--- In [EMAIL PROTECTED], e Is.St. Marajo, [EMAIL PROTECTED] 
jo salam dimulie kan:
>
> Assalamu'alaikum Warahmatullahi Waabarakatu,

Buya subo jawab nama nan bisa, 

Nilai dan hubungan kekerabatan dapat dideteksi dari berbagai adagium 
(pribahasa; pepatah; petitih; bidal), a.l:  

di cancang pua - ta garik andilau; (di cencang puar, tergerak -
tergoyang, tersinggung - andilau); 

1.  pua; puar; sejenis kapulaga (banyak variasinya), di beberapa 
nagari disebut salo. 
2. andilau atau endilau; pohon dengan nama latinnya Commersonis 
bartramia MERR. 

Maksudnya adalah bila seorang anggota kaum dijadikan gunjiang 
(disebut-sebut secara negatif; gosip) oleh pihak lain (misalnya 
dalam tingkat kecamatan), maka seluruh anggota kaumnya, bahkan kaum 
ayahnya dan anak pisangnya, termasuk orang senagarinya akan merasa 
digunjing dan beroleh malu. 

Orang dari suku lain pun sudah berhak memberikan teguran. Bila 
digunjing dalam nagari, orang sesuku walau tidak sekaum dan sepusaka 
dengannya akan tersinggung sehinga menumbuhkan hak melakukan 
teguran. 

Radius atau lingkaran yang merasa tersinggung akan meluas atau 
menyempit, tergantung tingkat apa sosok atau tokoh yang digunjing. 
Jika sudah jadi tokoh nasional, maka yang akan merasa malu adalah 
semua orang Minang atau yang merasa turunan Minang. Kini bisa juga 
orang se Sumatera Baratnya.

Sebaliknya, ketika ada orang yang tiba-tiba menjadi buah mulut, 
idola dan tumpuan harapan banyak orang, ternyata adalah orang Minang 
meskipun lahir di perantauan atau anak pisang dari orang Minang yang 
sudah lama hilang menjadi Sutan Batawi, Rajo Medan atau Rajo 
Palembang dsb.nya, akan menumbuhkan rasa bangga meskipun dalam kadar 
yang berbeda di antara sesama orang Minang. 
Tergantung hubungan jauh dekatnya dengan sumber gunjingan.

Juga tergambar dalam pepatah:  ilalang nan ta baka - si cerek ta bao 
rendong; (hilalang yang terbakar, sicerek terbawa rendong); 

Sicerek (clausena cxavata); nama pohon kecil, daunnya biasanya 
dijadikan obat tradisional; 

Maksudnya, bila sesosok orang berbuat ulah, baik secara hukum 
nasional (melakukan kejahatan) atau secara moral (melompat pagar, 
menempuh rusuk jalan), maka seluruh kerabat atau sanak famili yang 
bersangkutan pun merasa mendapat hukuman, meskipun dalam bentuk 
menanggung malu. 

Namun perlulah diungkapkan, bahwa maksud pepatah ini hampir sama 
dengan peringatan Allah SWT,"(Dan peliharalah dirimu dari siksaan 
yang tidak hanya secara khusus menimpa mereka yang zalim (pelaku 
kejahatan) saja dari kalangan (sekitar) kamu  (Q.S. 8-al Anfal/25).

Sakitu dulu,
Nan lain isuak pulo kito carikan jawabannyo.

Wassalam,
BuyaHMA 
click;<http://groups.yahoo.com/group/tulisanbuyamasoedabidin/files>




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke