Uda Akmal,,,
Ambo alun sempat manonton TR. Tapi ambo alah baniek segera,, hehehe

Maliek suasana sepi di bioskop ambo yo miris juo,,,
Mudah2an ulasan Da Akmal,,, bisa manggugaah awak2 di salingka Nusantara lai 
manyumbang tiket dg datang ka bioskop. Indak manunggu versi DVD-nyo,,, Bia film 
bermutu Indonesia,,, lai bisa diharagoi dek bangsanya sendiri.


Amir Hamzah, 41, Bks



Pada Selasa, 30 September 2014 12:09, Akmal Nasery Basral <[email protected]> 
menulis:
 


Amir Hamzah:
"... sambia mananti ulasan Uda Akmal, pengamat film kito)"


Sanak Amir, 
status 'pengamat film' itu berlaku dulu saat ambo, pado satu waktu, mamacik 
desk budaya di satu majalah berita. Kini hanya sebagai penonton biaso sajo.
Cuma untuk film Indonesia (nan cukuik bagus) ambo memang selalu mengajak istri 
dan anak-anak nonton basamo di bioskop, bukan beli DVD bajakan. Beli bajakan 
hanyo untuak film asing.

Sabtu lalu (27/9), ambo sakaluarga balimo urang sampek manonton Tabula Rasa 
(TR) ko. Meski baru diputar, penonton sepi sekali. Hanyo ado 12 urang (sakali 
lai, ambo sakaluarga balimo. Lalu keluarga lain barampek. Lalu ado sepasang 
anak mudo, dan surang lelaki. Nan pasangan anak mudo kalua di tengah film, jadi 
sampai akhia hanyo 10 urang nan manonton).

Untuk menonton TR perlu "toleransi" tinggi. Urang Minang yang "sumbu pendek" 
mungkin langsung indak nyaman maliek adegan pambuko kutiko sekelompok anak-anak 
Papua di sebuah panti, sedang menunggu makan, dan ketika makanan terhidang, 
mereka berdoa secara Kristen dengan lafal yang jelas dan cukup panjang. Tetapi, 
adegan ini sebetulnya kontekstual, dan logis, karena kejadian berlangsung di 
Serui. 

Baru setelah itu cerita bergulir, di mana Hans, salah seorang anak panti 
tersebut, ketika remaja menemukan bakat sebagai pemain sepak bola dan diminta 
oleh seorang pelatih dari Jakarta untuk hijrah ke ibukota. Kepergian Hans 
dilepas dengan suka cita karena semua menganggap Hans akan sukses di Jakarta. 
Yang terjadi sebaliknya, hidup Hans terlunta-lunta sampai dia ditemukan Amak 
(Dewi Irawan) sedang sekarat di atas jembatan penyeberangan yang melintas di 
atas rel kereta api. Meski Nasir anak Mak (diperankan Ozzol Ramlan, foto di 
bawah) tidak setuju menolong orang asing itu, Mak berkukuh agar Hans ditolong 
dan dibawa pulang ke rumah mereka, yang bagian depannya adalah warung makan 
"Takana Juo". Di "Takana Juo" ada seorang lelaki lagi bernama Parmanto (juru 
masak) yang memanggil Mak sebagai "Uni". (Awalnya, ambo kira Parmanto itu adik 
si Mak, tetapi uniknya, si Nasir anak Mak ternyata  memanggil Parmanto dengan 
"Uda").  Parmanto sejak awal tak setuju dengan
 sikap Mak yang menolong Hans.

Nanti setelah hubungan di dalam "Takana Juo" itu memanas dan berlanjut dengan 
hengkangnya Parmanto menjadi koki rumah makan Padang lain yang lebih mewah, mau 
tak mau Mak meminta Hans untuk membantunya di dapur, memasak. (Agak unik juga 
mengapa Mak tidak meminta anaknya Nasir yang membantu memasak, dan paling tidak 
sudah familiar dengan bumbu-bumbu masakan Minang. Mengapa Mak meminta bantuan 
seorang Papua yang bukan ahli masak, namun sambil membuat rendang, Mak 
mengajarkan pepatah-petitih Minang. Nasir dibiarkan Mak tetap sebagai "front 
office", menerima tamu (yang jarang datang), sekaligus memegang kotak 
uang/kasir. Apakah ini sebetulnya refleksi sosiologis dari ketidakpercayaan 
orang Minang dalam mempercayakan urusan keuangan kepada orang non-Minang di 
dalam sebuah usaha, sehingga lebih aman jika Hans ditempatkan di dapur yang 
masih memakai kayu bakar dalam memasak, tanpa kompor gas sama sekali). 

Lalu pada puncak dramatik film ini, Mak yang marah karena "pengkhianatan" 
Parmanto yang pindah ke restoran lain (lengkap dengan "mencuri" resep 
andalannya), akhirnya jatuh sakit, persis ketika "Takana Juo" yang mulai 
mendapat banyak pelanggan sedang menerima order pesanan cukup banyak untuk 
sebuah pesta pernikahan. Nasir harus menemani Maknya ke rumah sakit, 
meninggalkan Hans sebagai koki utama. 

Akhir cerita tentu tak bisa diungkap karena bisa membuat gangguan bagi yang 
belum menonton (spoiler).

Jika TR ditonton dengan keinginan menikmati sebuah cerita film yang berbeda 
dari kebanyakan yang ada, maka film ini cukup berhasil menghibur. Dominasi 
dialog bahasa Minang dalam film ini cukup meyakinkan, dengan sesekali 
intersepsi dialog dan akses (serta "mop", guyon ala Papua). Tetapi jika TR 
ditonton dengan kejelian seorang "kritikus" yang mempertanyakan setiap detil, 
"mengapa begini", "mengapa bisa begitu", kisah TR lumayan menyisakan banyak 
lubang pertanyaan. 

Tetapi sebagai sebuah ikhtiar yang diniatkan produsernya untuk menggali potensi 
cerita Indonesia modern dengan menjalin tali temali elemen budaya Nusantara, 
film ini sebuah tontonan keluarga yang menyenangkan. 

Jika publik lebih memilih menunggu versi bajakan DVD film ini keluar ketimbang 
menontonnya di bioskop, maka bisa dipastikan produser-(produser) tak akan 
tertarik membuat lagi selanjutnya karena merugi. Dan mereka akan memilih 
membuat film-film banal yang rendah biaya produksi dan tak jelas konsep 
ceritanya seperti kebanyakan sinetron. 

Karena itu kalau sudah ada film (yang skenarionya ditulis seorang Batak) dengan 
mengangkat kuliner Minang sedemikian bersemangat, tetapi rakyat badarai Minang 
di seluruh pojok Nusantara ini (yang kota tempat tinggal mereka memiliki 
bioskop) tetap hanap-hanap saja untuk menonton langsung, mungkin film seperti 
ini baru akan diproduksi 25-50 tahun lagi.  

Wass,

ANB





Pada 24 September 2014 09.49, 'amir hamzah' via RantauNet 
<[email protected]> menulis:

Film Tabula Rasa
>
>
>Dunsanak RantauNet nan ambo hormati.
>
>
>Ciek lai film nasional berlatar cerita budaya Minang. Fokus film labiah ka 
>perjuangan hidup dalam usaho rumah makan Minang.
>Dari trailler film nan ambo caliak di Youtube, nampak penggarapan nan rancak 
>dengan angel gambar2 masakan nan manggugah salero makan. Randang itam, gulai 
>ikan ala piaman, dendeang batokok, dll.
>
>
>
>Labiah hebatnyo, salah satu pamain, Ozzol Ramdan (si uda di suami2 takut 
>istri) asli Sunda, namun samakin santiang logat Minangnyo. 
>
>Hebat! (rancak caliak trailler-nyo di Youtube) sambia mananti ulasan Uda 
>Akmal, pengamat film kito)
>
>
>
>Wasalam
>Amir Hamzah, 41, Bks
>
>Posted By:  Eko Satrio WibowoPengalamannya memerankan orang minang di film 
>Suami-Suami Takut Istri: The Movie (2008) membuat seorang Ozzol Ramdan tak 
>begitu kesulitan mendapatkan peran di film terbaru berjudul Tabula Rasa. Di 
>film yang mengangkat tema kekayaan kuliner Indonesia ini, terutama 
masakan Padang, Ozzol Ramlan kembali dipercaya memerankan orang Minang. 
Padahal, ia sendiri bukanlah orang asli Minang, melainkan orang Sunda.
>
>Ozzol sendiri mengaku sangat antusias ketika mendapatkan tawaran dalam film 
>ini. Baginya, film Tabula Rasa ini memiliki cerita yang tidak biasa. "Film ini 
>termasuk jarang ya. Film drama, tapi mengangkat tema soal makanan. Ceritanya 
>pun orisinil, bukan cerita adaptasi," katanya.  
>
>Walaupun
 pernah berperan sebagai orang Minang, Ozzol mengakui masih mengalami 
kesulitan dan tetap harus kembali belajar bersama pemain lain agar 
penampilan mereka maksimal. Bahkan, menurut aktor yang berperan sebagai 
Natsir di film Tabula Rasa ini, agar para pemain bisa 
menghayati dan mempelajari bahasa Padang dengan baik, sang produser 
Sheila Timothy menyediakan penasehat bahasa. 
>
>"Kesulitannya tentu saja bahasa Padang ya, karena saya aslinya orang Sunda. 
>Ibarat mengajarkan bahasa lalat ke jangkrik," canda Ozzol. Ia pun melanjutkan: 
>"Untungnya mba Lala (Sheila Timothy) selaku produser memberikan kita penasehat 
bahasa, yaitu Tom Ibnur. Selama dua bulan kita belajar bahasa Padang," ujarnya 
di sela-sela konferensi pers filmTabula Rasa di kawasan Kuningan Jakarta 
Selatan, Kamis (18/9) siang.  
>
>Ozzol
 juga mengungkapkan bahwa ia sangat takjub dengan tokoh Natsir yang ia 
perankan. Menurutnnya, sifat yang dimiliki Natsir idealnya juga dimiliki
 semua orang. "Memerankan Natsir itu menakjubkan. Sifatnya yang suka melayani 
mengajarkan kita bahwa sifat tersebut seharusnya dimiliki 
setiap orang. Entah itu melayani Tuhan, ibu kita, dan sebagainya," ungkapnya. 
>
>Selain Ozzol Ramdan, film ini juga dibintangi oleh Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, 
>dan Yayu Unru. Film Tabula Rasa bisa Anda saksikan di Cinema XXI kesayangan 
>Anda mulai tanggal 25 September 2014.
-- 
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>* DILARANG:
>1. Email besar dari 200KB;
>2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
>3. Email One Liner.
>* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
>mengirimkan biodata!
>* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
>subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/
>--- 
>Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
>Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
>email ke [email protected].
>Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke