas (seperti Ahok di Jakarta sekarang ini). Kalau tidak, kerangkeng itu akan digergaji. Bagi orang minang yang akan memelihara ABS SBK di Sumbar memang kita tak mungkin mengikuti pola pembangunan ala Jakarta –Surabaya dsb. karena beda kondisi daerah. Dengan rencana tol di Sumbar sekarang ini siap-siap sajalah dihimpit naiknya harga, tol akan memancing banyaknya roda 2 dan 4 yang butuh BBM, BBM naik semua ikut naik. Untuk Padang – Payakumbuh bagi yang mampu, untuk membawa 400 orang perlu 100 Afanza/ kijang atau apalah namanya. Seandainya ini bisa dengan kereta api, kendaraan yang 100 itu mungkin bisa dihilangkan atau minimal dikurangi. Kalau ada KA orang akan memilih KA, disamping tak ada kemacetan juga terjamin sampai tujuan dengan waktu relative tepat. Otomatis minat membeli mobil pribadi berkurang. Apalgi perantau Jakarta – Padang dsb. akan lebih senang dengan KA dari pakai mobil sendiri yang BBM ny berharga selangit. Tapi kenapa yang mau digalakkan oleh Mengko jalan tol. Memang tol awalnya bebas hambatan, akhirnya akan macet juga, Tol di Jakarta bisa dijadika pelajaran. Dengan digalakkannya jalan tol di Sumatra / Indonesia yang gembira adalah pabrik mobil di China dan Jepang. Kedepan dengan pemerintahan baru kemungkinan import mobil Indonesia terbesar berasal dari China dengan segala alasanya, meskipun Busway dari China yang baru dibeli sudah bermasalah. Kemungkinan Jasum juga akan tertunda, beda mengko beda kebijakan. Faisal Basri ahli ekonomi, waktu mencalon jadi Gubenur DKI rombongan Jokowi – Ahok juga tak setuju dengan Jasum, dia nampaknya lebih suka memperbanyak RORO yang kesemuanya import. Kalau jalan pikiran ekonom ini diikuti oleh pak Khairul Tanjung, mungkin rencana Jasum istirahat dulu, menunggu menko baru yang mau meneruskan Jasum. Kita berharap untuk mengurangi pemakaian BBM yang sudah parah dan penambahan impor roda 2 dan 4, sekarang ini pembangunan jalan Kereta Api yang mestinya digalakkan. Kalau tidak sia-sialah rapat gubenur yang menghabiskan mmiliran untuk biaya rapat di Palembang beberapa tahun yang lalu itu. Wass, Maturidi (L/76) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
