Amir Hamzah:
"... sambia mananti ulasan Uda Akmal, pengamat film kito)"


Sanak Amir,
status 'pengamat film' itu berlaku dulu saat ambo, pado satu waktu, mamacik
desk budaya di satu majalah berita. Kini hanya sebagai penonton biaso sajo.
Cuma untuk film Indonesia (nan cukuik bagus) ambo memang selalu mengajak
istri dan anak-anak nonton basamo di bioskop, bukan beli DVD bajakan. Beli
bajakan hanyo untuak film asing.

Sabtu lalu (27/9), ambo sakaluarga balimo urang sampek manonton *Tabula
Rasa* (TR) ko. Meski baru diputar, penonton sepi sekali. Hanyo ado 12 urang
(sakali lai, ambo sakaluarga balimo. Lalu keluarga lain barampek. Lalu ado
sepasang anak mudo, dan surang lelaki. Nan pasangan anak mudo kalua di
tengah film, jadi sampai akhia hanyo 10 urang nan manonton).

Untuk menonton TR perlu "toleransi" tinggi. Urang Minang yang "sumbu
pendek" mungkin langsung indak nyaman maliek adegan pambuko kutiko
sekelompok anak-anak Papua di sebuah panti, sedang menunggu makan, dan
ketika makanan terhidang, mereka berdoa secara Kristen dengan lafal yang
jelas dan cukup panjang. Tetapi, adegan ini sebetulnya kontekstual, dan
logis, karena kejadian berlangsung di Serui.

Baru setelah itu cerita bergulir, di mana Hans, salah seorang anak panti
tersebut, ketika remaja menemukan bakat sebagai pemain sepak bola dan
diminta oleh seorang pelatih dari Jakarta untuk hijrah ke ibukota.
Kepergian Hans dilepas dengan suka cita karena semua menganggap Hans akan
sukses di Jakarta. Yang terjadi sebaliknya, hidup Hans terlunta-lunta
sampai dia ditemukan Amak (Dewi Irawan) sedang sekarat di atas jembatan
penyeberangan yang melintas di atas rel kereta api. Meski Nasir anak Mak
(diperankan Ozzol Ramlan, foto di bawah) tidak setuju menolong orang asing
itu, Mak berkukuh agar Hans ditolong dan dibawa pulang ke rumah mereka,
yang bagian depannya adalah warung makan "Takana Juo". Di "Takana Juo" ada
seorang lelaki lagi bernama Parmanto (juru masak) yang memanggil Mak
sebagai "Uni". (Awalnya, ambo kira Parmanto itu adik si Mak, tetapi
uniknya, si Nasir anak Mak ternyata  memanggil Parmanto dengan "Uda").
Parmanto sejak awal tak setuju dengan sikap Mak yang menolong Hans.

Nanti setelah hubungan di dalam "Takana Juo" itu memanas dan berlanjut
dengan hengkangnya Parmanto menjadi koki rumah makan Padang lain yang lebih
mewah, mau tak mau Mak meminta Hans untuk membantunya di dapur, memasak.
(Agak unik juga mengapa Mak tidak meminta anaknya Nasir yang membantu
memasak, dan paling tidak sudah familiar dengan bumbu-bumbu masakan Minang.
Mengapa Mak meminta bantuan seorang Papua yang bukan ahli masak, namun
sambil membuat rendang, Mak mengajarkan pepatah-petitih Minang. Nasir
dibiarkan Mak tetap sebagai "front office", menerima tamu (yang jarang
datang), sekaligus memegang kotak uang/kasir. Apakah ini sebetulnya
refleksi sosiologis dari ketidakpercayaan orang Minang dalam mempercayakan
urusan keuangan kepada orang non-Minang di dalam sebuah usaha, sehingga
lebih aman jika Hans ditempatkan di dapur yang masih memakai kayu bakar
dalam memasak, tanpa kompor gas sama sekali).

Lalu pada puncak dramatik film ini, Mak yang marah karena "pengkhianatan"
Parmanto yang pindah ke restoran lain (lengkap dengan "mencuri" resep
andalannya), akhirnya jatuh sakit, persis ketika "Takana Juo" yang mulai
mendapat banyak pelanggan sedang menerima order pesanan cukup banyak untuk
sebuah pesta pernikahan. Nasir harus menemani Maknya ke rumah sakit,
meninggalkan Hans sebagai koki utama.

Akhir cerita tentu tak bisa diungkap karena bisa membuat gangguan bagi yang
belum menonton (*spoiler)*.

Jika TR ditonton dengan keinginan menikmati sebuah cerita film yang berbeda
dari kebanyakan yang ada, maka film ini cukup berhasil menghibur. Dominasi
dialog bahasa Minang dalam film ini cukup meyakinkan, dengan sesekali
intersepsi dialog dan akses (serta "mop", guyon ala Papua). Tetapi jika TR
ditonton dengan kejelian seorang "kritikus" yang mempertanyakan setiap
detil, "mengapa begini", "mengapa bisa begitu", kisah TR lumayan menyisakan
banyak lubang pertanyaan.

Tetapi sebagai sebuah ikhtiar yang diniatkan produsernya untuk menggali
potensi cerita Indonesia modern dengan menjalin tali temali elemen budaya
Nusantara, film ini sebuah tontonan keluarga yang menyenangkan.

Jika publik lebih memilih menunggu versi bajakan DVD film ini keluar
ketimbang menontonnya di bioskop, maka bisa dipastikan produser-(produser)
tak akan tertarik membuat lagi selanjutnya karena merugi. Dan mereka akan
memilih membuat film-film banal yang rendah biaya produksi dan tak jelas
konsep ceritanya seperti kebanyakan sinetron.

Karena itu kalau sudah ada film (yang skenarionya ditulis seorang Batak)
dengan mengangkat kuliner Minang sedemikian bersemangat, tetapi rakyat
badarai Minang di seluruh pojok Nusantara ini (yang kota tempat tinggal
mereka memiliki bioskop) tetap hanap-hanap saja untuk menonton langsung,
mungkin film seperti ini baru akan diproduksi 25-50 tahun lagi.  [?]

Wass,

ANB



Pada 24 September 2014 09.49, 'amir hamzah' via RantauNet <
[email protected]> menulis:

> Film Tabula Rasa
>
> Dunsanak RantauNet nan ambo hormati.
>
> Ciek lai film nasional berlatar cerita budaya Minang. Fokus film labiah ka
> perjuangan hidup dalam usaho rumah makan Minang.
> Dari trailler film nan ambo caliak di Youtube, nampak penggarapan nan
> rancak dengan angel gambar2 masakan nan manggugah salero makan. Randang
> itam, gulai ikan ala piaman, dendeang batokok, dll.
>
> Labiah hebatnyo, salah satu pamain, Ozzol Ramdan (si uda di suami2 takut
> istri) asli Sunda, namun samakin santiang logat Minangnyo.
> Hebat! (rancak caliak trailler-nyo di Youtube) sambia mananti ulasan Uda
> Akmal, pengamat film kito)
>
> Wasalam
> Amir Hamzah, 41, Bks
> Posted By: Eko Satrio Wibowo[image: Ozzol Ramdan]Pengalamannya memerankan
> orang minang di film *Suami-Suami Takut Istri: The Movie* (2008) membuat
> seorang Ozzol Ramdan tak begitu kesulitan mendapatkan peran di film terbaru
> berjudul *Tabula Rasa*. Di film yang mengangkat tema kekayaan kuliner
> Indonesia ini, terutama masakan Padang, Ozzol Ramlan kembali dipercaya
> memerankan orang Minang. Padahal, ia sendiri bukanlah orang asli Minang,
> melainkan orang Sunda.
>
> Ozzol sendiri mengaku sangat antusias ketika mendapatkan tawaran dalam
> film ini. Baginya, film *Tabula Rasa* ini memiliki cerita yang tidak
> biasa. *"Film ini termasuk jarang ya. Film drama, tapi mengangkat tema
> soal makanan. Ceritanya pun orisinil, bukan cerita adaptasi,"* katanya.
>
> Walaupun pernah berperan sebagai orang Minang, Ozzol mengakui masih
> mengalami kesulitan dan tetap harus kembali belajar bersama pemain lain
> agar penampilan mereka maksimal. Bahkan, menurut aktor yang berperan
> sebagai Natsir di film *Tabula Rasa* ini, agar para pemain bisa
> menghayati dan mempelajari bahasa Padang dengan baik, sang produser Sheila
> Timothy menyediakan penasehat bahasa.
>
> *"Kesulitannya tentu saja bahasa Padang ya, karena saya aslinya orang
> Sunda. Ibarat mengajarkan bahasa lalat ke jangkrik,"* canda Ozzol. Ia pun
> melanjutkan: *"Untungnya mba Lala (Sheila Timothy) selaku produser
> memberikan kita penasehat bahasa, yaitu Tom Ibnur. Selama dua bulan kita
> belajar bahasa Padang,"* ujarnya di sela-sela konferensi pers film*
> Tabula Rasa* di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, Kamis (18/9) siang.
>
> Ozzol juga mengungkapkan bahwa ia sangat takjub dengan tokoh Natsir yang
> ia perankan. Menurutnnya, sifat yang dimiliki Natsir idealnya juga dimiliki
> semua orang. *"Memerankan Natsir itu menakjubkan. Sifatnya yang suka
> melayani mengajarkan kita bahwa sifat tersebut seharusnya dimiliki setiap
> orang. Entah itu melayani Tuhan, ibu kita, dan sebagainya,"* ungkapnya.
>
> Selain Ozzol Ramdan, film ini juga dibintangi oleh Jimmy Kobogau, Dewi
> Irawan, dan Yayu Unru. Film *Tabula Rasa* bisa Anda saksikan di Cinema
> XXI kesayangan Anda mulai tanggal 25 September 2014.
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke